sholat tahajud

Sholat Tahajud: Tata Cara, Doa, Waktu, Keutamaan, Manfaat, Dzikir, Dll!

Sholat Tahajud – Saat memulai menulis ini, saya teringat perkataan Syeikh Yasin Al-Khatib mengenai tahajud. “Ketahuilah bahwa ibadah dan ketaatan itu bermacam-macam jenis dan tingkatannya,” kata beliau, “Dengan ibadah fardhu inilah keselamatan bisa diraih. Demikian juga, ada yang bersifat sunnah atau nafilah. Ibadah macam ini akan mengantarkan seseorang untuk mendapatkan keberuntungan, berupa kedekatan dirinya dengan Allah, serta meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Dasarnya adalah hadits qudsi yang menyebutkan bahwa Allah berfirman, ‘Tidaklah orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Ku itu melakukan suatu ketaatan yang lebih Aku cintai daripada (melaksanakan) apa yang telah Aku wajibkan terhadapnya. Dan hamba-Ku masih saja mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah), sehingga Aku mencintainya. Jika aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia pakai untuk mendengar, matanya yang dia pakai untuk melihat, tangannya yang dia pakai untuk memegang, dan kakinya yang dia pakai untuk berjalan.’

Dan di antara bentuk ibadah nafilah yang paling agung adalah sholat malam. Ia merupakan jalan kebahagiaan, keuntungan umur, serta merupakan kebiasaan para hamba Allah yang shalih dari kalangan nabi dan Rasul serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ketaatan hingga hari pembalasan.”

Semoga apa yang saya bagi dalam postingan ini bisa menjadi inspirasi. Bisa melecut semangat hingga meninggi. Bisa menjadi panduang mendirikan niat dan mengokohkan azzam sholat tahajud. Dan bisa menjadi amalan unggulan kita, hingga lancarlah segala keinginan diri untuk bisa melangkah di jannah-Nya. Insya Allah…

Mudah-mudahan, apa yang saya lakukan ini termasuk apa yang diungkapkan oleh Imam Hasan Al-Bashri, “Sesungguhnya aku sedang menasihati kamu, bukanlah berarti aku yang terbaik di kalangan kamu. Bukan juga yang paling shalih di antara kamu, karena aku juga pernah melampaui batas untuk diri sendiri. Seandainya seseorang itu hanya dapat menyampaikan dakwah apabila dia sempurna, niscaya tidak akan ada pendakwah. Maka, akan jadi sedikitlah orang yang memberi peringatan.”

 

A. Bagaimana Nabi Muhammad Sholat Tahajud?

Cara Nabi Shalat

Marilah kita membersamai riwayat-riwayat shahih yang akan menginspirasi dan menyalakan semangat kita dalam sholat tahajud sholat tahajud.

Dari Aisyah, dia berkata, “Apabila mengerjakan sholat, Rasulullah berdiri hingga kedua kakinya bengkak.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah! Mengapa Engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidak bolehkah jika saya menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Hadits ini,” komentar Ibnu Baththal sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari-nya Ibnu Hajar bahwa, “menunjukkan bolehnya seseorang bertindak keras terhadap dirinya dalam berbadah meskipun hal itu bisa membahayakan badannya. Sebab, Nabi pun mengerjakan sholat hingga kedua kakinya bengkak. Padahal, beliau mengetahui bahwa Allah telah mengampuninya dan memberinya pahala. Lantas, bagaimana dengan orang yang belum mengetahui hal itu? Apalagi orang yang tidak mempunyai jaminan bahwa dirinya akan selamat dari neraka.”

Bila di riwayat pertama kita mendapati bagaimana gigihnya Rasulullah sebagai teladan kita itu dalam mengerjakan tahajud hingga kakinya bengkak-bengkak, maka dia riwayat selanjutnya kita akan mendapati bagaimana sungguh tak pernah ada alasan bagi kita untuk tak mengerjakan tahajud. Sakit maupun safar Rasulullah tetap melancarkan langkah imannya untuk menuju ke kepada-Nya dengan sholat tahajud.

Dari Abdullah bin Abi Qais, dia mengatakan bahwa Aisyah berkata kepadaku, “Jangan pernah meninggalkan qiyamul lail karena Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Apabila sedang sakit atau kepayahan, beliau sholat dengan duduk.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Dari Anas bin Malik bahwa pada suatu malam, Nabi merasa kurang enak badan. Di pagi harinya, seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bekas sakit pada dirimu terlihat jelas.” Beliau lalu bersabda, “Meskipun seperti yang kalian lihat, alhamdulillah tadi malam aku membaca as-sab’uth thiwal dalam qiyamul lailku.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Hakim)

As-sab’uth thiwal adalah tujuh surat Al-Qur’an yang mempunyai ayat panjang. Ketujuh surat tersebut adalah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa’, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, dan At-Taubah.

Bayangkanlah bagaimana Rasulullah tatkala sakit saja masih mampu merampungkan tujuh surah panjang tersebut.

“Kerjakanlah qiyamul lail,” kata Aisyah, “karena Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Apabila sakit, beliau membaca dengan duduk. Sungguh, aku mengetahui bahwa salah seorang dari kalian berkata, ‘Aku cukup mengerjakan sholat wajib saja.’ Bagaimana mungkin dia merasa cukup dengan hal itu saja?” (HR. Ahmad)

Mengenai hal itu, Syaikh As-Sa’ati menuliskannya dalam Al-Fath Ar-Rabbani fi Tartib Musnad Ahmad Asy-Syaibani, “Hadits ini memberi motivasi untuk melaksanakan dan memperhatikan qiyamul lail serta meneladani Rasulullah. Beliau tidak pernah meninggalkan qiyamul lail sama sekali. Meskipun sedang sakit, beliau tetap melaksanakannya dengan duduk. Demikianlah Rasulullah. Allah telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Akan tetapi, beliau tidak meninggalkan qiyamul lail. Berbeda dengan kita. Kita melakukan berbagai dosa, menyepelekan amal, justru enggan mengerjakan qiyamul lail. Padahal, seandaninya kita berpuasa sepanjang siang dan sholat tahajud sepanjang malam, kita tidak pernah bisa mencapai derajat dan keutamaan rasulullah. Lantas, bagaimana keadaan kita? Semestinya kita segera dan berlomba-lomba mengerjakan qiyamul lail karena kita lebih membutuhkan rahmat dan ampunan Allah.”

