rasulullah teladan umat

Rasulullah: Teladan Umat Sepanjang Zaman

“Tindak-tanduk kesehariannya, yang serius ataupun yang sepele, menjadi hukum yang ditaati dan ditiru secara sadar oleh jutaan orang masa kini. Tak seorang pun diperhatikan oleh golongan umat manusia mana pun seperti manusia sempurna ini yang diteladani secara saksama.” David George Hogarth

 

Lahirlah Muhammad. Bergembiralah Aminah, ibundanya. Baginya, Muhammad adalah pelita yang sinarnya tak hanya benderang, tapi juga menenteramkan hari-harinya. Wajah sumringah ditampakkan Aminah di tiap-tiap waktunya. Tak ingin rasanya meninggalkan bayinya walau hanya sebentar. Muhammad kecil telah berubah menjadi segunung harapan, penyemangat hari-hari, dan sumber cinta untuk selalu mendekapnya dalam gendongan kemesraan. Ah, Aminah sungguhlah ingin mengasuh Muhammad dengan tangannya sendiri.

Tapi, keinginan itu bukanlah suatu kelaziman bagi bangsa Arab pada masa itu. Adat mereka mengharuskan para ibu dari kaum bangsawan berpisah dengan bayi-bayinya untuk disusui perempuan dari pedalaman. Sebuah kebiasaan yang sulit untuk dipahami oleh bangsa, suku bahkan manusia lain.

Maka, hiduplah Muhammad kecil hidup di perkampungan kabilah bani Sa’ad bersama ibu susuannya yang bernama Halimah. Di sinilah ia menghabiskan masa kecilnya dengan keriangan dan canda tawa, berpadu suasana segar dan hawa tenang khas pedalaman, ditambah lagi tantangan alam bebas yang melecut kekuatan fisik dan emosinya. Bersama saudara-saudara sesusuannya, seperti Syaima’, Abdullah dan juga Anissa, Muhammad menghabiskan masa kecilnya. Bersama-sama mereka menyaksikan hewan gurun berlarian, menikmati pepohonan yang tumbuh subur di bukit-bukit, juga bersama-sama menggembala kambing sambil berlarian dan tertawa-tawa.

Muhammad hidup di pedalaman bersama Halimah dan keluarganya terjadi sampai berusia 5 atau 6 tahun. Dalam kurun waktu inilah terjadi sebuah peristiwa yang menjadi salah satu kisah fenomenal yang terjadi pada kisah hidup Nabi Muhammad, yaitu kisah pembelahan dada; semacam operasi pembersihan spiritual yang diyakini sebagai tanda awal dari persiapan kenabian Muhammad.

Kita tengah membincang sosok yang setiap hati dan jiwa seorang muslim pasti mencintainya. Dialah Rasulullah Muhammad saw. Dialah utusan Allah Rabbul Alamin, yang merisalahinya untuk seluruh alam dan menebar kasih sayang untuk miliaran makhluk-Nya di muka bumi. Dialah yang telah Allah buka dadanya di masa kecilnya, mengeluarkan segala keburukan dan hanya meninggalkan segala kebaikan dan kemulian. Dialah Nabi yang memungkasi segala risalah. Wahyu diturunkan kepadanya melalui Jibril. Syafaatnya senantiasa ditunggui umatnya. Perjalanannya tak hanya melintas bumi membebas ketidakadilan dan menghadirkan keadilan serta kesejahteraan, tetapi dia juga telah naik hingga ke sidratul muntaha. Dialah sosok manusia teragung. Pemimpin termulia. Selalu menjadi rujukan di setiap episode kehidupan. Dan penghadir kerinduan, baik bagi yang pernah menjumpa maupun tak pernah menjumpainya.

Allahumma shalli ala muhammad…

Rasulullah Muhammad adalah seorang yatim yang mendapatkan pendidikan secara langsung dari Allah. “Sesungguhnya Allah,” sabda beliau suatu kali, “telah mendidikku dan Ia mendidikku dengan baik. Kemudian, Ia menyuruhku dengan akhlak-akhlak mulia dan berfirman, ‘Ambillah kemaafan dan suruhlah dengan kebaikan, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil’.”

