jalan dakwah

Berperan di Jalan Dakwah

Saat mendekapi sejarah orang-orang shalih, kita selalu tercengang-cengang. Seperti ada banyak keajaiban yang selalu menggelayuti hari-hari mereka. Maka tak heran, ketika kita mendapati kisah tentang penghulu para tabiin yang bergegas menyambut seruan perang meskipun salah satu matanya sudah buta, kita juga dibuat terheran-heran.

“Anda adalah orang yang sakit dan berudzur, tidak usah ikut saja,” kata para sahabat.

“Sesungguhnya Allah menyuruh setiap orang yang merasa ringan dan merasa berat untuk berangkat ke medan perang. Jika saya tidak dapat turut serta berperang, paling tidak saya dapat memperbanyak jumlah pasukan kaum muslimin dan menjaga barang serta perlengkapan mereka.”

Kadang saya berpikir, musuh-musuh Islam pasti terbingung-bingung dengan lesatan kesungguhan untuk berkorban kaum muslim terdahulu. Aneh. Asing. Terlalu aneh, dan terlalu asing malahan.

Saat mereka sebegitu takutnya mati dan berharap hidup selalu, kita justru mencari mati dan merinduinya. Saat mereka bersorak dengan waktu, dan memenuhi hari-hari dengan hura-hura, kita justru menikmatnya dengan ketaatan yang dapat mengantar ke surga. Saat mereka selalu jengkel dengan aksi-aksi kreatif kita melebarkan sayap dakwah dari mulai pedagang kaki lima hingga juga negara, kita justru tengah tersenyum karena selalu ada rindu dalam diri dengan ridha-Nya.

Kita riang, mereka jengkel. Kita senang, mereka sebal.

Rasa sebal yang mendekap erat perasaan mereka saja, sepertinya sudah merupakan siksa mereka di dunia sepertinya.

Kehidupan generasi awal Islam adalah pengorbanan di jalan Allah. Hal inilah yang menjadi kesibukan masyarakat muslim. Sebab, membumikan pengaruh agama ini di tengah masyarakat yang tenggelam di dalam kesyirikan dan kesesatan menuntut amunisi berupa pengorbanan.

Dan, generasi muda sahabat memiliki porsi yang besar dalam masalah ini.

Mereka tidak rela orang lain memonopoli keutamaan-keutamaan untuk menegakkan kalimat-Nya. Oleh itulah, kita melihat di setiap peperangan, Rasulullah memeriksa barisan pasukan, lalu mengeluarkan anak-anak kecil.

Karena itu, dalam sirah, kita sering menjumpai, “Si fulan dianggap kecil pada peperangan ini dan ini. Karena itu pula, kitab-kitab sirah mencatat bahwa di dalam pertempuran Badar, Al-Barra’ bin Azib dan Rafi‘ bin Khadij dianggap masih terlalu kecil.

 

Baca Juga: Pemimpin dengan Energi Kepemimpinan yang Rapuh

 

Dalam pertempuran Uhud, Abu Said Al-Khudri, Zaid bin Arqam, Arabah bin Aus, Usaid bin Zhuhair bin Rafi‘, dan Said bin Yahya masih dianggap kecil. Si Rafi‘ bin Khadij, yang tertolak di Badar, kemudian diizinkan di perang Uhud. Sedangkan Ibnu Umar, tertolak di Uhud, terizinkan di Khandaq.

Bahkan, dalam Badar, Umair bin Waqqash bersembunyi di barisan belakang agar tidak terlihat Nabi. Tatkala Nabi melihatnya, beliau mengeluarkannya dari barisan.

Umair pun menangis, hingga akhirnya mendapat izin untuk turut di dalam pertempuran.

Banyak pula yang ingin turut serta tetapi keinginan ini terhalang oleh informasi yang ia dapat bahwa ia pasti tidak mendapat izin. Bukti-bukti yang menunjukkan pengorbanan generasi muda sahabat tidak terbatas pada apa yang diriwayatkan ulama sirah, tetapi bekas pengorbanan itu masih tertinggal pada fisik mereka, sehingga menjadi ‘tanda’ yang mereka banggakan.

Urwah bin Zubair mengisahkan, “Di tubuh Zubair terdapat tiga bekas sabetan pedang. Salah satunya ada di pundaknya yang mana aku bisa memasukkan jari-jariku dibekas luka itu. Dua bekas luka diperoleh pada pertempuran Badar, yang ketiga diperoleh pada pertempuran Yarmuk.”

Selain nama Urwah bin Zubair yang telah tertera, ada nama Abdullah bin Abi Aufa yang masuk kategori ini. Maka teriwayatkan, ketika Ismail melihat tangan Abdullah bin Abi Aufa dan menemukan ada bekas sabetan pedang di lengannya, ia bertanya, “Apa ini?”

Abdullah menjawab, “Bekas sabetan pedang yang aku dapatkan dalam pertempuran Hunain.”

Ismail bertanya lagi, “Kamu ikut bersama Rasulullah dalam pertempuran Hunain?”

Abdullah menjawab, “Iya, juga pertempuran sebelumnya.”

Setelah Abdulah bin Abi Aufa, kemudian kita mengenal Rafi‘ bin Khadij pula. Riwayatnya, dalam pertempuran pertama yang diikuti oleh Rafi‘ bin Khadij yaitu Uhud, di mana dalam pertempuran Badar ia masihlah dianggap kecil. Ia terkena lesatan anak panah. Ia cabut anak panah itu. Akan tetapi, mata panahnya masih tertinggal di daging hingga akhirnya ia meninggal.