Yah, kita lebih membutuhkan ampunan dan rahmat dari Allah. Kita yang bergelimang dosa. Kita yang berkubang maksiat. Kita yang terlampau banyak salah. Kita yang terlalu berpeluh kelalaian. Entah sudah berapa hari-hari yang tersia-sia tanpa agenda ketaatan. Entah sudah berapa bulan-bulan yang tak menghasilkan amalan-amalan unggulan apapun. Entah sudah berapa tahun-tahun yang tak makin menshalihkan diri. Apalagi bisa menshalihkan orang lain. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti itu, terus menghantui nurani terdalam tanpa pernah bisa kita menjawabnya. Padahal, jujur terasa kering nurani ini. Maka sungguh, tahajud menjadi langkah awal yang bagus untuk membasuhi diri dengan siraman pijakan awal ketaatan, yang insya Allah akan senantiasa mensegearkan langkah-langkah ketaatan di selanjutnya. Insya Allah…

Dalam safar yang memeluh raga. Dalam safar yang mengeringkan semangat, ternyata tak menyurut niat bagi Rasulullah untuk tetap mengerjakan ibadah tahajud.

Dari Ibnu Umar, dia berkata, “Jika sedang dalam perjalanan, Nabi mengerjakan sholat di atas tunggangannya ke mana saja hewan itu menghadap. Beliau mengerjakan dengan isyarat, kecuali sholat fardhu. Beliau juga mengerjakan sholat witir di atas kendaraannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Humaid bin Abdurrahman bahwa seseorang dari sahabat Nabi berkata, “Aku pernah berkata—ketika dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah, ‘Demi Allah, aku akan mengawasi sholat Rasulullah agar bisa melihat cara sholat beliau.’ Seusai sholat isya’ beliau berbaring beberapa lama pada malam itu, kemudian beliau bangun, lalu memandang ke (ufuk) langit sambil membaca ayat:

“…Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari siksa neraka. Ya Rabb kami, sesungguhnya orang ayng engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zhalim. Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Rabbmu.’ Maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui Rasul-Rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sungguh, engkau tidak pernah mengingkari janji.” (Ali Imran [3]: 191-194)

Kemudian beliau menjulurkan tangannya ke kasur lalu mengeluarkan siwak. Beliau menuangkan air dari ember yang ada padanya, kemudian bersiwak. Selanjutnya beliau berdiri dan mengerjakan sholat. Sampai aku berkata, ‘Beliau mengerjakan sholat sama dengan lama tidurnya.’ Kemudian beliau berbaring hingga aku berkata, ‘Beliau tidur sama dengan lama sholatnya.’ Kemudian beliau bangun lalu mengerjakan seperti yaang dikerjakan pada pertama kali dan bersabda seperti sabda sebelumnya. Rasulullah mengerjakan hal tersebut tiga kali sebelum terbit fajar.” (HR. Nasa’i)

Sama seperti ketika saat sakit dan safar, dalam jihad pun, di mana suasana ketegangan, kecamuk perang yang sebegitunya, tahajud justru makin kencang dilaksanakan oleh Rasulullah. Tahajud makin tak tertinggalkan. Tahajud justru menjadi energi pembangkit yang jitu. Suasana munajat dengan penuh pengahrapan untuk meraih kemenangan esok hari demi tingginya agama, makin meningkatkan keyakinan, sehingga saat jihad berkecamuk, iman makin matang menegakkan panji-Nya. Itulah tahajud. Energinya selalu saja memberikan keajaiban-keajaiban yang membelalakkan.

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa pada perang Tabuk. Rasulullah bangun pada waktu malam untuk mengerjakan sholat. Beberapa orang sahabat berkumpul di belakang beliau untuk menjaganya. Sesuai sholat, beliau bersabda kepada mereka, “Pada malam ini, telah diberikan kepadaku lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Rasul pun sebelumku. Pertama, aku diutus kepada semua manusia secara keseluruhan, sedangkan para rasul sebelumku diutus hanya kepada kaumnya saja. Kedua, aku dimenangkan atas musuhku dengan rasa takut yang menyelimuti mereka. Kalaupun jarak antara aku dan mereka sejauh perjalanan sebulan, niscaya semua akan dipenuhi dengan ketakutan. Ketiga, telah dihalalkan bagiku memakan ghanimah, sedang bagi orang-orang sebelumnya memakannya adalah sebuah dosa besar sehingga mereka dulu selalu membakarnya. Keempat, telah dijadikan bumi bagiku sebagai masjid dan tempat yang suci. Di mana pun waktu sholat datang kepadaku, aku boleh membasuh kemudian melaksanakan sholat. Sementara itu, orang-orang sebelumku menganggap itu sebagai sebuah dosa besar. Mereka hanya melaksanakan ibadah di gereja-gereja dan biara-biara mereka. Kelima, ialah apa yang telah dikatakan kepadaku, ‘Mintalah!’ sesungguhnya setiap Nabi telah mengajukan permintaannya.’ Aku lebih memilih untuk menyimpan permintaanku hingga hari kiamat kelak untuk kalian dan orang-orang yang bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah.” (HR. Ahmad)

Rasulullah adalah sosok yang paling perhatian dengan kualitas ibadah dalam keluarganya. Maka kita mendapati, suatu kali, sebagaimana kisah dari Ummu Salamah bahwa Nabi membangunkannya pada suatu malam. Beliau lalu bersabda, “Subhanallah! Fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Harta simpanan apa yang diturunkan? Siapa yang membangunkan orang-orang yang ada di kamar-kamar (istri-istrinya?) Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia, namun telanjang di akhirat.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi)

Menariknya, dalam mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar menukil perkataan Ibnu Rusyd, “Seakan-akan Al-Bukhari paham maksud membangunkan adalah untuk sholat, bukan sekadar memberitahu wahyu yang turun. Sebab, kalau sekadar ingin memberitahu, tentu hal ini bisa ditunda sampai siang.”

Selain pada istri-istrinya, beliau pun tak pernah luput untuk senantiasa memerhatikan ibadah putri dan juga mantu kesayangannya. Pasangan muda paling menginspirasi dalam lintasan sejarah Islam: Ali dan Fathimah.

Simaklah riwayat, dari Ali bin Abi Thalib bahwa pada suatu malam Rasulullah membangunkan dia dan Fatimah. Beliau bertanya, “Mengapa kalian tidak sholat malam?” Aku (Ali) menjawab, “Wahai Rasulullah, jiwa-jiwa kami ada di tangan Allah. Jika Dia menghendaki untuk membangunkan kami, pasti kami akan bangun juga.” Beliau lalu berpaling pergi ketika kami mengatakan seperti itu. Beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian ketika pergi, aku mendengar beliau berkata sambil memukul pahanya, “Memang manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (Al-Kahfi [18]: 54) (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana tersebut dalam Fathul Bari, Ath-Thabari mengatakan, “Kalau Nabi tidak mengetahui keutamaan sholat malam yang begitu besar, tentu beliau tidak akan mengganggu putrinya dan sepupunya pada waktu yang dijadikan Allah sebagai saat istirahat. Akan tetapi, beliau memilih mereka agar memperoleh keutamaan qiyamul lail daripada tidur. Hal ini untuk melaksanakan firman Allah, ‘Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.’ (Thaha [20]: 132).”

