sifat dan akhlak nabi

Sifat dan Akhlak Nabi SAW

Nabi Muhammad saw semasa hidupnya dikenal sebagai manusia yang mempunyai sifat dan akhlak terunggul. Semua orang, baik kawan maupun lawan, mengakui akan keagungan akhlak dan perilaku beliau. Maka tidak mengherankan bila istri beliau, Aisyah ra, menyebut akhlak beliau adalah al-Quran. Beliau diibaratkan sebagai al-Quran berjalan; jika mushaf adalah lembaran-lembaran yang berisi tulisan dari al-Quran, maka Nabi Muhammad saw merupakan representasi nyata wahyu Allah tersebut.

Akhlak beliau yang mulia telah menjadi senjata terampuh untuk menaklukkan kerasnya hati manusia. Beliau membalas perilaku orang yang berbuat jahat pada beliau dengan kebaikan. Sehingga pada akhirnya dakwah Islam yang beliau bawa sanggup menembus relung hati banyak orang dan meraih kesuksesan besar. Berikut ini kami himpunkan sedikit akhlak indah beliau yang bisa kami pahami. Jumlah yang diterangkan di sini tidak bermaksud untuk membatasi karena bisa saja masih ada akhlak-akhlak mulia beliau yang lain yang tidak tersebutkan di sini.

Kejujuran

Kejujuran adalah sifat yang sudah melekat dan mendarah daging pada Rasulullah saw semenjak beliau masih anak-anak. Beliau tidak pernah mengucapkan perkataan dusta sekalipun. Hal itu dipersaksikan oleh semua orang yang pernah berjumpa dan berinteraksi dengan beliau. Maka orang-orang pun menjuluki beliau dengan gelar al-Amin (manusia yang paling dapat dipercaya).

Sifat jujur ini sebenarnya membuat masyarakat Quraisy mengakui kebenaran dakwah yang beliau sampaikan. Namun karena faktor gengsi mereka menolaknya dan mulai memfitnah beliau berdusta. Kejadian saat pertama kali Nabi Muhammad saw menyampaikan seruannya di bukit Shafa membuktikan akan sifat jujur ini.

Ketika itu beliau berdiri tepat di atas bukit Shafa menyeru masyarakat Quraisy untuk berkumpul. Mereka pun bergegas berkumpul berharap akan ada berita penting yang berguna bagi mereka. Kalaupun ada yang berhalangan hadir, ia mengirim utusan untuk turut berkumpul agar tidak ketinggalan berita penting tersebut. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.

Setelah dirasa bahwa yang hadir sudah cukup banyak, Rasulullah bertanya kepada mereka, “Apa pendapat kalian jika seandainya kukabarkan bahwa di balik bukit ini ada sepasukan kuda yang hendak menyerang kalian? Apakah kalian mempercayaiku?

“Ya,” jawab mereka, “Selama ini kamu selalu jujur. Kami tidak pernah punya pengalaman engkau berbohong selama berhubungan dengan kami.”

Maka beliau saw bersabda, “Sesungguhnya aku memperingatkan kalian sebelum datangnya azab yang pedih. Tinggalkanlah segala bentuk kejahiliahan kalian!

Abu Lahab seketika marah besar dan berkata, “Celaka kamu! Untuk hal inikah kamu mengumpulkan kami?”

Kisah ringkas ini menunjukkan sebuah pengakuan yang jujur dari masyarakat Quraisy akan kejujuran Nabi saw. Tidak pernah sekalipun mereka merasakan pengalaman dibohongi oleh Muhammad saw. Meski kemudian Abu Lahab marah besar, hal itu tidak mencederai sedikitpun fakta kejujuran Muhammad saw.

Amanah

Selain jujur, Rasulullah saw juga dikenal teguh memegang amanah. Jika dipercaya mengemban sebuah tugas, Rasulullah saw tidak pernah mengkhianatinya. Jika berjanji, beliau senantiasa menepatinya.

Beliau sudah dikenal amanah sejak masih remaja. Kala itu beliau hidup mandiri bekerja menggembalakan kambing penduduk Mekah dengan menerima upah. Dalam menggembalakan kambing, beliau tidak pernah melakukan penipuan. Kambing yang beliau bawa selalu pulang kepada pemiliknya dalam keadaan kenyang. Dalam hal jumlah juga demikian, tidak ada satu kambing pun yang hilang. Berapapun kambing yang dia bawa, maka kembalinya utuh dalam jumlah yang sama.

Ketika beranjak dewasa, Nabi Muhammad saw mulai berkecimpung dalam aktivitas perdagangan. Dalam berdagang Nabi Muhammad saw tidak pernah berlaku curang. Beliau selalu menyempurnakan takaran timbangan. Beliau tidak menyembunyikan cacat barang dagangan. Beliau menjelaskan kondisi barang apa adanya. Beliau juga tidak melakukan korupsi terhadap barang dagangan yang dititipkan kepada beliau untuk diniagakan.

Sifat amanah Rasulullah ini membuahkan kepercayaan dari masyarakat sekitar. Mereka senang jika ternak mereka digembalakan oleh beliau. Bahkan pada masanya nanti sifat amanah beliau dalam berdagang membawa berkah nan luar biasa, beliau dipersunting oleh Khadijah, mendapatkan modal berharga untuk memulai langkah dakwah.

