Keutamaan Surat-Surat dalam Al-Qur’an

Keutamaan Surat-Surat dalam Al-Qur’an | Sebagai seorang muslim, tentu kita sangat mencintai Al-Qur’an. Kita selalu berusahha untuk membacanya setiap hari. Bahkan, beberapa di antara kita justru menghafalnya. Nah, untuk makin memperkuat iman dan mempertebal cinta kita pada Al-Qur’an, berikut ini akan dipaparkan tentang keutamaan surat-surat yang terdapat dalam Al-Qur’an.

 

Keutamaan Surat Al-Fatihah

Surat Al-Fatihah adalah makkiyah (diturunkan sebelum peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah). Surat ini terdiri dari tujuh ayat dan merupakan surat kelima yang diturunkan kepada Rasulullah.

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (Al-Hijr: 87)

Yang dimaksud dengan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam ayat di atas adalah surat Al-Fatihah. Rahasia keajaiban Al-Qur’an terletak pada cakupannya terhadap seluruh makna Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan setiap makna dalam Al-Qur’an dapat ditemukan dalam surat Al-Fatihah, dan seluruh tujuan Al-Qur’an bisa kita nikmati hanya dalam tujuh ayat ini.

Yang dibahas dalam Al-Qur’an berkisar dalam tiga hal besar saja, yaitu: Aqidah (beriman kepada Allah secara benar berdasarkan pondasi yang lurus), Ibadah yang shahih dan pengakan syiar-syiarnya, dan Manhaj Hidup (yang sempurna, menyeluruh, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari).

Mengenai bahasan Aqidah, di dalam surat Al-Fatihah dapat kita nikmati dalam ayat:

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah [1]: 2)

Mengenai bahasan ibadah bisa dinikmati dalam ayat:

“Hanya kepada Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah [1]: 5)

Sedangkan mengenai Manhaj Hidup, dapat kita nikmati dalam ayat:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Al-Fatihah [1]: 7)

Tak hanya itu, surat Al-Fatihah mengajarkan kepada kita mengenai prinsip-prinsip dasar dari Al-Qur’an, yaitu:

  • Keluasan kasih dan sayang Allah.

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah [2]: 1)

  • Nikmat-nikmat Allah

“Segala puji bagi Allah…” (Al-Fatihah [1]: 2)

  • Tauhid yang benar dan lurus.

“Hanya kepada Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah [1]: 5)

  • Dikaruniai kawan-kawan yang shalih dan dijauhkan dari yang buruk.

“…jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Al-Fatihah [1]: 7)

  • Istiqomah di jalan-Nya.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus…” (Al-Fatihah [1]: 7)

  • Hari akhir dan persiapan untuk menghadapinya.

“Pemilik hari pembalasan…” (Al-Fatihah [1]: 4)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus…” (Al-Fatihah [1]: 7)

  • Adab berdoa, dan prinsip kesatuan umat. Ayat ini menggunakan redaksi, “Tunjukilah kami jalan yang lurus…” (Al-Fatihah [1]: 7) dan bukannya “Tunjukilah saya jalan yang lurus.” Prinsip ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa setiap hamba adalah bagian dari umat yang satu, dan bukannya sendirian di bumi ini.

Surat Al-Fatihah juga merangkum kebaikan dari seluruh kitab yang telah diturunkan oleh Allah. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnul Qayyim, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan sebanyak 104 kitab, seluruh maknanya terkumpul dalam 3 kitab, yaitu: Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Seluruh makna dalam kitab tersebut terangkum dalam Al-Qur’an. Seluruh makna Al-Qur’an terhimpun dalam surat Al-Fatihah. Dan seluruh makna dari surat Al-Fatihah terangkum dalam ayat, ‘Hanya kepada Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.’ (Al-Fatihah [1]: 5).”

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abu Said bin Mu’alla. Dia mengatakan, ketika aku sedang menunaikan shalat di masjid, rasulullah memanggilku. Namun, aku tak menjawabnya. Kemudian aku menjelaskan kepada beliau, bahwa aku tadi sedang shalat. Lantas beliau menjelaskan, “Bukankah Allah telah berfirman, ‘wahai orang-orang yang beriman. Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada seuatu yang memberi kehidupan kepadamu.’ (Al-Anfal [8]: 24) Kemudian, Rasulullah bersabda kepadaku, “Sungguh, sebelum kamu keluar dari masjid, akan aku ajarkan kepadamu satu surat, yaitu surat yang paling agung dalam Al-Qur’an.” Beliau memegang tanganku. Ketika beliau akan keluar dari masjid, aku bertanya, “Bukankah engkau akan mengajariku satu surat yang paling agung dalam Al-Qur’an wahai Rasulullah?” beliau kemudian bersabda, “Alhamdulillahi rabbil alamain (surat al-fatihah), ia merupakan as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang), sekaligus Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Abbas, dia bercerita: Ketika malaikat Jibril duduk dekat Nabi, beliau mendengar suara pintu terbuka dari atas. Lantas beliau menengadahkan wajahnya. Jibril mengatakan, “Itu adalah pintu langit yang sekarang dibuka, dan tidak akan pernah dibuka kecuali hari ini. Dari pintu itu turun malaikat ke bumi. Malaikat itu tidak akan pernah turun kecuali hari ini.” Malaikat itu mengucapkan salam kemudian berujar, “Berbahagialah (wahai Muhammad), dengan datangnya dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada nabi sebelum kamu, yaitu surat Al-Fatihah dan akhir surat Al-Baqarah. Tidakkah kamu mmebaca satu huruf dari keduanya melainkan kamu diberi (keutamaan).” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah, dari Ubay bin Kaab, Rasulullah menawarinya, “Maukah kamu aku ajarkan satu surat yang semisalnya tidak pernah diturunkan dalam Taurat, Injil, dan tidak ada padanannya dalam Al-Qur’an?” “Iya wahai Rasulullah,” jawab Ubay bin Kaab. Rasulullah bersabda, “Surat Al-Fatihah adalah as-sab’ul matsani dan merupakan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Al-Baihaqi, “Wahai Jabir, maukah kamu aku beri tahu surat yang paling utama yang diturunkan dalam Al-Qur’an?” Al-Baihaqi mengatakan: Jabir menjawab, “Iya wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda, “Yaitu Al-Fatihah, yang di dalamnya terdapat obat untuk semua penyakit.”

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Fatihah.

 

Baca Juga: Mari Tertakjub Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an

 

Keutamaan Surat Al-Baqarah

Surat Al-Baqarah diturunkan setelah hijrah (Madaniyyah). Surat ini merupakan surat pertama yang diturunkan di kota Madinah setelah hijrah, dan terus-menerus turun hingga Rasulullah wafat. Surat ini merupakan surat terpanjang di dalam Al-Qur’an dengan ayatnya yang berjumlah 286 ayat. Surat Al-Baqarah lebih menekankan kepada tanggung jawab kaum muslimin atas bumi ini dan mengemukakan kepada mereka manhaj kekhalifahannya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Al-Baqarah adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abu Umamah Al-Bahili yang menuturkan, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Qur’an. Sesungguhnya di hari kiamat kelak dia akan datang memberi syafaat kepada pembacanya. Bacalah dua surat az-zahrawain, yaitu al-baqarah dan ali imran. Sesungguhnya kelak di hari kiamat keduanya akan datang laksana dua mendung, atau laksana rembulan dan matahari, atau dua kawanan burung berbaris yang mencari pemilknya. Bacalah Al-Baqarah, sesungguhnya membacanya adalah berkah dan meninggalkannya adalah kerugian. Para penyihir tidak akan mampu menundukkanya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

Sahal bin Saad menceritakan, Rasulullah bersabda, “Setiap sesuatu mempunyai punuk (sesuatu yang paling tinggi), dan punuk Al-Qur’an adalah surat Al-Baqarah. Barang siapa yang membacanya di malam hari dalam rumahnya, maka setan tidak akan masuk ke rumahnya selama tiga malam. Barang siapa membacanya di siang hari, maka setan tidak akan ke rumahnya selama tiga hari.” (HR. Ibnu Hibban)

Dari Usaid bin Khudhair bahwa dia menceritakan, “Ya Rasulullah, saat saya membaca surat Al-Baqarah di malam hari, tiba-tiba saya mendengar sesuatu jatuh di belakang saya. Saya mengira kuda saya lepas. Rasulullah bersabda, “Bacalah wahai Aba Atik. Usaid menceritakan, “Aku pun menoleh, ternyata seperti cahaya yang menggantung di awang-awang, antara langit dan bumi.” Rasulullah berkata, “Bacalah wahai Aba Atik.” Usaid berkata, “Ya Rasulullah saya tidak mampu melanjutkannya.” Kemudian beliau menjelaskan, “Itu adalah malaikat yang turun karena bacaan surat Al-Baqarah. Andaikan kamu meneruskan (bacaanmu), niscaya kamu akan melihat keajaiban-keajaiban.” (HR. Ibnu Hibban)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Baqarah.

 

Keutamaan Surat Ali Imran

Surat Ali Imran termasuk surat Madaniyah (diturunkan setelah hijrah nabawiyyah), yaitu setelah surat Al-Anfal. Terdiri dari 200 ayat dan urutannya dalam mushaf setelah surat Al-Baqarah. Surat ini lebih menekankan kepada anjuran untuk berlaku tsabat di atas manhaj yang lurus dan tanggung jawab yang dibebankan di atas pundak orang-orang yang beriman.

Beberapa keistimewaan di tiga surat pertama Al-Qur’an adalah ketiganya selalu diakhiri dengan doa. Perhatikanlah bagaimana akhir dari ketiga surat tersebut:

  • Surat Al-Fatihah diakhiri dengan, “Tunjukilah kami jalan yang lurus….” (Al-Fatihah [1]: 6)
  • Surat Al-Baqarah diakhiri dengan firman-Nya, “Mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, jangan Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah…’.” (Al-Baqarah [2]: 286)
  • Surat Ali Imran diakhiri dengan firman-Nya, “Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (Ali Imran [3]: 193)

Ketiga ayat di atas mengingatkan kita tentang pentingnya seorang muslim agar senantiasa selalu bergantung kepada Allah dan senantiasa berdoa kepada-Nya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Ali Imran adalah sebagaimana berikut ini:

 “Kelak di hari kiamat Al-Qur’an akan didatangkan. Sedangkan ahli Al-Qur’an adalah orang-orang yang mengamalkannya. Surat Al-Baqarah dan Ali Imran akan menyambutnya laksana dua mendung tebal yang di antara keduanya terdapat rembulan dan matahari, atau laksana dua kawanan burung yang membentangkan sayapnya mencari sang pemilik mereka.” (HR. Muslim)

“Nama Allah yang agung, yang manakala seseorang berdoa dengan nama itu maka akan dikabulkan doanya, itu terdapat pada tiga surat, yakni: Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaha.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda kepada Muadz, “Maukah kamu aku ajarkan satu doa, yang andaikan kamu mempunyai tanggungan utang sebesar gunung Uhud pasti Allah membayarnya untukmu? Bacalah wahai Muadz, “Maha Pemurah dan Penyayang di dunia dan akhirat yang keduanya Engkau berikan dan cegah atas orang yang engkau kehendaki. Kasihilah aku dengan rahmat yang bisa mencukupiku dari selain rahmat-Mu.” (Ali Imran [3]: 26).” (HR. Thabrani)

Dari riwayat Muslim, dari Ibnu Abbas menceritakan bahwa suatu malam dia bermalam di samping Nabi. Di akhir malam, Nabi bangun kemudian keluar melihat ke atas, lalu membaca dua ayat yang terdapat dalam Surat Ali Imran, yaitu ayat 190-191. Kemudian beliau kembali masuk rumah, memakai siwak, mengambil wudhu, melaksanakan shalat, berbaring, berdiri latas keluar lagi dan melihat ke atas sembari membaca ayat ini. lalu beliau kembali, bersiwak, berwudhu, lalu berdiri dan melanjutkan shalat.”

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Ali Imran.

 

Keutamaan Surat An-Nisa’

Surat An-Nisa’ tergolong surat Madaniyah. Diturunkan setelah surat Al-Mumtahanah. Jumlah ayatnya adalah 176 ayat, dan berdasarkan urutan dalam mushaf, ia berada pada urutan keempat setelah surat Ali Imran.