Tak heran, bilalah ajarannya selalu bersama kita setiap saat. Manakala kita shalat, kita akan teringat sabdanya, “Dirikanlah shalat sebagaimana kalian melihatku melakukan shalat.” (HR. Bukhari) Manakala kita haji, sabdanya yang lain mengingatkan kita lagi, “Hendaklah kalian mengambil cara-cara ibadah manasik haji dariku.” (HR. Muslim) dan juga pada setiap kegiatan lainnya. Semua selalu terlingkupi dengan sunnahnya. Dan dalam setiap waktu, kita harus terus menjagai sunnahnya. Karena memang, “Siapa yang tidak suka sunnahku, maka dia bukanlah termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)

 

Baca juga: Penulis Biografi Terbaik di Indonesia

 

Inilah sosok, yang dalam dirinya terhimpun seluruh kebaikan. Bilalah kita sedang berdahaga inspirasi, datang dan dekatilah sirah-nya. Allah sendiri yang telah menggaransi seluruh jawaban keterdahagaan jiwa akan keteladanan segera tertemukan pada diri Rasulullah Muhammad saw. “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab [33]: 21)

Adalah Rasulullah, termasyhuri sebagai pribadi dengan sifat dan akhlak terunggul. “Kana khuluquhul Qur’an,” kata Aisyah suatu kali. Yah, beliau memang laksana Al-Qur’an berjalan. Bilalah mushaf berupa paduan lembaran yang berupa wahyu tertulis, maka Rasulullah adalah representasi nyata bagaimana wahyu itu menyata dalam lelaku hidup.

Harumnya akhlak beliau senjata terampuh dalam proses dakwah. Bagaimana tidak. Perilaku jahat berbalas kebaikan. Perilaku baik, mendapat balasan kebaikan lebih berlipat lagi. Tiada sela untuk mencela. Tiada jarak untuk tak mengagumi.

Kejujuran adalah sifat yang sudah melekat dan mendarah daging pada Rasulullah saw semenjak beliau masih anak-anak. Beliau tidak pernah mengucapkan perkataan dusta sekalipun. Tak heran, bila kemudian beliau terjuluki al-Amin (manusia yang paling dapat dipercaya). Maka, peristiwa di atas bukit Shafa adalah pembuktian, bagaimana sebuah gengsi dari kaum Quraisy, mengalahkan nurani terdalam mereka akan pengakuan bahwa Muhammad telah berkata benar kala itu.

“Apa pendapat kalian jika seandainya kukabarkan bahwa di balik bukit ini ada sepasukan kuda yang hendak menyerang kalian? Apakah kalian mempercayaiku?”

“Ya,” jawab mereka, “Selama ini kamu selalu jujur. Kami tidak pernah punya pengalaman engkau berbohong selama berhubungan dengan kami.”

Rasulullah Muhammad, adalah sosok yang sempurna secara fisik maupun akhlak. Tiadalah pernah cukup kata untuk menggambarkan kepribadiannya. Tidaklah pernah cukup tutur untuk mengungkap segala keluhurannya.

Lelaki agung ini berambut hitam, dengan tekstur yang tak kaku, jua tak keriting namun lebat terurai. Terkadang rambutnya tergerai, terkadang dibelah pula gaya bersisirnya. Kedua matanya lebar dan tidak banyak tumpukan dagingnya, sangat hitam, bulu matanya panjang, jelita, memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung. Wajahnya berseri-seri laksana bulan. “Saat melihat beliau,” kata shahabat Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, “seakan-akan aku sedang melihat matahari yang sedang terbit.” Berpadu manis dengan keningnya yang lebar, dengan susunan pipi yang lembut dan empuk, dengan bentuk lekuk hidung yang indah. “Ada celah di antara gigi-gigi serinya.” Kata Ibnul Abbas, “jika sedang berbicara, terlihat ada semacam cahaya yang memancar dari gigi-gigi seri itu.” Lehernya jenjang, dengan bibir indah dan jenggot yang lebat. Berbahu bidang, berbulu dada lembut. Di antara kedua bahunya ada cincin nubuwwah, yaitu stempel khas para nabi.

