Bagaimana Membuat Buku Best-Seller

Cara Membuat Buku Best Seller yang Terbukti Ampuh!

Cara Membuat Buku Best Seller – Sebuah buku produk penerbitan mendapatkan sematan best-seller biasanya adalah buku yang terjual habis dalam jumlah tertentu dengan waktu yang relatif singkat. Pada tahap ini memang biasanya di luar prediksi penerbit.

Khusus di Indonesia, anggapan best seller pernah ditetapkan kalau terjual di atas 10.000 eksemplar dalam waktu satu tahun. Namun, kini angka itu berangsur-angsur naik menjadi 20.000-50.000 eksemplar dalam jangka 3-6 bulan.

Lalu, apa faktor yang membuat sebuah buku menjadi best-seller?

Pertama, biasanya isi buku memenuhi kebutuhan prioritas dari para calon pembaca. Kebutuhan prioritas ini misalnya adalah buku Food Combining yang menyasar hidup sehat kekinian, atau Gara-Gara Facebook yang menyasar pedagang online.

Kedua, buku terbit berdekatan dengan momentum tertentu, seperti Ramadhan atau musim haji. Momentum-momentum seperti ini memang menjadi faktor yang sangat krusial. Bahkan, ada beberapa penerbit yang mencoba untuk memanfaatkan momentum Ramadhan, misalnya, untuk mengeluarkan produk khusus. Harapannya, tentu meraih penjualan laris.

Ketiga, buku terbit sesuai dengan tren yang sedang hangat. Dengan menumpang tren, sebuah buku akan cepat mendapatkan apresiasi dan atensi. Tentu saja, hal ini berefek bagus bagi penjualan.

Keempat, isi buku menampilkan sesuatu yang baru, revolusioner, atau spektakuler. Misalkan adalah buku Balita pun Hafal Al-Qur’an karya Salafuddin Abu Sayyid. Buku ini menjadi primadona, bahkan sudah dibedah di berbagai kota lebih dari 100 kali.

Kelima, isi buku menampilkan sesuatu yang kontroversial. Contoh paling nyata adalah buku Jakarta Undercover.

Keenam, penulis buku adalah tokoh terkenal. Misalkan karya-karya Tung Desem Waringin dan Jamil Azzaini atau Ippho Santoso, selalu meraih penjualan yang tinggi, karena memang didukung oleh penulis yang memiliki basis massa yang banyak.

Tidak ada rumus pasti bagaimana bisa membuat sebuah buku yang best-seller. Akan tetapi, sebuah buku bisa diniatkan dan diikhtiarkan untuk menjadi best-seller. Bagaimana caranya?

Hal pertama dan paling utama, tentu saja memilih topik yang sedang dibutuhkan dan dibicarakan oleh banyak orang. Lebih keren lagi, kalau topik tersebut membawa sesuatu yang baru, sehingga terkesan belum pernah dibahas di buku-buku lainnya.

Kedua, menyiapkan penggarapan visualnya dengan detail, mulai dari tema desain, tipografi, hingga copy sales.

Ketiga, mendukung mendukung promosi buku dengan kesiapan untuk acara bedah buku, book signing, giveaway, serta training (book coaching), dan pola-pola promosi lainnya yang bisa membuat buku tersebut makin menemukan pembacanya.

Karena pada dasarnya, semua buku berpotensi laris, asalkan buku tersebut bertemu dengan pembaca potensialnya.

Tak ada rumus pasti bagaimana membuat buku yang best-seller. Tentu saja. Bila rumus membuat buku yang best-seller bisa paten dipraktikkan, tentu seluruh penerbit di Indonesia akan menerapkan rumus tersebut agar setiap buku yang diterbitkannya menjadi best-seller. Nyatanya tidak.

Akan tetapi, sebuah buku bisa dirancang dan diupayakan untuk menjadi best-seller. Termasuk bukumu nantinya. Bagaimana caranya?

1. Tema yang diminati oleh pasar luas

Masih ingat bagaimana cerita saya membuat buku Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!? Saya merancang buku itu agar bisa dinikmati semua kalangan, baik kalangan tua maupun kalangan muda.

Dengan sosok BJ Habibie yang digemari oleh berbagai kalangan dan pengemasan konten sekaligus visual yang bagus, buku itu patut untuk dicintai oleh siapa saja, bahkan untuk yang baru pertama kali memegangnya.

Nyatanya kemudian, buku itu terjual lebih dari 25.000 eksemplar.

Nah, dengan statusnya sebagai buku best-seller, buku itu bisa menjadi catatan kita bersama bahwa tema yang diminati oleh pasar yang luas akan membuat buku itu memiliki kesempatan penjualan yang lebih banyak.

2. Pengemasan visual buku yang baik

Sebuah naskah yang bagus namun memiliki layout dan kover yang buruk, akan membuat nilai buku tersebut menurun drastis. Inilah pentingnya seni mengemas buku agar lebih bagus, karena berakibat kepada daya jual.

Bayangkan bagaimana buku serial kisah Harry Potter dikemas oleh tim kreatifnya. Mereka menciptakan logotype yang khas, visual ilustrasi yang juga khas, serta konsep packaging book set yang juga cantik.

Dengan merancang sisi visual sebagus itu, tentu menambah nilai sebuah buku menjadi lebih baik, dan menjadi buku yang mendapatkan perhatian lebih dari calon pembeli.

