Cara Menulis Buku Nonfiksi

Cara Menulis Buku: Panduan Kreatif & Lengkap untuk Pemula

Cara Menulis Buku – Tak seperti menulis artikel, blog post, ataupun menulis cerpen dan feature, menulis buku memerlukan triknya tersendiri. Menulis buku adalah sebuah aktivitas yang memerlukan napas panjang dalam mengerjakannya sekaligus dibutuhkan keterampilan khusus untuk merampungkannya.

Selain itu, menulis buku adalah candu.

Bagaimana tidak, saat mengerjakan sebuah buku, kelelahan—tetapi kelelahan yang mengasyikkan—akan menerpa kita dengan derasnya.

Akan tetapi, saat berhasil menyelesaikannya, justru terasa seperti ketika mendaki gunung dan kita sampai di puncaknya.

Terasa lelah di awal dan perjalanannya, namun teraliri bahagia pada akhirnya. Serunya lagi, kita tidak kapok melakukannya. Sekali kita berhasil melakukannya, kita bahkan ingin melakukannya lagi dan lagi. Begitu terus.

Mengapa kita terus kecanduan untuk menulis?

Karena otak kita terus terasah dan intelektualitas kita terus berkembang. Itulah mengapa seseorang yang telah berhasil menulis satu buku, ia juga penasaran dan ngebet untuk menulis buku keduanya, buku ketiganya, hingga buku kelima puluhnya.

Nah, karena begitu banyaknya, sangat-sangat tak terhitung, teman-teman yang menanyakan kepada saya bagaimana cara menulis buku, khususnya cara menulis buku nonfiksi, makanya saya membuat postingan ini.

Postingan kali ini akan terasa sangat-sangat-amat panjang, karena saya ingin merangkum semua langkah cara menulis buku nonfiksi ke dalam satu postingan saja.

Dengan demikian, alur berpikir teman-teman pembaca akan menjadi runut dan tak perlu lagi membutuhkan referensi lain hanya untuk menemukan sebuah cara menulis buku yang baik dan benar.

Sejujurnya, terkadang saya kasihan juga melihat teman-teman yang ingin tahu cara menulis buku, akan tetapi tak tahu harus mulai dari mana dan akhirnya secara random membaca beberapa postingan yang tidak kredibel dan justru makin bingung.

Beberapanya justru hanya berisi motivasi semata dan tidak menyentuh sisi-sisi teknis yang dibutuhkan.

Bismillah, semoga bisa menjadi sebuah amal kebaikan dan bisa membawa manfaat kepada teman-teman. Silakan membaca dan jangan lupa bagikan informasi ini kepada teman-teman yang lain dan orang-orang yang terasa membutuhkan panduan ini, ya.

Baiklah, kita mulai saja, ya.

 

Cara Menulis Buku Nonfiksi

Saya akan menggunakan alur standar penulisan untuk membuat artikel ini. Alur standar penulisan ini diajarkan oleh guru saya, Pak Bambang Trim. Di luar negeri, alur standar ini juga digunakan ketika orang-orang ingin belajar menulis.

Alur standar tersebut adalah:

  • Prewriting
  • Writing
  • Editing
  • Revising
  • Publishing

Akan tetapi, saya melakukan beberapa modifikasi di dalam tiap-tiap langkah tersebut dan saya sesuaikan dengan pengalaman saya dan ketika saya mengajari beberapa penulis pemula ketika menerbitkan bukunya.

Baiklah, kita mulai saja, ya.

 

prewriting

1. Prewriting

Dalam bahasa Indonesia bermakna pramenulis. Maksudnya, pada fase kita melakukan proses gagas ide, merenung, dan menyiapkan dalam alam pikiran, apa yang ingin kita tulis.

Selain itu, pada tahap ini juga kita sudah melakukan pembuatan outline tentatif alias ragangan sementara dan menyiapkan beberapa referensi yang akan kita gunakan.

Dengan kata lain, pramenulis sebagai sebuah proses untuk merencanakan tulisan menjadi hal yang begitu penting untuk dilakukan.

Mengapa?

Ya jelas karena banyak orang tidak mampu menulis bersumber satu masalah mendasar: hanya memutar-mutarkan idenya di kepala tanpa mau mendeskripsikannya lebih detail dan membuat alurnya sebagai panduan untuk menulis sebuah buku. Sebelum kamu memulainya, ada baiknya menyimak dulu beberapa sumber kreatif bagi penulis kreatif yang bisa membuatmu makin kreatif sebagai penulis buku yang kreatif.

 

A. Mengapa Harus Menulis?

Pada fase prewriting ini, kamu harus benar-benar sudah memiliki motivasi yang jelas mengenai apa yang sebenarnya melandasimu untuk menulis atau lebih tepatnya mengapa harus menulis buku.

Ya, mengapa harus menulis, gitu?

Kan masih banyak kegiatan “penting” lainnya, misalkan memotret, terjun payung, ternak domba, atau muterin lorong-lorong Indomaret, misalnya.

Semakin jelas tujuanmu akan semakin baik. Memiliki tujuan yang jelas dan jernih sejatinya juga merupakan rahasia para juara.

Ronaldo tidak akan pernah sampai bosan begitu dapat Balon d’Or kalau hanya bermental seperti Sterling. Messi tidak akan pernah meroketkan prestasi Barca kalau hanya bermental seperti mas-mas jagoan sepakbola tarkam. Dua orang itu memiliki tujuan dan mengerti bagaimana untuk mewujudkan tujuannya tersebut.

A Champions first priority is goal clarity. Why goal clarity is so important is because the number one reason people don’t achieve their goals consistently and predictably is that they don’t have goal clarity.