Telapak tangannya lebar. Warna kulitnya elok, tak terlalu putih tak pula terlalu cokelat. Butir-butir keringatnya seperti mutiara dan keringatnya lebih harum daripada minyak wangi. “Tidaklah beliau melewati suatu jalan lalu seseorang membuntutinya, melainkan dia bisa mengetahui bahwa beliau telah lewat, dari keharuman bau keringatnya,” kata Jabir. Abu Hurairah berkata, “Tidak pernah kulihat sesuatu yang lebih bagus daripada diri Rasulullah. Seakan-akan matahari berjalan di wajahnya dan tidak pernah kulihat seseorang yang jalannya lebih cepat daripada Rasulullah. Seakan-akan tanah menjadi landai bagi beliau. Kami sudah berusaha mencurahkan kekuatan, tetapi seakan-akan beliau tidak peduli.”

Lelaki agung ini fasih sekali cara bicaranya. Jelas sekali cara mengucapnya. Lancar dan jernih dalam berkata. Jelas dalam pengucapan dan penuh makna. Mengetahui logat-logat bangsa Arab, serta berbicara kepada setiap kabilah menurut logat masing-masing. Ia lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Tidak membalas untuk dirinya sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu dia membalas karena Allah jua. Ia adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.

Lelaki agung ini sangat murah hati dan dermawan. Memberikan apapun tanpa pernah takut miskin. Persis sebagaimana kata Ibnu Abbas, “Nabi adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau yang paling menonjol adalah pada bulan Ramadhan.” Ia sangat pemberani dan mempunyai kekuatan yang tinggi. “Jika kami sedang dikepung ketakutan dan bahaya,” kata Ali bin Abi Thalib, “maka kami berlindung kepada Rasulullah. Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”

Ia adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di tempat pingitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya.” Tidak pernahlah ia berlama-lama memandang ke wajah seseorang. Ia lebih banyak menundukkan pandangan. Lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke arah langit. Pandangannya jeli. Tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu. Pula, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika mendengar sesuatu yang kurang disenangi.

Lelaki agung ini sangat adil dan paling jujur serta paling besar amanatnya. Ia lelaki tertawadhu’. Oleh itulah, ia tak suka bila kedatangannya disambut bak raja. Ia  adalah orang yang paling aktif memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah-lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, serta paling jauh dari akhlak yang buruk. Lebih banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan apa yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya terinci, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.

Lelaki agung ini datang di saat yang tepat. Saat yang tepat untuk mengubah sejarah dunia. Saat yang tepat untuk memperbaiki keadaan manusia yang sudah pada taraf kezhaliman dan kebobrokan jiwa hidupnya. Lelaki ini datang, saat kekosongan terjadi setelah tugas kenabian Isa selesai selama enam abad.  Di masa kekosongan itu, manusia mencapai tingkat keparahannya dalam hidup. Mereka lupa bahwa ada Sang Pencipta. Mereka lupa dengan semua ajaran Isa. Mereka lupa untuk apa mereka terhadirkan di bumi. Mereka lupa apa tugas utama mereka sebagai hamba. Masih ada memang beberapa orang shalih Ahlul Kitab, yang membuat Allah tak langsung menurunkan adzab-Nya. Beberapanya seperti Zaid bin ‘Amr bin Nufail ayah Said bin Zaid, Waraqah bin Naufal atau Qas bin Sa’adah.

Lelaki agung dengan segala sifat sempurna ini, membuat jiwa-jiwa manusia selalu rindu akannya. Bahkan, orang-orang yang dulunya bersikap keras terhadapnya, berubah menjadi lemah lembut, hingga akhirnya manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.

Jika Rasulullah adalah teladan, kita tak perlu lagi mencari idola baru. Jika Rasulullah adalah teladan, kita mengambil energi inspirasi yang tiada henti. Jika Rasulullah adalah teladan, kita pun harus berbagi inspirasi. Karena memang begitulah, alur dari kemusliman kita. Terberi, memberi. Hingga lintas generasi. Hingga lintas masa. Seperti inspirasi dari Sang Nabi. Tak kenal henti. Tak kenal mati. Menginspirasi umatnya, dari kejahiliyahan menuju cahaya terang dan paling benderang. Hingga jannah menyapa dengan indah, hingga jannah merindui jiwa-jiwa penebar kebaikan dengan mesra dan ramah.

Jikalah pakaian beliau koyak, ditambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh istrinya. Diperahnya juga susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum disingsinglah lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

“Kalau Nabi berada di rumah,” Aisyah berkisah, “beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai.”

