wukuf arafah

Wukuf Arafah: Hadits, Keutamaan, dan Kisah Menakjubkan

Wukuf Arafah – Hari Arafah adalah hari yang agung. Oleh karena itu, Allah SWT bersumpah dalam Al-Qur’an:

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ (3)

“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.(QS al-Burūj [85]: 3)

Para mufassir berbendapat bahwa yang dimaksud ‘yang disaksikan’ adalah hari Arafah, sedangkan ‘hari yang menyaksikan’ adalah hari Jum’at.

Allah SWT berfirman:

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3)

“Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil. (QS al-Fajr [89]: 1–3)

Penyusun kitab al-Kasyaf berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘malam yang kesepuluh’ adalah malam sepuluh Dzulhijah, ‘yang genap’ adalah hari Nahar, dan ‘yang ganjil’ adalah Hari Arafah.

 

Hadit-Hadits Tentang Keutamaan Hari Arafah

Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمْ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

“Tidak ada hari yang lebih banyak seorang hamba dibebaskan dari ancaman neraka oleh Allah daripada hari Arafah. Allah mendekat kemudian membanggakannya di hadapan para malaikat dan berkata, Tahukah kalian apa yang mereka niatkan? (HR Muslim dan Nasa’i)

sedangkan dalam redaksi yang lain berbunyi,   عَبْدًا وَاُمَّمَةً “Hamba laki-laki dan perempuan.”

Dari Jabir r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ عَرَفَةَ إِنَّ اللهَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِهِمُ المَلَائِكَةَ  فَيَقُوْلُ : اُنْظُرُوْا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا ضَاحِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ

“Apabila datang hari Arafah, Allah akan turun ke langit bumi dan membanggakan orang yang wukuf di hadapan para malaikat. Allah berfirman kepada mereka, Lihatlah kepada hamba-Ku! Mereka datang dengan muka kusut dan berdebu dari segenap penjuru yang jauh. Saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” (HR Baihaqi)

Dalam hadits yang diriwayatkan Hatim redaksinya berbunyi, “Tidak ada hari yang lebih utama di sisi Allah dari sepuluh hari pada bulan Dzulhijah.” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu lebih utama dari mempersiapkan peralatan untuk jihad di jalan Allah?” Nabi saw. menjawab, “Iya, lebih utama dari mempersiapkan peralatan untuk jihad di jalan Allah karena tidak ada hari yang lebih utama dari hari Arafah. Pada hari itu Allah turun ke langit dunia dan membanggakan penduduk bumi kepada penduduk langit. Allah berfirman, Lihatlah kepada hamba-Ku yang kusut, berdebu, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Mereka mengharap rahmat-Ku dan tidak melihat ada siksa-Ku. Tidak ada hari yang lebih banyak seorang hamba dibebaskan dari ancaman siksa neraka melebihi hari Arafah.” (HR Ibnu Hibban)

Dalam redaksi Baihaqi ada tambahan kalimat, “Mereka memohon rahmat-Ku meski tidak bisa melihat-Ku, berlindung dari siksa-Ku meski juga tidak bisa menyaksikan-Ku.”

Dalam riwayat yang lain, Hasan al-Basri dalam Risalah-nya menjelaskan sebagai berikut. Pada sore hari pada hari Arafah Allah turun ke langit bumi melihat hamba-Nya. Membanggakan mereka di hadapan para malaikat dan berkata, “Wahai malaikat-Ku tidakkah kalian menyaksikan hamba-Ku yang datang kepada-Ku dari segenap penjuru yang jauh dengan muka kusut dan berdebu. Mereka datang mengharap rahmat dan ampunan-Ku. Saksikan wahai malaikat-Ku! Sungguh, Aku telah memberikan kepada yang menyakiti untuk orang yang berbuat baik, aku beri syafaat di antara mereka. Aku ampuni mereka. Berifadlah wahai hamba-Ku, dosa kalian yang tampak telah Aku ampuni. Mulailah beramal dari sekarang, telah Aku ampuni dosa-dosa kalian, yang kecil, besar, dan yang lampau, atau yang akan datang. Kemudian, Allah berfirman, “Haji yang diterima lebih baik dari dunia dan isinya.”

Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT menganugerahi kepada pengunjung Arafah dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Allah berfirman, ‘Lihatlah kalian kepada hamba-Ku yang kusut dan berdebu. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Saksikan bahwa Aku telah mengampuni mereka, kecuali orang yang suka ikut-ikutan.’ Kemudian, Allah berfirman lagi, ‘Sesungguhnya orang-orang telah datang dari Arafah menuju Jam’ di Muzdalifah,’ lebih lanjut Allah berfirman, ‘Wahai malaikat-Ku, saksikan bahwa Aku telah memberikan orang yang menyakiti mereka kepada orang yang telah berbuat baik dan Aku tangguhkan orang-orang yang suka ikut-ikutan dari mereka.'”

 

bukit arafah

 

Dari Thalhah bin Abdullah bin Kuraiz bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah setan pada hari itu lebih kecil, rendah, hina, dan marah kecuali pada hari Arafah. Hal itu karena turunnya rahmat dan diampuni dosa-dosa besar kecuali pada hari diperlihatkan pada hari Badar.” Dikatakan: “Apa yang diperlihatkan di hari Badar?” Beliau menjawab, “Karena ia melihat Malaikat Jibril memimpin para malaikat.” (HR Malik)

Dari Abbas bin Mirdas bahwasanya Nabi saw. mengajak kepada umatnya pada sore di hari Arafah untuk melantunkan istigfar. Allah menjawab doa mereka, “Aku ampuni dosa kalian, kecuali dosa orang yang zalim. Sesungguhnya akan Aku ambilkan dari kebaikannya untuk orang yang dizalimi. Nabi berdoa lagi, “Andai Engkau berkehendak, bolehkah Engkau berikan kepada orang yang dizalimi surga dan Engkau ampuni yang berlaku zalim.” Hingga sore pun Allah tidak menjawab permintaan itu. Baru ketika pagi waktu di Muzdalifah Nabi mengulangi doa itu lagi hingga doa itu dikabulkan. Rasulullah saw. tertawa atau tersenyum sehingga Abu Bakar dan Umar berkata kepadanya. “Demi bapak dan ibu kami, wahai Rasul, sungguh engkau tertawa di saat seperti ini, apa gerangan yang membuat engkau tertawa? Apakah Allah telah membuat gigimu tertawa?” Nabi saw. menjawab, “Sesungguhnya  musuh Allah, Iblis, ketika mengetahui bahwa Allah telah mengabulkan doaku, mengampuni umatku, kemudian iblis itu mengambil debu dan mengusapnya di kepalanya seraya memohon kecelakaan. Ketakutannya itulah yang yang membuatku tertawa.” (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan Abu Dawud)

Diriwayatkan oleh Abu Hafs dalam Sirah-nya, dengan redaksi berikut. Sesungguhnya Nabi saw. mengajak umatnya pada sore di hari Arafah untuk melantunkan istighfar, memohon rahmat dari Allah, dan memperbanyak doa. Allah pun menjawab doa mereka, “Aku telah lakukan, yaitu Aku ampuni dosa umatmu, kecuali orang yang yang berlaku zalim dengan sebagian yang lain.” Nabi berdoa lagi, “Wahai Tuhanku, Engkau Mahakuasa untuk memberikan ampunan kepada  orang yang zalim dan memberi pahala kepada orang yang dizalimi lebih dari apa yang dialaminya.” Tiba malam pun Allah belum menjawab permintaan itu. Baru ketika pagi saat di Muzdalifah Nabi mengulangi doa itu lagi hingga beliau tersenyum. Para sahabat pun bertanya kepadanya, “Demi bapak dan ibu kami, wahai Rasul. Sungguh, engkau tertawa saat ini tidak seperti biasa yang pernah kami ketahui, apa gerangan yang membuat engkau tertawa? Apakah Allah telah membuat gigimu tertawa?” Nabi saw. menjawab, “Sesungguhnya  aku tersenyum karena Allah telah mengabulkan doaku untuk umatku, mengampuni orang-orang yang berlaku zalim. Sesungguhnya musuh Allah, Iblis, ketika mengetahui Allah mengabulkan doaku dan mengampuni umatku, ia mengambil tanah dan diletakkan di kepalanya seraya mendoakan kecelakaan dan kebinasaan.” (HR Thabrani)