Surat ini lebih menekankan pembahasan kepada mengemban tanggung jawab di muka bumi dengan memiliki kemampuan dalam menegakkan keadilan dab berlaku kasih sayang terhadap orang-orang lemah yang menjadi tanggung jawabnya untuk dilindungi. Intinya kemudian adalah bahwa sifat paling utama bagi para pengelola bumi adalah adil. Maka, di surat ini lebih banyak berbicara tentang kasih sayang dan keadilan, serta hak-hak kaum yang lemah. Termasuk keistimewaan surat ini pula adalah disebutkannya asmaul husna di penghujung ayat sebanyak 42 kali.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat An-Nisa’ adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Aisyah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca tujuh surat yang pertama, maka dia adalah orang shalih.” (HR. Ahmad).

Dari Abdullah bin Mas’ud mengatakan, Rasulullah bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Qur’an untukku.” “Apakah saya benar-benar membacakan Al-Qur’an kepada engkau, sedangkan ia diturunkan kepadamu?” “Benar,” kata Rasulullah. Kemudian aku membaca surat An-Nisa hingga aku sampai pada ayat fakaifa idza ji’na min kulli ummatin… “Sudah cukup sekarang,” pinta beliau. Aku melihat kedua mata beliau meneteskan air mata.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya dalam kitab Allah terdapat dua ayat. Tidaklah seorang hamba yang melalukan dosa kemudian membaca dua ayat itu dan memohon ampunannya melainkan dia diampuni. Dua ayat itu adalah: wa man ya’mal su’an au yazhlim nafsahu tsummah yastaghfirillaha yajidillah ghafura rahima (An-Nisa’ [4]: 110) dan walladzina idza fa’alu fakhisyatan au zhalamu anfusahum dzakaraullaha fastaghfaru lidzunubihim, wa man yaghfirudz dzunuba illallah, walam yushirru ala ma fa’alu wahum ya’lamun (Ali Imran [3]: 135).” (HR. Thabrani)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat An-Nisa’.

 

Keutamaan Surat Al-Maidah

Surat Al-Maidah termasuk surat madaniyah dan sebagian ayatnya diturunkan di Makkah setelah terjadi haji wada’. Surat ini diturunkan setelah surat Al-Fath, dan menurut urutannya dalam mushaf ia terletak setelah surat An-Nisa’. Ayat dalam surat ini berjumlah 120 ayat.

Surat Al-Maidah adalah satu-satunya surat dalam Al-Qur’an yang termulai dengan, “Hai orang-orang yang beriman…” (Al-Maidah [5]: 1). Seruan ini disebutkan secara berulang dalam dalam Al-Qur’an sebanyak 88 kali, dan di antaranya 16 kali disebutkan dalam surat Al-Maidah.

Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya surat Al-Maidah merupakan surat Al-Qur’an yang terakhir diturunkan. Apa saja yang kalian dapatkan di dalamnya tentang urusan yang dihalalkan, hendaklah kalian menghalalkannya. Sebaliknya, apa saja yang kalian dapatkan di dalamnya urusan yang diharamkan, hendaknya kalian mengharamkannya.”

Surat ini membahas berkenaan dengan enam hal penting, yaitu:

  • Makanan, minuman, binatang buruan, dan sembelihan.
  • Keluarga dan pernikahan.
  • Iman dan kifarat.
  • Hukum, peradilan, persaksian, dan pelaksanaan keadilan.
  • Penataan hubungan antara kaum muslimin dan agama lain, khususnya Yahudi dan Nashrani.

Mengingat surat Al-Maidah adalah surat yang menjelaskan tentang halal dan haram dalam Islam, maka ini adalah satu-satunya surat yang memuat tujuan syariat yang lima, yaitu:

  • Menjaga/memelihara agama (hifzud din)

Yang harus diperhatikan dalam menjaga agama adalah meninggalkan kekufuran. “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya…” (Al-Maidah [5]: 54)

  • Menjaga jiwa (hifzhun nafs)

“Oleh karena itu, Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (Al-Maidah [5]: 32)

  • Menjaga akal (hifzhul aqli)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah…” (Al-Maidah [5]: 90) sebagaimana kita tahu, menjaga diri dari khamr, akan menjaga diri dari kerusakan akal.

  • Menjaga kehormatan (hifzhul ardh)

“Tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik…” (Al-Maidah [5]: 5) Maksudnya, menjaga diri dengan tidak melakukan hubungan badang di luar yang sah melalui jalur pernikahan.

  • Menjaga harta (hifzhul mal)

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah…” (Al-Maidah [5]: 38)

Kelima tujuan syariat ini tentu saja untuk memelihara kemaslahan manusia itu sendiri.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Al-Maidah adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Asma’ binti Yazid dia mengatakan, “Pada saat seluruh ayat Al-Maidah diturunkan kepada Rasulullah, saya mengikat unta beliau dengan tali kekang yang sangat kuat. Sehingga, hampir meremukkan tulang paha unta itu karena beratnya surat itu.” (HR. Ahmad)

Dari Abu Dzar menuturkan, “Nabi shalat di malam hari hingga pagi hanya dengan membaca satu ayat, yaitu, “Jika Engkau menyiksa mereka sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu, dan apabila engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau adalah Mahaperkasa dan Bijaksana.” (Al-Maidah [5]: 118).” (HR. Nasai dan Hakim)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Maidah.

 

Baca Juga: Keindahan Al-Qur’an

 

Keutamaan Surat Al-An’am

Surat Al-An’am termasuk salah satu surat Makkiyah. Diturunkan setelah surat Al-Hijr dengan jumlah ayat sebanyak 165. Surat Al-An’am diturunkan dengan sejumlah keistimewaan, yaitu:

  • Surat ini diturunkan kepada Rasulullah langsung satu surat penuh pada satu malam. Sementara itu, semua surat-surat panjang dalam Al-Qur’an diturunkan secara
  • Pada waktu surat ini diturunkan, tujuh ribu malaikat yang memiliki zajlun, suara keras yang memekik, berhimpun seraya mengucap tasbih dengan penuh ketulusan. Semua peristiwa tersebut berlangsung pada malam hari.

Sebanyak tiga puluh persen dari jumlah ayat yang terdapat dalam surat ini berbicara mengenai larangan berbuat syirik kepada Allah. Secara garis besar, surat Al-An’am ditujukan kepada orang-orang yang beriman, akan tetapi tidak memiliki keinginan untuk merealisasikan keimanan mereka dalam tindakan nyata. Berangkat dari hal tersebut, terkuaklah hikmah bahwa diturunkannya surat ini secara satu surat penuh adalah untuk menegaskan bawha tauhid adalah satu kesatuan yang utuh, yaitu antara keyakinan (I’tiqad) dan penamalan (tathbiq).

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Al-An’am adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Jabir mengatakan bahwa ketika surat Al-An’am turun, Rasulullah membaca tasbih, kemudian beliau bersabda, “Surat ini telah diantara oleh para malaikat yang sangat banyak jumlahnya, sehingga mememuhi cakrawala.” (HR. Hakim)

Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, “Telah diturunkan kepadaku surat Al-An’am secara utuh, yang di antar oleh tujuh puluh ribu malaikat yang mempunyai suara sangat lantang dengan melantunkan tasbih dan tahmid.” (HR. Thabrani)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-An’Am.

 

Keutamaan Surat Al-A’raf

Surat Al-A’raf tergolong ke dalam surat-surat makiyah yang turun setelah surat Shad, sedangkan dalam mushaf surat ini terurut setelah surat Al-An’am, dengan jumlah ayat 206.

Surat Al-A’raf turun di tengah berlangsungnya pertentangan sengit antara kaum muslimin dengan orang kafir. Lebih tepatnya ketika Nabi diperintahkan untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Sebagian kaum muslimin saat itu masih malu, serta takut akan ancaman. Surat ini turun untuk memberikan pernyataan mengenai persaingan yang hak dan bathil yang akan berlangsung secara terus menerus. Keistimewaan lain yang terdapat dalam surat ini adalah surat ini diakhiri denan sebuah ayat yang di dalamnya terdapat anjuran untuk bersujud atau lebih kita kenal dengan ayat sajdah. Inilah ayat sajdah pertama yang terdapat dalam mushaf Al-Qur’an.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Al-A’raf adalah sebagaimana berikut ini:

Surat Al-A’raf adalah salah satu dari tujuh surat yang panjang. Dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca tujuh surat yang pertama (dari Al-Qur’an) maka dia adalah orang shalih.” (HR. Ahmad)

Dari Zaid bin Tsabit menceritakan, saat shalat maghrib Rasulullah membaca salah satu surat dari dua surat yang panjang. “Apa salah satu surat panjang itu?” tanya Zaid. “Surat itu adalah Al-A’raf.” Jawab beliau. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Zaid bin Tsabit dengan redaksi, “Nabi saat shalat maghrib membaca Al-A’raf dalam dua rakaat.”

Dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Ubay bin Ka’ab dia bercerita: saat aku duduk di samping nabi ada seorang Arab badui mendatangi beliau. Dia berkata, “Saya mempunyai seorang saudara yang sedang sakit.” Rasulullah bertanya, “Apa sakitnya?” orang Arab badui itu menjawab. “Sakit gila.” Rasulullah memerintahkan, “Kembalilah dan bawa dia kepadaku.” Lelaki itu pun beranjak pergi dna tak lama kemudian datang dengan membawa saudaranya. Dia mendudukkan saudaranya di depan nabi. Kemudian aku (Ubay bin Ka’ab) mendengar Nabi membacakan kepadanya Surat Al-fatihah, empat ayat pertama dari surat Al-Baqarah, dua ayat pertengahan surat Al-Baqarah [2]: 163 dan ayat kursi, tiga ayat terakhir surat Al-Baqarah, satu ayat dari surat Ali Imran [3]: 18, satu ayat dari surat Al-A’raf [7]: 54, satu ayat dari surat Al-Mu’minun [23]: 117, satu ayat dari surat Al-Jinn [72]: 3, sepuluh ayat pertama dari surat Ash-Shaffat, tiga ayat trakhir surat Al-Hasyr, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Orang Arab badui yang sakit itu kemudian berdiri. Dia telah sembuh total.” (HR. Ahmad)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-A’raf.

 

Keutamaan Surat Al-Anfal

Surat Al-Anfal termasuk surat madaniyyah. Ia dturunkan setelah surat Al-Baqarah, dan seara urutan surat dalam mushaf ia terletak setelah surat Al-A’raf dengan jumlah 75 ayat. Surat ini dinamakan pula surat Badar, karena diturunkan setelah peristiwa perang Badar. Perang Badar adalah perang pertama yang terjadi dalam sejarah peperangan Islam. Perang ini dinamakan juga dengan Yaumul Furqan, karena dalam perang inilah Allah memisahkan antara yang haq dan yang bathil.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ibnu Abbas menceritakan, aku bertanya kepada Utsman, “Apa alasan kalian meyakini bahwa tujuh surat yang panjang sampai pada surat Al-Anfal dan surat Bara’ah. Padahal surat Al-Anfal termasuk al-matsani sementara surat Bara’ah tergolong surat seratusan ayat (al-mi’in). Kalian juga menggandengkan keduanya dan tidak menulis basmalah di antara keduanya. Akan tetapi, kalian meletakkan surat Bara’ah dalam as-sab’ut thiwal (tujuh surat yang panjang). Apa alasan kalian?” Utsman menjelaskan, “Pada suatu saat ada beberapa surat yang mempunyai banyak ayat turun kepada Nabi. Ketika ayat itu turun, beliau memanggil beberapa sahabat yang akan menulis ayat itu. kemudian Rasulullah berseru, ‘Letakkanlah ayat-ayat ini di surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begini.’ Dan ketika sebuah ayat turun lagi, beliau juga menjelaskan, ‘Letakkanlah ayat ini di surat yang di dalamnya disebutkan ini dan itu.’ sedangkan Al-Anfal tergolong surat yang pertama turun di madinah dan surat Bara’ah merupakan akhir Al-Qur’an ayng ceritanya sama dengan cerita surat Al-Anfal. Sehingga, saya menganggap bahwa surat Bara’ah merupakan bagian dari al-matsani. Kemudian Rasulullah wafat dan belum menjelaskan kepada kami bahwa surat Bara’ah termasuk al-matsani. Oleh karena itu, saya gandengkan keduanya dan tidak saya tulis basmalah di antara keduanya. Kemudian saya meletakkan dalam tujuh surat yang panjang. Dengan demikian, maka keduanya terhitung as-sab’uth thiwal. Ketika disebutkan hadits tentang as-sab’uth thiwal maka mencakup keduanya, sebagaimana keumuman hadits yang menjelaskan keutamaan keduanya dalam Al-Qur’an.”