Di satu pagi yang indah, Sang Nabi telah marasa sedemikian lapar, dan berniat sarapan. Tapi, tak dilihatnya secuil pun makanan di rumah.

“Tak adakah sarapan pagi ini, duhai Khumaira?” Tanya nabi pada Aisyah. Khumaira adalah panggilan kesayangan Nabi untuk Aisyah.

Dengan agak serba salah Aisyah menjawab, “Belum ada wahai Rasulullah.”

“Kalau begitu aku puasa aja hari ini,” jawab Rasul menenangkan.

Tak heran, bila suatu hari beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap istrinya.”

Sungguh, Nabi adalah sebaik-baik teladan.

Pada suatu ketika Rasulullah menjadi imam shalat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain terasa amat sukar sekali. Di samping itu, mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.

Umar yang tidak tahan melihat keadaan itu langsung bertanya setelah shalat berjamaah selesai dilaksanakan.

“Duhai Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah engkau wahai Rasulullah?”

“Tidak, wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

“Wahai Rasulullah, mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuhmu? Kami yakin engkau sedang sakit .…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya, Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, terlihat dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil. Hal itu beliau lakukan untuk menahan rasa lapar. Dan suara-suara menggerutup saat shalat tadi, adalah hasil gesekan batu-batu kecil yang berjubelan.

“Duhai Rasulullah! Bilalah engkau memang lapar, kami akan mendapatkan makanan untukmu.” Bersahutan para sahabat menawarkan diri untuk sang Nabi.

Lalu baginda menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi, apa yang akan kujawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah untukku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat.”

Rasa cintanya yang begitu tinggi kepada Allah dan rasa penghambaannya yang begitu mendalam membuat beliau rajin sekali beribadah. Jauh dari rasa bermalas-malasan dan rasa bermanja-manjaan.

Rasa-rasanya, seolah-olah anugerah yang didatangkan Allah kepada beliau yang jumlahnya sebegitu banyaknya itu, tak menjadi sebab untuk berleha-leha dan menikmati hari-hari dengan duduk-duduk di kursi.

Pada malam hari, tahajjud tetaplah menjadi ibadah lazimnya. Kaki-kaki pun hingga bengkak. Jiwa yang membara tak sanggup menata kemauan jiwanya yang tinggi menjulang.

“Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin surga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?” tanya Aisyah.

“Wahai Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur,” jawab beliau menenangkan.

Seolah, Rasulullah hendak mengabarkan kepada kita, bahwa kebahagiaan hanya tercurah, untuk yang shalat, ibadah, hidup, dan jua matinya, tertuju hanya kepada Allah saja.

Terciptalah kita di dunia untuk beribadah kepada-Nya. Tentu saja dengan benar sesuai dengan petunjuk-Nya, dan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Makanya, bila kita mengenal Rasulullah, tak ada tata cara peribadahan yang akan menyimpang dan membuat-Nya murka. Tak akan ada ceritanya penyembahan yang berbentuk kesyirikan. Ataupun beragam bentuk peribadatan lain yang menyesatkan dari jalan ibadah yang telah digariskan oleh-Nya.

Maka, sebegitu pentinglah keberadaan Rasulullah di tengah-tengah umat manusia. Karena di sana, jalan kebenaran akan terkuak dan kita pun selamat dalam mengarungi hidup di dunia yang sebagai tempat persinggahan ini, dan di akhirat sebagai tempat kekal dan sebenar-benarnya kita akan tinggal. Dalam setiap perjalanan kita mengikuti Rasulullah dengan sebaik-baiknya dan seutuh-utuhnya, semoga ridha Allah senantiasa menyertai dan rahmatnya mengucuri hari-hari.

Nabi dan rasul tidak lain adalah manusia sebagaimana manusia pada umumnya, namun mereka adalah hamba yang telah dipilih Allah untuk menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia. Semua Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah, tentu mengajarkan umat untuk menyembah Allah.

Rasulullah adalah orang yang diwahyukan kepadanya syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Sedangkan Nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya syariat yang telah dibawa oleh sebagian Rasul dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Jadi, Rasul adalah orang yang diperintahkan untuk menyampaikan syariatnya sendiri, sedangkan Nabi adalah orang yang diperintahkan untuk menyampaikan syariat, yang telah ada dan diwahyukan kepada Rasul sebelumnya. Rasul adalah orang yang diutus Allah dengan syariat yang baru untuk mengajak manusia kepadanya. Dan Nabi adalah orang yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan syariat sebelumnya.