Sifat amanah beliau bukan hanya terhadap manusia, tapi juga terhadap Allah. Beliau mengemban tugas yang diamanahkan di pundak beliau dengan sebaik-baiknya dan seluruh kemampuan beliau. Beliau tidak mundur ketika dibenturkan dengan beragam rintangan dan cobaan. Beliau tetap teguh menjalankan amanah mendakwahkan Islam hingga tertunaikan secara sempurna.

Kesabaran

Sebagai anak yang mengalami pertumbuhan dalam suasana penuh keprihatinan, Rasulullah saw dikenal sangat penyabar. Ketika kecil beliau sudah merasakan berbagai kepedihan ditinggalkan oleh orang-orang yang beliau cinta. Karena kesabaran dan ketabahannya, beliau tidak berputus asa. Beliau bertekad untuk terus melanjutkan kehidupan.

Ketika dewasa dan mendakwahkan Islam, tidak jarang pula Rasulullah saw mendapatkan perlakuan zalim dari orang-orang yang membencinya. Tetapi beliau membalasnya dengan perlakuan yang baik. Pernah tubuh beliau dilempari kotoran hewan ternak oleh seseorang. Namun ketika orang tersebut menderita sakit, beliau menjenguknya dan membuat dia tertegun serta menyesali perbuatannya. Pernah pula leher beliau dicekik seorang musyrik ketika sedang shalat. Beruntung saat itu Abu Bakr al-Shiddiq lewat dan menyelamatkan beliau. Terhadap orang yang pernah mencekiknya, Rasulullah saw tidak menuntut balas. Ini semua karena sifat sabar yang tertancap kokoh di hati beliau dan termanifestasikan dalam perilaku beliau.

Kasih Sayang

Nabi Muhammad saw dikenal sebagai sosok yang memiliki rasa kasih sayang kepada sesama manusia bahkan seluruh makhluk. Rasa kasih sayang beliau terasah semenjak kecil dalam dekapan ibunya lalu didikan kakeknya. Beliau menyayangi teman-teman sebayanya. Saat dewasa, beliau menyayangi anak-anak dan orang tua. Beliau bahkan dikenal menyayangi hewan dan juga tumbuhan. Dalam suasana perang pun Rasulullah saw selalu berpesan kepada para sahabat, “Jangan membunuh orang tua, wanita, dan anak-anak! Jangan merusak tanaman dan jangan membunuh binatang ternak!

Dan ketika ajal sudah sedemikian dekat dengan beliau, Allah memberi beliau pilihan, menikmati kelezatan surga yang tiada taranya bersama Allah tanpa mempedulikan umat beliau ataukah masuk surga bersama umat beliau namun dengan konsekuensi harus menunggu mereka. Beliau mengesampingkan sifat egonya. Beliau menunjukkan kasih sayang kepada umatnya dengan menjawab lirih, “Ummatii… ummatii… (umatku, umatku).

Keberanian

Selain berjiwa lemah lembut Rasulullah saw juga mempunyai keberanian yang tinggi. Keberanian Rasulullah saw dibuktikan dengan bersedianya beliau mengemban tugas mendakwahkan Islam, padahal beliau pasti tahu risiko yang musti beliau hadapi karenanya. Bisa saja beliau dihina secara verbal, disiksa secara fisik, bahkan mungkin saja dibunuh. Dengan gagah berani Rasulullah saw menghadapi semua risiko itu.

Beliau sudah tahu kalau perangai orang Arab itu keras. Mereka akan sangat marah jika gengsi mereka diinjak-injak dan kebiasaan mereka disalahkan. Kalau orang Arab sudah marah, perang dan pertumpahan darah seringkali tidak terelakkan. Namun Nabi saw tidak gentar terhadap hal itu. Beliau dengan sepenuh keberanian tetap keluar ke atas bukit Shafa menyeru manusia untuk meninggalkan kejahiliahan mereka.

Keberanian Rasulullah saw juga tercatat apik di berbagai medan peperangan. Beliau adalah pemimpin yang tidak hanya pandai berkomando, tapi juga cakap terjun langsung ke tengah-tengah pertempuran meski dengan risiko beliau bisa saja kehilangan nyawa. Beliau tidak takut pada siapa dan apapun kecuali kepada Allah saja.

Kecerdasan

Sebagai seorang rasul pemimpin umat yang berhasil mengeluarkan umatnya dari jurang kehinaan dan mengantarkannya kepada kejayaan, Nabi Muhammad saw terbukti memiliki kecerdasan multidimensi. Tidak hanya kecerdasan emosional dan spiritualnya yang dikagumi, kecerdasan intelektualnya pun diakui. Beliau adalah pribadi yang berhasil mengkoordinir para sahabat untuk melakukan kerja besar. Beliau mampu mensinergikan potensi mereka dan melejitkan kemampuan tim tersebut hingga berhasil menorehkan prestasi gemilang.

Kegemilangan kerja beliau dan para sahabatnya tidak hanya terjadi pada masa beliau. Di masa sepeninggal beliau, para sahabat masih terus mencatatkan sejarah hebat. Hal ini menjadi nilai tambahan bagi kecerdasan beliau, bahwa beliau bukan saja cerdas secara personal, tapi juga cerdas dalam mengoptimalkan potensi orang lain serta cerdas dalam mengkader mereka sehingga mereka dapat terus berprestasi sekalipun beliau telah tiada.