Banyak yang bertanya kepada saya seperti ini. “Bagaimana sih caranya bisa menulis dengan produktif seperti Mas Fachmy?”

Biasanya saya akan menjawab, “Ketampanan wajah mempengaruhi, sih …”

Tentu saja saya bercanda.

Akan tetapi, pertanyaan itu saya perhatikan dengan serius. Yah, ternyata tak semua orang bisa menulis. Walaupun ya … bukan tak bisa menulis sebenarnya, hanya lemah keinginan dan miskin strategi. Tak ada persiapan yang mumpuni untuk menjadi penulis.

Ada hubungan erat antara menulis dan membaca.

Sudah menjadi kesepakatan jamak, siapa yang tak rakus membaca, ia tak akan bagus dalam menulis. Bahkan, ibaratnya ketika kita membaca satu buku, kita sedang membaca rangkuman ilmu atas bacaan-bacaan yang sudah dikunyah oleh penulis. Hal itu merupakan sebuah efektifivitas waktu bagi kita dalam mencari ilmu.

Itulah mengapa banyak orang yang begitu rakus membaca, karena semakin membaca akan semakin ketagihan untuk lebih tahu akan suatu subjek yang sedang dia pelajari.

Nah, itu salah satu kebaikan yang dialirkan lewat sebuah buku.

Sekarang saya tanya, kalau kamu sebagai penulis, apa yang membuatmu tertarik untuk menulis buku? Apa yang membuatmu memutuskan untuk menulis buku?

Jawabanmu mungkin beragam seperti ini.

  1. Meningkatkan prestise diri dan mengemas personal branding dalam karier.
  2. Menambah penghasilan, karena mendapatkan royalti ataupun bayaran dari klien memang cukup besar dari menulis. Sebagai informasi, teman-teman saya yang penulis, bisa mendapatkan bayaran di atas Rp50 juta dari satu buku. Bahkan, mentor saya bisa di atas Rp800-an juta dalam satu proyek penulisan. Agak ngeri-ngeri syedhap, memang.
  3. Mewujudkan impian menjadi penulis, karena rasanya sangat keren ketika berhasil menulis buku. Bisa pamer mertua, teman, tetangga, bahkan teman-teman di media sosial untuk membungkam segala kenyinyiran mereka yang cetar ulala.
  4. Merasa sangat senang bila ide, gagasan, dan penelaahan berhasil tersebar ke ribuan orang lewat sebuah buku. Ada tingkat kepuasan yang tak terbeli di sana.
  5. Pengakuan atas intelektualitas dan kreativitas dari masyarakat.
  6. Mewariskan pengetahuan kepada generasi penerus. Agar anak-anak bisa tahu kalau orang tuanya adalah pekarya yang menanam benih-benih kebaikan.
  7. Terkenal. Yah, alasan seperti ini pun ada, dan sah-sah saja, kok.
  8. Membangun reputasi dan kredibilitas sebagai pakar.
  9. Menantang diri sendiri.
  10. Media pelepasan isi pikiran dan curhat.
  11. Menulis adalah tradisi keulamaan dan ingin mengikuti tradisi tersebut.

Nah, apa pun alasanmu untuk menulis buku, satu hal yang pasti, bahwa gagasanmu jangan sampai menguap begitu saja. Bila gagasan untuk menulis buku tidak segera ditindak lanjuti, ia akan menghilang, diterpa dengan gagasan-gagasan baru, yang akan terus tumbuh seiring dengan wawasan dan pengalaman kita yang terus bertambah setiap harinya.

Oleh karena itu, bila suatu gagasan sudah sedemikian baik, segera atur waktu untuk mengeksekusinya menjadi sebuah karya terbaik.

Beberapa mindset penting yang saya sarankan atau pola pikir yang perlu kamu olah dan matangkan dalam tahap ini adalah:

1. Bergairah Membuat Karya yang Melegenda

Buatlah karya yang melegenda, karena generasi penerus kita akan tahu, bahwa kita pernah ada. Kita dikenal ya karena lewat karya kita. Oleh karena itu, berkaryalah hingga kita menjadi legenda yang bisa dikenal dalam lintasan zaman.

Kita harus memiliki gairah besar untuk mewariskan karya yang hebat. Bukan karya-karya receh yang cepat usang dan tak memiliki pengaruh apa pun dalam kehidupan seseorang dan juga dalam sejarah kemanusiaan. Dengan memiliki mental ini, kita sebagai pekarya akan menjadi aktor sejarah.

2. Passion Akan Mengalahkan Mood

Kalau kamu sering beralasan bahwa kamu tak bisa memulai atau menyelesaikan karyamu karena tak ada mood, maka itu sejatinya adalah sebuah alasan yang tak bisa dibenarkan. Mengapa? Karena ketika kamu memiliki passion yang besar dalam berkarya, maka mood akan menyingkir dengan sendirinya.

Percayalah.

3. Berkarya Itu Aktivitas Serius

Berkarya, dalam hal ini menulis buku, adalah sebuah aktivitas yang serius. Ia harus dipenuhi dengan kesungguhan dan juga mental baja untuk menyelesaikan karyanya. Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang yang bisa menyelesaikan sebuah karya bukanlah orang-orang yang biasa.

4. Menulislah Tanpa Beban

Banyak para pekarya yang justru terbebani dengan aktivitas menulisnya. Padahal, seharusnya menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Ia membebaskan diri dari belenggu keruwetan hidup. Ia membebaskan diri dari perangkap-perangkap ketidaknyamanan berpikir. Ia membuat diri menjadi tenang, lebih happy, dan juga lebih memiliki karakter serta empati yang tinggi.