Maka, Muhammad adalah Nabi, karena beliau adalah diberi wahyu berupa syariat. Beliau juga seorang Rasul, karena syariat yang diwahyukan kepadanya merupakan risalah baginya. Musa adalah seorang Nabi karena diberikan kepadanya wahyu berupa syariat, dan beliau juga seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya adalah risalah baginya. Harun adalah seorang Nabi, karena beliau diberi wahyu berupa syariat, namun beliau bukanlah Rasul karena yang diwahyukan kepadanya untuk disampaikan kepada orang lain bukanlah risalah baginya melainkan risalahnya Musa.

Hadirnya Rasulullah Muhammad sebagai hamba yang mulia ini di tengah-tengah umat manusia merupakan karunia Allah yang amat besar bagi kaum muslimin. Beliau adalah Nabi sekaligus Rasul yang terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia di dunia. Risalah yang dibawa beliau tidak hanya diperuntukkan kepada wilayah, ras, suku atau bangsa tertentu saja. Akan tetapi, untuk seluruh manusia di bumi tanpa tersekat oleh wilayah, bangsa atau warna.

Dengan hadirnya Rasulullah di tengah-tengah kita, beserta Al-Qur’an dan tata cara hidup yang telah dipraktikkannya, membuat kita mampu membeda antara yang hak dan bathil, serta jalan menuju Allah menjadi sangat jelas dan terang. Dua puluh tiga tahun lamanya beliau bersungguh-sungguh, tanpa mengenal lelah, berdakwah terus-menerus tanpa sekejap pun berhenti, mengajak manusia kepada Islam. Rasulullah sebagai hamba Allah yang mulia bukan berarti luput dari ujian, dan cobaan yang terus menghadang selama perjalanan dakwahnya. Justru tantangan terberat hadir dalam hari-hari yang telah beliau upayakan untuk menyerukan kebenaran dari Allah.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128)

Manakala kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Sungguh, amatlah ingin beliau masuk surga bersama-sama umatnya. Sebagai buktinya, beliau kucurkan syafaat kepada umatnya. Syafaat itulah tanda cinta terbesar dari Rasulullah kepada umatnya. “Allahumma salimna ummati, ya Allah selamatkan umatku,” doa beliau. Bahkan, di penghujung hidupnya, saat nyawa sudah tak berhak lagi menempati raganya, yang keluar dari lisan mulianya adalah, “Ummati… ummati…, umatku… umatku…”

Hati siapa yang tak gerimis melihat betapa besar kecintaan Rasulullah yang tercurahkan kepada kita. Rindu siapa yang tak terbendung untuk bisa ingin menjumpainya. Gelora jiwa mana yang tak tertahan untuk terus bershalawat kepadanya. Yah, karena hak Rasulullah adalah kecintaan umat terhadapnya. “Tidak beriman salah seorang di antara kalian, sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)

Bila mencintai adalah hak Rasulullah dari umatnya, maka mengikuti sunnah Rasulullah adalah sebagai bukti cintanya. Sebagaimana jika sesorang mencintai sesuatu membutuhkan bukti, maka cinta kita kepada Rasulullah pun membutuhkan bukti yang jelas. Oleh karena itu, Allah akan menerima cinta hamba-Nya ketika cinta tersebut telah dibuktikan dengan jelas dalam bentuk ittiba’ kepada Rasulullah.

Bukti cinta kepada Rasulullah adalah dengan bening diri ini mengikuti segala sunnahnya. Dengan tunduk diri ini terhadap segala larangan dan perintahnya. Dengan jernih tidak mencampuradukkan antara yang haq dan bathil. Serta dengan riang mengikuti perkataan, perbuatan, dan ketetapan-ketetapan beliau. Karena segala yang telah dicontohkannya adalah perintah Allah yang berarti wajib bagi kita untuk jua melakukannya.


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Ingin menghasilkan ratusan juta dari skill menulis? Baca saja buku terbaru saya ini. Pembahasan super lengkap, dan bakalan bikin kamu yang hobi dan suka menulis, berubah selamanya! KLIK DI SINI atau pada gambar di bawah ini, ya!


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.