Adapun Ibnu Jamaah mengutip dari sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bahwa Iblis meletakkan debu di kepalanya sambil memohon kecelakaan. Para setan yang lain pun ikut berkumpul dan berkata, “Sedang apa kamu?”  Iblis itu menjawab, “Sekelompok kaum yang engkau goda selama enam puluh atau tujuh puluh tahun tiba-tiba diampuni dosa mereka dalam sekejap.”

Dari Ibnu Umar r.a. diriwayatkan bahwa tidak seorang pun yang berada di Arafah tidak mendapat pengampunan dari Allah, selama ia beriman kepada-Nya meski sebesar biji sawi.  Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan itu khusus bagi yang berada di Arafah atau untuk seluruh umat manusia? Nabi menjawab, “Untuk semua manusia.” (HR Ibnu Harawi dan Ibnu Jauzi)  

Diriwayatkan bahwa rahmat turun meliputi seluruh orang yang berada di tempat wukuf, mereka diampuni dosa-dosanya, kemudian dari sana meliputi seluruh penduduk bumi. (HR Thabrani)

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saat sedang wukuf di Arafah bersabda, “Wahai Bilal, perintahkan kepada orang-orang untuk diam!” Kemudian, Bilal melaksanakan perintah itu, ”Wahai manusia, sesungguhnya  Allah memerintahkan kalian untuk diam sesuai pesan dari Nabi. ” Lalu, Ibnu Abbas r.a. berkata, “Tidak pernah aku melihat ketaatan seperti itu sebelumnya, orang-orang  terdiam. Kemudian, Nabi saw. bersabda, “Wahai jamaah haji, sesungguhnya Allah telah menyaksikan kalian di hari ini, dalam perkumpulan kalian ini, Dia anugerahkan kepada orang yang berbuat buruk hak kepada orang yang berbuat baik, dan memberikan kepada orang yang telah berbuat baik untuk meminta sesuai yang ia inginkan.”

Dari Anas r.a., saat Rasulullah wukuf di Arafah dan matahari hampir tenggelam beliau bersabda, “Wahai Bilal, perintahkanlah kepada orang-orang  untuk diam.” Kemudian, Bilal memerintahkan kepada orang-orang untuk diam. Orang-orang  pun lalu terdiam. Lalu, Nabi saw. bersabda, “Wahai manusia, Jibril baru saja menemuiku menyampaikan salam dari Tuhan kepadaku  dan berkata, ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengampuni orang yang berada di Arafah, di masyaril haram, dan menjamin orang yang datang setelahnya.’ Kemudian, Umar r.a. berdiri sambil berkata, “Wahai Rasul, apakah ini khusus untuk kami?” Nabi menjawab, “Ini bagi kalian dan yang datang setelah kalian sampai hari Kiamat.” Lalu, Umar berkata, “Alangkah banyaknya kebaikan Allah.” (HR Abdullah bin Mubarak)

 

Kisah-Kisah Unik Seputar Wukuf di Arafah

Ali al-Muwaffiq menceritakan pengalamannya ketika berhaji. Pada malam wukuf di Arafah ia bermalam di Mina. Ketika itu ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit.

Mereka saling bercakap-cakap. “Wahai Abdullah, tahukah kamu berapakah jumlah yang berhaji pada tahun ini?”

Malaikat satunya menjawab, “Tidak tahu.”

“Ada 600.000 orang, tetapi yang diterima hanya enam orang,” kata yang satunya.

Kemudian, mereka berdua naik ke langit lagi hingga Ali al-Muwaffiq teringat dan kaget, lalu berkata kepada dirinya sendiri.

