Atsar dan Peran Kita di Bumi-Nya

Setiap peniti jalan kebenaran, senantiasa meninggalkan jejak langkah indah. Bahasa Arab biasa menyebutnya dengan atsar. Dalam kamus Al-Muhîth, penyebutan kata tersebut berarti: sisa sesuatu. Pluralnya berbentuk atsârun atau utsûrun. Maka, jika ada lafal yang berkata: wa atsara fîhi ta’tsîran, ia memiliki bermakna: meninggalkan jejak. Atau dalam bahasa paling gampang kita bisa menyebutnya dengan: karya.

Sibawaih, pakar ilmu nahwu yang tersohor itu, meninggalkan atsar berupa buku pedoman ilmu nahwu. Maka, jadilah bukunya bermanfaat untuk generasi setelahnya. Jutaan pengajar dan juga pelajar telah mereguki hasil dari susunan gagasan keilmuannya. Banyak ulama tercetak berkat bantuannya. Karena mendalami bahasa Arab, harus mengerti tata cara yang diajarkan ilmu nahwu. Itu fondasinya. Dan tahukah, Imam Sibawaih meninggal di umur mendekati tiga puluh tiga tahun. Muda sekali. Tapi atsar-nya, jauh lebih bermanfaat dan membuat umurnya menjadi lebih panjang.

Dari sini kita belajar, bahwa rahasia menjadikan umur lebih panjang dengan limpahan pahala yang tak berujung itu adalah dengan meninggalkan karya yang bermanfaat untuk umat.

Imam Nawawi, yang biasa kita kenal dengan Hadits Arbain-nya itu, bahkan meninggal di usia empat puluh empat atau dalam riwayat yang lain empat puluh lima tahun. Dan lihatlah atsar beliau yang kini menjadi rujukan sesiapa saja baik yang awam maupun yang sudah faham agama. Karya beliau tetap menjadi pegangan. Indah sekali bukan? Seolah kita berani bertanya dengan lantang, belahan bumi mana yang di sana terdapat kaum muslimin yang tidak mengenal atsar beliau berupa kitab Hadits Arbain tersebut?

 

Baca juga: Mudamu untuk Kejayaan Agamamu

 

Imam Hasan Al-Banna, yang meninggal di usia empat puluh tiga tahun, telah menghadirkan jamaah besar: Al-Ikhwan Al-Muslimun. Kadernya jutaan tersebar di berbagai penjuru dunia. Dari rahim jamaah tersebut terlahir kader-kader dakwah yang gagah. Atsar beliau bukan hanya Majmû‘ah Ar-Rasâ’il dan Al-Ma’tsûrât saja, tapi juga berupa kader, jamaah, dan gagasan-gagasan cemerlang dalam dunia dakwah yang kini diadopsi di berbagai organisasi dakwah di berbagai belahan dunia.

Di suatu waktu, saya mendapati sebuah syair, dan syair tersebut benar-benar menghentak saya.

Seseorang yang keras kemauannya tidak akan puas dengan hanya mengisi waktu-waktunya dengan ketaatan.

Dia akan terus berpikir bagaimana agar kebaikannya tidak sirna setelah kematiannya.

Orang yang baik itu akan senantiasa hidup walaupun dia telah berada di dalam kubur.

Nah, kemudian saya berpikir. Saya termasuk dalam kategori ‘baik’ sebagaimana syair di atas ataukah tidak.

Karya adalah “anak” kita. Ia adalah pengejawantahan sebagai sebentuk atsar kita kepada generasi setelah kita tiada nanti. Ia menembus sekat-sekat ruang dan waktu, memberikan inspirasi, menebarkan kebaikan, sehingga aliran pahala terus mengalir ke rekening kita untuk tiket ke surga.

Penuturan yang menarik, saya dapati dalam Atsar Al-Mar’i fi Dunyâhukarya DR. Muhammad Musa Asy-Syarif. Beliau berkata demikian, “Orang yang menginginkan derajat yang tinggi, hendaknya mengerjakan amal yang agung, hingga amalan tersebut benar-benar menyisakan jejak yang agung pula. Maka dari sini ada sebuah kaidah yang indah yang saya simpulkan bahwa: siapa yang ingin derajatnya di akhirat lebih agung dari derajat orang-orang sekitarnya, hendaknya di dunia dia mengerjakan amal yang lebih agung dari amalan orang-orang di sekitarnya. Kaidah ini sangat bagus jika dipahami sesuai dengan alur yang diinginkan. Dan jika kaidah ini direalisasikan dengan baik, maka pelakunya akan mendapatkan manfaat paling baik dan hasil yang memuaskan.”

Suatu waktu, Rasulullah berkata kepada Rabiah bin Ka‘b Al-Aslami, “Mintalah sesuatu kepadaku.” Kemudian, Rabiah menjawab, “Aku minta agar aku bisa menemani Anda di surga.”

Cerdas sekali yah permintaanya.

Rasulullah kemudian melanjutkan, “Adakah permintaanmu yang lain?” Rabiah kemudian menjawab, “Cukup itu wahai Rasulullah.” Beliau kemudian menjawab, “Jika demikian, bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan memperbanyak sujud.”

 

Baca juga: Melestari Ilmu Agama

 

Masih dari perkataan DR. Muhammad Musa Asy-Syarif dalam kitabnya tersebut mengenai hadits ini, “Terhadap sahabat pun, Nabi tidak bisa menjamin mereka bisa menyertai beliau di surga, kecuali mereka mengerjakan amalan agung yang bisa mewujudkan keinginan tersebut.”

Nah, dalam kasus si Rabiah di atas, Rasulullah memintanya untuk memperbanyak shalat. Itu yang dijadikan sebagai amalan unggulannya.

Dalam reriwayat yang lain, kali ini Imam Bukhari dalam Shahîhnya yang menuturkannya, “Tidak ada seorang pun yang amalnya bisa memasukkannya ke dalam surga, tidak pula menjauhkannya dari neraka, begitu pula bagi saya, kecuali karena rahmat dari Allah.”

Sebagai kesimpulannya, kemudian DR. Muhammad Musa Asy-Syarif memberikan pencerahannya, “Jadi, masuk surga itu murni karena keutamaan dari Allah, sedangkan derajat yang tinggi adalah berkat keutamaan dan keadilan-Nya. Jika demikian, maka para pemburu derajat yang tinggi di akhirat di zaman ini harus bersiap siaga dan beramal secara berkesinambungan, guna meraih derajat tersebut. Amal yang berkesinambungan ini akan menumbuhkan atsar yang baik yang akan tetap ada di dunia, insya Allah. Kesimpulannya, manfaat ukhrawi meninggalkan atsar adalah dapat meraih derajat yang tinggi, berhasil meraih surga firdaus; surga tertinggi, dan berhasil menyusul para pembesar dari generasi awal dan orang-orang yang setelahnya.”

Perhatikan kalimat terakhir beliau. Versi saya, selalu ada peluang. Tak perlu minder dengan karya-karya yang ditinggalkan oleh pendahulu kita, tak perlu ngeper dengan apa yang telah dilakukan oleh para peniti jalan pewaris nabi yang telah dahulu. Kita pun, masih mempunyai kesempatan untuk menghadirkan amalan-amalan unggulan sebagaimana mereka telah laksana dahulu. []


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.



I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )

Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.

Kesempatan terbatas!


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Maaf, konten terlindungi. Tidak untuk disebarkan tanpa izin.