Akan tetapi, memanglah, bila kita ingin berkarya hebat, kita sudah harus selesai dengan diri kita sendiri. Kita harus sudah memiliki impian dan visi yang besar, yang hanya sekadar mendapatkan cuan, cuan, dan cuan. Kita harus berkarya yang lebih jauh dari impian receh itu. Imajinasi kita harus mengangkasa dan berorientasi kebergunaan.

Saat dalam berkarya impian kita besar, bening, jauh, juga indah dan maslahat untuk kemanusiaan, maka segala jabatan, kehormatan, juga uang, akan datang tanpa pernah kita rencanakan.

5. Tuntaskan Impian

Menulis buku adalah jalan panjang. Ia tak bisa selesai dalam sehari dua hari atau seminggu. Ia adalah proses panjang sebuah pembuatan dalam karya. Mulai dari risetnya, pengerjaannya, hingga proses cetak dan penyebarannya. Ia mengemas jiwanya terlebih dahulu, untuk kemudian berani melahirkan karya.

Itulah mengapa, kita harus menaruh respek kepada setiap pekarya. Karena mereka rela menukar waktunya untuk menelusuri jalan kesendirian dalam menyelesaikan sebuah karya. Ia menata hatinya untuk tetap antusias dalam berkarya. Ia juga tak pernah lelah, terus berjalan walau habis terang, untuk menuntaskan impiannya melahirkan sebuah karya hebat yang akan terus ia banggakan hingga ujung usianya.

Karena ia sadar, saat cahaya tiada, kegelapan kan meraja. Itula mengapa, ia senantiasa konsisten berkarya dari mulai pagi hingga malam hari, untuk terus melahirkan karya yang bermanfaat. Dengan begitu, ia akan menjadi tak tergantikan perannya dalam lintasan sejarah.

Ia memang akan menemui segala aral, seperti kemalasan, keengganan untuk melanjutkan, cemoohan dari kerabat dan teman sendiri, dan semuanya nampak kabur di pandangannya. Akan tetapi, visinya jernih. Ia tahu bahwa ia akan melahirkan karya hebat yang menembus masa dan ruang waktu. Sejatinya, ia tertantang, tetapi pada saat yang sama, ia juga bersenang-senang. Ia juga tak terpengaruh dengan gaya menulis penulis lainnya. Ia konsisten pada karyanya sendiri. Ia percaya pada gayanya sendiri. Ia tahu cara melesatkan diri pada jalan yang seharusnya, karena ia sadar bahwa setiap orang memiliki jalan kehidupannya sendiri-sendiri.

Semua bermuara karena satu hal: visinya jernih.

Beberapa referensi yang bisa kamu baca untuk membangkitkan energi dan memenuhi dirimu dengan semangat membara untuk berkarya, silakan dibaca postingan yang sudah saya buat berikut ini.

B. Tentukan Mau Menulis Buku Jenis Apa

Historia vitae magistra. Sejarah atau pengalaman adalah guru kehidupan yang baik. Itulah cara sederhana memulai menulis. “Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri,” kata J. K. Rowling.

Setiap orang mempunyai jejaring dan jalan hidup sendiri-sendiri. Semua akan terasa menyenangkan saat kita menuliskan kisah kita tersebut.

Ada banyak orang yang membutuhkan kisah itu, kemudian diambil maknanya. Itu pun saja sudah disebut menulis. Artinya, tak perlu memikirkan pusing-pusing harus menulis apa.

“Mulailah dari hal-hal sederhana yang pernah terjadi dalam hidup kita. “Menulislah dengan alasan apa pun asal bukan untuk meremehkan,” kata Stephen King.

Menulislah apa saja yang kita mau, dan mulailah menulis apa saja yang kita tahu. Dua hal tersebut akan membangkitkan serta membuat semua kekata yang kita goreskan akan terasa nikmat dan berdaya. Menulis adalah mengubah hal-hal negatif menjadi positif dalam kehidupan. Lalu, apa ciri yang melekat di dalam diri seseorang yang dapat menunjukkan bahwa dia dipengaruhi dan diubah oleh sesuatu yang positif? Dia mau dan menjadi berkembang, itu jawabnya.

Menulis, paling tidak akan mengubah si penulis menuju pemahaman dan cara hidup yang lebih baik. Pada saat yang sama, dia kemudian juga berdaya dan benar-benar terbangkitkan antusiasmenya untuk terus lebih baik dalam menyajikan tulisan.

Setiap katanya berdaya: memberikan pengaruh, menyajikan keindahan, melazimkan keanggunan, dan rerentet katanya mewakili susunan menuju kehidupan yang lebih baik.

Untuk lebih jelasnya, kamu harus membaca terlebih dahulu postingan di bawah ini. Di sana banyak sekali jenis buku yang bisa menjadi penentu tujuanmu ingin menulis buku apa. Silakan dibaca terlebih dahulu sebelum beranjak pada tulisan berikutnya.

C. Memahami Empat Kuadran dari Sifat Tulisan

Tulisan memiliki sifat tulisannya sendiri-sendiri. Empat kuadran ini akan membantu kamu untuk lebih memahaminya. Ilmu ini saya dapat dari guru saya, Pak Bambang Trim. Silakan disimak dengan saksama.