“Jika yang diterima hanya enam, bagaimana dengan aku?”

Setelah bertolak dari Arafah dan berada di masyaril haram ia pun berpikir tentang banyaknya sekumpulan manusia yang berhaji dan sedikitnya yang diterima hajinya. Tiba-tiba Ali al-Muwaffiq tertidur. Ia bermimpi ada dua orang turun ke bumi dan salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya. “Tahukah kamu apa yang akan diputuskan Tuhan kita pada haji tahun ini?”

Temannya menjawab, “Tidak.”

Kemudian, temannya berkata, “Allah telah memberikan seorang dari enam orang yang berhaji pahala orang yang berhaji seratus ribu. Aku pun kaget dan merasa gembira.” (HR Ibnu Jauzi)

Imam Abu Bakar Muhammad bin Hasan an-Naqqasy mengatakan bahwa jumlah orang yang berhaji dari segala penjuru di atas 1.500.000 manusia. Itu adalah jumlah maksimal yang tidak ditambah lagi. Paling tidak jumlahnya tidak kurang dari 600.000 manusia.

Dikisahkan dari Muhammad bin al-Munkadir yang telah berhaji sejumlah 33 kali. Pada haji terakhirnya saat berada di Arafah ia berkata dalam dirinya, “Wahai Tuhanku, Engkau tahu bahwa aku telah berwukuf di tempat ini sebanyak 33 kali. Pertama menggugurkan kewajibanku, kedua untuk bapakku, ketiga untuk ibuku. Aku bersaksi wahai Tuhanku, aku hadiahkan tiga puluh hajiku yang lain untuk orang yang wukuf di sini yang wukuf mereka tidak diterima.”

Ketika bertolak dari Arafah menuju Muzdalifah dan tertidur di sana bermimpilah ia, tiba-tiba ada yang memanggil, “Wahai Ibnu Munkadir, apakah kamu hendak berlaku mulia kepada Dzat yang Mahamulia? Apakah kamu hendak berlaku derma kepada Dzat Yang Maha Dermawan? Sesungguhnya Allah telah berfirman, ‘Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, telah Aku ampuni orang yang berwukuf di Arafah dua ribu tahun sebelum Aku ciptakan Padang Arafah.‘”

Dalam kitab Bahrul Amiq dari Ali al-Muwaffiq diceritakan bahwa ia telah berhaji delapan puluh kali. Jiwanya berkata kepadanya, “Engkau datang besok di hadapan Allah SWT dan memiliki delapan puluh kali haji.”

Lalu, ia berkata, “Aku hadiahkan hajiku yang tujuh puluh kali kepada Rasulullah saw. dan yang empat kali kepada Khulafaur Rasyidin, yang ketiga kali kepada ibuku, dan yang dua kali kepada bapakku, dan yang satu kepada orang yang wukuf yang tidak diterima wukufnya.”

Berkatalah ia dalam dirinya, “Wahai jiwa yang tidak punya apa-apa, engkau datang kepada Allah tanpa membawa haji.”

Tiba-tiba ada yang menyeru dari sudut Ka‘bah, “Wahai Ibnu al-Muwaffiq, apakah kamu hendak bederma kepada Kami, sedangkan Kami yang menciptakan sifat kedermawanan? Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh setiap orang yang menghadiahi Aku haji satu kali maka akan Aku hadiahi ia 70.000 kali haji.” (HR Sulaiman bin Daud)

 

berangkat wukuf

 

Diceritakan bahwa Ayyub bin Jamal berkata, “Ketika aku wukuf di Arafah, aku ada sedikit harta buat infak. Aku pun ingin meminta kepada Allah meski aku termasuk orang yang tidak punya apa-apa. Harta infak itu aku letakkan di kedua tanganku sambil berdoa hingga tiba waktu ifadah. Kemudian, aku ber-ifadah hingga aku lupa perihal infakku.

