keajaiban kisah dalam alquran

Keajaiban Kisah dalam Al-Qur’an

Keajaiban Kisah dalam Al-Qur’an – Kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah adalah: Suhuf (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Musa; Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud; Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa; Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa; dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Meskipun Al-Qur’an turun secara periodik dalam kurun waktu lebih dari dua puluh tahun dan dalam kondisi dan situasi yang bervariasi, ayat-ayat Al-Qur’an tetap terangkai apik dan harmonis.

“Alif Lam Ra. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Mahabijaksana, Mahateliti.” (Hud [11]: 1)

Kisah-kisah yang dikemukakan Al-Qur’an merupakan dokumen historis bernilai sangat tinggi. Tidak ada keraguan sedikit pun terhadap kebenaran informasi-informasi Al-Qur’an tersebut, serta kesesuaiannya dengan realita sejarah yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, kisah-kisah dalam Al-Qur’an semuanya bersandar pada hakikat yang benar-benar terjadi. Kisah Al-Qur’an dimaksudkan untuk menggapai tujuan pendidikan tingkat tinggi, yaitu sebagai pelajaran (ibrah) bagi para pembacanya. Sebaliknya, kisah dalam sastra lebih dimaksudkan untuk membangkitkan emosi dan perasaan suka serta pendominasian perasaan para pembacanya, sehingga mereka dapat digiring kepada keinginan penulisnya.

“Sungguh, ini adalah kisah yang benar…” (Ali Imran [3]: 62)

Sepertiga dari Al-Qur’an termuat dengan kisah-kisah yang penuh makna. Kisah-kisah yang tersaji dalam Al-Qur’an memiliki lima keajaiban utama dibandingkan dengan kisah-kisah buatan manusia.

1 – Sebagian besar berisi kisah tentang mukjizat nabi yang mencengangkan bagi manusia

Dalam Al-Qur’an, banyak sekali kisah mengenai para nabi. Tidak mengherankan, karena nabi diutus untuk menyeru manusia mentauhidkan Allah. Oleh itulah, para nabi pasti dibekali dengan mukjizat sebagai bukti kenabiannya dan tanda kebenaran dakwah. Mukjizat yang diberikan Allah kepada setiap nabi selalu disesuaikan dengan kondisi umatnya. Dengan kisah yang menakjubkan tersebut, pembaca akan langsung tersihir dengan maksud dari penceritaan Al-Qur’an yang kemudian dapat diambil ibrahnya.

 

Baca juga: Tak Perlu Khawatir Soal Rezeki

 

“… ‘Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian, Kami tenggelamkan golongan yang lain.” (As-Syuara’ [26]: 62-66)

2 – Kisah menakjubkan yang terjadi pada orang biasa

Tidak hanya kisah kemukjizatan para nabi, melainkan juga disajikan kisah orang-orang yang bukan nabi sebagai permisalan, karena peristiwa-peristiwa seperti itu selalu berulang dalam kehidupan.

  • Kisah para pemilik kebun

“Sungguh, Kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan dengan berucap insya Allah. Lalu, kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.” (Al-Qalam [68]: 17-20)

  • Dua laki-laki yang menyombongkan diri

“Dan berikanlah (Muhammad) kepada mereka sebuah perumpamaan, dua orang laki-laki. Yang seorang (yang kafir) Kami beri dua kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara keduanya (kebun itu) Kami buatkan ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan tidak berkurang (buahnya) sedikit pun, dan di celah-celah kedua kebun itu Kami alirkan sungai, dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat’.” (Al-Kahfi [18]: 32-34)

3 – Gaya bahasa pengisahan

Sesungguhnya, yang telah membungkam para ahli sastra bangsa Arab tidak lain adalah gaya bahasa Al-Qur’an yang tidak tertandingi. Al-Qur’an berhasil menggabungkan kemurnian cerita dan penerapan gaya bahasa sastra tingkat tinggi. Keindahan gaya penyampaian inilah yang sesungguhnya sangat memengaruhi hati orang-orang musyrik untuk beriman kepada risalah Rasulullah, jika saja diri mereka tidak dikuasai oleh fanatisme kejahiliyahan. Kisah Walid bin Al-Mughirah merupakan bukti nyata dalam hal ini.

4 – Setting waktu

Dalam Al-Qur’an, setiap kisah diceritakan dengan sangat runut secara kronologis dengan alur yang bergulir ke depan secara alami. Terkadang, waktu kejadian suatu peristiwa disinggung secara jelas untuk penyampaian ibrah. Ciri utama dalam Al-Qur’an adalah apabila suatu peristiwa yang ceritakan mengharuskan penyebutan waktu dan tempat kejadian, maka yang pertama kali disebut adalah waktunya dan baru kemudian tempatnya.

  • Kisah Nabi Nuh, tidak disebutkan kapan pastinya diutus sebagai Rasul. Akan tetapi, menerangkan lamanya masa kenabian, yaitu sembilan ratus lima puluh tahun.
  • Kisah Nabi Yusuf disebutkan secara jelas waktu-waktu kejadian.

“Kemudian mereka datang kepada ayah mereka petang hari sambil menangis.” (Yusuf [12]: 16)

“… Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Yusuf [12]: 42)

“… Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa: kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Yusuf [12]: 47)

5 – Setting tempat

Urgensi penyebutan setting tempat berada di urutan kedua setelah penyebutan waktu. Karena memang, penyebutan waktu lebih penting daripada penyebutan tempat. Itulah mengapa, dalam Al-Qur’an penyebutannya hanya dilakukan saat benar-benar dibutuhkan dalam kisah atau keberadaannya memiliki arti sendiri, sebagaimana kisah Isra’ dan Mi’raj-nya Rasulullah.

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha …” (Al-Isra [17]: 1)

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang sudah Allah sajikan semoga selalu menjadi penerang jalan hidup kita, agar tak tersesat dan terjerembab dalam kerak kejahiliyahan yang terus mengintai kita setiap hari.[]


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.



I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )

Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.

Kesempatan terbatas!


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Maaf, konten terlindungi. Tidak untuk disebarkan tanpa izin.