Selain itu, ditengok dari aspek-aspek kehidupan beliau, beliau bukan saja cerdas sebagai pimpinan keagamaan maupun pemerintahan. Beliau ternyata juga cerdas dalam mengelola rumah tangga, melakukan kegiatan perdagangan, mengambil keputusan dalam konteks politik, serta merumuskan strategi perang.

Dalam berumah tangga, misalnya, beliau mampu meredam ketidakpuasan istri-istrinya yang bisa saja berpotensi memicu ketidakharmonisan juga konflik keluarga yang dampaknya akan berpengaruh ke masyarakat. Sepulangnya beliau dari perang Hunain, istri-istri beliau meminta tambahan harta agar mereka bisa hidup layak. Tuntutan ini dapat diselesaikan oleh Rasulullah saw –atas bimbingan Allah— sehingga permasalahan terselesaikan dan dampaknya tidak kemana-mana. Beliau mempetuahi mereka untuk memilih dunia atau kampung akhirat. Jika mereka memilih dunia, Rasulullah akan berikan talak yang baik pada mereka. Tapi jika mereka menghendaki kampung akhirat, maka sesungguhnya karunia Allah teramat luas. Hasilnya, para istri beliau tersadar lalu meminta maaf pada beliau dan bertobat pada Allah swt.

Komitmen Tinggi

Rahasia kekuatan Rasulullah saw dalam menghadapi setiap badai ujian dan tekanan dalam berdakwah adalah dengan memancangkan komitmen yang tinggi terhadap tugas yang diembannya. Rasulullah saw bukan tipe orang yang mudah berputus asa. Semakin ditekan, semakin besar pula semangat dan harapan beliau untuk meraih kesuksesan dalam berdakwah.

Ketika semangat dakwah Rasulullah saw tidak dapat dikendurkan dengan penyiksaan, terlebih lagi semenjak Hamzah dan Umar ibn Khathab masuk Islam, orang-orang Quraisy mulai memikirkan cara lain dalam meredam dakwah beliau. Mereka mendatangi Rasulullah saw dan mengajukan berbagai penawaran agar beliau menghentikan dakwahnya. Beliau ditawari dengan harta milik seluruh penduduk Mekah, juga diiming-imingi menjadi pemimpin tertinggi suku Quraisy, bahkan beliau dijanjikan akan dijadikan raja di semenanjung Arab asalkan beliau mau menghentikan dakwahnya. Semua tawaran mereka itu beliau tolak mentah-mentah.

Sebelum itu, ketika Abu Thalib masih hidup, paman beliau itu juga didatangi oleh orang-orang Quraisy yang menekan agar dia menyuruh keponakannya menghentikan dakwah. Abu Thalib menyampaikan petisi tersebut kepada Muhammad saw, sekaligus mewanti-wantinya bahwa Abu Thalib tidak mungkin sanggup melindunginya terus-menerus. Jawaban Nabi saw sangat tegas, “Sekalipun matahari diberikan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan amanat dakwah ini, maka aku tidak akan pernah meninggalkannya sampai agama ini menang atau aku hancur bersamanya.” Sebuah bukti komitmen yang sangat tinggi telah diperlihatkan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau berkomitmen untuk tetap melanjutkan dakwah dengan apapun risikonya.

Kebijaksanaan

Rasulullah saw adalah pemimpin yang sangat bijaksana dalam mengambil keputusan maupun mengajarkan agama kepada umatnya. Beliau pun mendorong para sahabat agar mengambil keputusan dengan perhitungan yang matang melalui musyawarah. Dan beliau juga selalu mengingatkan agar menyampaikan dakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik.

Pernah suatu ketika Rasulullah saw tengah mengajarkan agama kepada para sahabat beliau. Seketika datang seorang Arab Badui yang tanpa ragu-ragu kencing di sudut masjid. Melihat gelagat si Badui, Umar ibn Khathab tersulut emosi dan hampir saja menghardiknya. Namun Nabi Muhammad saw mencegah Umar. Beliau biarkan orang Badui tersebut menyelesaikan keperluannya sampai tuntas. Setelah selesai, barulah Nabi memerintahkan salah seorang sahabat menyiram bekas kencing si Arab Badui dengan air sampai bersih, dan si Badui tersebut diberi pengertian oleh Nabi Muhammad saw agar tidak kencing di masjid dan bagaimana caranya kencing di tempat yang benar dan dengan cara yang benar.

Alangkah bijaknya cara Rasulullah saw mendakwahi orang Arab Badui yang tadinya tidak mengerti apa-apa. Beliau memakai metode yang sangat tepat yang lahir dari sifat bijaksananya beliau. Bagi beliau, tidak sepantasnya orang yang belum mengerti apa-apa dihardik. Terlebih lagi jika dia belum menyelesaikan keperluannya sampai tuntas, malah bisa menimbulkan kemudaratan lebih besar. Berbuat bijaksana memang membutuhkan kesabaran, namun hasilnya seringkali jauh lebih efektif.