Selain perhatian penuh kepada keluarganya dalam mengontrol tahajud mereka, Rasulullah juga mengawasi dan senantiasa membangunkan para sahabatnya untuk sholat tahajud.

Sebagaimana riwayat dari Abu Qatadah, bahwa pada suatu malam Nabi keluar. Lalu menjumpai Abu Bakar sedang sholat dengan memelankan suaranya. Kemudian, beliau melewati Umar bin Khathab sedang sholat dengan mengeraskan suaranya. Ketika keduanya berkumpul di hadapan Nabi, beliau bersabda kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, tadi malam aku melewatimu ketika sedang sholat dengan memelankan suara.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, suaraku hanya cukup di dengar Allah yang kepada-Nya aku bermunajat.” Nabi lalu bersabda kepada Umar, “Aku juga melewatimu ketika engkau sedan sholat dengan mengeraskan suara.” Umar berkata, “Wahai Rasulullah, aku melakukan demikian agar dapat membangunkan orang tidur dan mengusir setan.” Nabi lalu bersabda, “Wahai Abu Bakar, keraskanlah suaramu sedikit.” Beliau juga bersabda kepada Umar, “Pelankanlah suaramu sedikit.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku mengenali alunan suara orang-orang Asy’ari yang membaca Al-Qur’an ketika mereka memasuki waktu malam. Aku juga mengenali rumah mereka dari alunan suara mereka ketika membaca Al-Qur’an pada malam hari, meskipun aku tidak pernah melihat rumah mereka pada siang hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

kelezatan penghambaan sholat

Siapakah yang dimaksud dengan Asy’ari itu? Mari kita menyeksamai riwayat berikut: suatu kali, Rasulullah melwati rumah Abu Musa Al-Asyari yang sedang membaca Al-Qur’an dan sholat. Beliau diam dan menyimak bacaannya. Ketika bertemu pada waktu pagi, Nabi bersabda, “Andai saja tadi malam engkau melihatku sedang menyimak bacaanmu. Sungguh, engkau telah diberi seruling dari salah satu seruling Nabi Dawud.” Abu Musa pun berkata, “Andai tahu engkau ada di situ, tentu akan kuperbagus bacaanku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul Mubarak meriwayatkan dengan isnadnya dari Aisyah bahwa dia terlambat mendatangi Rasulullah pada suatu hari. Setelah datang, Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu terlambat?” Aisyah menjawab, “Aku mendengar seseorang membaca Al-Qur’an dalam sholatnya di masjid.” Aisyah lalu menceritakan bacaan orang tersebut yang terdengar merdu. Rasulullah lantas pergi ke masjid. Ternyata orang yang dimaksud oleh Aisyah itu adalah Salim, budak Hudzaifah. Rasulullah pun bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara umatku orang yang sepertimu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

Nah, jika Rasulullah sebegitu perhatiannya terhadap diri, keluarga, dan para sahabatnya dan tentu juga pada umatnya untuk senantiasa sholat tahajud, masihkah ada keraguan dalam diri untuk tidak melazimkan ibadah mulia yang satu ini? Bila Rasulullah telah kita azzamkan untuk menjadi teladan diri, tentu kita tak boleh luput meneladani ibadah yang satu ini.

Sungguh pahala, keberkahan, rahmat akan senantiasa mengucur deras dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa melazimkan diri sholat tahajud. Apalagi, di tengah kesulitan hidup yang makin menumpuk. Saat-saat bermunajat kepada Allah tentu menjadi saat-saat terindah dan terkhusyuk untuk menggantungkan segala pengharapan dengan paduan suasana hening dan kesendirian. Di momen-momen itulah, kita bebas mengadu kepada Allah. Dengan sebuah jaminan dari Allah yang sangat melegakan, bahwa Allah kan selalu mendengarkan segala pengharapan yang termunajatkan.

 

B. Sholat Tahajud: Kelezatan Penghambaan

“Barangsiapa yang takut kepada Allah dalam lintasan-lintasan hatinya, Allah akan menjaganya dalam gerakan-gerakan anggota badannya.”  —Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Masruq Ath-Thusi

“Satu malam pengantin yang dihadiahkan kepadaku,” kata Khalid bin Walid sebagaimana tertera dalam Siyaru A’lamin Nubala’-nya Imam Adz-Dzahabi, “tidak lebih aku sukai daripada satu malam yang dingin mencekam sementara aku berada dalam barisan yang esok harinya hendak berjihad fi sabilillah.”

Pertanyaan sementara kita adalah: bagaimana mungkin berlelah-lelah dalam jihad bisa mengalahkan nikmatnya malam pengantin? Seperti kita menanyakan tentang bagaimana bisa seorang Abu Sulaiman Ad-Darani bisa bernikmat-nikmat dengan ibadah qiyamul lailnya di malam-malam nan sepi jua dingin. “Kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang beribadah di malam hari,” katanya, “lebih hebat daripada hiburan orang-orang yang berfoya-foya di siang hari. Jika bukan karena waktu malam, maka aku tidak suka berlama-lama hidup di dunia.

Tak jauh berbeda, Amir bin Abdil Qais, saat sakit menjelang sakitnya justru mengucapkan kalimat mencengangkan bagi para kerabatnya, “Sungguh aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ambisi untuk hidup lama di dunia, tapi aku menangis karena tak lagi bisa shaum di siang yang panas dan sholat di malam yang dingin.”

Pertanyaan terakhir kita adalah: bagaimana bisa seorang hamba bisa mendapatkan kelezatan beribadah hingga sebegitunya?

Jawabannya sederhana. Allah mencipta kita untuk beribadah kepada-Nya. Tentu saja, Allah jua menganugerahkan kenikmatan dalam proses peribadahan tersebut. Sehingga, dua nikmat akan dirasai seorang hamba ketika melakukan ibadah kepada-Nya: kenikmatan saat melakukan ibadah tersebut, dan pahala yang menanti panennya di akhirat.

Kelezatan dalam beribadah tidak akan pernah diketahui rasa kelezatan itu kecuali oleh pelakunya sendiri. Jadi, kita tak bisa mengecap kelezatan tersebut hingga kita melakukannya sendiri ibadah tersebut secara terus menerus hingga Allah menganugerahi kelezatan tersebut pada kita.

“Segala kelezatan itu hanya dirasakan sekali, yakni saat Anda tengah menikmati,” kata Abdullah bin Wahab, “kecuali kelezatan ibadah. Ia bisa dirasai tiga kali: saat Anda menikmati, saat Anda mengingati dan saat Anda menerima ganjarannya nanti.”