  • Pribadi – Tertutup. Sifat tulisan dari kuadran ini adalah tulisan-tulisan yang tak ingin atau tak boleh dibaca oleh orang lain. Ya, ada beberapa tulisan yang tidak ingin dibaca oleh orang lain, seperti diari, surat cinta, dokumen penting, dan tulisan-tulisan lain yang sifatnya memang untuk pribadi, dan tak boleh ada orang lain yang membaca atau tahu, alias tertutup.
  • Pribadi – Terbuka. Sifat tulisan dari kuadran ini adalah tulisan-tulisan yang bersifat pribadi sebenarnya, namun orang lain boleh membacanya dan mengetahuinya. Misalkan, tulisan curhatan pribadi, yang cenderung lebih mirip diari, namun ditulis di blog, atau media sosial, sehingga tentu saja banyak orang yang akan membacanya, bahkan akan terjadi viral, bila curhatan tersebut cenderung menarik banyak orang.
  • Publik – Terbatas. Sifat tulisan dari kuadran ini adalah tulisan-tulisan yang boleh dibaca oleh banyak orang, namun dalam area tertentu, atau dalam komunitas tertentu. Misalkan, tulisan tentang tulisan keagamaan, yang tentu saja hanya boleh dibaca oleh jamaah tertentu.
  • Publik – Terbuka. Sifat tulisan dari kuadran ini adalah tulisan-tulisan yang boleh dibaca oleh banyak orang tanpa kenal batas. Siapa pun yang ingin membaca tulisan kuadran ini diperbolehkan. Misalkan, buku, artikel, dan sebagainya.

D. Pilih Topik

Topik adalah subjek sebuah tulisan. Tanpa memiliki topik, kita tidak akan bisa menulis dengan jelas. Cenderung akan ngalor-ngidul kalau kita tak menentukan topik sejak awal. Dengan kata lain, bahasa sederhananya adalah topik merupakan sebuah “masalah” yang kita angkat ke dalam tulisan kemudian kita berikan solusinya mengenai “masalah” tersebut. Atau, bahasa singkatnya, topik adalah pokok pembicaraan/tulisan.

Sampai sini sudah paham kan, ya?

Lalu, apa bedanya dengan tema? Bahasa gampangnya sih, kalau tema adalah bahasan yang lebih luas sedangkan topik adalah bahasan spesifiknya.

Misalkan:

Tema: Cara Menulis

Cara menulis tentu saja masih luas. Bisa saja isinya adalah berbagai hal tentang menulis, seperti cara menulis artikel ilmiah, artikel blog, feature, cerpen, novel, biografi, dan lain sebagainya.

Topik: Cara Menulis Buku Nonfiksi

Sedangkan topik, memiliki pembahasan yang lebih spesifik. Misalkan adalah ara menulis buku nonfiksi. Hanya benar-benar membahas tentang penulisan buku nonfiksi. Bukan buku fiksi. Bukan pula buku faksi. Ya … hanya buku nonfiksi. Titik.

Saran saya, pada tahap ini, tentukan topik tulisan yang benar-benar kamu ketahui atau kamu kuasai dengan baik. Saya harus benar-benar memberikan bold pada kalimat tersebut.

Mengapa? Karena ketika kamu menguasai topik yang sedang kamu bahas, akan ada energi besar dalam proses penulisannya dan energi besar itu akan menular kepada pembaca.

Dengan kata lain, saat kamu begitu antusias dengan subjek bahasan, maka pembaca juga akan ikut tertarik dan merasa satu frekuensi denganmu sebagai penulis. Seolah-oleh, saat pembaca membaca tulisanmu, akan terasa intim dan penghuni bumi lainnya terasa ngontrak.

Apa yang membuat suatu tulisan menjadi menarik, keren, serta berkesan bagi pembacanya?

Ada macam-macam cara untuk membuat sebuah tulisan bagus: mengindahkan gaya bahasa, meluarbiasakan alur cerita, atau meliukkan diksinya. Akan tetapi, itu hanya soal teknis yang bisa dikembangkan kemudian. Sejatinya, semua kemegahan tersebut bermuara pada satu hal penting: ide.

Yah, ide.

Ide yang baik, akan tetap menghasilkan gugahan. Ide yang keren, akan tetap melahirkan gerakan. Ide yang baik, walau disajikan dengan bahasa yang susunannya kacau, masih bisa menghasilkan sesuatu. Akan tetapi, ide yang buruk, walau disajikan dengan bahasa semeliuk apa pun, akan tetap kosong. Nirmakna.

Itu yang membuat sebuah tulisan bagus.

Lebih jauh tentang pembahasan tema, topik, dan juga judul, sudah saya bahas pada postingan dengan judul ini:

Silakan baca terlebih dahulu agar kamu mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai tema, topik, dan juga judul. Ketiga hal tersebut masih sering membuat orang-orang, khususnya pemula, kebingungan. Silakan dituntaskan terlebih dahulu, ya.

Setelah itu, baca postingan yang ini, ya.

Baiklah, sekarang topiknya sudah ketemu, lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya?

E. Curah Gagasan

Curah gagasan dalam bahasa Inggris disebut dengan brainstorming. Anak-anak milenial menyebutnya dengan badai otak. Apa pun itu, intinya adalah menemukan, memilah, lalu memilih gagasan-gagasan yang akan digunakan dalam penulisan buku.

Kata kunci dalam proses ini adalah untuk menginventarisir gagasan-gagasan yang:

  • relevan
  • menarik; dan
  • penting.

Yang tidak relevan, buang saja. Yang tidak menarik, masukkan tong sampah. Yang tidak penting, silakan bakar saja. Hanya pilih yang benar-benar relevan, menarik, dan tentu saja penting.

“Anda dapat menuliskan apa pun terkait topik, tetapi berfokuslah pada satu poin yang benar-benar ingin Anda sampaikan.” —Bambang Trim

Pertanyaannya, bagaimana melakukan proses brainstorming?