3. Promosi yang Gencar dan Efektif

Apalagi kita berada di era digital sekarang ini. Rancanglah metode promosi yang dibutuhkan, dan manfaatkan media sosial untuk mempromosikan bukumu. Berikan sedikit sentuhan-sentuhan yang membuat calon pembeli penasaran. Dengan begitu, karyamu akan menjadi santapan viral yang tentu saja membantu promosi bukumu dengan lebih baik.

Lakukan diskusi dengan pihak pemasaran dan promosi penerbit. Beberapa hal perlu dilakukan, seperti roadshow bedah buku, gratis unduh beberapa halaman bukumu untuk pembaca, dan sebagainya.

Salah satu yang masih efektif adalah melalui resensi buku. Setelah bukumu berhasil terbit, satu hal yang tak boleh kamu lupakan adalah membuat resensi buku. Mintalah beberapa temanmu yang blogger atau resensor untuk meresensi karyamu. Berdiskusilah dengan pihak pemasaran dari penerbit untuk mengalokasikan beberapa buku untuk promosi, salah satunya untuk diresensi.

Salah satu fungsi resensi adalah mengenalkan buku tersebut kepada khalayak yang lebih luas. Dengan adanya resensi, calon pembaca baru akan mengetahui kekuatan dari buku tersebut.

Menulis resensi sebenarnya mudah. Namun, sebelum meresensi, semestinya seseorang memahami dasar-dasar menulis resensi, yaitu:

Pertama, memahami atau menangkap tujuan (maksud) pengarang dengan karya yang dibuatnya. Berhasil atau tidaknya kita menangkap tujuan dari sang penulis akan menentukan bagus atau tidaknya resensi.

Kedua, memiliki tujuan dalam membuat resensi buku. Seperti dasar menulis artikel pada umumnya, sebuah tulisan harus didasarkan sebuah tujuan. Begitu juga dengan resensi. Tujuan itu bisa berupa mengajak orang-orang untuk ikut membaca buku itu, ataupun bisa sebagai kritik dan masukan bagi sang penulis.

Ketiga, harus mengenal atau mengetahui selera dan tingkat pemahaman dari pembaca. Dengan memahami selera dan tingkat pemahaman pembaca, kemudian akan tercipta gaya tulisan dan juga buku yang hendak diresensi.

Keempat, mempunyai pengetahuan dan menguasai berbagai disiplin pengetahuan sebagai tolak ukur ketika mengemukakan keunggulan dan kelemahan buku. Menguasai berbagai pengetahuan akan mempermudah kita menulis resensi yang memadai sesuai dengan kategori buku tersebut. Seperti menulis resensi tentang buku keislaman tentu harus memiliki wawasan keagamaan yang cukup.

Kelima, jadilah pengamat buku sekaligus kolektor buku. Bagus atau tidaknya sebuah buku akan relatif berbeda tiap orang. Memberikan perbandingan dengan buku lain akan mempermudah kita dan pembaca dalam menentukan tolak ukur kadar kualitas buku yang diresensi.

Keenam, cara membuat buku best seller adalah dengan menampilkan data buku, seperti judul, penulis, editor, penerbit, tebal, dan juga harga buku.

Tugas promosi memang tugas utama dari pihak penerbit, namun tidak ada salahnya jika kamu sebagai penulisnya juga turut berperan dalam melakukannya. Logikanya sederhana. Bila penerbit tidak melakukan promosi, tentu mereka juga yang akan rugi, karena mereka yang mengeluarkan modal produksi.

Akan tetapi, bila buku tersebut gagal di pasaran, tentu hal ini juga menjadi bebanmu, karena karyamu justru tidak bisa terjual dengan baik, dan ini tentu akan menyerangmu secara psikologis sebagai penulis buku dan mempengaruhi karier menulismu. Akan lebih menyenangkan kalau kamu memiliki track record sebagai penulis yang memiliki karya yang laris terjual bukan?

Beberapa hal sederhana yang bisa kamu lakukan untuk promosi mandiri dengan biaya nol rupiah, seperti: Membuat blog gratisan. Bisa lewat WordPress ataupun Blogger. Di sana, kamu memberikan artikel-artikel yang mendukung untuk penjualan bukumu. Membuat banner-banner sederhana dengan kutipan dari isi bukumu. Sertakan pula kover isi bukumu untuk sekaligus promosi. Membuat status-status di media sosial yang merupakan cuplikan dari bukumu. Membuat artikel-artikel ringan yang mendukung bukumu dan disebar melalui media sosial.Hal-hal sederhana seperti itu akan membantu penjualan bukumu.

Sebuah buku akan menarik dan menjadi pilihan banyak orang manakala topik yang ditawarkan menarik, digarap dengan serius dan profesional, baik sisi konten maupun visualnya, ada diferensiasi yang jelas, serta dukungan promosi yang tepat. Diskusikan dengan pihak penerbit tempat karyamu diterbitkan, dan rancanglah pola-pola promosi yang efektif untuk makin mengenalkan karyamu ke khalayak luas.

Demikian pembahasan mengenai cara membuat buku best seller. Untuk belajar menulis, silakan membaca lebih jauh tentang postingan cara menulis buku. Sedangkan untuk mencetak buku, silakan menghubungi Nulix.id.[]

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.