Kedermawanan

Kedermawanan Nabi Muhammad saw adalah sesuatu yang tidak diragukan. Beliau adalah teladan terbaik dalam menggambarkan sosok orang yang peduli dan mau mengorbankan apa yang ia punya untuk kebaikan orang lain. Beliau adalah pemimpin yang dikenal zuhud dan gemar berbagi. Beliau rela merogoh kocek dalam-dalam demi menyejahterakan rakyatnya dan menjaga stabilitas umat yang dipimpinnya. Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau adalah seorang pedagang yang jenius hingga berhasil memperoleh harta melimpah. Terlebih lagi istri beliau, Khadijah ra, juga seorang yang kaya-raya.

Namun semua kemegahan itu tidak beliau nikmati seenaknya. Beliau tetap hidup sederhana. Beliau makan seadanya dan tidak suka berfoya-foya. Hartanya yang banyak justru diinfakkan demi kepentingan fi sabilillah dan menyejahterakan orang lain. Tatkala dakwah Islam membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit, beliau adalah orang pertama yang mencontohkan para sahabatnya agar mau berinfak. Padahal beliau adalah seorang nabi yang bekerja tanpa digaji. Maka pada fase berikutnya ketika dakwah Islam betul-betul membutuhkan seluruh konsentrasi beliau sehingga beliau tidak bekerja, beliau tercatat hidup miskin bersama istri-istrinya.

Begitu dermawannya Nabi Muhammad saw sampai-sampai dalam kondisi tidak berpunya pun beliau selalu berusaha bersedekah. Prinsip beliau adalah jangan sampai ada rakyatnya atau umatnya kelaparan. Umar ibn Khathab bercerita, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, dan Rasulullah juga memberinya. Hal yang sama terjadi keesokan harinya. Pada hari keempat hal itu terjadi lagi namun kali ini Rasulullah saw berkata, “Aku tidak punya apa-apa saat ini. Tapi ambillah yang kau mau dan jadikan itu sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku akan membayarnya.

Umar lalu berkata, “Rasulullah, janganlah memberi di luar batas kemampuanmu.” Rasulullah menunjukkan sikap tidak suka pada perkataan Umar tersebut. Tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar yang berkata, “Jangan takut, Rasulullah, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan lelaki itu, Rasulullah saw tersenyum, lalu beliau berkata pada Umar, “Ucapan inilah yang diperintahkan Allah kepadaku.

Etos Kerja

Nabi Muhammad saw adalah figur yang beretos kerja hebat. Sejak remaja, etos kerja beliau sudah diakui banyak orang. Beliau dikenal sebagai penggembala kambing yang cakap dan berbakat. Ketika dewasa, beliau berdagang dengan etos kerja yang baik sehingga perniagaannya membawa keuntungan berlimpah. Dan pada saat menjadi nabi dan rasul, beliau mengemban amanah mendakwahkan Islam dan melakukan tugas-tugasnya dengan etos kerja yang terbaik. Beliau tidak bisa tidur nyenyak selama Dinul Islam ini belum mendapatkan kemenangan. Beliau tidak bisa bersikap santai hingga misi dakwah ini tertunaikan dengan sempurna.

Beliau selalu mendakwahkan Islam dengan kemampuan totalnya (all out). Beliau tidak setengah-setengah menempuh jalan perjuangan ini. Dengan etos kerja beliau yang sangat tinggi tersebut tidak mengherankan bila hanya dalam kurun waktu 23 tahun beliau berhasil menunaikan misi berat yang diembannya. Beliau mampu merubah perjalanan sejarah. Beliau berhasil memangkas keberlanjutan sebuah generasi jahiliah, dan membentuk generasi baru yang beriman, bertakwa, serta berjaya. Beliau mengubah struktur masyarakat dan sistem pemerintahan jahiliah dengan mempelopori sebuah struktur masyarakat baru yang paling setara dan sistem pemerintahan yang paling adil.

Kemauan Kuat

Selaras dengan komitmen Nabi Muhammad saw yang tinggi, beliau juga memiliki kemauan yang sangat kuat. Beliau mempunyai visi yang cemerlang dan mimpi yang besar, lalu visi dan mimpi itu dikejar dan direalisasikan melalui kerja keras dilandasi kemauan yang kuat. Tanpa kemauan yang kuat, mustahil Nabi Muhammad saw mampu menyelesaikan misi dakwahnya dengan brilian hanya dalam waktu 23 tahun.

Kemauan beliau yang kuat dibuktikan dengan maksimalnya target kerja yang beliau pancang. Beliau tidak segan-segan mencanangkan target menjadikan Islam sebagai yang tertinggi di dunia. Islam harus bisa dipahami dan diterima umat manusia, dan juga mengarahkan perilaku manusia. Islam harus memiliki entitas keumatan yang mapan dan kuat. Beliau tidak akan berhenti sebelum target beliau tercapai. Beliau akan terus bekerja merealisasikannya walau jasad beliau harus hancur demi mendakwahkan Islam ini. Sebuah wujud kemauan yang tidak ada tandingannya. Alhasil, menjelang wafatnya, target tinggi yang beliau canangkan telah berhasil diraih. Umat Islam menjadi entitas keagamaan yang kuat.