Ketaatan tak hanya berupa melaksanakan perintah (fi’lul ma’mur), namun juga meninggalkan maksiat (tarkul mahdzur). Maka, rahasia terbesar agar dapat merasakan kelezatan dalam beribadah adalah terpatri kuatnya dalam diri rasa ta’zhim (pengagungan) kepada Allah. Semakin besar, dalam, dan kuatnya ta’zhim diri pada-Nya, tentu akan semakin besar, dalam dan kuat pula kelezatan ibadah yang kita rasai. Sehingga, secara otomotis, momen-momen beribadah adalah penantian yang mengasyikkan. Sebegitu juga momen-momen meninggalkan maksiat, menjadi momen yang begitu mudah nan menyenangkan. Godaan syahwat memang berat. Penangkal utamanya hanyalah kedekatan rasa pada-Nya. Selalu merasa diawasi oleh Allah tentu akan membuat diri merasa lebih tenteram, nyaman, dan tak tertarik untuk berdekat-dekat dengan apa-apa yang telah dilarang oleh-Nya. Karena suatu kali Wuhaib bin Al-Warad pernah ditanya, “Apakah ahlul makisat dapat merasakan nikmatnya beribadah?” “Jangankan ahlul maksiat,” jawab beliau, “orang yang baru berkeinginan bermaksiat pun sudah tidak bisa merasakan kenikmatan beribadah.”

“Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jatsiyah [45]: 37)

Itulah ta’zhim. Itulah pengagungan kepada Allah. Energi ta’zhim begitu hebat. Taat didapat, maksiat pun kita babat. Insya Allah. Karena memang hanya Allah lah yang berhak dengan segala pengagungan.

 

Mengambil Bagian di Akhirat

Setiap sesuatu mempunyai cirinya masing-masing. Begitu pula dengan siang dan malam. Begitu pula dengan identifikasi dari masing-masing tersebut. Siang hari, siapa pun pasti tak bisa menyangkal, ia identik dengan perburuan duniawi. Perburuan duniawi yang menyesakkan nan melelahkan, perburuan duniawi klise yang hanya menghasilkan sejumput kata-kata ‘wah!’ dan melahirkan sindiran bahkan cibiran yang malahan semakin membuat perburuan itu tidak nyaman dan menyenangkan sebagaimana yang dibayangkan, karena selalu dihadapkan dengan yang namanya persaingan.

Siang hari, dengan segala pernak-pernik stigma keduniawiannya. Siang hari dengan segala macam kekliseannya. Siang hari dengan segala misteri dan kegunannya sendiri. Sesungguhnya jika dibandingkan dengan keberadaan malam bagi seorang mukmin amatlah sangat jauh perbedaannya. Ia tidak akan mampu menandingi kehebatannya, keunikannya, kekhusukanya, dan misteri yang luar biasa terkandung di dalamnya.

Siang yang selalu memancarkan cerah cahaya mentari. Sesungguhnya ia menandakan akan pesan bahwa agar manusia jangan terlalu silau dan agar tidak cepat terpukau dengan gemerlap keduniaan. Namun sebaliknya, di balik pekat dan tenangnya malam, justru ia menawarkan akan tempat manusia mengoptimalkan kekhusukan yang tidak didapatkan di siang hari. Tempat yang akan menghantarkan menuju munajat terindah dan paling berkesan. Karena malam adalah pakaian bagi para mukmin. Dan waktu di mana ia bermesraan dengan Rabbul Izzati.

Namun realita berkata lain, malam kini tidak lagi menjadi idaman orang-orang mukmin. Malam kini mejadi sepi akan air mata penyesalan hambanya yang telah melakukan maksiat di siang hari. Malam kini tak lagi mendapat tempat istimewa di hati orang-orang mukmin.

Ironis memang. Jika melihat sejarah salafush shalih dan tuntunan agama, ada satu tali yang ummat ini terlupa. Ada satu ibadah yang menjadi barang tabu untuk dibicarakan. Ada satu ibadah yang Allah dan Rasulnya telah menjanjikan pahala yang luar biasa. Ada satu ibadah yang sampai-sampai Rasulullah beserta para sahabatnya yang mulia dan orang-orang shalih yang setelahnya berusaha dengan ‘mati-matian’ agar tidak pernah satu malam pun terlewat tanpa melaksanakan satu ibadah yang syarif ini. Dan ibadah itu bernama tahajud, qiyamullail, atau pun sholat malam.

Qiyamullail adalah salah satu ibadah yang luar biasa hebatnya dalam upaya meningkatkan kualitas keimanan dan upaya untuk bertaqarrub kepada Allah. Orang-orang yang biasa mendekatkan diri kepada Allah, akan dikaruniai kekuatan mata hati yang tajam. Sehingga dengan mudah ia bisa menilai, apakah sesuatu itu baik atau buruk.

Di tengah gemerlapnya nilai kehidupan yang semakin rancu seperti saat ini, tidaklah mudah menjadi orang yang sensitif terhadap nilai-nilai keburukan. Betapa banyak orang yang tidak punya pembeda. Sungguh, betapa banyaknya! Maka Qiyamullail adalah solusi. Apabila ummat ini mampu melaksanakan Qiyamullail, maka bukanlah tidak mungkin, jama’ah sholat subuh di masjid bukan hanya di isi oleh satu sampai dua baris saja. Namun, sholat subuh sudah pasti akan seperti sholat Jum’at yang jamaahnya melebihi kapasitas masjid tersebut. Karena qiyamullail adalah pengambilan energi iman pertama sebelum menapaki getirnya siang hari. Dan qiyamullail adalah kekuatan ruhani positif pertama sembari menunggu pagi dengan bermunajat mesra kepada-Nya.

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib sedang sholat fajar di Kufah. Dan pada saat itu beliau menjabat sebagai khalifah. Ketika selesai sholat tiba-tiba beliau berpaling ke sebelah kanan dan diam seakan-akan beliau sedang bersedih. Hingga ketika telah sampai matahari menyinari dinding masjid setinggi tombak, beliau membalikkan tangannya seraya berkata:

“Saya telah melihat bekas sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia, dan aku tidak melihat seorang-pun yang sanggup menyerupai mereka. Demi Allah, di pagi hari mereka kelihatan lusuh, dekil dan begitu pucat, hingga di antara kedua matanya ada bercak hitam. Di malam hari mereka membaca Kitabullah dan bersimpuh dengan kaki dan kening mereka. Jika menyebut asma Allah mereka tunduk seperti tunduknya pohon ketika tertiup angin, mata mereka sembab hingga membasahi baju mereka. Demi Allah, seakan kaum pada saat ini tidur dalam keadaan lalai dan tidak bangun malam untuk mengerjakan sholat.”