Penjelasan paling apik, saya dapatkan dari buku Pak Leo Sutanto yang berjudul Mencerahkan Bakat Menulis terbitan dari Penerbit Gramedia. Berikut ini ide cara brainstorming dari beliau. Dalam bukunya beliau mengusulkan tiga cara, akan tetapi saya hanya mengambil dua cara saja yang mudah dan memungkinkan dilakukan oleh semua orang.

Pertama, curah gagasan dengan Teknik Adik Simba.

Pada teknik ini, gagasan dikumpulkan dengan menggunakan pertanyaan:

  • apa;
  • di mana;
  • kapan;
  • siapa;
  • mengapa;
  • bagaimana; atau
  • berapa.

Misalkan topiknya adalah Cara Menulis Buku Nonfiksi. Kita bisa mengurainya dengan pertanyaan-pertanyaan:

  • Apa itu buku nonfiksi?
  • Apa itu buku?
  • Apa itu profesi penulis?
  • Apa ada profesi penulis profesional?
  • Apa menjadi penulis enak?
  • Di mana bisa belajar menulis buku nonfiksi?
  • Di mana para penulis berkumpul di era digital ini?
  • Kapan saatnya mulai menulis?
  • Kapan sebainya mengirimkan naskah?
  • Kapan seharusnya menerbitkan sendiri dan kapan seharusnya mengirim ke penerbit mayor?

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan penulisan, buku, nonfiksi, dan juga dunia yang melingkupinya seperti dunia penulisan dan dunia penerbitan. Gunakan pertanyaan-pertanyaan dasar di atas untuk menggali semua kemungkinan.

Gunakan saja metode di atas dan kamu akan mendapatkan banyak sekali gagasan baru yang bahkan tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya untuk dibahas.

Kemudian, pilah dan pilih untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan tentu saja kemungkinan untuk dieksekusi karena berkaitan dengan pengetahuan, wawasan, serta ketersedian referensi.

Kedua, curah gagasan dengan Teknik Jaring Laba-Laba.

Teknik ini menolong penulis untuk memperoleh gagasan yang beranak-pinak dengan sangat cepat dan semakin rinci sesuai dengan topik.

Contohnya akan menjadi seperti ini:

 

 

Cara lainnya dari brainstorming adalah dengan mencatatkan semua yang ada di otak kita mengenai tema yang sudah kita tentukan tersebut. Catatlah di mana saja. Boleh di kertas, atau langsung di komputer. Catatlah kata kunci apa saja. Tik semua ide yang muncul di kepala. Tidak perlu mengurutkan. Ide yang kamu tik bisa berupa kata kunci, frasa, fakta, atau pertanyaan penting mengenai tema tersebut. Pokoknya catatlah apa saja lintasan yang ada di pikiran yang akan kita tulis di naskah nantinya.

Setelah semua ide tersebut ditik, bacalah ulang dan seleksi mana yang akan dipertahankan, dibuang, atau malah ada yang mau kita revisi. Setelah itu, kelompokkan ide yang berkaitan antara satu dan yang lain dalam satu kelompok. Setiap kelompok merefleksikan satu pokok pikiran yang akan kita tulis, dan satu pokok pikiran tersebut akan menjadi satu bab utuh.

Setelah dikelompokkan, urutkan semua pokok pikiran yang terdapat dalam kelompok tersebut, dan aturlah sedemikian rupa versi kita sendiri. Tentukan mana yang menjadi bagian pembuka, isi, dan penutup. Di sini, seakan-akan kita sedang membuat “daftar isi awal” naskah.

Baca kembali urutan pokok pikiran tersebut. Urutkan dan tambahkan keterangan tambahan untuk detail bila diperlukan. Bila pokok pikiran tersebut memerlukan data tambahan, baca referensi lagi seperlunya. Itu akan semakin memperkaya lagi naskah kita.

Gimana, terasa membingungkan? Wajar, sih. Heuheuheu.

F. Kumpulkan Referensi

Langkah krusial selanjutnya adalah dengan mengumpulkan referensi yang diperlukan agar naskah bukumu tersebut terwujud “sempurna”. Artinya, kamu membutuhkan banyak sekali amunisi, bukan sekadar mengandalkan kepintaran otakmu. Beberapa amunisi tersebut adalah:

  • buku;
  • internet;
  • majalah;
  • wawancara;
  • kliping;
  • video;
  • podcast;
  • dan lain sebagainya.

Carilah semua referensi yang memungkinkan untuk mendukung naskah yang sesuai dengan tema tersebut.

Untuk referensi dibagi menjadi dua macam, yaitu: Referensi Utama, dan Referensi Pendukung.

Usahakan untuk Referensi Utama minimal tiga sampai lima buku. Sedangkan untuk referensi pendukung, terserah jumlahnya. Semakin banyak semakin bagus.

Untuk Referensi Utama, usahakan jangan berasal dari artikel di internet atau koran. Usahakanlah Referensi Utama berupa buku.

Sedangkan untuk Referensi Pendukung lebih fleksibel. Bisa berupa artikel di internet, koran, ataupun dari catatan sendiri yang berasal dari ceramah, renungan, dan lain sebagainya.

Jangan lupa, baca semua referensi tersebut dengan saksama. Karena dengan membaca semua referensi yang berhubungan dengan tema yang akan digarap nantinya itu, akan semakin memperkaya wawasan kita dan semakin mempermudah untuk penulisannya.

Jangan lupa, catat atau menggaris bawahi bagian-bagian terpenting dari referensi yang menjadi poin acuan dari gagasan yang terdapat dalam buku tersebut.