Dari Zaid bin Tsabit dan Abi Ayyub Al-Anshari menturkan ketika shalat maghrib Rasulullah membaca surat Al-Anfal pada dua rakaatnya. (HR. Thabrani)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Anfal.

 

Baca Juga: Dua Kunci agar Al-Qur’an Meresap di Jiwa

 

Keutamaan Surat At-Taubah

Surat At-Taubah tergolong surat madaniyyah. Diturunkan setelah surat Al-Maidah. Menurut urutan mushaf terletak setelah surat Al-Anfal. Ayatnya berjumlah 129 dan termasuk surat terakhir yang diturunkan kepada Nabi secara keseluruhan, sebelum Rasulullah menghadap Sang Khaliq.

Surat ini diturunkan setelah terjadi peperangan Nabi yang terakhir, yaitu perang Tabuk. Dalam perang tersebut, jumlah pasukan kaum muslimin adalah 30.000. Dalam mushaf, surat ini terletak setelah surat Al-Anfal yang berkisah tentang perang Badar, yang jumlah pasukannya adalah 313. Hikmahnya barangkali adalah agar kaum muslimin dapat memahami kondisi dua perang yang sangat berbeda jauh tersebut. Apalagi, dalam perang Tabuk, banyak sekali kisah kemunafikan yang terjadi. Berbeda keadaan dengan perang Badar yang penuh dengan semangat tulus nan membara dari kaum muslimin untuk menumpas kebathilan.

Mengenai tidak disebutkannya basmalah dalam surat At-Taubah, berdasarkan pendapat mayoritas ulama, adalah karena surat ini berbicara tentang orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Mereka diharamkan dari kalimat basmalah dan makna kasih sayang Allah yang terdapat di dalamnya.

“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang ditujukan) kepada orang-orang musyrikin.” (At-Taubah [9]: 1)

Dalam surat At-Taubah, penyebutan lafazh taubat dan kata-kata pecahannya disebutkan sebanyak 17 kali. Dan itu adalah termasuk penyebutan paling banyak di antara surat-surat di dalam Al-Qur’an yang lainnya. Dalam surat Al-Baqarah, yang termasuk surat paling panjang dalam Al-Qur’an, hanya disebutkan sebanyak 13 kali. Dalam surat Ali Imran sebanyak 3 kali, surat An-Nisa’ 12 kali, surat Al-Maidah sebanyak 5 kali, surat Hud sebanyak 6 kali, dan dalam surat Al-An’am hanya disebutkan sekali.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abu Dzar mengatakan, aku masuk masjid saat Nabi sedang khotbah Jum’at. Lantas aku duduk di dekat Ubay bin Ka’ab. Kemudian Nabi membaca surat Bara’ah ketika shalat. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Dari Ummu Darda’, dari Abu Darda’ berkata, “Barang siapa ketika pagi dan sore harinya membaca (At-Taubah [9]: 129) sebanyak tujuh kali, maka Allah akan mencukupi apa yang diinginkannya baik dia sungguh-sungguh atau tidak.” (HR. Abu Dawud)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat At-Taubah.

 

Keutamaan Surat Yunus, Yusuf, Ibrahim, dan Al-Hijr

Surat Yunus adalah surat Makkiyah yang diturunkan setelah surat Al-Isra’. Dalam urutan mushaf terletak setelah surat At-Taubah, dan terdiri dari 109 ayat. Surat ini secara garis besar membahas tentang rukun iman yang terakhir, yaitu iman kepada qadha dan qadhar. Ada tiga perkara yang menjadi penutup surat ini agar dijadikan pelajaran secara amaliyah dalam mengimani qadha dan qadar Allah, yaitu: berserah diri hanya kepada-Nya, tidak sekali-kali meminta perlindungan kepada selain-Nya, dan bertawakkal hanya kepada-Nya.

“Dan (aku telah diperintah): ‘Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebba jika kamu berbuat demikian itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang lalim.” (Yunus [10]: 105-106)

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Zaid bin Tsabit Al-Anshari yang menceritakan, aku melihat Rasululah membaca dua surat yang panjang. Lantas aku bertanya, “Dua surat apa yang panjang ini?” “Kedua surat itu adalah Al-A’raf dan Yunus,” jawab beliau. (HR. Thabrani)

Dari Abdullah bin Amr yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki tua yang datang kepada Nabi, lantas berkata, “Bacakanlah aku wahai Rasulullah,” pinta lelaki itu. “Bacalah tiap surat yang diawali dengan alif lam ra,” perintah beliau. “Saya sudah tua, hati saya telah keras dan lidah saya telah kaku.” Keluh orang tua itu. “Bacalah tiga surat yang diawali dengan hamim,” perintah Rasul. Lelaki itu pun menjawab dengan jawaban yang sama. “Bacalah tiga surat yang diawali dengan kata sabbaha,” tegas Rasulullah. Dengan pernyataan yang sama pula orang itu menjawab perintah beliau. Hingga kemudian orang ini berkata, “Wahai Rasulullah, bacakanlah aku satu surat yang bisa mencakup semuanya,” pinta dia. Nabi pun membacakannya surat Az-Zalzalah hingga selesai. Laki-laki itu kemudian berkata, “Demi Tuhan yang mengutus Anda dengan membaca kebenaran. Aku tidak akan menambahnya selama-lamanya.” Lalu laki-laki tersebut pergi. Kemudian Rasulullah bersabda tentang laki-laki itu, “Pejalan kaki pelan-pelan itu beruntung dua kali.” (HR. Abu Dawud)

Keutamaan Surat Hud

Surat Hud termasuk surat yang diturunkan sebelum hijrah (Makkiyah). Ia diturunkan setelah surat Yunus, dan dalam urutan mushaf juga terletak setelah surat Yunus. Surat ini terdiri dari 23 ayat.

Saat surat ini diturunkan, Rasulullah sedang diguncang ujian yang sangat berat. Guncangan terhadap kaum muslimin Makkah semakin berat dengan beragam gangguan dari kaum musyrikin. Sebagian yang lain termasuk beliau hijrahkan ke Habasyah. Tak lama kemudian, pamannya, Abu Thalib yang selalu membelanya meninggal. Begitu pula Khadijah yang selalu menjadi pelipur lara. Masih ditambah pula penolakan terhadap dakwah oleh penduduk Thaif dengan penolakan yang bersifat fisik. Di saat yang sama, tak satu pun kabilah di Makkah mau memberikan suaka kepada beliau.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ibnu Abbas mengatakan, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, rambut Anda telah memutih (ubanan).” Lantas beliau melanjutkan, “Surat Hud, Al-Waqiah, Al-Mursalat, An-Naba’, dan Asy-Syams, telah membuat rambutku putih.” (HR. Tirmidzi)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Hud.

Keutamaan Surat Yusuf

Di dalam surat Yusuf diajarkan bahwa Allahlah yang mengatur segala urusan. Boleh jadi, pandangan seseorang terhadap semua peristiwa yang terjadi pada dirinya itu berakibat jelek, tetapi padangan tersebut terbatas dalam memahami taqdir dan hikmah Allah yang terdapat dalam keputusannya. Kisah Nabi Yusuf dalam surat ini mengajarkan teladan akhlak dalam dua keadaan, yaitu: ketika musibah menimpa, kita harus tetap bersabar dan tak boleh putus asa serta tetap berusaha mewujudkan cita-cita. Sedangkan saat memeroleh kesenangan, tetap rendah hati dan penuh keikhlasan karena Allah.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Yusuf.

 

Keutamaan Surat Ar-Ra’d

Surat Ar-Ra’d tergolong ke dalam surat Madaniyyah. Diturunkan setelah surat Muhammad, dan dalam urutan mushaf terletak setelah surat Yusuf, dan berjumlah 34 ayat. Ajaran paling mengesankan yang dituturkan dalam surat ini adalah tentang kokohnya kekuatan kebenaran dan rapuhnya pondasi kebathilan. Walaupun dari luar nampaknya kebathilan begitu memikat dan kuat, akan tetapi sebenarnya pondasinya sangat rapuh. Tidak begitu dengan kebenaran yang pondasinya sangat kuat. Sehingga, bagaimanapun kebenaran akan selalu menang.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Ar-Ra’d.

 

Baca Juga: Para Teladan dalam Membumikan Al-Qur’an

 

Keutamaan Surat Ibrahim

Ibrahim adalah sosok manusia yang pandai mensyukuri nikmat. “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.” (Ibrahim [14]: 39) Surat ini berisi untuk meluruskan pemahaman terhadap manusia bahwa nikmat terbesar dalam hidup adalah nikmat keimanan, dan bukannya dengan banyaknya harta dan tingginnya ketenaran serta jabatan.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Ibrahim.

 

Keutamaan Surat Al-Hijr

Surat Al-Hijr tergolong surat Makkiyah yang diturunkan setelah surat Yusuf. Dalam urutan mushaf, terletak setelah surat Ibrahim dengan ayat yang berjumlah 99. Al-Hijr adalah sebuah pemukiman yang ditempati oleh kabilah Tsamud (kaumnya Nabi Shalih).

Para penduduk Hijr adalah orang-orang yang senantiasa mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka selalu saja menolak jalan keimanan yang lurus. Setelah mereka merasakan bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya, mereka pun kemudian mencari perlindungan, dan tidak mendapatkannya kecuali berada di Hijr.

Kemajuan peradaban penduduk Hijr sangat luar biasa. Mereka sanggup memahat gunung-gunung batu dan dijadikan tempat tinggal. Sangkaan mereka, jika mereka sanggup tinggal di tempat tersebut, maka mereka akan aman dan selamat dari azab Allah. Tetepi mereka lupa, bahwa Allah adalah Yang Mahakuasa. Di manapun mereka bersembunyi, saat Allah berkehendak, maka takkan dapat seorangpun yang menolak.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Hijr.

 

Keutamaan Surat An-Nahl

Bila dalam surat Ibrahim berbicara tentang satu kenikmatan saja, yaitu nikat keimanan, akan tetapi di surat An-Nahl ini pokok bahasannya adalah seluruh kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah kepada seluruh manusia. Mulai dari nikmat yang paling sederhana, hingga nikmat yang paling tinggi yaitu keimanan. Pertanyaannya kemudian adalah, walaupun dalam surat ini berbicara banyak mengenai nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, akan tetapi mengapa penamaannya justru adalah An-Nahl yang berarti lebah, dan bukannya An-Ni’am yang bermakna nikmat-nikmat Allah. Hal ini dikarenakan lebah, kehidupannya, pengaturan kemasyarakatannya, caranya menghasilkan madu, dan sistim kerjanya merupakan contoh nyata yang dapat diambil pelajarannya oleh manusia untuk merasakan besarnya nikmat Allah dan tanda kebesaran kekuasaannya di alam semesta ini.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat An-Nahl.

 

Keutamaan Surat Al-Isra’

Surat Al-Isra’ termasuk Makkiyah, dan diturunkan setelah surat Al-Qashash. Dalam urutan mushaf terletak setelah surat An-Nahl. Jumlah ayatnya 111 dan dikenal pula dengan nama surat Bani Israil.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Aisyah yang meriwayatkan, Rasulullah berpuasa, sehingga kami menduga beliau tidak ingin berbuka. Rasulullah tidak berpuasa, sehingga kami menduga beliau tidak ingin berpuasa. Beliau setiap malam membaca Surat Bani Israil dan Az-Zumar.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Abdurrahman bin Yazid bin Qais mengatakan, aku mendengar pernyataan Ibnu Mas’ud mengenai surat Al-Isra’, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya’. “Semua itu merupakan awal surat yang turun dan pertama aku baca.” (HR. Bukhari)

Dari Irbadh bin Sariyah yang menuturkan bahwa Rasulullah mmebaca beberapa surat Al-Musabbihat sebelum beranjak tidur. Beliau mengatakan, “Di dalam surat-surat itu terdapat satu ayat yang paling utama daripada seribu ayat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Al-Musabbihat adalah membaca surat-surat yang diawali dengan kata subhana, sabbaha, yusabbihu atau sabbih, yaitu surat Al-Isra’, Al-Hadid, Al-Hasyr, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, At-Taghabun, dan Al-A’la.