Yah, sungguh amatlah benar perkatan Ali bin Abi Thalib, ummat sekarang ini telah meninggalkan salah satu ibadah yang paling dicintai oleh Rasulullah, padahal generasi sahabat telah memberikan teladan yang patut untuk diikuti. Dan kepedihan akan musibah ini pun telah diriwayatkan oleh Ibnu Umar, “Sesuatu yang pertama kali berkurang dari ibadah adalah sholat tahajud di malam hari dan membaca Al-Qur’an di dalamnya.” (HR. Bukhari)

Abu Al-Ahwash berkata, “Jika orang-orang pada masa tabiin dahulu lebih mengutamakan orang-orang yang menghidupkan malam sehingga terdengarlah dengungan seperti dengungannya para lebah dikarenakan tahajjud mereka, lalu mengapa orang-orang yang hidup sesudah masanya tidak bangun malam dan merasa aman dari apa yang mereka takutkan (yaitu neraka) sehingga mereka tidak bangun malam?”

Banyak malam-malam telah berlalu, tapi tak sedikit pun meninggalkan penyesalan karena tidak dapat meraih sejuta berkah di dalamnya. Padahal, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah menesahati, “Bumi berguncang dan langit gelap gulita. Kerusakan tampak di darat dan laut karena kezaliman mereka terhadap diri sendiri. Barakah hilang, kebaikan berkurang, dan kehidupan mengeruh karena kezaliman. Cahaya siang dan kegelapan malam menangis karena dosa, kemaksiatan dan amal perbuatan tercela. Orang-orang yang mulia dan beriman mengadu kepada Tuhan mereka tentang banyaknya kejahatan, kemungkaran dan kejelekan yang terjadi. Demi Allah, ini adalah peringatan tentang azab Allah yang telah lepas dari talinya dan penyeru bahwa kegelapan malam telah datang, maka jauhilah jalan ini dengan cara bertaubat selama taubat masih memungkinkan dan pintunya masih terbuka. Jika kematian telah datang, maka tertutuplah pintu itu dan habislah masa untuk bertaubat. Sehingga hanya berakhir dengan kepedihan.”

 

Sholat Tahajud adalah Energi Kemenangan

Telah terjadi banyak kasus, sungguh amat banyak orang-orang mukmin yang mengklaim dirinya sebagai mujahid dakwah, aktivis dakwah, atau apapun namanya. Yang sejatinya mereka adalah para panglima-panglima ummat dalam rangka bersama-sama menuju shiratal mustaqim,  namun melupakan ibadah qiyamullail ini. Ibadah yang Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkannya walaupun dalam keadaan sakit ini pun kalah dengan empuknya kasur dan mimpi-mimpi. Dan yang mengaku mujahid dakwah itu pun tak malu sedikit pun kepada Rabb-Nya akan kelalaian tersebut. Padahal, itu adalah energi kemenangan yang paling dahsyat.

Benarkah ia merupakan energi kemenangan yang dahsyat? Mari kita lihat sejarah yang telah membuktikan.

Ketika Romawi jatuh ke tangan kaum muslimin, Raja Romawi berkata kepada tentara-tentaranya, “Mengapa kalian kalah? Bukankah jumlah musuh lebih sedikit dari jumlah kalian?”

Salah seorang pembesar Romawi menjawab, “Ini semua dikarenakan mereka bangun malam dan berpuasa di siang harinya!”

Cerita tersebut tak jauh berbeda dengan cerita kemenangan tentara Islam ketika mengalahkan tentara Romawi di negeri Syam.

Sang Raja melarikan diri dari Suriyah ke ibukota kerajaannya. Dia berdiri sambil melihat Suriyah dengan penuh keharuan seakan-akan mengucapkan kata perpisahan kepadanya. Kemudian dia berkata “Selamat tinggal wahai Suriyah dan kita tidak akan jumpa lagi.”

Ketika di tengah perjalanan menuju ibukota kerajaanya, salah seorang tentara Romawi yang ditahan oleh orang-orang Islam kemudian dilepaskan. Sang Raja berkata kepadanya, “Ceritakan kepadaku tentang orang-orang Islam, mengapa mereka mudah sekali menang atas kita?”

Tentara Romawi itu menjawab, “Saya akan ceritakan kepada engkau wahai raja dan bayangkan seakan-akan engkau melihat mereka. Mereka adalah pasukan di siang hari dan pendeta di malam harinya. Tidak makan dalam tugas mereka kecuali secukupnya. Dan tidak masuk kecuali dengan salam. Mereka menerjang siapa saja yang memeranginya hingga menang atasnya!”

Raja berkata, “Jika apa yang kamu katakan itu benar, pasti mereka akan menguasai negeri yang kedua kakiku ini menginjak di atasnya!”

Ketika orang-orang Perancis mengambil wilayah Al-Quds, beberapa orang Islam masuk kota Quds untuk berziarah. Lalu mereka mendengar orang-orang Perancis berkata, “Sesungguhnya Nuruddin Zanki mempunyai rahasia dengan Allah! Dia tidak menang dengan kita karena banyaknya tentara, tetapi menang atas kita karena doa dan sholat malam. Dia sholat malam dan mengangkat tanganya kepada Allah dan berdoa. Allah pun mengabulkan doanya dan memberikan permintaaannya sehingga bisa menang atas kita.”

Tak jauh berbeda. Inilah rahasia kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan pada perang Salib. Al-Qadhi Bahauddin berkata, “Jika Shalahuddin mendengar bahwa musuh telah menekan kaum muslimin atau mendekati waktu peperangan dengan orang-orang Kristen. Malam harinya dia berfikir keras memecahkan masalah ummat Islam dengan bersujud dan berdoa di malam sujudnya.

“Ya Allah, semua urusan duniaku telah putus untuk menolong agamamu. Maka tidak tersisa bagiku kecuali keabadianku di sisi-Mu. Berpegang teguh kepada tali-Mu. Dan bersandar kepada karunia-Mu. Hanya Engkau-lah tumpuan dan harapanku.”

Bahauddin berkata, “Saya melihatnya bersujud dan air matanya menetes di atas jenggotnya, kemudian di atas sajadahnya. dan aku tidak mendengar apa yang dikatakannya. Tidak henti-hentinya dia melakukan hal itu kecuali datang berita kemenangan atas musuh-musuhnya!”

Itulah serial rahasia kemenangan ummat Islam. Rahasia malam telah mereka kuak, dan menggetarkan siapa saja yang menjadi musuh Al-Haq. Dan begitulah seharusnya para penegak kalimatullah, dan orang-orang yang telah berikrar untuk menolong dan membela agama ini. Karena saat itulah kedekatan hamba dan Rabb-Nya begitu terasa. Dan di situlah sumber energi kemenangan itu. Kalaulah Allah telah menjadi penolong. Lalu mengapa hati harus gundah?

Fudhail Bin Iyadh berkata, “Saya melihat suatu kaum yang malu kepada Allah jika dia tidur terlalu lama di malam hari. Dia sedang tidur, ketika bangun dari tidurnya dia berkata, ‘Ini tidak seharusnya kamu lakukan, bangun dan ambilah bagianmu di akhirat!’.”