Fungsi referensi ini beragam, misalkan untuk semakin memperkaya naskah kamu, dan di saat yang lain, saat kamu stuck, maka referensi inilah yang akan memberikan ide baru untuk melanjutkan naskah.

Tak harus semua referensi tersedia, namun sebagian besar memang harus sudah tersedia. Dalam perjalanan penggarapan naskah, kamu akan bertemu dengan referensi-referensi baru lagi yang akan memperkaya naskahmu. Nikmati proses kreatif itu dengan sebaik-baiknya.

Pada tahap ini, kamu juga harus benar-benar jelas mengenai deadline yang kamu tentukan sendiri. Kapan seharusnya naskah dimulai dan kapan juga harus selesai. Pastikan juga, semua sumber yang kamu perlukan untuk memperkaya tulisanmu harus benar-benar sudah siap atau kamu memiliki kesiapan untuk menyiapkannya ketika proses penulisan tersebut berlangsung.

Memiliki referensi yang banyak dan kamu harus tekun membacanya memang terasa melelahkan. Akan tetapi, sudah menjadi tabiat para penulis untuk memiliki minat baca yang besar. Seorang penulis buku tetapi tak memiliki minat baca yang besar terasa sangat aneh. Bahkan, kamu tidak akan pernah menemukan seorang penulis yang malas membaca. Dengan kata lain, ketika kamu ingin menjadi penulis, ya syaratnya memang harus gemar membaca. Lalu, kalau tidak memiliki gairah besar untuk membaca bagaimana? Silakan baca postingan saya ini terlebih dahulu:

G. Waktu yang Tersedia dan Stamina yang Cukup

Persiapan kita akan waktu ini begitu penting. Bila masih mengeluh tentang tidak punya waktu untuk menulis, kita harus sadar, bahwa di dunia ini, kita semua memiliki jatah waktu yang sama, yakni 24 jam. Klise memang. Akan tetapi, kenyataannya memang seperti itu. Tak pernah ada waktu yang cukup ideal untuk memulai. Bulatkan tekad, persiapkan diri, dan terobos segala ketidakmungkinan. Bila kita selalu menunggu waktu yang ideal, maka kita takkan pernah mendapatkan kesempatan itu.

Menulis adalah sebuah perjalanan panjang. Perlu waktu yang lama untuk menuntaskan sebuah buku. Tak seperti artikel yang mungkin hanya butuh dua atau tiga hari saja. Malah, mungkin hanya beberapa jam saja.

Akan tetapi, menulis buku membutuhkan waktu yang tak sedikit. Pastikan waktu dan energimu cukup untuk mengerjakannya.

H. Membuat Outline Buku

Baiklah, topiknya sudah ketemu dan gagasan-gagasan untuk menyertai pembahasannya juga sudah tersusun, sekarang yang kita perlukan adalah membuat outline.

Pada fase ini, kita membuat secara lengkap apa saja rencana yang akan kita lakukan terhadap buku yang kita idam-idamkan tersebut. Silakan untuk membaca postingan saya yang berjudul:

Mampu menyelesaikan outline, jalanmu untuk menulis akan cenderung lebih tertata dan mengasyikkan karena kamu memiliki panduan apa saja yang harus kamu tulis sehingga bukumu tidak terlalu melebar ke mana-mana namun pada saat yang sama juga tak terlalu sempit.

I. Memahami Anatomi Buku

Banyak para penulis yang tak memahami anatomi buku. Padahal, pengetahuan ini harusnya menjadi pengetahuan mendasar bagi seorang penulis. Paling sederhana, misalnya, untuk membedakan Kata Pengantar dan Prakata.

Ketika kita memahami anatomi buku, kita akan lebih tahu bagian mana saja yang perlu kita tulis dan kerjakan dengan sangat rapi. Pembahasan mengenai anatomi buku sudah saya bahas. Silakan baca pada tautan berikut.

J. Tentang Nama Pena

Perlu nggak sih pakai nama pena? Perlu dan tidaknya tergantung kebutuhanmu sebagai penulis. Sebagaimana kita tahu, Tere Liye yang terkenal itu bukan nama asli. Nama aslinya adalah Darwis. Begitu juga dengan Tasaro GK, nama aslinya adalah Taufik Saptoto Rohadi. Nah, yang paling terkenal adalah J.K. Rowling yang harus mengubah nama penanya menjadi Robert Galbraith ketika menelurkan karya The Cuckoo’s Calling, The Silkworm, dan Career of Evil yang versi bahasa Indonesia-nya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Beberapa pertimbangan mungkin perlu kamu pertimbangkan antara menggunakan nama pena atau tidak. Misalkan, bila nama aslimu terkesan ndeso dan tidak menjual, bisa kamu putuskan untuk menggunakan nama pena yang lebih keren dan menjual. Bisa juga dengan alasan agar namamu menjadi merek diri yang mudah diingat oleh pembacamu nantinya.

Contoh paling mudahnya adalah Dewi Lestari yang sudah kita kenal sebagai penyanyi dalam gabungan vokal grup Rida Sita Dewi. Nah, ketika menulis novelnya menggunakan nama pena Dee. Ini tentu menarik, karena dengan nama sesingkat itu, kita menjadi bisa membedakan mana Dewi Lestari yang menyanyi dan mana Dewi Lestari yang kita kenal sebagai novelis.

Huf, panjang banget yang postingannya. Ini baru fase pertama yang tertunaikan, yakni prewriting. Semoga masih kuat dan bisa terus menyimak.