Ketika sudah jauh aku teringat kembali, aku pun berkata kepada diriku, ‘Kembalilah, siapa tahu akan mendapat!’ Akhirnya, aku pun kembali lagi ke tempat wukuf. Tiba-tiba aku saksikan tempat itu penuh dengan anggota tubuh manusia tanpa kepala.

 

Baca juga: Sejarah dan Keutamaan Hajar Aswad

 

Aku pun terheran-heran dan seketika terdengar suara orang berkata, ‘Apakah kamu heran melihat itu? Ini adalah dosa-dosa bani Adam.’ Mereka telah pergi, sedangkan dosa-dosa mereka tertinggal. Aku pun menemukan infakku kembali dan aku ambil lagi.”

Dari Umar bin Khaththab r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa puasa pada hari Arafah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang.” (HR Abu Hafizh Abu Said an-Naqasy)

Dari Abu Qatadah mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa pada hari Arafah aku harap Allah akan mengampuni dosanya setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (HR Muslim)

Dalam riwayat yang lain redaksinya berbunyi,

يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً

“Diampuni dua tahun sebelumnya dan setelahnya.” (HR Syaikhani)

Dari Aisyah r.a. berkata, “Tidak ada hari dalam hitungan tahun yang aku lebih suka puasa di dalamnya melebihi puasa di hari Arafah.” (HR Said bin Mansur)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. melarang orang yang wukuf di Arafah berpuasa.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. melarang puasa di Arafah bagi orang yang berhaji. Lebih lanjut beliau berkata, “Itu adalah hari penuh usaha, ibadah, dan doa.”(HR Said bin Mansur)

Mengomentari hadits-hadits puasa di atas, Muhib ath-Thabari mengatakan bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan sunnahnya berbuka pada saat haji dan makruhnya berpuasa pada hari Arafah bagi orang yang berhaji.

Batas tanah Arafah yang digunakan wukuf adalah semua tanah Arafah, kecuali jantung daerah Urnah, batasnya adalah dari gunung Arafah sampai Urnah, berakhir pada gunung yang berada di hadapannya dan seterusnya hingga tepi Bani Amir.

 

Waktu Wukuf

Menurut Imam Ahmad, waktu wukuf dimulai sejak terbit fajar pada hari Arafah sampai terbit fajar pada hari Nahar. Adapun menurut tiga imam mazhab, waktu wukuf mulai saat terbenamnya matahari pada hari Arafah. Oleh karena itu, barang siapa berhasil berada di Arafah walau sekejap maka sah hajinya, meski hanya lewat, tidur, ataupun tidak tahu bahwa itu Arafah.

Dari Jubair bin Muth’im berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ وَكُلُّ مُزْدَلِفَةَ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ مُحَسِّرٍ وَكُلُّ فِجَاجِ مِنًى مَنْحَرٌ وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Semua Arafah adalah tempat wukuf dan menjauhlah dari Urnah. Setiap wilayah Muzdalifah adalah tempat wukuf dan menjauhlah dari Muhassir. Setiap wilayah Makkah adalah tempat nahar dan setiap hari tasyrik adalah untuk menyembelih.” (HR Ahmad)

Dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّ عَرَفَةَ مَوْقِفٌ وَكُلُّ مِنًى مَنْحَرٌ وَكُلُّ الْمُزْدَلِفَةِ مَوْقِفٌ وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ طَرِيقٌ وَمَنْحَرٌ

“Semua Arafah adalah tempat wukuf, semua Mina adalah tempat nahar, semua Muzdalifah adalah tempat wukuf, setiap wilayah Makkah adalah jalan dan tempat nahar. (HR Abu Dawud dan ad-Darimi)

 

Hal-Hal terkait Wukuf di Arafah

Disunnahkan wukuf di Arafah dengan berkendara sambil menghadap ke kiblat saat berada di Sahara dan Jabal Rahmah, tidak diperbolehkan mendakinya. Orang-orang yang wukuf disunnahkan untuk memperbanyak doa, membaca: la ilaha illallah wahdah la syarikalah lahul mulku wa lahiul hamdu yuhyi wa yumitu wahuwa hayyun la yamutu bi yadihi al-khairu wa huwa ala kulli syai’in qadir.