Keteguhan Hati

Semenjak meninggalnya Abu Thalib, orang-orang Quraisy mendapatkan kesempatan melakukan penyiksaan secara fisik kepada diri Nabi agar beliau mau menghentikan dakwahnya. Mulai ada orang yang melemparkan kotoran binatang ke tubuh Nabi. Ada juga yang mencekik leher Nabi ketika beliau sedang shalat. Serta berbagai macam bentuk penyiksaan fisik lainnya yang ditujukan kepada Nabi saw maupun para sahabatnya.

Segala macam siksaan fisik tersebut nyatanya tidak menyurutkan langkah Nabi saw. Beliau tetap teguh di jalan dakwah melanjutkan misi yang beliau emban. Kepada para sahabat yang menerima siksaan nan perih tiada terkira, Nabi saw memesankan agar bersabar hingga Allah memberikan kemenangan. Keteguhan hati beliau coba ditularkan kepada para sahabat. Keteguhan hati inilah kunci yang mengantarkan mereka sampai pada kemenangan. Bisa dibayangkan, andai saja mereka langsung putus asa dan lemah semangat ketika siksaan demi siksaan itu mendera, pastilah agama ini tidak akan pernah meraih kemenangannya. Rasulullah saw dan para sahabat sampai ke gerbang kemenangan setelah melewati berbagai fase yang membutuhkan keteguhan hati berlipat ganda.

Jiwa Akomodatif

Nabi Muhammad saw adalah pemimpin yang mau mengakomodasi masukan umatnya. Dalam mengambil keputusan genting, beliau senantiasa mendahulukan musyawarah dengan para sahabatnya. Meski sebagai seorang pemimpin beliau bisa saja memaksakan kehendaknya, namun hal itu tidak beliau lakukan. Beliau lebih mendahulukan kesolidan umat daripada memaksakan pandangannya. Beliau lebih memilih menghargai dan melibatkan kontribusi dari para sahabat daripada memproklamirkan diri sebagai “pahlawan tunggal” dalam setiap pengambilan keputusan.

Dalam perang Uhud, misalnya, beliau memakai usulan para sahabat agar menyongsong musuh di luar kota Madinah. Padahal, beliau punya pandangan agar melakukan barikade pertahanan di dalam kota Madinah. Namun demi menunjukkan keteladanan yang baik kepada umat, beliau mengikuti masukan para sahabat tersebut. Meski pada akhirnya para sahabat menyesal seolah-olah mereka mendikte dan terlihat lebih pintar daripada Nabi, sehingga mereka kemudian meminta maaf dan menganjurkan Nabi agar membatalkan rencana tersebut dan berbalik memilih opsi untuk bertahan di dalam kota, Nabi saw tetap konsisten dengan keputusan yang mengakomodasi suara umat dengan apapun risikonya.

Keadilan

Nabi Muhammad saw memimpin para sahabat dengan penuh keadilan. Beliau juga memperlakukan musuh secara adil. Beliau tidak memandang hubungan kekeluargaan maupun kepentingan lainnya dalam mengambil keputusan. Setiap keputusan beliau buat untuk memperlihatkan watak keadilan Islam.

Ketika paman beliau, Abbas, menjadi tawanan perang Badar, ia diikat kencang seperti tawanan-tawanan lainnya. Tali itu begitu kencangnya sehingga ia mengerang-erang kesakitan sepanjang malam. Rasulullah saw tidak dapat tidur karena mendengar erangan tersebut. Sebetulnya ada rasa iba di hati beliau karena Abbas adalah paman yang berkontribusi besar dalam proses pernikahan beliau dengan Khadijah. Para sahabat yang mengetahui hal itu segera melonggarkan ikatan Abbas.

Ketika Rasulullah saw mengetahuinya, beliau memerintahkan supaya semua tawanan diperlakukan sama seperti paman beliau. Beliau mengatakan, tidak ada alasan untuk menunjukkan keistimewaan kepada keluarga beliau sendiri. Beliau menuntut mereka supaya melonggarkan ikatan semua tawanan, atau kebalikannya, mengencangkan kembali ikatan Abbas seperti tawanan-tawanan lain.

Konsistensi

Setelah kota Mekah ditaklukkan dan sebagian besar pembesar Quraisy yang selama ini memusuhi Islam dibaiat oleh Nabi saw menjadi pemeluk Islam, ada seorang perempuan keturunan bangsawan Quraisy mencuri barang perhiasan milik orang lain. Perempuan itu, menurut suatu riwayat, bernama Fatimah binti al-Aswad dari kalangan Bani Makhzum. Perempuan itu ditangkap, ditahan, dan menunggu keputusan.

Menurut hukum yang sudah berlaku di bangsa Arab –terutama di kalangan Quraisy di kota Mekah— pada masa jahiliah, orang yang mencuri harus dijatuhi hukuman potong tangan. Tetapi hukum ini kerap kali dilaksanakan oleh hakim dengan cara yang tidak adil, tidak sesuai dengan yang seharusnya dilakukan. Jelasnya, jika si pencuri itu keturunan dari orang besar, orang kaya, atau bangsawan, dia tidak dijatuhi hukuman potong tangan demi menjaga kepentingan dengan komunitas bangsawan tersebut. Tetapi jika si pencuri itu dari keturunan orang kecil, lapisan bawah, ia dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana bunyi undang-undang.