Sekarang, kita ada di fase kedua, yakni drafting. Seperti apa itu? Silakan disimak lebih lanjut.

Drafting

2. Drafting

Yakni di mana kita melakukan proses penulisan. Saya mengatakan ini proses penulisan awal. Kita menulis berdasarkan outline tentatif yang sudah kita buat. Pada tahap ini kita mencurahkan pikiran dan kemampuan menulis yang masih berantakan, karena semuanya berdasarkan apa yang ingin kita sampaikan dan merujuk referensi yang sudah kita siapkan.

Sekarang, saatnya menuliskan berdasarkan pemetaan yang sudah kita buat tadi. Jangan lupa untuk selalu menyediakan referensinya di sisi samping tempat kita menulis. Saat sewaktu-waktu pikiran mulai mampet, bacalah referensi lagi untuk mendapatkan pencerahan. Jadilah diri sendiri dalam menulis. Tak perlu mengikuti gaya penulis lain. Menulislah seperti kita tengah berbicara dengan pembaca. Oleh karena itu, berbicaralah yang nyaman dan mengasikkan, sehingga lawan bicara kita juga betah saat mendengarkan buah-buah pikiran yang kita keluarkan.

A. Menulislah Secara Bebas

Tuliskan apa yang kamu pikirkan dan rasakan langsung tanpa terbelenggu oleh aturan-aturan penulisan. Kamu dilarang keras menulis draf sambil mengedit. Tuangkan semua gagasan dan ide-idemua sepuas-puasnya terlebih dahulu. Bebaskan otakmu dari belenggu. Bebaskan otakmu dari beban itu. Tulis semuanya sampai pikiranmu terasa plong dan ringan. Terus menulis dan hendaknya tidak dibaca sebelum bagian yang ditulis selesai. Tahanlah diri Anda untuk tidak mengedit tulisan sebelum saatnya tiba.

Kalau terasa terkena writer’s block, kamu bisa membaca postingan saya mengenai hal tersebut.

B. Bayangkan Pembaca Sasaran

Jangan lupa, ketika menulis, bayangkan pembaca sasaran. Menulis kata “nggak” tetapi pembaca sasaran adalah orang tua, tentu tidak masuk akal, dong. Menulislah ibarat mengobrol dengan seseorang atau sekelompok orang yang kamu tuju. Membayangkan pembaca sasaran akan membuat kamumenggunakan ungkapan-ungkapan yang sangat relevan dan terasa pas.

C. Ikuti Outline

Walaupun pada fase ini kamu harus menulis bebas, bukan berarti kebablasan tanpa batas. Akan tetapi, kamu tetap menulis sesuai dengan outline yang sudah kamu buat sebelumnya.

Butuh asupan-asupan bermutu selama proses penulisan? Silakan baca beberapa postingan saya berikut ini. Akan sangat membantumu seperti dalam proses penulisan judul, cara membuat naskah lebih bergaung, atau ide-ide baru dalam menulis buku terkini. Silakan baca dengan saksama. Ada banyak ide segar di sana.

 

editing naskah

3. Editing

Fase dari cara menulis buku berikutnya yakni editing. Yakni di mana kita melakukan proses penyuntingan naskah. Kita memastikan bahwa gagasan yang kita gulirkan bisa tersampaikan dengan baik. Membenarkan aspek kebahasaan, merapikan data dan fakta yang tersajikan, dan menghindarkan naskah dari hal-hal yang membuat naskah menjadi buruk dan tidak layak baca.

Pada tahap ini juga kita memberikan enrichment, atau pengayaan naskah, seperti quote, penambahan gambar, atau juga smart box, yakni semacam kotak kecil untuk merangkum gagasan per subbab, dan hal-hal lain yang diperlukan agar naskah menjadi layak baca dan asik untuk dinikmati pembaca.

Pastikan tulisan kamu telah mengandung hal-hal yang menarik bagi pembaca. Pastikan tidak ada bagian yang diulang-ulang, tidak ada data-fakta yang sudah usang atau sering diungkap orang lain, dan pastikan juga tidak ada bagian tulisan yang sulit dipahami.

Mengapa seorang penulis harus menguasai penyuntingan naskah atau biasa disebut dengan editing? Karena dengan menguasai editing, kemampuan seorang penulis akan menjadi lebih sempurna.

Saya katakan lebih sempurna karena dengan menguasai editing, berarti seorang penulis naik ke dalam tahap benar-benar menyiapkan naskahnya menjadi layak terbit.

Bukankah di penerbit ada editor? Benar. Akan tetapi, bukan itu tujuannya. Dengan memiliki kemampuan editing yang lebih memadai, akan membuat naskah kamu menjadi lebih enak dibaca, lebih asik dicerna, dan mempercepat proses pengembangan naskah di meja redaksi.

Bagian paling krusial dalam editing sebenarnya bukan soal titik-koma dan tanda baca, melainkan pada delivering ideas dari naskah tersebut. Bagaimana gagasan yang tersampaikan dengan apik kepada pembaca, itulah hal yang utama. Nah, gagasan itu tak akan tersampaikan dengan apik kepada pembaca tanpa peran serta dari minimnya kekeliruan berbahasa, rapinya penyajian data dan fakta, serta bebas dari plagiasi serta hal-hal yang bisa merusak naskah.

Pada tahap ini, ada sekian banyak hal yang harus kamu pelajari. Silakan membaca postingan-postingan saya mengenai editing berikut ini.

