Perbedaan Branding, Marketing, dan Selling

Pembahasan mengenai branding, marketing, dan selling, memang pembahasan yang menuntut banyak energi untuk dicurahkan. Area kerjanya terlihat begitu kompleks. Hal ini senada, di mana sejak saya menggawangi Enxyclo, banyak sekali calon klien yang masih tergagap-gagap mengenai perbedaan branding, marketing, dan selling. Alhasil, ketika klien meminta saya dan tim untuk mengurus branding-nya, mereka sudah menuntut yang namanya sales meningkat. Atau, ketika klien meminta saya dan tim untuk mengurus sisi digital marketing, mereka sudah menuntut yang namanya omset meroket, dan lain sebagainya.

Ruwet. Seruwet politik di Indonesia. Seruwet bapak-bapak yang ada di gedung DPR.

Untungnya, hanya pada tahun-tahun pertama kami mengalami hal-hal membingungkan seperti itu. Sekarang, selain kami sudah mengedukasi klien maupun calon klien, kami juga sudah mulai selektif memilih klien. Kami memilih yang visinya oke, meniatkan pertumbuhan yang baik, kolaborasinya asyik, dan tentu saja sama-sama peduli dengan tujuan akhir dari kerja sama. Tak lupa, tentu saja pada harga profesional yang sama-sama masuk akal.

Baiklah, sudah dulu ya curhatnya. Sekarang, akan saya coba jlenterehkan tiga hal penting dalam sebuah bisnis, yakni perbedaan branding, marketing, dan selling serta bagaimana membedakan antara ketiga makhluk tersebut.

 

BRANDING

Sebelum berbicara lebih jauh tentang branding, kita harus membahas terlebih dahulu mengenai brand.

Apa itu brand?

Brand adalah merek, misalkan: Aqua, Coca-Cola, Nike, atau Adidas.

Sedangkan branding adalah aktivitas untuk memperkenalkan dan menguatkan brand power kepada target market agar brand tersebut menjadi top of mind di benak target market serta memiliki brand equity yang meroket di market.

Jadi, sangat jelas, ya. Brand adalah mereknya, sedangkan branding adalah aktivitas untuk brand tersebut. Penjelasan mengenai perbedaan branding, marketing, dan selling masih berlanjut. Silakan disimak terus, ya ….

 

Baca Juga: Brand Story: Masihkah Relevan?

 

Lalu, dalam penjelasan di atas saya menyinggung tentang brand power dan brand equity. Apakah yang dimaksud dengan kedua makhluk tersebut?

Brand power adalah istilah yang saya gunakan untuk menyebut kekuatan-kekuatan dalam diri brand. Menurut saya, dalam sebuah brand, harus terdapat beberapa hal inti berikut yang bisa menjadi kekuatan:

  • Narrative, di mana gerak jiwa dan arah langkah dari brand bermuara dan bercita-cita. Untuk menjadi sebuah brand yang besar, harus memiliki narasi yang kukuh dan jelas.
  • Value, di mana harus memenuhi dua unsur utama, yakni fungsional dan emosional, dan pada kasus tertentu, harus spiritual.
  • Identity, di mana kejelasan personality, voice, dan tone, serta tak lupa pula tagline.

Akan saya jelaskan lebih jauh dalam sebuah postingan terpisah mengenai brand power di atas.

Dalam penjelasan di atas, saya juga menyinggung mengenai brand equity. Apa pula makhluk itu?

Brand equity adalah nilai yang menggambarkan seberapa kuatnya atau seberapa terkenalnya sebuah merek. Semakin meningkat tentu semakin baik karena menandakan bahwa brand equity-nya menjadi semakin kuat dan terkenal.

 

Baca Juga: Panduan Membuat Tagline untuk Brand

 

Mengapa brand equity penting? Tentu saja, karena berpengaruh pada jangka panjang dari brand tersebut. Brand akan lebih mudah “berjualan” karena konsumen secara umum akan lebih memilih dan percaya dengan merek yang terkenal daripada yang tidak.

Misalkan begini:

Kamu datang ke Jogja. Setelah capek muter-muter seharian ke Parangtritis, Monjali, dan Malioboro, tiba-tiba ponakanmu mengirim pesan lewat WhatsApp.

“Om ku yang tamvan senusantara, beliin oleh-oleh dari Jogja, ya! Kaos aja, deh, gak papa.”

Dalam pikiran orang-orang, satu-satunya oleh-oleh khas Jogja yang berupa kaos ya Dagadu. Tak ada yang lain. Nah, itu tanda brand equity dari Dagadu sudah begitu kuat dan kukuh. Padahal, kalau kita telisik lebih jauh, banyak banget brand oleh-oleh kaos Jogja. Kalau tak percaya, datang saja ke Malioboro. Akan tetapi, yang secara konsisten menjaga kualitas dan branding-nya bagus dan benar-benar diurus, ya hanya Dagadu. Itulah mengapa brand-nya masuk top of mind dan brand equity-nya terus bertumbuh baik.

 

MARKETING

Sekarang, kita akan membahas tentang marketing. Sebelum membahas lebih jauh lagi tentang marketing, pastikan kamu sudah mengenal dan memahami apa itu brand power.

Kalau sudah, kita lanjutkan, ya.

Secara garis besar, marketing adalah aktivitas untuk mengemas brand power ke dalam sebuah bentuk penawaran. Caranya adalah dengan aktivitas komunikasi pemasaran atau biasa kita mengenalnya dengan sebutan marketing communication.