Bahkan, terkadang, bukti itu tidak hanya tertinggal pada fisik, tetapi juga pada pedang dan senjata-senjata mereka.

Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia berkata: Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadaku ketika Abdullah bin Zubair terbunuh, “Wahai Urwah, apakah kamu tahu pedang milik Zubair?”

“Iya,” jawabku.

Ia bertanya lagi, “Ada apa di dalam pedang itu?”

“Ada satu bagian yang tumpul akibat pertempuran Badar.”

Ia berkata, “Kamu benar, pedang-pedang itu ada banyak tumpul akibat pukulan pasukan.”

Kemudian pedang itu dikembalikan kepada Urwah.

Ada banyak kisah tertera tentang bagaimana generasi muda seharusnya memang mengambil peran peradaban. Karena ketika kita membuka dan meneliti kitab-kitab sirah untuk menemukan peran kaum muda muslim akan terdapati banyak kisah menakjubkan yang terabadikan dalam sejarah.

Hal ini membuktikan, kesungguhan untuk berjuang benar-benar telah mereka buktikan. Kesungguhan pengorbanan berawal dari impian terjujur kita untuk berjuang. Apakah memang berdasarkan ketulusan, ataukah hanya untuk berpamer-pamer saja. Maka ada pepatah, idza shadaqal ‘azmu wadhahas sabîl (sesiapa yang jujur azzamnya, maka terbukalah jalan untuknya). Dan kemudian, kita bisa mulai memahami hadits innamal a‘mâlu bin niyât, wa innamâ likullimri’in ma nawâ. Setiap kita, mendapatkan apa atas apa yang kita niatkan di awal mulanya.

“Wahai Jabir, mengapa aku lihat engkau sedemikian lesu?” tanya Nabi suatu kali.

“Ya Rasulallah, ayahku telah mati syahid. Akan tetapi, ia meninggalkan banyak keluarga dan juga hutang,” jawab Jabir dengan pilu.

“Maukah engkau aku beri kabar gembira mengenai sambutan yang diberikan oleh Allah kepada ayahmu?” kata Nabi menenangkan.

Dengan sigap, Jabir memberikan jawabannya, “Tentu, duhai Rasulullah.”

“Allah tidaklah bercakap-cakap dengan seseorang pun kecuali selalu di balik tirai. Namun, Allah menghidupkan ayahmu, lalu ia bercakap-cakap dengannya secara berhadap-hadapan tanpa tirai dan perantara. Kemudian, Allah berfirman kepadanya, ‘Berharaplah kepadaku, nanti Aku beri!’ Ia menjawab, ‘Ya Rabbi, aku ingin agar Engkau menghidupkanku kembali sehingga aku dapat berjihad dan mati sekali lagi di jalan-Mu.’ Lalu Allah menjawab, ‘Sesungguhnya sudah menjadi ketetapan bahwa mereka yang sudah mati itu tidak akan dikembalikan lagi ke dunia.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rezeki.’(Ali Imran [3]: 169).”

Alangkah inginnya kita seperti ayah Jabir. Indah, sangat indah. Begitulah kawan, jika kerinduan itu telah menghebat, sepertinya Allah akan ikut mempermudah mimpi-mimpi terwujud. Tentu saja, jika kita jujur dalam bermimpi. Seperti tentang seorang pemuda dari Bani Umar bin Salim.

Dalam kitab sirah karangan Ibnu Hisyam dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah berdiri menjelang perang Uhud untuk mengumumkan perang terhadap Abu Sufyan dengan meminta pendapat dan saran dari para sahabat, apakah harus berperang di kota Madinah ataukah keluar dari dalam kota menuju ke gunung Uhud.

Para pemuka sahabat berkata, “Duhai Rasulullah, biarkan kami berperang di sini saja!”

Lalu, ada seorang pemuda yang berasal dari Bani Umar bin Salim berdiri dan berkata, “Duhai Rasulullah, janganlah engkau halangi aku untuk masuk surga. Demi Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya Dia, aku niscaya akan masuk surga.”

Sambil tersenyum, beliau bertanya, “Dengan modal apa engkau akan masuk surga?”

“Dengan dua hal,” katanya.

“Apa itu?” tanya Nabi lagi.

“Karena aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sungguh-sungguh. Dan aku tidak akan lari dari medan pertempuran,” jawabnya mantap.

“Jika apa yang engkau katakan itu benar, maka Allah akan membenarkanmu.”

Akhirnya, perang pun mulai berkecamuk. Sementara pemuda ini melaju ke medan laga demi mewujudkan keyakinannya kepada Allah. Dan akhirnya, ia pun terbunuh sebagai syahid. Tatkala Allah melewati jasadnya, beliau mengusap debu dari dahinya dengan mata yang berlinang air mata, “Engkau telah membenarkan Allah, dan Allah pun membenarkanmu.”

Jadi, sudah berperan apa engkau dalam dakwah ini?


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Ingin menghasilkan ratusan juta dari skill menulis? Baca saja buku terbaru saya ini. Pembahasan super lengkap, dan bakalan bikin kamu yang hobi dan suka menulis, berubah selamanya! KLIK DI SINI atau pada gambar di bawah ini, ya!


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.