Apabila kamu masih bingung juga dengan cara menulis daftar pustaka, kamu bisa membaca postingan berikut ini. Sudah saya bahas secara lengkap:

Revising

 

4. Revising

Fase dari cara menulis buku berikutnya adalah revising. Yakni di mana kita melakukan proses revisi penulisan. Pada tahap inilah kita membuat tulisan menjadi lebih baik. Menata lagi per babnya agar lebih enak dinikmati, tulisannya dirapikan, dan hal-hal yang belum tuntas pembahasannya dituntaskan.

Beberapa cara yang bisa kamu lakukan pada fase ini adalah:

  • Beragih tulisan. Mintalah orang-orang yang Anda kenal untuk membaca draf pertama kamu. Bebaskan mereka untuk memberi komentar, termasuk kritik pedas.
  • Jangan sungkan melakukan perubahan. Draf berubah dari konsep awal? Tidak mengapa demi mencapai tujuan penulisan kamu. Itulah gunanya revisi agar tulisan kamu makin bertenaga. Ada bagian yang mungkin harus ditambahkan, harus dikurangi, bahkan harus diganti.

Publishing

 

5. Publishing

Yakni di mana kita melakukan proses penerbitan karya. Setiap penerbit memiliki syarat dan ketentuan berbeda-beda terkait naskah buku yang mereka terima. Kamu harus mengikuti syarat dan ketentuan tersebut untuk memastikan tulisan dapat lolos.

Silakan membaca postingan-postingan berikut untuk mendapatkan informasi dan inspirasi mengenai publishing.

Pertanyaan paling umum adalah bagaimana mengirimkan naskah ke penerbit. Nah, dulu saya juga memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan.

Pasalnya, saya juga pernah berkali-kali ditolak penerbit. Nah, agar kamu tidak merasakan apa yang saya alami, baca saja beberapa postingan berikut:

Agar lebih jauh kamu juga memahami industri penerbitan, kamu juga harus memahami beberapa hal, seperti cara membaut kover itu bagaimana, aa itu sinopsis buku atau yang sebenarnya disebut dengan blurb, serta bagaimana cara membuat resensi buku agar bisa dimuat di media, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan industri penerbitan.

Berikut ini beberapa postingan yang sudah saya siapkan untukmu, agar bisa kamu kunyah dan lebih memahami tentang dunia penerbitan yang indah itu.

Ketika naskahmu sudah terbit, sebenarnya perjuanganmu tidak kemudian selesai. Ada satu tugas utama dari dirimu yang tak boleh kamu tinggalkan, yakni mempromosikannya. Silakan baca postingan berikut untuk mendapatkan gambaran mengenai cara promosi buku.

Saya yakin, setelah kamu mengkhatamkan postingan itu kamu akan semakin yakin bahwa cara menulis buku memang …. yah …. tidak semudah itu. Jadi, jangan gampang percaya dengan mentor-mentor yang menawarkan kemudahan dan hasil kilat.

Nah, agar insting writerpreneurship-mu juga makin kuat dan kental, ini dia juga beberapa wawasan penting nan kekinian yang harus kamu miliki sebagai penulis era digital.

 

Penutup: Kenikmatan Menghadirkan Karya Unggul

Seperti koki terbaik. Ia meramu bumbu demi bumbu dengan hati-hati. Ia meracik bahan demi bahan dengan sangat telaten. Ia ingin menghadirkan yang terbaik bagi para penikmat masakannya.

Ia melakukan itu semua bukan untuk menjaga namanya agar tetap harum. Akan tetapi, karena ia menikmati proses pembuatannya, dan ia menghargai para penikmat masakannya. Maka, ia harus menghadirkan yang terbaik untuk mereka.

Sebegitu pula dengan menulis. Sebenarnya, cacat pada satu kata yang kemudian salah tik dan hurufnya menjadi berbalik atau berkurang, bukanlah suatu cela besar. Akan tetapi, bagi para penulis yang menikmati prosesnya dan menghargai pembacanya, ia akan menghadirkan susunan kata terbaik yang ia punya. Walau terkadang proses itu membutuhkan waktu yang panjang dan ketelitian yang rumit. Tapi sekali lagi, ia menikmati dan menghargai.

Lorraine Monroe, menulis dalam bukunya Nothing’s Impossible, Good works will be recognized-ultimately. But if you work for the recognition alone, you may be in for a long wait. Setiap pekerjaan yang baik, pada akhirnya akan mendapatkan pengakuan. Tetapi sebaliknya, jika kita bekerja untuk mendapatkan pengakuan, barangkali kita akan berada pada saat yang sangat panjang.

Begitulah, kerja-kerja yang bagi orang lain mungkin terlihat membosankan dan membuang-buang waktu itu, bagi para pelakunya justru kenikmatan untuk menghadirkan karya unggul yang anggun.

“Apa pun yang datangnya dengan cara yang mudah,” kata Sa’di, penyair legendaris itu, “tidak akan berumur lama. Di China membutuhkan waktu empat puluh tahun untuk mencetak sebuah mangkuk. Sementara di Baghdad, mereka membakar seratus buah setiap hari dan engkau tahu perbedaannya terletak pada harga dan kualitasnya.”

 

***

 

 

MODUL 2: CARA MENULIS ARTIKEL

MOODUL 3: PANDUAN MENULIS BIOGRAFI

MODUL 4: PENGHASILAN PENULIS

 

 


 

*Demikian pembahasan mengenai cara menulis buku nonfiksi. Tulisan ini akan terus saya update dan saya sempurnakan. Akan banyak materi tambahan seperti penambahan informasi, infografik, dan juga beberapa bentuk pengayaan konten yang diperlukan. Silakan untuk memantaunya setiap hari agar tidak ketinggalan pembaruan rutinnya. Terima kasih.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Incoming search terms:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.