Jadi, cara gampangnya nih ya, tugas marketing ya memang menyebar luaskan penawaran tersebut kepada sebanyak mungkin target market.

 

Baca Juga: Bisnis Baru Bikin, Baiknya Jualan Pakai SEO atau Instagram?

 

Ingat, ya. Sejak awal, saya selalu menyinggung dengan sebutan target market, bukan market secara umum. Artinya, sejak awal, brand memang harus sudah bisa mendefinisikan siapa sih target market-nya.

Menjual kaos Nike seharga Rp500 ribu kepada Mas-Mas random di pinggir jalan yang bahkan sendal jepitnya saja Swallow yang sudah di daur ulang, ya tidak mashooook Pak Eko ….

Sekeren apa pun brand power, akan tetapi bila tidak dikomunikasikan secara masif, terukur, dan terencana kepada target market, maka akan menjadi sia-sia. Itulah mengapa tugas marketing menjadi sangat vital. Itulah mengapa marketing communication menjadi elemen penting.

Era digital sekarang, kemudian muncul istilah digital marketing. Aktivitas pemasaran dalam ranah digital.

Dalam digital marketing, aktivitas marketing-nya misalnya adalah beriklan untuk mendatangkan sebanyak mungkin leads ke dalam sebuah form order atau chat WA dari customer service. Tergantung bagaimana brand tersebut mengemas funneling-nya.

 

Baca Juga: Efek Brand yang Kuat

 

Itulah mengapa, digital marketing biasanya lebih berfokus kepada bagaimana mendatangkan traffic sebanyak mungkin untuk website, memiliki follower sebanyak mungkin untuk media sosial, subscriber sebanyak mungkin untuk YouTube dan Telegram, list email sebanyak mungkin untuk keperluan email marketing, dan lain sebagainya, sehingga memiliki owned traffic yang besar.

Strategi untuk meraih itu semua bisa bermacam-macam: content marketing, copywriting, story telling, atau apa pun, tergantung angle dan kebutuhan dari konsep digital marketing-nya.

Parameter yang selalu diperhatikan oleh marketing adalah berapa banyak orang yang melihat produk; berapa banyak orang yang bertanya tentang produk; dan berapa banyak orang yang mencoba produk. Jadi, marketing sama sekali tidak menghitung tentang berapa banyak orang yang membeli dan berapa uang yang dihasilkan.

Artinya, fokus dari marketing adalah bagaimana menjangkau pasar sebanyak-banyaknya dan menggiring mereka untuk bisa dijangkau oleh bagian sales dan tugas para sales inilah yang melakukan closing atau dealing.

Satu hal yang perlu diingat bahwa dalam melakukan marketing, kamu harus memastikan ada value yang bisa didapatkan oleh pelanggan jika membeli produk yang kamu tawarkan. Jadi, marketing bukan hanya digunakan agar semakin banyak orang tahu, tapi juga semakin banyak orang tertarik.

Penjelasan ini juga semoga memudahkan kamu untuk lebih memahami tugas marketer atau pemasar, yakni menciptakan komunikasi dengan target market saja. Alias, berinteraksi dan membangun hubungan dengan para calon pembeli, sehingga penjualan akan mudah untuk dilakukan oleh bagian sales.

 

SELLING

Jika marketing sama sekali tidak menghitung tentang berapa banyak orang yang membeli dan berapa uang yang dihasilkan, berbeda dengan selling. Mengapa? Karena selling memiliki tujuan untuk omset bisnis.

Strateginya bisa dengan menggelar promo bermacam-macam, yang penting bisa menghasilkan penjualan atau closing, tergantung dari kreativitas serta situasi dan kondisi.

 

Baca Juga: Siklus Berjualan yang Mujarab dalam Digital Marketing

 

Pada umumnya, bagian sales dituntut untuk mencapai kuota penjualan tertentu untuk mengukur performanya. Bisa saja dengan jumlah pembeli, total omset, jumlah produk terjual, atau alat ukur lainnya yang berkaitan dengan selling.

Masih bingung juga?

Ilustrasi sederhanya seperti ini.

Dalam aktivitas bisnis online misalnya, katakanlah kamu berjualan sarung. Bagian digital marketing sudah berkomunikasi dengan bagian branding untuk mengiklankan konten khusus Ramadhan yang diarahkan pada landing page khusus jualan sarung. Di dalam landing page ini tidak menggunakan form order, karena tipikal orang Indonesia yang malas mengisi form order. Orang Indonesia lebih suka nggibah alias ber-chit-chat ria dengan customer service-nya.

Nah, dengan paduan konten kreatif level Asgard dan teknik FB Ads level dewa, begitu banyak calon pembeli yang kemudian mengontak nomor WA dari customer service yang ada di landing page tersebut.

Nah, sekarang, tugas CS-nya lah untuk menguasai teknik closing agar Mbak-Mbak dan Mas-Mas yang sudah menghubungi yang awalnya belum niat-niat amat untuk membeli harus membeli, dan yang awalnya hanya berniat membeli satu sarung menjadi membeli sarung sekarung.

Akan saya bahas dalam postingan terpisah teknik closing ini, ya, karena sedahsyat apa pun teknik konten dan teknik pemasarannya akan tetapi bila tak menguasai teknik closing, ya omset bisnis nggak jadi meroket.

***

Baiklah, demikian  penjelasan mengenai perbedaan branding, marketing, dan selling. Semoga membantu dan mencerahkan.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.