Menjalani kehidupan dunia, berarti memangkas keangkuhan, karena ia hanya akan membuat kita tersungkur hina di dunia.

Menjalani kehidupan dunia, berarti mengubur sifat-sifat pembohong dalam diri, karena pembiasaan kebohongan dalam diri, hanya akan membuat doa-doa kita kosong dan tak bisa melangit.

Menjalani kehidupan dunia, berarti membiasakan jujur, karena dalam kejujuran selalu terkandung kemanjuran dalam setiap doa yang terpanjatkan.

 

Baca juga: Saat Ilmu Tinggi Tanpa Kerendahan Hati

 

Menjalani kehidupan dunia, berarti menerima segala yang ada dengan lapang dada, dengan khusnuzhan yang berlimpah dan seluas samudera. Karena keiri-hatian dan kesakit-hatiaan atas segala yang terjadi di sekitar, hanya akan membuat hati tak tenang dan hidup menjadi penuh kegusaran.

Menjalani kehidupan dunia, berarti membuang jauh kekufuran, karena sungguh, sesiapa yang kufur, ia  hanya akan tersungkur dengan kepedihan dari-Nya.

Bagi yang belum pernah merasai hidup berlebih dengan banyaknya harta, ia kan mengejar kekayaan dengan habis-habisan tanpa ampun-ampunan. Namun, bagi yang telah merasai berada di kondisi memiliki kelebihan kekayaan, ia kemudian akan menyadari, bahwa pada akhirnya, hanya menebar kemanfaatanlah yang membuat diri bisa hidup penuh keberlimpahan.

Kekayaan harus kita jaga, namun kebermanfaatan akan terus menjagai kita.

Kekayaan harus terus kita amankan dari para pencuri, namun kebermanfaatan akan terus menjagai kita hingga ke surga, karena ia mengantar pahala yang tiada terputus.

Kekayaan harus terus kita upayakan kehalalannya, namun kebermanfaatan jelas-jelas halal dan membawa keberkahan.

Kebahagiaan dunia akan selalu bersifat relatif. Setiap orang memiliki kadar kebutuhannya masing-masing. Setiap orang memiliki kadar keinginannya masing-masing.

Dengan begitu, kebahagiaan dunia selalu begitu sifatnya: tergantung dari siapa pangejar keinginan dunia itu. Besar-kecil, banyak-sedikit, tergantung dari siapa pelakunya.

Ukuran siapa paling berlimpah dengan urusan duniawi, takkan pernah selesai untuk diukur dan dibahas. Artinya, mengejar keberlimpahan di dunia dalam sifat kehartaan takkan pernah ada ujungnya.

Oleh karena itu, persiapkan kualitas diri yang apik nan mumpuni, lewat kuatnya iman dan dalamnya pemahaman agama, agar mengarungi hidup tak lagi goyah-goyah terterpa topan ujian yang bisa melarutkan iman. Agar mampu juga menyikapi, bagaimana seharusnya menjalani kehidupan dunia yang hanya sekali ini. []

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.