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhani, Rasulullah bersabda, “Ayat yang mulia adalah, ‘segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Isra’.

 

Keutamaan Surat Al-Kahfi

Surat Al-Kahfi adalah Makkiyah dan diturunkan setelah surat Al-Ghatsiyah. Dalam urutan mushaf terletak setelah surat Al-Isra’ dan ayat yang berjumlah 110. Surat Al-Kahfi berisi empat kisah penting, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah dua pemilik kebun, kisah Musa dan Khidhir, serta kisah Dzul Qarnain.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Al-Bara’ bin Azib yang menceritakan: ada seorang laki-laki membaca Surat Al-Kahfi. Sementara di rumahnya ada seekor hewan ternak. Hewan itu kemudian lari. Akan tetapi, tiba-tiba ada kabut menyelimutinya. Lelaki itu lantas menceritakan kejadian itu kepada Nabi. Lalu beliau bersabda, “Bacalah surat itu, wahai fulan. Sesungguhnya yang turun itu adalah sakinah (malaikat) yang turun untuk Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abi Darda’, Rasulullah bersabda, “Barang siapa hafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi, maka dia selamat dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)

Dari Mu’adz, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca awal dan akhir surat Al-Kahfi, maka surat itu akan menjadi cahaya baginya dari mata kaki hingga kepalanya. Barang siapa yang membaca seuanya maka surat itu menjadi cahaya untuknya antara langit dan bumi.” (HR. Ahmad)

Dari Abu Sa’id Al-Khudhri, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca surat Al-Kahfi di malam Jum’at, maka baginya cahaya antara dia dan baitul atiq.” (HR. Ad-Darimi)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Kahfi.

 

Keutamaan Surat Maryam

Surat Maryam adalah Makkiyah, yang diturunkan setelah surat Fathir. Dalam urutan mushaf terletak setelah surat Al-Kahfi. Jumlah ayatnya sebanyak 98 ayat. Secara garis besar, surat Maryam menjelaskan mengenai keutamaan pewarisan agama kepada keturunan, dan bukannya dengan harta. Oleh itulah, di surat ini disebutkan beberapa contoh kisah tentang mereka yang mewariskan agama kepada anaknya, dan bukannya harta, yaitu: Zakaria dan Yahya; Maryam dan Isa; Ibrahim bersama anaknya; serta Ismail kepada anak-anaknya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ummi Salamah yang menuturkan, An-Najasyi bertanya kepada Ja’far bin Abi Thalib Ath-Thiyar, “Apakah kamu memiliki sesuatu dari Nabi tentang wahyu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Iya.” “Bacakanlah wahyu itu untukku,” pinta An-Najasyi kepada Ja’far. Ja’far lantas membacakan ayat pertama dari kaf ha ya ain shad. Kemudian, An-Najasyi menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya, begitu pula para uskupnya, hingga air mata mereka membasahi kitab-kitab mereka, saat mendengar apa yang dibacakan kepada mereka. An-Najasyi berkata, “Demi Allah, sesungguhnya surat ini dan apa yang dibawa oleh Nabi Musa keluar dari lentera yang satu. Berangkatlah kalian berdua. Demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selamanya dan tidak akan pernah.”

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Maryam.

 

Keutamaan Surat Thaha

Surat Thaha adalah Makkiyah dan diturunkan setelah surat Maryam. Dalam urutan mushaf juga terletak di urutan yang sama dengan jumlah ayat 135 ayat. Surat ini menegaskan kepada para pemuda yang jauh dari agama maupun para pemuda yang ingin berkomitmen dengan agama dalam hidupnya tetapi merasa khawatir kalau-kalau komitmen tersebut justru membuat hidupnya tidak bahagia dan jauh dari kenikmatan-kenikmatan di dunia. Surat ini kemudian menjawab dengan tegas bahwa Islam adalah manhaj kebahagiaan dan Al-Qur’an tidak akan membuat susah para pengembannya.

“Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (Thaha [20]: 1-2)

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abi Umamah, Rasulullah bersabda, “Asma Allah yang agung, yang ketika digunakan untuk berdoa maka akan dikabulkan, itu berada di tiga surat, yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaha.” (HR. Ibnu Majah) Hakim menambahkan dari Al-Qasim bin Abdurrahman yang meriwayatkan dari Abu Umamah yang berkata, “Lantas aku mencarinya, hingga dalam surat Al-Baqarah aku temukan Ayat Kursi awal surat Ali Imran (alif lam mim, allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum) dan surat Thaha (wa anatil wujuhu lil hayyil qayyum).”

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Thaha.

 

Keutamaan Surat Al-Anbiya’

Surat Thaha adalah Makkiyah, diturunkan setelah surat Ibrahim dan dalam urutan mushaf terletak setelah surat Thaha dengan jumlah 112 ayat. Surat ini menjelaskan mengenai kisah para Nabi Allah serta berbagai peran mereka dalam berdakwah kepada manusia.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Sa’id bin Abi Waqqash, Rasulullah bersabda, “Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika berada dalam perut ikan adalah: la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin. (Al-Anbiya: 87). Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa tersebut untuk meminta suatu apa pun, kecuali Allah akan mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Anbiya’.

 

Keutamaan Surat Al-Hajj

Sebagian dari surat Al-Hajj diturunkan Makkiyah, dan sebagiannya lagi adalah Madaniyah. Diturunkan setelah surat An-Nur, dan dalam urutan mushaf terletak setelah surat Al-Anbiya dengan jumlah 78 ayat. Inilah satu-satunya surat yang dinamai dengan salah satu rukun Islam. Sehingga, nampak benar nilai ibadah haji menjadi bahasan pokok dalam surat ini.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah bersabda, “Surat Al-Hajj diistimewakan dengan dua ayat sajdah. Barang siapa yang tidak bersujud maka tidak sempurnya pembacaannya.” (HR. Hakim dan Ath-Thabrani)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Hajj.

 

Keutamaan Surat Al-Mu’minun

Surat Al-Mu’minun diturunkan Makkiyah setelah surat Al-Anbiya’ dan dalam mushaf urutannya terletak setelah surat Al-Hajj dengan 118 ayat. Di surat ini, secara garis besar disebutkan tentang karakter-karakter seorang mukmin. Oleh itulah, di awal surat terdapat ayat:

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman.” (Al-Mukminun [23]: 1)

Keistimewaan pun tersebut di akhir ayat. Adalah akhir ayat dari surat ini disebutkan tentang doa:

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik.” (Al-Mu’minun [23]: 118)

Setelah banyak sifat orang-orang mukmin yang disebutkan di depan, pada akhir surat diakhiri dengan doa menunjukkan bahwa setelah seorang mukmin sukses meraih sifat-sifat mulia tersebut, terkadang mereka juga masih akan melakukan beberapa kesalahan yang memang menunjukkan bahwa mereka adalah manusia biasa dan senantiasa masih membutuhkan petunjuk dari Rabbnya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

“Telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat. Barang siapa yang bisa melaksanakannya, dia masuk surga.” Lantas beliau membacakan kepada kami ayat qad aflahal mu’minun hingga selesai sepuluh ayat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Mu’minun.

Keutamaan Surat An-Nur

Surat An-Nuur adalah Madaniyah dan diturunkan setelah surat Al-Hasyr. Dalam urutan mushaf terletak setelah surat Al-Mukminun dengan jumlah 64 ayat.

Surat ini turun berkenaan dengan peristiwa fitnah yang ditujukan kepada Aisyah. Namun, berita yang disebarkan oleh kaum munafiqin tersebut langsung mendapatkan jawaban dari Allah.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Aisyah berangkat bersama Rasulullah dalam perang Bani Mushtaliq. Di tengah perjalanan pulang, pasukan berhenti untuk beristirahat. Pada saat itu kalung Aisyah hilang. Ketika ia mencari kalungnya, para pemikul sekedup yng mengangkut Aisyah segera mengangkat sekedup, tanpa merasa kalau Aisyah tidak berada di dalamnya. Hal ini dikarenakan tubuh Aisyah yang masih belia dan beratnya yang masih ringan. Ketika Aisyah kembali ke lokasi peristirahatan, ternyata pasukan sudah meneruskan perjalanan. Maka tinggallah ia sendiri di padang pasir. Biasanya rasulullah menugaskan seseorang di belakang pasukan untuk melakukan pengawasan. Saat itu yang mendapatkan tugas adalah Shafwan bin Mu’athal. Ketika ia melihat Aisyah sendirian di tengah padang pasir, maka ia pun kemudian menundukkan untanya dan mempersilakan Aisyah untuk naik, tanpa berbicara sepatah kata sedikitpun dan tanpa melihat kepadanya. Lalau, ia menuntun unta itu hingga masuk ke kota Madinah.

Peristiwa ini kemudian dimanfaatkan oleh kaum munafiqin. Mereka mulai menebar isu dan fitnah bahwa telah terjadi perselingkuhan antara Aisyah dan Shawan bin Mu’athal. Masyarakat pun terpengaruh dengan isu bohong itu sehingga sebagian kaum mukminin terjebak dalam kekeliruan. Mereka pun ikut-ikutan mengatakan, “Tidak mungkin ada asap tanpa ada api.”

Kaum mukminin pun terbagi menjadi tiga kelompok. Sebagian mereka kebingungan dan tidak menentukan sikap, sebagian mereka tidak memercayai beritu tersebut dan sebagian lagi menyangka bahwa perbuatan keji itu benar-benar terjadi. Sementara itu, wahyu terhenti selama satu bulan penuh. Peristiwa ini tentu saja menjadi ujian bagi kondisi kemasyarakatan kaum muslimin.

Dalam surat An-Nuur ini pun secara garis besar membahas tentang adab-adab sosial: tentang manusia dan urusan rumahnya, menjaga sopan santun dan cara berinteraksi dengan masyarakat sekitar, serta menjaga kehormatan dan menjauhi diri dari kerusakan dan kehinaan serta kerendahan dalam masyarakat.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat An-Nur.

 

Keutamaan Surat Al-Furqan

Surat Al-Furqan diturunkan Makkiyah setelah surat Yasin. Dalam urutan mushaf terletak setelah surat An-Nur dengan jumlah 77 ayat.

Surat ini merangkum tiga pokok bahasan, yaitu: model pendustaan yang dihadapi oleh Rasulullah, memperingatkan mengenai akibat buruk dari pendustaan, dan meneguhkan hati para sahabat dan Rasulullah. Surat ini ternamai dengan Al-Furqan karena dengan tiga pokok bahasan tersebut dapat kita ketahui bahwa agama dan Al-Qur’an merupakan alat pembeda antara kebeneran dan kebathilan.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Furqan.

Keutamaan Surat Asy-Syuara

Surat ini adalah makkiyah dan diturunkan setelah surat Al-Waqiah, dan dalam urutan mushaf setelah surat Al-Furqan dengan jumlah 227 ayat.

Pada masa Nabi Musa, masyarakatya mengagumi sihir, sedangkan di masa Nabi Muhammad banyak yang mengagumi syair dan para penyairnya. Dari surat ini, kita belajar mengenai seni publikasi dan komunikasi yang efektif. Karena surat ini turun pada awal fase dakwah jahriyyah (terang-terangan), terutama setelah Nabi Muhammad mengumandangkan dakwah Islam secara terang-terangan di bukit Shafa.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat As-Syuara’.

 

Keutamaan Surat An-Naml

Surat An-Naml diturunkan Makkiyah setelah surat Asy-Syuara’. Dalam urutan mushaf terletak sama dan terdiri dari 93 ayat.