Pada masa kepemimpinan Islam, hukum potong tangan atas orang yang sudah jelas melakukan pencurian dikuatkan dan dilakukan dengan adil. Karena kota Mekah sudah berada di bawah kekuasaan umat Muslim, sudah barang tentu perempuan yang mencuri itu akan dijatuhi hukuman potong tangan untuk tangan kanannya. Sewaktu hukuman potong tangan dilaksanakan, para famili dan kerabatnya terkejut. Mereka berusaha mencari jalan memintakan ampunan agar hukuman itu jangan sampai dijatuhkan. Mereka memutuskan bahwa sahabat Nabi yang kiranya dapat menjadi perantara untuk menegosiasikan pembebasan kepada Nabi saw pada waktu itu ialah Usamah ibn Zaid.

Mereka datang berduyun-duyun menemui Usamah untuk mengemukakan keinginan dan pengharapan mereka, hendaknya ia sudi menjadi perantara menegosiasikan pembebasan kerabat mereka yang akan dijatuhi hukuman potong tangan. Usamah ibn Zaid pun pergi menghadap Nabi saw dan mengemukakan segala yang diharapkan oleh orang-orang yang meminta tolong padanya. Setelah Nabi saw mendengar apa yang mereka minta dengan perantaraan Usamah, berubahlah rona muka beliau.

Beliau berkata, “Apakah kamu akan membicarakan kepadaku tentang batas (hukum) dari batas-batas (hukum-hukum) Allah? Apakah kamu akan menolong orang yang melanggar batas dari batas-batas Allah?

Mendengar jawaban Nabi saw yang sedemikian keras serta melihat rona muka beliau yang tampak sangat marah, Usamah ibn Zaid berkata, “Ampunilah aku, Rasulullah.”

Pada petang harinya, Nabi saw datang di depan orang ramai dan berdiri menyampaikan khotbah. Dalam khotbah itu antara lain beliau menyatakan:

Hai segenap manusia! Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang dahulu sebelum kalian tidak lain ialah: apabila orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya; dan apabila orang lemah yang mencuri, mereka menetapkan hukuman atasnya. Demi Dzat yang menguasai diri Muhammad di tangan kekuasaan-Nya, sekiranya Fatimah anak perempuan Muhammad yang mencuri, pasti aku akan memotong tangannya.

Demikianlah sabda Nabi saw waktu itu. Selanjutnya beliau memerintahkan supaya perempuan yang mencuri itu dijatuhi hukuman potong tangan. Oleh orang yang diserahi untuk melaksanakan hukuman itu, perintah ini segera dilaksanakan dengan baik dan perempuan itu dipotong tangannya sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah dalam wahyu-Nya. Lebih jauh diriwayatkan bahwa setelah dijatuhi hukuman, perempuan tersebut bertobat dalam arti kata yang sebenarnya, tidak pernah mencuri lagi.

Riwayat ini menunjukkan betapa konsistennya Nabi saw dalam memberlakukan peraturan. Jika suatu peraturan sudah ditetapkan maka itu harus dilaksanakan sebagaimana mestinya. Tidak ada kompromi sedikitpun untuk mengubah maupun melemahkannya.

Jiwa Tafakur

Di usianya yang menginjak 37 tahun Rasulullah gemar menyendiri di gua Hira, menjauh dari hiruk-pikuk manusia, untuk merenungkan tentang kondisi masyarakat dan alam semesta. Sebetulnya ini bukan hal baru bagi beliau. Sebelumnya, beliau juga sudah dikenal sebagai orang yang tidak menyukai keramaian. Beliau lebih menyenangi kesunyian, dan beliau dikenal sebagai sosok yang suka merenung dan berpikir tentang kehidupan. Tetapi menyendirinya beliau di gua Hira untuk bertahanuts inilah yang menjadi momen terpenting bagi perjalanan hidup beliau. Sebab, pada saat itu beliau diangkat oleh Allah menjadi nabi dan rasul melalui wahyu yang dibawa oleh Jibril as.

Inilah gerbang awal sebuah perubahan dunia; ternobatkannya nabi dan rasul terakhir yang akan menyampaikan agama yang benar kepada seluruh manusia. Gerbang awal tersebut didahului dengan sebuah aktivitas tafakur, berpikir dan merenung tentang keadaan manusia dan alam, serta suatu upaya untuk menggali dan menemukan kebenaran sejati.

Pengendalian Diri

Merintis karir berdagang sejak usia 12 tahun, Rasulullah saw meraih kesuksesan besar hingga beliau memutuskan untuk berhenti pada usia 37 tahun. Di usia tersebut beliau merasa sudah cukup mereguk semua pengalaman berdagang dan sudah saatnya untuk istirahat, lebih berkonsentrasi untuk bertafakur dan beribadah. Dua puluh lima tahun lamanya berdagang, harta yang beliau saw kumpulkan tidaklah sedikit. Namun, dengan banyaknya harta itu beliau tidak serta-merta hidup bermegah-megahan. Beliau tidak tertarik untuk bergaya hidup mewah apalagi berfoya-foya. Beliau tetap memilih menjalani hidup sederhana. Beliau mampu menundukkan hawa nafsu dan mengendalikan dirinya dari keinginan akan kenikmatan-kenikmatan duniawi.

