Cara Baru Menulis dan Menerbitkan Buku

Cara Baru Menulis dan Menerbitkan Buku – Awal-awal saya merintis karier sebagai penulis buku, saya juga mengalami hal yang sama untuk para pemula: penolakan. Saya masih ingat benar, beberapa kali saya menerima surat penolakan.

Bagaimana rasanya? Sedih, tentu saja.

Walaupun tidak sampai putus asa, akan tetapi memang sangat susah rasanya berdamai dengan penolakan. Termasuk ditolak dalam hal urusan tak lolos masuk dalam jatah terbit sebuah penerbit idaman.

 

Baca Juga: Bagaimana Editor Penerbit Me-Review Naskah?

 

Dulu, kalau era-era saya masih muda dan kinyis-kinyis—ya walaupun sekarang juga saya masih muda dan kinyis-kinyis—ketika kita ingin sekali menerbitkan buku, maka yang kita perlukan hanya melakukan beberapa langkah berikut

  • sediakan referensi;
  • duduk di depan laptop;
  • menuliskannya sepenuh hati dan secara rahasia;
  • diam-diam mengirimkannya ke penerbit;
  • ketika ditolak, ya sedih, dan memulai untuk menulis naskah lain lagi;
  • ketika diterima, ya kita membusungkan dada di hadapan teman-teman karena merasa menjadi superstar.

Ternyata, sekarang polanya tak seperti itu.

Bila kita masih sangat berhasrat untuk menulis buku dan kemudian buku tersebut bisa laris manis menjadi perbincangan seluruh umat manusia sejagat raya, kita harus melakukan langkah yang berbeda.

Hal ini berkaitan dengan perubahan zaman yang sudah semakin terbuka dan didominasi satu makhluk bernama digital.

 

Baca Juga: Menjadi Editor Harus Serepot Itu?

 

Kita berada di sebuah zaman di mana penulis tak lagi mencari editor—dengan cara kita mengirimkannya ke penerbit.

Sebaliknya, editor lah yang mencari penulis potensial yang bisa menghasilkan karya dan meggemuruhkan pundi-pundi laba untuk penerbitnya.

Terus, di mana editor akan mencari penulis?

Tentu saja, di media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, dan mungkin juga Quora.

Atau, ruang karya digital semacam Storial atau Wattpad.

Kalau ternyata media sosialnya ramai, banyak pengikut, banyak audiensnya, engagement-nya tinggi, dan ia pun memiliki potensi untuk dibukukan, entah itu dari segi pemikirannya yang unik ataupun skill lainnya misalkan jago masak, maka editor sebuah penerbit akan sangat berhasrat untuk merayunya menerbitkan buku.

Itulah mengapa, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, bisa terjual 50.000 eksemplar hanya dalam beberapa bulan dan bahkan sekarang sudah difilmkan.

Sejak awal, Marchella FP, memang sudah mengonsepnya untuk menjadi sebuah konten yang memiliki audiens besar dan bisa dialih-wahanakan menjadi banyak hal. Bahkan, yang terbaru NKCTHI berkolaborasi dengan GoJek. Unik benar. Bikin saya geregetan gak karuan.

Dari Storial atau Wattpad, seorang editor—biasanya editor akuisisi, saya pernah berada di jabatan ini—di penerbit juga akan bisa dengan mudah menakar kualitas tulisan seseorang dan bisa mengambil keputusan penting: apakah penulis tersebut memiliki potensi ataukah tidak.

… dan sangat editor hanya perlu melihat itu semua dengan duduk di depan laptop ataupun rebahan sambil memegang ponsel pintar.

Mengagumkan, bukan?

Cara lama menulis buku adalah dengan menuliskannya secara rahasia, mengirimkannya ke penerbit, dan menanti hasilnya dengan perasaan penuh cemas.

 

Baca Juga: Bagaimana Sebuah Buku Bisa Best Seller

 

Cara menulis buku sekarang tak lagi begitu.

Mengapa? Karena jelas, konsumen sekarang tak lagi membeli buku seperti dahulu. Behavior-nya sudah berbeda.

Dulu, orang memang ke toko buku untuk memeriksa adakah buku baru yang bisa dibeli dan dinikmati di rumah.

Sekarang, calon pembeli buku di toko buku, sudah tahu apa yang hendak dibeli. Dari mana? Ya dari media sosial penulis bersangkutan. Orang-orang pergi ke toko buku karena sudah tahu buku apa yang hendak dibeli dan bahkan harganya berapa.

Ya, tentu saja cara lama yang saya singgung di atas tetap berlaku di hari ini untuk beberapa penerbit. Akan tetapi, sebagai penulis, kita perlu memerhatikan pula pola-pola baru menulis dan menerbitkan buku. Kita perlu memerhatikan cara baru menulis buku agar sebagai penulis lama kita tak terus-terusan merasa berada di zona nyam-nyam, eh, zona nyaman.[]

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!