Surat ini berbicara mengenai keunggulan peradaban dan pentingnya penguasaan rambu-rambu peradaban yang sangat kuat, yaitu: ilmu, teknologi, materi, militer, yang kesemuanya digunakan untuk membela agama Allah. Di surat ini dipaparkan mengenai keunggulan peradaban dari kerajaan Nabi Sulaiman, kerajaan Balqis, begitu pula dengan kerajaan Fir’aun. Uniknya adalah, walaupun kata an-naml yang berarti semut hanya disebutkan sekali di dalam surat ini, namun ia menyimpan hikmah yang mendalam mengenai keunggulan peradaban sehingga dapat menjadi pelajaran bagi kaum mukminin. Pola peradaban semut adalah peradaban paling maju di antara serangga lainnya. Pengembangan dan pembangunan tempat tinggal mereka sangat rapi dan teratur. Begitu pula dengan penataan pasukannya. Demikianlah, hingga kehidupan kemasyarakatan semut layak menjadi contoh bagaimana menuju peradaban yang unggul di dalam kehidupan manusia. Bila semut yang kecil itu saja sanggup menata peradaban dengan sedemikian unggulnya, maka kaum mukminin seharusnya belajar dan bersiap menjadi peradaban terunggul di bumi Allah.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat An-Naml.

 

Keutamaan Surat Al-Qashash

Surat Al-Qashash termasuk ke dalam surat Makkiyah dan diturunkan setelah surat An-Naml. Dalam urutan mushaf juga terletak sama dengan jumlah ayat 88. Sebagian dari surat Al-Qashash diturunkan pada waktu Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau sangat bersedih hati hingga bercucuranlah air matanya. “Allah mengetahui bahwa engkau adalah negeri yang paling aku cintai, seandainya bukan karena kaummu yang mengusir aku, niscaya aku tidak akan pergi.” Kata beliau.

Surat Al-Qashash adalah satu-satu surat yang secara fokus menjelaskan kelahiran Musa, pertumbuhannya, pengembaraannya menuju Madyan, dan lain sebagainya. Pertanyaannya kemudian adalah, apa hubungannya antara kisah Musa tersebut dengan proses hijrah Rasulullah yang sangat membuat beliau bersedih hati meninggalkan Makkah.

Walaupun Rasulullah pergi dari Makkah dengan sembunyi-sembunyi, tapi Allah berjanji akan mengembalikan beliau ke Makkah dengan kemenangan dan terang-terangan. Janji itu digambarkan oleh Allah dalam ayat:

“Sesungguhnya Allah yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali…” (Al-Qashash [28]: 85)

Sebagaimana kepergian Musa dari Mesir selama delapan tahun, ditambah dua tahun (setelah menikah dengan puteri Nabi Syuaib di negeri Madyan). Allah pun berjanji dengan redaksi:

“….Sesungguhnya kami akan mengembalikan kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul…” (Al-Qashash [28]: 7)

Rentang waktu kembalinya pun sama. Nabi Musa kembali ke Mesir setelah sepuluh tahun meninggalkannya. Yaitu sebagaimana tersebut dalam ayat bahwa delapan tahun ditambah dengan dua tahun, yang berarti sepuluh tahun.

“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu.” (Al-Qashash [28]: 27)

Begitu pula dengan Nabi Muhammad. Beliau memasuki kota Makkah dan membebaskannya setelah delapan tahun hijrah. Namun, misi dakwah benar-benar baru terwujud menjadi kenyataan pada tahun kesepuluh hijriyah.

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Qashash.

 

Surat Al-Ankabut

Surat Al-Ankabut terdiri dari 69 ayat dan termasuk surat Makkiyah. Diturunkan setelah surat Ar-Rum dan dalam urutan mushaf terletak setelah surat Al-Qashash.

Ujian adalah suatu kepastian dalam kehidupan seorang mukmin. Secara garis besar, surat ini berbincang mengenai ujian dalam kehidupan, sebagaimana awal ayat yang menegaskan:

“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak duji lagi?” (Al-Ankabut [29]: 1-2)

Lalu, mengapa surat ini dinamakan surat Al-Ankabut yang berarti laba-laba. Tak lain adalah sebagai perumpamaan bahwa sisi kehidupan sosial laba-laba adalah sangat lemah begitu pula rumah yang dibuatnya. Setelah sang jantan membuahi sang betina, maka sang betina kemudian membunuh sang jantan dan dibuang dari sarangnya. Begitu pula ketika sang anak telah dewasa, ia akan membunuh sang ibu dan membuatnya di luar sarang. Sarang laba-laba yang begitu terjalin rumit cara pembuatannya mengingatkan kita akan fitnah yang juga ruwet. Akan tetapi, di balik itu semua ia sangat rapuh dan mudah sekali dikalahkan kebenaran dan keistiqomahan di jalan-Nya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Aisyah menceritakan, “Rasulullah melaksanakan shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan sebanyak empat rakaat dan empat sujud dengan membaca Al-Ankabut atau Ar-Rum di rakaat pertama dan Yasin di rakaat yang kedua.” (HR. Daruquthni dan Baihaqi)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Ankabut.

 

Keutamaan Surat Ar-Rum

Surat Ar-Rum termasuk dalam surat Makkiyah dan diturunkan setelah surat Al-Insyiqaq. Dalam mushaf urutannya terletak setelah surat Al-Ankabut dengan berjumlah 60 ayat.

Surat Ar-Rum adalah surat yang di dalamnya banyak sekali terdapat ungkapan “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya…” Diharapkan, keimanan kita akan bertambah dengan penyebutan kekuasaan Allah yang sangat luas dan agung tersebut.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah, beliau bersabda, “Barang siapa saat pagi hari membaca (Ar-Rum: 17-19), maka dia akan menemukan apa yang terlewatkan di hari itu. dan barang siapa yang membaca saat sore hari maka dia akan menemukan apa yang terlewatkan di malam hari itu.” (HR. Abu Dawud dan Thabrani)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Ar-Rum.

 

Keutamaan Surat Luqman

Surat Luqman adalah surat Makkiyah dengan 34 ayat. Diturunkan setelah urat Ash-Shaffat dan berdasarkan susunan urutan mushaf terletak setelah surat Ar-Rum.

Surat ini identik dengan surat tarbiyatul aulad atau pendidikan anak. Hal ini dikarenakan isi surat yang dominan dengan cara pendidikan ala Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Surat yang hanya terdiri dari 34 ayat ini berbicara banyak mengenai sajian komprehensif tentang pendidikan anak yang meliputi: tauhid, berbuat baik kepada kedua orang tua, urgensi ibadah dan berbuat kebajikan dalam kehidupan, pemahaman tentang hakikat dunia, perasaan dan etika, serta bagaimana merencanakan hidup. Keenam hal itulah yang diajarkan oleh Luqman kepada anaknya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Al-Bara’ bin Azib yang menceritakan, saat sedang shalat zhuhur di belakang Nabi, kami mendengar beliau membaca satu ayat dari surat Luqman dan Az-Zariat setelah membaca beberapa ayat.” (HR. Nasai dan Ibnu Majah)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Luqman.

Keutamaan Surat As-Sajdah

Surat As-Sajdah adalah surat ketundukan. Rasulullah biasa membaca surat ini pada shalat fajar, setiap hari jum’at yang merupakan hari libur kaum muslimin, agar mereka memulai hari yang berkah tersebut dengan permulaan yang khusyuk dan tunduk kepada Allah.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat ini adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Jabir bin Abdillah yang menceritakan, “Rasulullah tidak pernah beranjak tidur hingga beliau membaca surat As-Sajdah dan Al-Mulk.” (HR. Ad-Darimi, Ahmad, dan Tirmidzi)

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Barang siapa shalat empat rakaat setelah sepertiga malam akhir kemudian membaca al-kafirun dan al-ikhlas pada dua rakaat pertama dan membaca as-sajdah dan al-mulk pada dua rakaat terakhir, maka dicatat baginya seperti mengerjakan empat rakaat di malam lailatul qadar.” (HR. Thabrani)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat As-Sajdah.

Keutamaan Surat Al-Ahzab, Saba’, Fathir, Ash-Shaffat, dan Shad.

Keenam surat tersebut berbicara mengenai satu topik besar, yakni perintah untuk berserah diri kepada Allah dalam segala urusan di kehidupan. Surat Al-Ahzab menjelaskan tentang perintah untuk berserah diri kepada Allah pada saat-saat sulit nan terjepit. Surat saba’ menjelaskan bahwa berserah diri kepada Allah adalah jalan menuju peradaban yang unggul dan memenangkan. Surat Fathir dengan gamblang menjelaskan bahwa berserah diri kepada Allah adalah jalan kemuliaan yang paling mulia. Surat Yasin menjelaskan tentang berserah diri kepada Allah dengan terus menjaga komitmen alam berdakwah meskipun hasilnya dalam bayangan kita sangat nihil dan mustahil. Sedangkan surat Ash-Shaffat menjelaskan tentang keharusan berserah diri kepada Allah, walaupun tidak pernah mengerti tentang hikmah-hikmah tersembunyi yang tersedia dari perintah-perintah yang telah Allah berikan. Dan yang terakhir adalah surat Shad yang menjelaskan tentang berserah diri kepada Allah dengan kembali kepada Al-Haq tanpa keraguan sedikit pun.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Yasin adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca surat Yasin di malam hari, maka di pagi harinya diampuni dosanya. Barang siapa membaca ha mim yang di dalamnya disebut kata ad-dukhan di malam Jum’at, maka di pagi harinya dia akan diampuni dosanya.” (HR. Abu Ya’la)

Dari Anas bin Malik yang mengatakan, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai jantung, dan jantung Al-Qur’an adalah yasin. Barang siapa membacanya, maka dia seperti membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (HR. Ad-Darimi dan Tirmidzi)

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah bersabda, “Al-Baqarah adalah punuk dan puncak Al-Qur’an. Setiap satu ayat turun, delapan puluh malaikat bersamanya. Dan merea mengeluarkan kalimat: allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum dari bawah Arsy lantas disusul dengan surat Al-Baqarah. Adapun surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya yang dia ingin mendapat ridhanya Allah dan rumah akhirat melainkan diampuni dosanya, dan bacalah untuk orang-orang yang telah meninggal.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Ash-Shaffat adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ibnu Umar yang meriwayatkan, “Rasulullah telah menyuruh kami untuk takhfif (memperingan bacaan dalam shalat) dan beliau mengimami kami dengan bacaan Ash-Shaffat.” (HR. Nasai dan Ibnu Huzaimah). Dalam riwayat lain versi Ibnu Hibban diriwayatkan, “Sungguh, Rasulullah telah memerintahkan kami untuk takhfif, meskipun beliau mengimami kami pada saat shalat subuh dengan membaca Ash-Shaffat.”

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Shad adalah sebagaimana berikut ini:

Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan, “Aku bermimpi diriku menulis Surat Shad. Ketika sampai ayat sajdah aku melihat tempat tinta, pena, dan semua yang ada di sekelilingku terbalik dalam keadaan sujud. Kemudian aku menceritakannya kepada Rasulullah, sehingga beliau selalu sujud ketika membaca ayat itu.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Ya’la dari Abi Sa’id Al-Khudri yang menceritakan, “Aku bermimpi seolah-olah berada di bawah pohon dan seakan-akan pohon itu membaca surat Shad. Ketika dia sampai pada ayat sajdah, dia sujud sembari membaca, “Ya Allah, ampunilah aku dengan sujudku. Ya Allah, hapuslah dosa dariku sebab sujudku, dan dengan sujudku munculkanlah rasa syukurku, serta terimalah sujudku sebagaimana Engkau menerima sujud hamba-Mu, Dawud.” Kemudian, pagi-pagi aku menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan isi mimpiku. “Apakah engkau bersujud, wahai Abu Sa’id?” tanya beliau. “Tidak,” jawabku. “Kamu lebih berhak bersujud daripada pohon itu,” tegas beliau. Lalu beliau membaca surat Shad hingga sampai ayat sajdah. Beliau bersujud. Dalam sujud, beliau membaca seperti apa yang idbaca oleh pohon dalam sujudnya.”