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (Adz-Dzariyat [51]: 15-17)

 

Kesedihan Paling Tak Tertahankan

Ummat ini sedih ketika kehilangan harta benda. Ummat ini sedih ketika kehilangan harta yang di cintainya. Ummat ini sedih ketika kehilangan sanak saudaranya yang meninggal dunia. Namun, ummat ini tidak sedih ketika kehilangan malam tanpa ada qiyamullail di dalamnya.

Bukankah generasi shalih telah mengajarkan kemuliaan ini?

Bahkan, suasana lomba dalam kebaikan benar-benar terjadi di kalangan salaf. Sampai sampai berkata, “Jika seseorang mendengar bahwa ada orang lain yang lebih taat darinya, maka dia menjadi sangat bersedih!”. Subhanallah, suasana itulah yang ummat ini perlukan. Saling menasehati akan kebaikan. Dan selalu berusaha istiqamah dalam beribadah kepada-Nya. Seorang laki-laki dari Bani Tamim berkata kepada Zain bin Aslam. Wahai Abu Usamah, ada satu sifat yang aku tidak menemuinya ada pada diri kita. Allah mengingatkan tentang suatu kaum di dalam firman-Nya, “Sedikit di antara mereka yang tidur di waktu malam” (Adz-Dzariyat [51]: 17) Sedangkan kita, demi Allah, kita bangun malam hanya sebentar!”. Zaid berkata, “Betapa beruntungya orang yang tidur ketika dia mengantuk dan bertaqwa kepada Allah ketika dia bangun. Bagaimana mungkin mata bisa terpejam ketika dia dalam kegundahan, karena tidak tahu dimana dia akan singgah di akhir nanti?”.

Bagitu indahanya suasanya saling menasihati dalam kebaikan. Begitu mulianya suasana saling mengingatkan saudara seiman akan kelalaian.

muslimah sholat tahajud

Dari Ma’la bin Ziyad berkata, “Harun bin Hayyan keluar di sebagian malam dan menyeru dengan suara yang keras. ‘Saya takjub dengan surga, tetapi mengapa orang yang mengharapkannya tidur? Dan aku heran kepada neraka, tetapi orang yang mejauhinya justru tidur?’

Kemudian membaca firman Allah:

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-Ashr [103]: 1-3)

Kemudian membaca firman Allah:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, jangan begitu. Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbutanmu itu) Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim. Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”  (At-Takatsur [102]: 1-8)

Kemudian setelah itu dia kembali ke rumahnya.”

Muhammad Bin Yusuf mengisahkan bahwa Sufyan Ats-Tsauri membangunkan pada suatu malam seraya berkata, “Bangunlah kalian wahai pemuda! Sholatlah mumpung kalian masih muda! Jika kalian tidak sholat hari ini, kapan kalian akan sholat?”

Lalu, bagaimanakah imam-imam besar menghidupkan malamnya? Mari mendengarnya dari Khatib Al-Baghdadi yang mengisahkan bahwa, “Abu Hanifah menghidupkan seluruh malamnya dan menangis hingga tetangga-tetangganya merasa kasihan kepadanya. Diberitakan secara mutawatir tentangnya bahwa dia menghidupkan seluruh malamnya hingga tukang cucinya berkata setelah selesai mencuci, ’Kamu telah memberatkan orang sesudahmu dan mengalahkan para pembaca Al-Qur’an’.”

Muhammad bin Abi Hatim Al-Warraq berkata, “Saya pernah bersama Abu Abdillah Bukhari dalam sebuah perjalanan dan singgah dalam satu rumah. Aku melihatnya dalam satu malam bangun lima belas hingga dua puluh kali. Setiap kali ia bangun ia mengambil batu bara lalu menyalakan api di tangannya dan menyalakan lampu. Kemudian mentakhrij hadits kemudian meletakkan kepalanya untuk tidur. Di waktu sahur beliau sholat sebanyak tiga belas rakaat dengan satu witir. Dia tidak membangunkanku disetiap dia bangun. Aku katakan kepadanya, “Kamu melakukan itu untuk dirimu sendiri tetapi mengapa tidak membangunkanku?”. Dia menjawab, “Kamu masih muda, maka aku tidak senang merusak tidurmu.”

Ibnu Abdul Hadi, murid Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang kehidupan malam gurunya. “Pada malam hari dia mengasingkan diri dari manusia dan menyendiri bersama Tuhannya. Dalam keadaan khusuk dan tunduk seraya membaca Al-Qur’an dengan mengulang-ulang berbagai macam ibadah malam dan siang. Jika memasuki waktu sholat anggota badannya gemetar hingga condong ke kanan dan ke kiri.”

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam menggambarkan keadaan gurunya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam beribadah berkata, “Beliau rajin dalam beribadah, bertahajjud, dan sholat yang panjang hingga mencapai puncak. Aku tidak pernah mendapai seseorang yang sepertinya dalam beribadah. Begitu pula dalam pengetahuannya terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Serta hakikat keimanan, dia tidak ma’shum tetapi aku tidak menemukan makna lain selainnya.”

Allah memberikan wahyu kepada Nabi Dawud. “Wahai Dawud, sesungguhnya Aku memiliki beberapa hamba yang Aku cintai dan mereka pun mencintai Aku. Aku merindukan mereka dan merekapun merindukan Aku. Jika kamu ikuti mereka wahai Dawud, Aku pun akan mencintaimu. Maka Dawud pun berkata, “Ya Rabbi, tunjukkanlah mereka kepadaku.”

Allah berfirman, “Mereka menjaga keterasingan di waktu siang dan merindukan malam hari sebagaimana burung-burung merindukan sarangnya. Sampai tatkala tiba waktu malam dan setiap orang menyendiri bersama kekasihnya, mereka pun menggelar wajah dan menegakkan telapak kaki untuk menyendiri dengan-Ku bersama firman-firman-Ku dan mendekat kepada-Ku dengan nikmat-nikmat-Ku. Mereka ada yang merintih, ada yang menangis, ada yang menengadah, serta ada yang bergetar. Tahukah kamu wahai Dawud, Aku memberi mereka tiga hal. Pertama, kalaulah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh ditimbang dengan mereka di hari kiamat, Aku pasti akan memberatkan mereka. Kedua, Aku pancarkan beberapa cahaya-Ku di wajah dan hati mereka. Dan ketiga, aku menatap mereka dengan wajah-Ku. Tahukah kamu Dawud, orang yang Aku tatap dengan wajah-Ku, adakah seseorang pun yang akan tahu apa yang akan Aku berikan kepadanya?!”.