Baca juga: Sistem Hukum Rasulullah

Jiwa zuhud beliau sangat tinggi. Meski memiliki banyak harta, beliau lebih suka berinfak dengan harta tersebut. Untuk keperluan pribadi dan keluarganya, beliau hanya menggunakan sedikit hartanya sesuai dengan kebutuhan. Karena mampu menundukkan hawa nafsu dan mengendalikan diri inilah, kecerdasan emosional dan spiritual beliau menjadi sangat tinggi, yang merupakan kunci keberhasilan beliau dalam mengumandangkan dakwah Islam dan mengantarkan umat Islam menjadi umat yang disegani di seantero bumi.

Kesyukuran

Rasulullah saw merupakan manusia yang berhati paling suci dan paling bersih. Demikian adanya tertulis dalam Lauh Mahfuzh, sehingga beliaulah yang dipilih Allah menjadi nabi dan rasul terakhir sekaligus penghulu para nabi. Faktanya, selama hidup di dunia Rasulullah saw tidak pernah berbuat dosa. Allah selalu menjaga beliau dari pengaruh kemaksiatan dan kejahiliahan. Tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang rusak, beliau dijaga oleh Allah sehingga tidak ikut-ikutan rusak. Sebab itulah Allah menjamin beliau pasti masuk surga, bahkan berada di barisan paling depan memimpin umatnya masuk surga.

Walau sudah digaransi sedemikian rupa, nyatanya Rasulullah saw tidak berleha-leha. Beliau masih tetap mau melakukan berbagai macam aktivitas ibadah dan upaya mengumpulkan pahala. Dalam melakukan shalat Tahajud, misalnya, kedua telapak kaki beliau sampai memar kemerahan karena lamanya berdiri. Hal ini mengundang rasa simpatik dari para sahabat. Mereka pun bertanya kepada beliau, kenapa beliau masih beribadah sampai sekeras itu padahal Allah telah menjaminnya masuk surga?

Dari lisan yang mulia itu pun meluncur jawaban mengagumkan, “Salahkah jika aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” Beliau sudah tidak butuh pahala lagi untuk masuk surga. Bahkan kalaupun beliau tidak mengerjakan shalat malam, beliau tetap saja masuk surga. Namun kendati demikian beliau tetap rajin mengerjakan shalat Tahajud sebagai perwujudan rasa syukur beliau atas limpahan nikmat yang Allah berikan.

Kesederhanaan

Semasa hidup bersama Khadijah ra, Nabi Muhammad saw memiliki kekayaan yang melimpah. Namun beliau tetap memilih hidup sederhana. Kekayaan yang banyak itu lebih suka beliau infakkan. Bersama istri dan anak-anaknya, Nabi saw hanya menggunakan sedikit harta sesuai dengan keperluan mereka. Sepeninggal Khadijah ra, harta yang banyak itu diinfakkan hampir seluruhnya untuk kepentingan fi sabilillah dan mendanai usaha dakwah. Yang tersisa di tangan beliau hanya tinggal sedikit. Itupun kemudian dipakai sebagai mahar untuk menikahi Aisyah ra.

Semenjak itu keluarga Nabi menjalani hidup sederhana yang sebenarnya. Jika sebelumnya mereka sebetulnya memiliki harta namun memilih hidup sederhana. Sekarang, mereka hidup sederhana dalam artian betul-betul tidak punya harta. Kesederhanaan hidup yang mereka jalani bahkan berada di garis kemiskinan. Itulah yang menyebabkan istri-istri beliau protes ketika beliau pulang dari perang Hunain. Mereka meminta tambahan harta agar bisa hidup lebih layak.

Sebagai nabi dan rasul yang harus memberi contoh tentang hidup sederhana, beliau mengingatkan mereka. Beliau mempersilakan mereka untuk memilih: dunia atau kampung akhirat. Bila memilih dunia maka mereka akan ditalak Nabi dengan cara yang baik. Namun bila memilih akhirat maka mereka harus tabah hidup sederhana bersama Nabi namun kelak akan mendapatkan kenikmatan yang amat luas di surga. Ditantang sedemikian rupa, istri-istri Nabi tersadar. Mereka pun tetap memilih hidup sederhana bersama Nabi Muhammad saw.

Demikianlah hingga beliau kembali kepada Allah. Beliau menjalani hidup dengan kesederhanaan, dan meninggal pun dalam keadaan yang serba sederhana

Ketaatan

Nabi Muhammad saw adalah hamba Allah yang senantiasa menjaga ketaatan. Beliau patuh dan tunduk terhadap semua perintah Allah yang diwahyukan kepada beliau. Beliau konsisten menjalankan semua aturan-aturan Allah tersebut. Beliau tidak melanggar sedikitpun batasan-batasan yang telah Allah tetapkan. Beliau selalu berupaya menghindari hal-hal yang dapat mengundang murka Allah swt. Bahkan meski sudah dijamin masuk surga, beliau masih rajin mengerjakan ibadah sebagai wujud rasa syukur dan ketaatan beliau pada Allah swt.