 

Keutamaan Surat Az-Zumar

Surat ini terdiri dari 75 ayat, termasuk surat Makkiyah dan diturunkan setelah surat Saba’. Dalam urutan mushaf terletak setelah surat Shad. Surat ini termasuk surat favorit untuk dihafal oleh sebagian kaum muslimin karena kandungan suratnya yang membahas tentang pentingnya keikhlasan, senantiasa mengharap ridha Allah, dan menjauhkan dari segala amal dari riya’.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Az-Zumar adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Aisyah, yang meriwayatkan, “Rasulullah berpuasa, sehingga kami menduga beliau tidak ingin berbuka. Rasulullah tidak berpuasa, sehingga kami menduga beliau tidak ingin berpuasa. Beliau setiap malam membaca Surat Bani Israil dan Az-Zumar.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Keutamaan Surat Al-Mu’min

Biasa disebut juga dengan surat Ghafir. Termasuk surat Makkiyah, dan diturunkan setelah surat Az-Zumar. Dalam urutan mushaf juga terletak sama dengan jumlah 85 ayat. Pokok bahasan dalam surat ini adalah tentang urgensi berdakwah di jalan Allah dan bagaimana menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat Al-Mu’min adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abu Hurairah yang mengatakan, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membaca ayat kursi dan awal ha mim sampai firman Allah ilaihil mashir (Mu’min: 1-3), maka dia tidak akan melihat sesuatu yang tidak dia sukai hingga sore hari. Dan barang siapa membacanya saat sore hari, maka dia tidak akan melihat yang tidak dia sukai hingga pagi hari.” (HR. Ad-Darimi)

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an khususnya surat Al-Mu’min.

 

Keutamaan Surat Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zuhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, dan Al-Ahqaf.

Enam surat ini memiliki satu kesamaan, yaitu diawali dengan kalimat Ha Mim. Oleh itulah, keenam surat ini biasa disebut juga dengan sebutan Hawamim atau surat-surat yang diawali dengan Ha Mim. Keenam surat ini adalah surat Makkiyah, dan awal penjelasan dalam tiap surat adalah mengenai keagungan tentang nilai-nilai Al-Qur’an. Dalam keenam surat ini pula tersebutkan tentang: kisah Nabi Musa dan Bani Israil, perpindahan risalah dari Bani Israil ke umat Muhammad, buruknya lari dari peperangan dan bagusnya mengutamakan persatuan, dan selalu ditutup dengan ayat permaafan dan pemberian kesempatan

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan keenam surat tersebut adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abdullah bin Amr yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki tua yang datang kepada Nabi, lantas berkata, “Bacakanlah aku wahai Rasulullah,” pinta lelaki itu. “Bacalah tiap surat yang diawali dengan alif lam ra,” perintah beliau. “Saya sudah tua, hati saya telah keras dan lidah saya telah kaku.” Keluh orang tua itu. “Bacalah tiga surat yang diawali dengan hamim,” perintah Rasulu. Lelaki itu pun menjawab dengan jawaban yang sama. “Bacalah tiga surat yang diawali dengan kata sabbaha,” tegas Rasulullah. Dengan pernyataan yang sama pula orang itu menjawab perintah beliau. Hingga kemudian orang ini berkata, “Wahai Rasulullah, bacakanlah aku satu surat yang bisa mencakup semuanya,” pinta dia. Nabi pun membacakannya surat Az-Zalzalah hingga selesai. Laki-laki itu kemudian berkata, “Demi Tuhan yang mengutus Anda dengan membaca kebenaran. Aku tidak akan menambahnya selama-lamanya.” Lalu laki-laki tersebut pergi. Kemudian Rasulullah bersabda tentang laki-laki itu, “Pejalan kaki pelan-pelan itu beruntung dua kali.” (HR. Abu Dawud)

Dari Ya’la bin Umayyah yang mengatakan, aku mendengar Rasulullah membaca ayat: wa nadau ya maliku liyaqdhi alaika rabbuka. “Mereka berseru, ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.’.” (Az-Zukhruf [43]: 77) di atas mimbar.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi telah membaca surat ini atau sebagiannya dalam khutbah di atas mimbar.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca surat Ad-Dukhan di malam hari, maka pagi harinya tujuh ratus ribu malaikat memintakan ampunan untukunya.” (HR. Tirmidzi)

 

Keutamaan Surat Muhammad, Al-Fath, dan Al-Hujurat.

Ketiga surat ini adalah Madaniyyah, dan berfokus pada pembahasan tentang Nabi Muhammad, keimanan, ketaatan, dan etika kepada beliau.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ibnu Umar yang meriwayatkan, “Nabi saat shalat Maghrib bersama para sahabat membaca: alladzina kafaru wa shaddu an sabilillahi adhalla a’malahum, ‘Orang-orang yang kafir dna menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka.” (Muhammad [47]: 1” (HR. Thabrani)

Dari Abdullah bin Mughaffal yang meriwayatkan, “Aku melihat Rasulullah pada hari penaklukam makkah membaca Surat Al-Fath berulang-ulang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Barzah Al-Aslami yang meriwayatkan, “Nabi saat shalat subuh membaca surat Al-Fath.” (HR. Imam Abdurrazaq)

Dari Watsilah bin Al-Asqa’ bahwa Nabi bersabda, “Aku telah diberi as-sab’u sebagai ganti Taurat, al-mi’in (seratusan) sebagai ganti Zabur, al-matsani sebagai ganti injil, dan ditambah dengan al-mufashshal.” (HR. Ahmad) Al-Hujurat termasuk dalam al-mufashshal.

 

Baca Juga: Bermesraan dengan Al-Qur’an

 

Keutamaan Surat Qaf, Adz-Dzariyat, Ath-Thur, An-Najm, Al-Qamar, Ar-Rahman, Al-Waqiah, dan Al-hadid.

Kedelapan surat tersebut memberikan pilihan-pilihan kepada hamba-Nya untuk dipilih, serta berbicara mengenai surga dan neraka dan hari akhir. Surat Qaf adalah surat pertama yang berbicara mengenai hari kiamat beserta hari kebangkitan, serta penekanan tentang kematian yang menjadi awal perjalanan hari akhir. Sedangkan surat Adz-Dzariyat menekankan bahwa rezeki berada di tangan Allah. Pemberian atau penahanan rezeki itu berdasarkan perintah-Nya. Surat Ath-Thur lebih menekankan kepada nasib manusia di akhirat nanti, yang kesemuanya tergantung kepada apa yang telah ia kerjakan selama di dunia. Di surat An-Najm, Allah memberikan penekanan mengenai sumber ilmu pengetahuan, yaitu wahyu dari Allah dan sumber yang membingungkan serta meragukan yang tentu saja datangnya selain dari Allah. Pada surat Al-Qamar Allah memerintahkan untuk menjauhi jalan hidup orang-orang kafir, yang pada akhirat nanti pasti mendapat siksa-Nya. Di surat Ar-Rahman lebih kepada mengenal Allah dengan mengenali nikmat-nikmat-Nya. Di surat Al-Waqiah Allah memberikan tiga pilihan kepada manusia, yaitu: As-Sabiqunal Muqarrabun (kelompok pemenang yang dekat dengan Allah), Ashhabul Yamin (kelompok kanan), dan yang terakhir adalah Ashabusy Syimal (kelompok kiri). Sedangkan yang terakhir, yaitu surat Al-Hadid membahas tentang pilihan antara materi dan ruhani.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Quthbah bin Malik, dia mendengar Nabi membaca wan nakhla basithathin laha thal’un nadhid (Qaf: 10), ketika beliau menunaikan shalat fajar. (HR. Muslim)

Dari Al-Barra’ bin Azib mengatakan, “Saat shalat zuhur di belakang nabi, kami mendengar beliau membaca satu ayat dari surat Luqman dan Az-Zariyat, setelah membaca beberapa surat.” (HR. Nasai dan Ibnu majah)

Dari Jabir bin Muth’im yang meriwayatkan, “Aku mendengar Nabi membaca surat Ath-Thur saat shalat maghrib.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ummi Salmah yang meriwayatkan, “Rasulullah telah berkata kepadaku, ‘Thawaflah kamu di belakang orang-orang, apabila kamu menunggang.” Aku pun kemudian thawaf, sementara beliau shalat di samping ka’bah dengan membaca ath-Thur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi bahwa beliau membaca An-Najm lantas sujud dan diikuti para sahabat. Namun, orang tua itu hanya mengambil secakup pasir lalu diangkat ke dahinya. Lantas dia berkata, “Ini sudah cukup bagiku.” Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sungguh, setelah itu aku melihat dia terbunuh dalam keadaan kafir. Dia adalah Umayyah bin Khalaf.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah yang mengatakan, Umar bin Khaththab bertanya kepada Abu Waqid Al-Laitsi, “Surat apa yang dibaca nabi saat shalat Idul Adha dan Idul Fitri?” dia menjawab, “Rasulullah membaca surat Qaf dan Al-Qamar.” (HR. Muslim)

Dari Jabir mengatakan, Rasulullah keluar menemui para sahabat. Kemudian beliau membaca Surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir. Mereka terdiam. Rasulullah bersabda, “Aku telah membacakan surat ini pada Jin di malam turunnya surat ini. mereka memberikan respon yang lebih lembut daripada kalian. Saat aku sampai pada firman Allah: fabiayyi alai rabbikuma tukadzdziban, mereka menyatakan, ‘tidak ada satu pun nikmatMu wahai Tuhan kami, yang kai dustakan. Bagi-Mu segala puji.” (HR. Tirmidzi)

Dari Ali, Rasulullah bersabda, “Setiap sesuatu memiliki pasangan (pengantin). Dan pasangan Al-Qur’an adalah Ar-Rahman.” (HR. Baihaqi)

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca surat Al-Waqiah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kemiskinan selamanya.” Ibnu Mas’ud menyuruh putra-putrinya membaca surat itu setiap malam.” (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, “Surat Al-Hadid turun pada hari selasa. Dan di hari yang sama, Allah menciptakan besi. Anak adam (Qabil) membunuh saudaranya (Habil) juga pada hari selasa. Serta Rasulullah melarang bekam pada hari selasa.” (HR. Thabrani)

 

Keutamaan Surat Al-Mujadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaf, Al-Jumuah, dan Al-Munafiqun.

Keenam surat ini berbicara mengenai komitmen kita terhadap Islam, dan melepaskan komitmen terhadap selainnya. Dengan kata lain, menjadikan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup. Kesemuanya adalah surat Madaniyyah. Surat Al-Mujadilah menegaskan tentang interaksi dengan Islam. Surat Al-Hasyr tentang pengusiran kaum Yahudi Bani Nadzir dari Madinah setelah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah. Dari peristiwa tersebut kemudian muncul dua kelompok, yaitu kelompok yang memberi dukungan terhadap kaum Yahudi tersebut, dan yang memberikan dukungan adalah orang-orang munafik, sedangkan kelompok yang kedua adalah orang-orang beriman yang terang-terangan berlepas diri dari musuh-musuh Allah tersebut. Surat Al-Mumtahanah tentang tidak menjadikan musuh-musuh Allah sebagai teman setia. Sedangkan surat Ash-Shaf tentang barisan kaum muslimin yang harus teratur dan rapi serta solid seperti bangunan yang kokoh agar tidak mudah digoyahkan oleh musuh-musuh Allah. Dan di surat Al-Jumuah tentang persatuan dan persaudaraan kaum muslimin yang dilambangkan dengan shalat Jum’at, di mana kaum muslimin setiap pekannya mendapatkan pencerahan spiritual dan mengeratkan hubungan sosial serta menyatukan diri dalam masjid. Di surat Al-Munafiqun ada satu penyakit yang akan mengancam persatuan umat dan komitmen kaum muslimin terhadap agama mereka, yaitu kemunafikan.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah bersabda, “Barang siapa di pagi hari membaca Taawudz sebanyak tiga kali, dan membaca tiga ayat terakhir surat Al-Hasyr, maka Allah akan menyuruh tujuh puluh ribu malaikat untuk bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan jika dia mati pada hari itu, maka dia mati syahid. Dan barang siapa membacanya di sore hari, maka dia juga akan mendapatkan kedudukan itu.” (HR. Ahmad dan Tirmdizi)

Dari Abdullah bin Salam yang mengatakan: kami bermusyawarah tentang siapa di antara kami yang akan menghadap Rasulullah. Lantas menanyakan tentang amal apa yang paling disukai Allah. Namun tidak ada seorang pun di antara kami yang melakukannya. Kemudian, Rasulullah mengutus seorang sahabat untuk mengumpulkan kami. Kemudian beliau membacakan seluruh surat Ash-Shaff.”