Diriwayatkan oleh Muslim, Nabi saw. wukuf, beliau menghadap kiblat dan menjadikan perut untanya ke sahara dan orang yang jalan di hadapannya.

Dari Usamah bin Zaid, ia berkata, “Saat aku menemani Nabi saw., beliau mengangkat tangannya dan condonglah untanya hingga terjatuh kendali tali kekangnya dan beliau pun mengambilnya dengan salah satu tangannya sambil tetap mengangkat tangannya yang lain.” (HR Nasa’i)

Dari Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ia melihat Rasul saw. berdoa di Arafah saat wukuf dan tangannya ada di dadanya seperti membagi makan kepada orang yang miskin.

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi saw. bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah ketika di Arafah dan sebaik-baik yang aku baca dan para nabi sebelumku adalah la ilaha illallah wahdah la syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ala kulli syai’in qadir.” (HR Ahmad dan Turmudzi)

Imam Qurthubi berkata, “Tidak ada perselihan para ulama bahwa wukuf di Arafah dengan berkendara lebih utama bagi orang  yang mampu.”

Imam Nawawi berkata bahwa yang paling shahih dalam pendapat Imam Syafi’I yang menyatakan bahwa wukuf dengan berkendara lebih utama. Hal itu lebih membantu ketika berdoa, zikir, dan itu penting di tempat seperti itu.

Berkata Ibnu Haj, “Dikecualikan dari tempat-tempat yang lain, di tempat ini untuk menjadikan punggung hewan tempat duduk.”

 

Baca juga: Keutamaan Thawaf

 

Dalam Bahrul Ami’iq  dijelaskan bahwa bagi seorang imam dan yang lainnya adalah duduk di atas untanya seperti yang dilakukan oleh Nabi saw. dan bagi yang tidak membawa kendaraan yang lebih utama adalah berdiri. Hal itu seperti yang dikatakan Ibnu ‘Ajami.

Ibnu Jamaah berkata, “Ini adalah hukum bagi kaum laki-laki, sedangkan untuk kamu perempuan maka yang lebih utama adalah seperti pendapat Imam Syafi’i. Mereka tetap duduk karena itu lebih menutup mereka dan disunnahkan berada di tepi wukuf, tidak di sahara. Adapun penganut Imam Hanafi, Imam Malik, dan Imam Hambali mengatakan bahwa berkendara tetap lebih utama, baru diikuti berdiri, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Pernah ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Ali bin Abi Thalib mengapa wukuf berada di Arafah tidak di wilayah tanah haram? Ali menjawab, “Ka‘bah adalah rumah Allah, tanah haram adalah pintu Allah. Ketika mereka hendak menuju pintu-Nya mereka distop terlebih dahulu untuk bertadarru’. Dikatakan, ”Apa wukuf di masyar?” dijawab, “Ketika mereka diberi izin masuk, mereka diberhentikan lagi yang kedua, yaitu di Muzdalifah. Ketika telah lama tadarru’ mereka maka diizinkan mendekat, yaitu di Mina. Setelah mereka menghilangkan kotoran dan mendekatkan diri dengan kurban, jadilah mereka bersih dari dosa-dosa maka diizinkan mereka berziarah.” Ditanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang menyebabkan haram hukumnya puasa pada hari tasyrik? Ali jawab, “Karena manusia adalah tamu Allah, mereka sedang bertamu dan tidak boleh bagi tamu puasa tanpa izin dari tuan rumahnya.”

Kemudian, Ali bin Abi Thalib ditanya lagi, “Wahai Amirul mukminin, orang-orang menggantung di tepian Ka‘bah untuk apa itu?” Ia menjawab, “Perumpamaan seorang dengan orang lain yang dalam kasus pidana, ia gantungkan bajunya agar ia kabulkan permintaannya.” (HR Baihaqi)

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Incoming search terms:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.