Mari merajut malam-malam yang penuh berkah tersebut dengan rajutan iman yang membara dan azzam yang kuat untuk melaksanakannya. Semangat yang tak pernah luntur, semangat yang senantiasa menghimpun kekuatan bathiniyah yang semakin menyadarkan bahwa diri ini kecil di hadapan-Nya. Bahwa diri ini begitu hina dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

Mari menghidupkan malam-malam dengan air mata, Al-Qur’an dan tahajjud panjang. Mari melantun Al-Qur’an agar memberikan semangat para bintang untuk senantiasa berdzikir dengan lantunan indah tilawah kita.

 

C. Keutamaan Sholat Tahajud

“Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, Dia menjadikan hatinya sebagai penasihat yang selalu memerintah dan melarangnya.” Muhammad bin Sirin

Seruan Allah adalah panggilan kasih sayang-Nya kepada kita. Seruan Allah adalah panggilan langit yang berarti hanya hamba pilihan-Nya saja yang mau memenuhi seruan itu. Hal hebat apakah selain orang-orang beriman yang sanggup memenuhi panggilan-Nya? Sebegitu juga dengan sholat tahajud di malam dingin, gulita, dan sunyi. Saat hamba lain terlelap dalam ayunan mimpi, hamba terpilih ini memilih untuk berintim dengan-Nya dan bermunajat dengan penuh rasa kehambaan.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk melaksanakan sholat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzammil [73]: 1-4)

Imam Muslim dalam ­Shahih-nya mengisahkan tentang Sa’ad bin Hisyam bin Amir yang pernah bertanya kepada Aisyah, “Beritahulah aku bagaimana qiyamul lail yang dilakukan oleh Rasulullah.”

“Bukankah engkau membaca ‘ya ayyuhal muzammil’?” tanya Aisyah.

“Ya,” jawab Sa’ad.

“Sesungguhnya,” jelas Aisyah, “Allah mewajibkan qiyamul lail pada awal surat ini. Lalu Nabi beserta para sahabat melaksanakannya selama satu tahun. Allah menahan akhir surat ini di langit selama dua belas bulan. Kemudian, Allah menurunkan keringanan di akhir surat ini. Sejak saat itu, qiyamul lail menjadi ibadah tathawu’ setelah sempat menjadi wajib.”

Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an-nya mengomentari ayat ini dengan, “Ayat ini merupakan panggilan dari langit serta seruan dari Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Bangunlah untuk bersungguh-sungguh, bersusah payah, bekerja keras, dan beribadah. Bangunlah karena waktu tidur dan istirahat telah berlalu. Bangunlah, lalu bersiaplah untuk melaksanakan perintah.”

“Pada sebagian malam hari laksanakanlah sholat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’ [17]: 79)

Uraian menarik dipaparkan oleh Sayyid Quthb dari tafsir fenomenalnya, Fi Zhilalil Qur’an, dengan uraian, “Sholat, membaca Al-Qur’an, sholat tahajud, dan hubungan yang abadi dengan Allah adalah jalan yang mengantarkan ke tempat yang terpuji. Apabila Rasulullah saja diperintahkan untuk mengerjakan sholat, melaksanakan sholat tahajud, dan membaca Al-Qur’an agar Allah mengangkatnya ke tempat yang terpuji, padahal dia adalah manusia pilihan. Tentu orang-orang selainnya lebih membutuhkan sarana-saranan ini agar bisa meraih tempat yang diperkenankan bagi mereka dalam kedudukan mereka. Inilah jalan itu. Inilah bekal itu.”

“Pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (Al-Insan [76]: 26)

Mengenai seruan Allah dalam ayat ini, dalam Mahasinut Ta’wil-nya, Al-Qasimi memaparkan, “Maksudnya ‘wa minal laili fasjud lahu’ adalah dengan melaksanakan sholat tahajud. Sedangkan maksud ‘wa sabbihhu lailan thawilan’ adalah dalam waktu yang panjang, yaitu setengah malam atau lebih. Perintah dalam ayat ini dan awal surat Al-Muzammil, juga ayat-ayat lain yang serupa, menunjukkan pentingnya qiyamul lail.”

Hebatnya, ayat yang sering kita tafsirkan sendiri sebagai ayat di mana kita telah selesai dari satu amanah, bergegas mengerjakan amanah yang lain, dimaknai berbeda oleh Ibnu Mas’ud. Ayat tersebut adalah:

“Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (Asy-Syarh [94]: 7-8)

Sebagaimana dipaparkan oleh Muhammad Nashr Al-Marwazi dalam Qiyamul Lail, dua ayat tersebut ditakwilan oleh Ibnu Mas’ud dengan, “Apabila engkau telah selesai mengerjakan sholat fardhu, maka laksanakanlah qiyamul lail.”

Subhanallah! Betapa menakjubkannya. Sebegitu pentingnya ibadah ini, hingga tak satu-dua saja ayat yang meminta kita melazimi ibadah ini.

“Bertasbihlah kepada Allah pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (Ath-Thur [52]: 49)

Mengenai ayat ini, “Maksudnya adalah ingatlah Allah dan sembahlah Allah dengan membaca Al-Qur’an dan mengerjakan sholat malam,” kata Al-Qasimi dalam Mahasinut Ta’wil-nya.

Itulah beberapa ayat yang menganjurkan kita untuk tak melupakan ibadah yang penuh kemuliaan tersebut. Bilalah Allah telah menyeru langsung kepada kita untuk mengerjakan  sholat ini dengan berbagai kandungan kemuliaan yang ada di dalamnya, tentu kita harus menyambut seruan itu dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi.

 

rajin sholat

 

Panggilan dari Rasulullah

Selain berbagai ayat yang telah dipaparkan sebelumnya, panggilan sholat tahajud juga datang dari Rasulullah, teladan hidup kita. Sebuah panggilan yang tentu saja akan mengangkat derajat kita di hadapan-Nya, dan makin memudahkan kita untuk bertempat di taman yang sama kelak, yaitu taman surga. Mari menyeksamai beberapa sabda Rasulullah mengenai keutamaan qiyamul lail, agar diri terlecuti dengan semangat yang terus membara untuk melazimkan amalannya.

“Rabb kita (Allah) Yang Mahasuci lagi Mahatinggi,” sabda Rasulullah sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim, “turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Barangsiapa berdoa kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Barangsiapa meminta kepada-Ku, pasti Aku penuhi. Barangsiapa memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni.”

Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim sebagaimana tertutur dalam Shahih-nya, Rasulullah bersabda, “Allah turun ke langit dunia pada setiap malamnya, yaitu saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman, ‘Aku adalah Raja. Aku adalah Raja. Barangsiapa berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan. Barangsiapa meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’ Keadaan itu berlangsung hingga waktu fajar.”

