Dalam lintasan sejarah, kita mendapati nama-nama berikut terkenang hingga sekarang. Walau sunyi mengkawani setiap hari. Walau besi-besi menjeruji kebebasan.

Semasa ditahan dalam penjara Glodok tahun 1934, Hatta merampungkan Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Awalnya ia tidak yakin bisa rampung, karena tidak boleh memasukkan kertas ke dalam bui. Yang boleh masuk hanyalah buku dan pensil. Semasa dibuang ke Digul, Hatta pun semakin kerap lagi menulis. Simaklah kata-katanya ketika berada di Boven, Digul, Papua, pada tahun 1934. “Buku adalah temanku. Buku-buku menjadi temanku dan pastilah (penjara) ini merupakan tempat tenang untuk belajar. Selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja.”

Selain menulis, Hatta juga getol membaca dalam penjara. Maka saat ia bebas, tak tampak raut keputusasaan sebagaimana yang dialami tahanan lainnya. Jiwanya tetap sehat. Ia tidak mengalami gangguan psikis. Bahkan, terus berusaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hebat nian bukan pengaruh baca-tulis?

Ada nama lain lagi, yaitu Mumia Abu-Jamal. Wartawan berras afro-amerika ini divonis mati pada tahun 1982 dengan tuduhan pembunuhan atas seorang polisi. Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya berada di balik jeruji besi, meski bukti yang mendukung bahwa ia tak bersalah telah ditemukan.

Pantaslah kemudian bila Mumia menjadi lambang gerakan antirasialisme di Amerika. Selama meringkuk di penjara Pennsylvania, Abu-Jamal menghasilkan sekumpulan tulisan yang kemudian dibukukan dalam dua buah buku: Live from Death Row, dan All Things Censored. Kerennya lagi, tulisannya itu disetarakan dengan tulisan Martin Luther King Jr. sewaktu dalam penjara: Letter From Birmingham Jail.

Menulis memerlukan niat dan kesungguhan yang tiada tara untuk mencapai dalam tahap terampil melakukannya. Jalan pengabdian diri yang total. Teruslah menulis, hingga jalan itu tertunai selesai.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.