Dari Abu Hurairah yang mengatakan, “Saat shalat Jum’at Rasulullah membaca surat Al-Jumu’ah sehingga membuat orang-orang mukmin termotivasi. Dan, Al-Munafiqun di rakaat kedua sehingga membuat takut orang-orang munafik.” (HR. Thabrani)

Dari Ibnu Abi Rafi yang mengatakan: Marwan ingin menyerahkan kepemimpinan madinah kepada Abu Hurairah. Dia lantas pergi ke Mekah. Abu Hurairah shalat Jum’at sebagai imam kami. Setelah membaca surat Al-Jumuah, dia membaca Al-Munafiqun di rakaat terakhir. Ketika Abu Hurairah selesai, aku menemuinya lantas berkata, “Anda telah membaca dua surat yang dibaca Ali bin Abi Thalib ketika berada di kufah.” Abu Hurairah berkata, “Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah membaca dua surat itu di hari jum’at.” (HR. Muslim)

Dari Jabir bin Samurah mengatakan, “Saat shalat Maghrib di malam Jum’at Rasulullah membaca Al-Kafirun  dan Al-Ikhlas, dan di saat shalat Isya, yang akhir beliau membaca surat Al-Jumuah dan Al-Munafiqun.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)

 

Keutamaan Surat Ath-Taghabun, Ath-Thalaq, dan At-Tahrim.

Ketiga surat ini berbicara mengenai bahaya yang dapat menggoyahkan komitmen di kalangan kaum muslimin, yaitu: sibuknya mengurusi harta, istri, dan juga anak, sehingga lupa kepada Allah dan Rasulullah. Di surat Ath-Thagabun mengingatkan kita agar tidak terpedaya dengan pasangan dan juga anak. Sedangkan di surat Ath-Thalaq mengingatkan tentang perceraian yang terjadi dalam jalinan rumah tangga. Ketaqwaan dalam keluarga adalah hal yang harus dijaga, agar perpecahan tidak terjadi. Dan di surat At-Tahrim menampilkan komitmen para wanita dalam menjalankan perintah Allah. Tentu akan sangat banyak masalah jika banyak para wanita yang tidak berkomitmen terhadap agamanya. Makanya, dalam surat tersebut diberikan banyak contoh tentang wanita dan komitmennya terhadap agama, seperti istri Fir’aun, juga Maryam binti Imran, dan juga contoh buruk dari Istri Nuh dan Luth.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Al-Irbadh bin Sariyah, Rasulullah membaca al-musabbihat sebelum beranjak tidur. Beliau bersabda, “Sesungguhnya di dalam al-musabbihat terdapat satu ayat yang lebih utama dibandingkan seribu ayat lainnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dari Abu Dzar yang mengatakan: Rasulullah membaca ayat: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Ath-Thalaq [65]: 2-3) beliau mengulang-ulang ayat itu hingga saya mengantuk. Kemudian beliau menjelaskan, “Wahai abu Dzar andaikan manusia membaca ayat ini niscaya ayat ini akan mencukupi mereka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

 

Keutamaan Surat Al-Mulk, Al-Qalam, Al-Haqqah, Al-Ma’arij, Nuh, Al-Jin, Al-Muzammil, Al-Mudatstsir, Al-Qiyamah, Al-Insan, Al-Mursalat.

Kesebelas surat atau di juz ke-29 ini, berbincang tentang keharusan kita untuk menyebarkan Islam kepada siapapun. Tak perlu sulit-sulit, ada banyak materi yang tersedia di Juz ke-29 ini. Shalat, keindahan surga, kedahsyatan neraka, dan lain sebagainya, dapat menjadi bahan untuk berdakwah kepada siapapun. Juz ke-29 ini dikenal juga sebagai juz tabarak.

Di surat Al-Mulk, kita akan diajak mengenal Allah, yang menjadi orientasi dakwah kita. Pada surat Al-Qalam kita diajak mengenal prinsip-prinsip akhlak. Di surat Al-Haqqah berbincang mengenai kedahsyatan hari akhirat. Di surat Al-Ma’arij kita diajak membincangkan ibadah. Dalam surat Nuh lebih ditekankan tentang seni berdakwah dan totalitas di dalamnya. Pada surat Al-Jin kita diajak untuk membandingkan diri kita dengan kemauan jin untuk mendengarkan seruan dakwah. Betapa hinanya manusia jika tidak mau menerima dakwah, padahal dalam surat ini diterangkan bagaimana sekelompok jin mau menerima ajakan tersebut. Sedangkan di surat Al-Muzzammil tentang energi yang harus diambil aktivis dakwah, yakni shalat malam. Karena pengembanan dakwah sangat berat nan berliku, sehingga shalat malam adalah energi yang harus menjadi kebiasaan bagi aktivis dakwah untuk diambil. Pada surat Al-Mudatstsir lebih kepada semangat untuk terus bergerak dan menyebarkan dakwah. Apabila kita mau merasakan, di surat Al-Muzzammil ayat-ayatnya akan terasa panjang dan lambat-lambat khas suasana malam di mana peraduan sangat kental, akan tetapi di surat Al-Mudatstsir ayat-ayatnya sangat pendek-pendek dan terasa cepat, khas kalimat-kalimat motivatif. Di surat Al-Qiyamah sebagaimana namanya membincangkan tentang hari kiamat dan kematian. Sebuah fase hidup seluruh manusia yang harus menjadi perhatian. Jangan sampai materi itu terlupakan untuk disampaikan kepada obyek dakwah. Sedangkan surat Al-Insan berbincang mengenai konsep penting dalam dunia dakwah, yaitu kita hanya bertugas untuk menyampaikan, sedangkan hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Dan di surat Al-Mursalat kita diajak untuk merenungi orang-orang yang menolak ajakan dakwah. Sungguh sebuah keterkaitan yang sangat apik di juz ini mengenai topik dakwah.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Sungguh aku menginginkan surat ini dihafal oleh semua umatku.” Yaitu surat Al-Mulk (HR. Abd bin Humaidi dan Thabrani)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ada satu surat Al-Qur’an yang jumlah ayatnya tiga puluh ayat, yang akan memberikan syafaat kepada pembacanya, hingga dia diampuni. Surat itu adalah Al-Mulk.” (HR. Ahmad dan Nasai)

Dari Ibnu Abbas yang menceritakan: salah seorang sahabat Nabi mendirikan tenda di atas kuburan. Dia tidak menyangka bahwa tempat itu adalah kuburan. Kemudian ada orang yang membaca surat al-Mulk hingga usai di tempat itu. Lantas sahabat itu menemui Nabi dan bilang, “Wahai Rasulullah, aku mendirikan tenda di atas kuburan. Aku tidak mengira kalau tempat itu kuburan. Ternyata, di tempat itu ada orang yang membaca surat Al-Mulk hingga selesai.” Rasulullah bersabda, “Surat itu adalah tameng yang bisa menyelamatkannya dari siksa kubur.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani)

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Alqamah dan Al-Aswad, keduanya menceritakan: seorang pria datang kepada Ibnu Mas’ud, lantas mengatakan, “Di satu rakaat aku membaca al-mufashshal (surat-surat pendek).” Ibnu Mas’ud menjawab, “Apakah secepat membaca syair dan berbicara seperti menabur kurma yang jelek itukah kamu membaca Al-Qur’an? Nabi membaca sekitar dua surat dalam satu rakaat: An-Najm dan Ar-Rahman di satu rakaat, iqtaraba (al-qamar) dan al-haqqah, ath-thur dan adz-dzariat, al-waqiah dan nun (al-qalam), al-maarij dan an-naziat, al-muthaffifin dan Abasa, al-mudassir dan al-muzammil, hal ata (al-insan) dan at-Takwir di tiap satu rakaat.” (HR. Ibnu Mas’ud)

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Ubay bin Kaab, dia bercerita: saat aku duduk di samping Nabi, ada seorang Arab badui mendatangi beliau. Dia berkata, “Saya mempunyai seorang saudara yang sedang sakit.” Rasulullah bertanya, “Apa sakitnya?” Orang Arab badui itu menjawab, “Sakit gila.” Rasulullah memerintahkan, “Kembalilah dan bawa dia padaku.” Lelaki itu pun beranjak pergi dan tak lama kemudian datang dengan membawa saudaranya. Dia mendudukkan saudaranya di depan Nabi. Kemudian aku (Ubay bin Kaab) mendengar Nabi membacakan kepadanya Surat Al-Fatihah, empat ayat pertama dan surat Al-Baqarah, dua ayat pertengahan surat itu: wa ilahukum ilahun wahid (Al-Baqarah [2]: 163) dan ayat kursi, tiga ayat terakhir surat Al-Baqarah, satu ayat dari surat Ali Imran—yang aku duga adalah ayat—yakni syahidallahu an la ilaha illallah (Ali Imran [3]: 18), satu ayat dari surat al-a’raf inna rabbakumullahul ladzi khalaqa (Al-A’raf [7]: 54), satu ayat dari surat al-mu’minun wa man yad’u ma’allahi ilahan akhara la burhana lahu bihi (Al-Mu’minun [23]: 117), satu ayat dari surat Al-Jinn wa annahu ta’ala jaddu rabbina mat takhadza shahibatan wala walada (Al-Jinn [72]: 3), sepuluh ayat pertama dari surat Ash-Shaffat, tiga ayat terakhir surat Al-Hasyr, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Orang Arab badui yang sakit itu kemudian berdiri, dia telah sembuh total.” (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Abbas yang menyatakan, “Suatu malam aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah. Rasulullah bangun untuk shalat malam. Kemudian beliau shalat sebanyak tiga belas rakaat termasuk dua rakaat fajar. Aku memperkirakan beliau berdiri di setiap rakaat kadar lamanya membaca surat al-Muzammil.” (HR. Abdurrazaq dan Abu Dawud)

Dari Yahya bin Abi Katsir, saya bertanya kepada Abu Salamah bin Abdurrahman tentang surat Al-qur’an yang pertama kali turun. Abu salamah menjawab, “Al-Mudatsir.” Para sahabat lainnnya mengatakan, “Iqra’ (Al-Alaq).” Aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang itu. aku mengutarakan kepadanya seabgaimana yang aku katakan kepada orang-orang lain. Jabir berkata, “Aku tidak akan menceritakan kepadamu selain apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau bercerita: aku berada di gua Hira’. Ketika selesai masaku berada di dalamnya, aku turun. Kemudian ada suara yang memanggilku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak melihat apa-apa. Ke depan dan ke belakang juga tak melihat apa-apa. Aku tengadahkan wajahku ke atas. Kulihat sesuatu. Kemudian aku mendatangi Khadijah dan berkata, “Selimuti dan tuangkan air dingin padaku.” Lalu Khadijah menyelimuti dan menuangkan air dingin kepadaku. Kemudian turun ayat: “Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah!” (Al-Mudatstsir [74]: 1-3) (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud yang mengatakan, “Saat kami bersama Rasulullah di dalam gua, tiba-tiba surat Al-Mursalat turun kepada beliau. Kemudian beliau mengajarkannya langsung kepada kami dari mulut beliau. Sungguh, mulutnya wangi dengan membaca surat itu…” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Keutamaan Surat An-Naba’, An-Naziat, Abasa, At-Takwir, Al-Infithar, Al-Muthaffifin, Al-Insyiqaq, Al-Buruj, Ath-Thariq, Al-A’la, Al-Gatsiyah, Al-Fajr, dan Al-Balad.