Kebesaran Hati

Nabi Muhammad saw adalah figur yang berbesar hati mau memaafkan setiap perlakukan jahat yang ditujukan terhadap beliau. Beliau tidak terdorong untuk membalasnya dengan kejahatan pula. Beliau memilih memperlakukan orang yang sudah berbuat jahat kepada beliau dengan perlakuan yang baik.

Ketika di Thaif, Nabi dianiaya oleh penduduknya hingga kedua lutut dan mata kaki beliau terluka dan gigi beliau berdarah. Atas tindakan penganiayaan yang berlebihan tersebut, malaikat turun membantu Nabi saw. Malaikat sempat menawarkan kepada Nabi, bila mau penduduk Thaif bisa dibinasakan saat itu juga. Namun Nabi Muhammad saw berbesar hati dan mengatakan pada malaikat, “Biarkanlah mereka. Itu karena mereka belum tahu. Semoga suatu saat nanti mereka akan sadar dan menerima Islam.

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Nabi saw dan Abu Bakr al-Shiddiq dikejar oleh Suraqah ibn Malik. Ketika jarak antara mereka sudah dekat, kuda yang ditunggangi Suraqah ibn Malik malah tergelincir di tanah sehingga Suraqah ibn Malik terpental jatuh. Pedang yang dipegangnya pun terlepas. Pedang itu lantas diambil oleh Nabi saw. Jika menuruti emosi, beliau bisa saja menebas leher Suraqah ibn Malik dengan pedang itu. Namun dengan kebesaran hati, beliau memaafkan Suraqah ibn Malik, mengembalikan pedangnya, dan membiarkannya pergi.

Cinta Damai

Barat mengidentikkan Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin agama yang gemar berperang dan menumpahkan darah, merujuk pada berbagai perang yang dilakukan oleh umat Islam serta ayat-ayat jihad yang tersebar dalam al-Quran juga hadits-hadits Nabi tentang jihad. Ini merupakan pandangan yang bias karena tidak memperhatikan sebab kenapa beliau harus berperang. Lagipula bila dikaji dengan lebih jernih, Nabi Muhammad saw sesungguhnya adalah orang yang mencintai perdamaian.

Beliau terlibat dalam berbagai perundingan dan perjanjian perdamaian, yang beberapa diantaranya diprakarsai oleh beliau. Beliau juga terpaksa berperang karena keamanan wilayah dan rakyat yang dipimpinnya terancam oleh makar orang-orang kafir. Tidak sekalipun beliau mengobarkan perang terlebih dahulu, apalagi didasari oleh kebencian dan dendam. Perang yang beliau lakukan adalah reaksi dari makar dan konspirasi jahat yang lebih dahulu dikobarkan oleh lawannya.

Peristiwa hijrah beliau ke Madinah adalah bukti shahih betapa beliau mencintai perdamaian. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar serta membangun masyarakat Madinah yang aman, tenteram, dan damai. Bahkan sebelum hijrah, dalam baiat Aqabah II, beliau sudah lebih dahulu mendamaikan antara suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya terlibat pertikaian untuk masa yang panjang. Beliau melakukan semua itu karena beliau mencintai perdamaian.

Jiwa Tawakal

Nabi Muhammad saw senantiasa melibatkan Allah dalam setiap aktivitasnya. Terlebih lagi dalam urusan-urusan besar, beliau selalu menyandarkannya kepada Allah agar Allah memudahkan jalan beliau. Beliau sadar sepenuhnya bahwa hanya Allah yang bisa membantu beliau dalam segala macam urusan. Bahkan diri beliau sendiri pun tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan dan pertolongan dari Allah swt.

Jiwa tawakal beliau memang sangat tinggi. Segala macam problema yang beliau hadapi beliau sadari sepenuhnya adalah pemberian Allah, maka beliau serahkan pula kepada Allah agar beliau dimudahkan untuk mengatasinya. Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, tergores indah sifat tawakal beliau saw. Ditemani Abu Bakr al-Shiddiq, Nabi saw masuk ke dalam gua Tsur untuk bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir Quraisy. Ketika orang-orang Quraisy itu sampai di mulut gua, Abu Bakr mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah saw sembari berkata, “Wahai Rasul, kalau saja satu di antara mereka melihat ke bekas-bekas telapak kaki kita di tanah, pastilah ia akan mengetahui keberadaan kita.” Nabi menenangkan Abu Bakr, “Jangan takut, Abu Bakr! Kita tidak hanya berdua, tetapi ada yang ketiga, yaitu Allah yang senantiasa mendampingi dan melindungi kita.

Begitulah ketawakalan beliau yang sangat tinggi. Nyatanya tidak seorang pun dari para pengejar itu yang memperhatikan bekas telapak kaki mereka berdua di tanah di depan mulut gua. Padahal memperhatikan tanah demi melihat apakah ada bekas telapak kaki merupakan standar operasi paling mendasar bagi sebuah upaya pencarian. Orang-orang Quraisy tahu akan hal itu, namun pada waktu itu mereka seolah dibuat lupa oleh Allah sehingga standar operasi yang paling mendasar tersebut tidak mereka lakukan. Tidak berselang lama mereka langsung pergi begitu saja, sehingga Nabi saw dan Abu Bakr tetap aman berada di dalam gua.


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.