Kita sudah memasuki juz ke-30 atau juz terakhir. Di surat An-Naba’ dibahas mengenai hari kebangkitan. Surat An-Naziat tentang penegasan hari berbangkit kepada orang-orang musyrik yang mengingkarinya, terdapat juga kisah Fir’aun dan Musa, serta peringatan tentang hari kiamat. Surat Abasa tentang berpalingnya Rasulullah dari Umi Maktum sehingg turunlah surat ini. Surat At-Takwir tentang penegasan bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, bukannya orang gila sebagaimana didustakan oleh orang-orang kafir. Surat Al-Muthaffifin tentang peringatan terhadap orang-orang yang curang dalam perniagaan. Surat Al-Insyiqaq mengenai catatan amalan kita selama di dunia. Surat Al-Buruj mengingatkan kita agar tidak menentang perintah Rasulullah. Surat Ath-Thariq tentang Al-Qur’an adalah pemisah antara yang haq dan yang bathil. Surat Al-A’la tentang bertasbih dan menyucikan diri adalah sebuah keberuntungan yang besar baik di dunia maupun di akhirat kelak. Surat Al-Gatsiyah tentang melihat kondisi penghuni surga dan neraka sebagai gambaran kita terhadap dua tempat yang salah satunya pasti akan kita tempati tersebut. Sedangkan surat Al-Fajr tentang kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allah bagi hamba-hambanya. Dan surat Al-Balad tentang perjuangan yang akan selalu menjadi teman hidup kemanusiaan selama hidup di dunia.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abdul Aziz Abi Sakin yang menceritakan: aku mendatangi Anas bin Malik dan bertanya, “Ceritakan kepadaku tentang shalat Rasulullah.” Lantas dia shalat zhuhur bersama kami dan membaca Al-Mursalat, An-Naziat, An-Naba’, dan beberapa surat lainnya dengan lirih.” (HR. Abu Ya’la dan Tirmidzi)

Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, “Barang siapa ingin melihat dirinya gembira di Hari Kiamat seolah-olah dia melihat dengan mata kepala sendiri, maka hendaklah dia membaca surat At-Takwir, Al-Infithar, dan Al-Insyiqaq.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah menegur Mu’adz ketika shalat bersama kaumnya dengan membaca surat yang panjang, “Wahai Muadz, apakah kamu sedang fitnah?” tegur beliau. “Bacalah Surat Al-Lail, Al-A’la, dan Al-Buruj.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Dari Khalid Al-Adawi, dia melihat Rasulullah berada di timur perumahan Bani Tsaqif. Beliau berdiri dengan bertumpu pada busur atau tongkat saat menghampiri mereka untuk minta bantuan. Kemudian aku mendengar beliau membaca surat Ath-Thariq hingga selesai. Aku mengingat surat itu di kala masa jahiliah sewaktu aku masih syirik. Lantas aku membacanya ketika aku masuk Islam. (HR. Ahmad dan Thabrani)

Dari An-Nu’man bin Basyir yang meriwayatkan, “Rasulullah ketika shalat dua hari raya dna shalat Jumat membaca Al-A’la dan Al-Ghasiyah. Dan manakala hari raya dan hari Jum’at jatuh di hari yang sama, maka beliau juga membaca keduanya di rakaat shalat tersebut.” (HR. Muslim)

Dari ibnu Abbas mengatakan, “Shalat Istisqa’ sama seperti shalat sunah dua hari raya, hanya saja Rasulullah membalik selendarnya dari pundak kanan ke pundak kiri dan begitu sebaliknya. Lantas beliau shalat dua rakaat dan takbir tujuh kali di rakaat pertama lalu membaca Al-A’la sedangkan di rakaat kedua membaca Al-Ghasiyyah serta takbir lima kali.” (HR. Hakim)

 

Keutamaan Surat Asy-Syams, Al-Lail, Adh-Dhuha, Al-Insyirah, At-Tin, Al-Alaq, Al-Qadr, Al-Bayyinah, Az-Zilzal, Al-Adiyat, Al-Qariah, At-Takatsur, Al-Ashr, Al-Humazah, Al-Fil, Quraisy, Al-Maun, Al-Kautsar, Al-Kafirun, An-Nashr, dan Al-Lahab.

Surat Asy-Syams mengenai bahwa manusia diilhami oleh Allah untuk memilih jalan yang baik dan yang buruk. Surat Al-Lail tentang usaha manusia yang beraneka ragam, dan yang terpenting adalah mencari keridhaan Allah. Surat Adh-Dhuha tentang beberapa nikmat yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad. Surat Al-Insyirah perintah Allah agar terus berjuang dengan ikhlas dan ketawakkalan yang tinggi. Surat At-Tin tentang manusia telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan yang menjadi pokok kemuliaan manusia ialah ketakwaan dan akhlaknya. Surat Al-Alaq tentang ilmu pengetahuan dengan menulis dan membaca. Surat Al-Qadr tentang kemuliaan malam lailatul qadar. Surat Al-Bayyinah tentang keadaan ahli kitab dengan risalah Rasulullah. Surat Az-Zilzal bahwa segala perbuatan walau sebesar dzarrahpun akan mendapatkan balasannya. Surat Al-Adiyat tentang kekikiran dan ketamakan terhadap harta. Surat Al-Qariah tentang timbangan amal di hari akhir. Surat At-Takatsur tentang ancaman Allah terhadap orang-orang yang lalai dan bermegah-megahan. Surat Al-Ashr tentang pemanfaatan terhadap waktu. Surat Al-Humazah tentang penimbun harta yang tak mau menafkahkan hartanya di jalan Allah. Surat Al-Fil tentang kisah tentara bergajah. Surat Al-Maun tentang sifat-sifat yang mendustakan agama. Dan surat Al-Kautsar tentang shalat dan berkurban sebagai bukti mensyukuri nikmat Allah. Serta surat Al-Kafirun tentang tak ada toleransi dalam hal keimanan dan peribadatan. Surat An-Nashar tentang pertolongan dan kemenangan datangnya adalah dari Allah. Sedangkan surat Al-Lahab mengenai kecelekaan yang pasti akan didapat bagi para pemfitnah.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Jabir bin Abdullah, Rasululah bertanya kepada Muadz, “Apakah kamu suka fitnah, wahai Muadz?” Di mana posisi kamu terhadap surat Al-A’la, Asy-Syams, Al-Fajr, dan Al-Lail.” (HR. An-Nasai)

Dari Ikrimah bin Sulaiman yang menceritakan: aku membaca Al-Qur’an kepada Ismail bin Abdillah bin Qasthanthin. Ketika aku sampai pada surat Adh-Dhuha, dia berkata, “Takbirlah, takbirlah di setiap akhir surat hingga kamu selesai.” Dia diberi tahu oleh Abdullah bin Katsir bahwa dia membaca Al-Qur’an kepada Mujahid. Lantas Mujahid menyuruhnya begitu. Mujahid memberitahukannya bahwa Ibnu Abbas menyuruhnya begitu. Dan Ibnu Abbas memberitahunya bahwa Ubay bin Ka’ab menyuruhnya begitu. Ubay bin Ka’ab menjelaskan kepadanya bahwa Nabi memerintahkan begitu.” (HR. Hakim)

Dari Abdullah bin Yazid yang meriwayatkan, “Nabi saat shalat maghrib membaca At-Tin.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dari Aisyah, Ummul Mukminin, yang menuturkan pertama kali Rasulullah menerima wahyu lewat mimpi yang benar. Malaikat mendatanginya lantas berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq [96]: 1-5).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi shalat witir membaca sembilan surat. Di rakaat pertama beliau membaca surat At-Takatsur, Al-Qadr dan Az-Zalzalah, sedangkan Al-Ashr dan Al-Kautsar di rakaat kedua. Dan di rakaat yang ketiga beliau membaca Al-Kafirun, Al-Lahab, dan Al-Ikhlas. (HR. Ahmad, Ath-Thahawi, an Al-Bazzar)

Dari Anas bin Malik mengatakan, ketika surat Al-Bayyinah turun, Rasulullah bersabda kepada Ubay bin Ka’ab, “Allah telah memerintahkan aku untuk membacakan kepadamu surat itu.” Ubay bertanya, “Apakah Allah benar-benar menyebut namaku kepada Anda?” Rasulullah menjawab, “Benar.” Ubay bin Ka’ab pun lantas menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah bersabda, “Surat Az-Zalzalah menyamai separuh Al-Qur’an. Surat Al-Ikhlas sepadan dengan sepertiga Al-Qur’an, dan Al-Kafirun sama dengan seperempat Al-Qur’an.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Dari Ibnu Umar yang mengatakan, “Rasulullah bertanya, ‘Apakah salah satu dari kalian ada yang mampu membaca seribu ayat setiap hari?” Para sahabat bertanya, “Siapa yang mampu?” Rasulullah bersabda, “Tak mampukah kalian membaca surat At-Takatsur?” (HR. Hakim)

Dari Abi Madinah Ad-Darimi dan dia mempunyai seorang teman mengatakan, “Ada dua sahabat Nabi yang manakala mereka berdua bertemu tidak pernah mau berpisah hingga salah satunya membacakan surat Al-Ashr untuk yang lain. Kemudian salah satunya mengucapkan salam kepada yang lainnya.” (HR. Thabrani)

Dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda, “Ada empat surat yang diturunkan dari tempat penyimpanan di bawah Arsy, yaitu Ummul Kitab, Ayat Kursi, akhir surat Al-Baqarah dan Al-Kautsar.” (HR. Thabrani)

Dari Khabbab, Nabi tidak pernah beranjak menuju tempat tidurnya melainkan beliau membaca Al-Kafirun hingga usai. (HR. Thabrani)

Dari Ali bin Abi Thalib, “Nabi shalat witir dengan membaca sembilan surat. Di rakaat pertama beliau membaca surat At-Takatsur, Al-Qadr, dan Az-zalzalah. Sedangkan di Al-Ashr dan Al-Kautsar di rakaat kedua. Dan di rakaat ketiga beliau membaca Al-Kafirun, Al-Lahab, dan al-ikhlas.” (HR. Ahmad, Ath-Thahawi, dan Al-Bazzar)

 

Keutamaan Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nass.

Ini adalah tiga surat terakhir dari juz ke-30. Surat Al-Ikhlas berbicara mengenai keesaan Allah, sedangkan surat Al-Falaq mengenai penegasan bahwa Allah adalah pelindung dari segala kejahatan, dan surat An-Nas menjelaskan tentang bisikan kejahatan dari setan dan manusia, dan Allah akan melindungi manusia jika mereka meminta perlindungan dari-Nya.

Beberapa hadits Nabi yang mengungkapkan tentang keutamaan surat-surat di atas adalah sebagaimana berikut ini:

Dari Abu Hurairah mengatakan: aku dan Rasulullah bertemu dengan seorang lelaki yang membaca surat Al-Ikhlas. Lalu Rasulullah berkata, “Wajib.” Lantas aku bertanya kepada beliau, “Apa yang wajib, ya Rasulullah?” “Surga,” jawab beliau. Kemudian aku bermaksud pergi menemui lelaki itu dan menyampaikan kabar gembira itu kepadanya. Tetapi, aku takut ketinggalan makan bersama Rasulullah. Maka, aku makan bersama beliau. Setelah makan, aku pergi menemui lelaki itu, namun dia telah pergi.” (HR. Tirmidzi dan Malik)

Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah bersabda kepadanya, “Tahukah kamu beberapa yang diturunkan di malam itu yang semisalnya tidak pernah ada, yaitu Al-Falaq dan An-Nas.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abis Al-Juhani bahwa Rasulullah menawarinya, “Wahai Ibnu Abis, maukah kamu aku ajarkan sesuatu yang digunakan sebagai perlindungan oleh orang-orang yang memohon perlindungan?” Ibnu Abis menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bacalah Al-Falaq dan An-Nas.” (HR. Nasai)

Dari Uqbah bin Amir yang menceritakan: aku mengikuti Rasulullah yang sedang menunggang kuda. Kemudian aku letakkan kedua tanganku di atas kedua telapak kaki beliau. “Wahai rasulullah bacakanlah surat Hud dan Yusuf untuk pamanku,” pintaku. Rasulullah bersabda, “Tidaklah kamu membaca sesuaatu yang lebih baik di sisi Allah melebihi Al-Falaq dan An-Nas.” (HR. Nasai, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

 

***

Demikian pemaparan mengenai keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an. Semoga pembahasan ini sangat membantu dan membuat kita makin mencintai Al-Qur’an. Sebarkan informasi ini kepada siapa pun, agar makin banyak yang mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an. Amin.

*image in header by: Taha Benasser

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!