Bahkan, qiyamul lail juga menjadi syarat masuk surga dengan selamat. Hal ini terpaparkan dengan jelas sebagaimana penjelasan dari Abdullah bin Salam, “Tatkala Rasulullah tiba di Madinah, orang-orang bergegas mendatanginya. Saat aku melihat dengan jelas wajah beliau, aku pun tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah pendusta. Hal pertama kali yang aku dengar dari beliau adalah sabdanya, ‘Wahai manusia! Sebarkan salam, berilah makanan, sambunglah tari kekerabatan, dan sholatlah di waktu malam saat orang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat’.” (HR. Ahmad, Tirmizi, dan Al-Hakim)

Selain itu, qiyamul lail menjadi sholat paling utama dikerjakan setelah sholat wajib. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sabdanya:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Sholat paling utama setelah sholat wajib adalah sholat pada sepertiga akhir malam, sedangkan puasa paling utama setelah puasa ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Qiyamul lail menjadi sholat paling dicintai Allah, tentu setelah sholat wajib sudah tertunaikan dengan baik. Sebagaimana penuturan Abdullah bin Amru dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sholat yang paling dicintai Allah adalah sholatnya Nabi Dawud dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya Nabi Dawud. Dia tidur hingga pertengahan malam, lalu sholat pada sepertinya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya. Dia juga berpuasa sehari dan berbuka sehari.”

Waktu di mana kita menjalankan qiyamul lail adalah waktu termustajab dan terintim atas seorang hamba kepada Rabbnya. Bukti shahihnya tertuang dalam hadits shahih riwayat Tirmidzi, Nasa’i dan Hakim berikut ini:

“Waktu paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah pada tengah malam terakhir. Oleh karena itu, apabila kamu mampu menjadi bagian dari orang-orang yang berdzikir kepada Allah (sholat) pada waktu itu, maka lakukanlah!”  

Qiyamul lail juga menjadi kebiasaan orang-orang shalih sebelum masa Rasulullah. Membiasakan diri dengan kebiasaan orang-orang shalih terdahulu, tentu akan semakin mendekatkan diri kita kepada derajat keshalihan yang tinggi seperti mereka. Maka, tak ada alasan lagi untuk tak mengerjakan amalan sunnah yang sangat utama ini.

“Kerjakanlah sholat malam,” sabda Rasulullah sebagaimana penuturan Bilal bin Rabah dengan riwayat Tirmidzi, Baihaqi, dan Hakim, “karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Sesungghnya sholat malam dapat mendekatkan diri kepada Allah, menghalangi dari dosa, menghapus kesalahan, dan menolak penyakit dari badan.”

Qiyamul lail, ternyata juga merupakan salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah. Duhai, bila kita mengerjakan amalan yang ternyata amalan tersebut adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah, seperti apakah posisi kita di hadapan-Nya? Tentu akan semakin istimewa derajat kita di hadapan Allah manakala kita melazimkan diri untuk mengerjakan amalan ini.

Riwayatnya, suatu hari, Muadz bin Jabal pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, beritahulah aku tentang suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.”

“Engkau telah bertanya padaku tentang perkara yang besar,” jawab beliau, “padahal, perkara itu sangat ringan bagi orang yang Allah jadikan ringan untuk menjalankannya. Perkara itu adalah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” Kemudian beliau melanjutkan lagi, “Maukah engkau jika aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan sholat seseorang pada pertengahan malam.”

Qiyamul lail juga menjadi indikator pertama bagi seorang hamba yang tekun melakukan kebaikan. Sebagaimana tertera dalam Al-Ahadits Al-Jiyad Al-Mukhtarah riwayat Abd bin Humaid dan Al-Maqdisi yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, Semoga Allah menjadikan kalian mampu mengerjakan sholat orang-orang yang tekun melakukan kebaikan,” sabda Rasulullah, “mereka senantiasa melaksanakan sholat pada waktu malam dan berpuasa pada waktu siang. Mereka itu bukanlah orang-orang yang senang melakukan dosa dan kejahatan.

 

Keutamaan Ibadah pada Malam Hari

Ibadah yang dilakukan pada malam hari lebih terasa kekhusyukannya. Selain itu, kadar keikhlasannya juga lebih terjamin karena tak ada seorang pun yang melihat aktivitas ibadah tersebut. Juga, ibadah yang dilakukan malam hari lebih berat daripada ibadah di siang hari. Oleh karena itu, pahala dan keutamaannya disesuaikan dengan kadar kesulitannya tersebut. Maka, kita mendapati ayat:

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzammil [73]: 6)

Malam hari adalah saat di mana ketenangan alam mulai nampak. Sehingga, ini adalah waktu yang tepat untuk bertadabbur, memuhasabahi diri, dan sangat kondusif untuk mengintimkan diri dengan-Nya. Konsentrasi pun tentu akan lebih tercipta dan terjadi kepaduan antara hati, lisan, dan juga organ raga untuk melakukan ibadah. Ditambah lagi, Allah turun ke langit dunia pada waktu ini. Sehingga, kesan-kesan mendalam dalam beribadah tentu akan dirasakan lebih nikmat. Apalagi, bila ibadah ini dilazimi setiap hari selama bertahun-tahun. Tentu hasilnya akan berbeda dengan yang melakukannya sesempatnya, apalagi hanya beberapa kali dalam setahun. Bekas-bekas keimanan tentu akan lebih nampak bagi yang sudah melazimkannya. Aroma-aroma surgawi dalam akhlak kesehariannya tentu lebih nampak bagi para pelaku yang melazimi ibadah sunnah yang utama ini.

 

Sholat Tahajud Paling Disukai Allah

Menghadap pada-Nya di keheningan malam dengan hati khusyuk dengan penuh rasa penghambaan dengan melakukan qiyamul lail adalah amal shalih yang sangat disukai oleh Allah. Lebih disukai lagi, bila kita memenuhi seruan-Nya itu berdasar hadits:

“Sholat (sunnah) yang paling disukai oleh Allah adalah seperti sholatnya Nabi Dawud. Tidurnya hanya setengah malam dan bangun pada sepertiga malam lalu tidur lagi pada seperenam malam selebihnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Wahid Abdussalam Bali dalam Al-Umur Al-Muyassarah li Qiyamil Lail memaparkan maksud hadits tersebut dengan, “Contohnya, apabila Isya’ adalah pukul 19.00 sedangkan subuhnya adalah pukul 14.30, berarti Anda tidur setelah sholat Isya’ yang berarti pukul 19.30 dan bangun pukul 01.00 lalu mengerjakan sholat kira-kira selama dua jam setengah lamanya. Kemudian tidur kembali kira-kira pada pukul 03.30 dan bangun beberapa menit menjelang subuh supaya tidak ketiduran dari melaksanakan sholat Subuh.”

“Faedah yang dapat dipetik dari metode ini,” lanjut beliau, “pertama, sudah bangun sebelum masuk waktu Subuh. Kedua, begadang sampai waktu Subuh bisa menyebabkan wajah pucat. Tidur sebentar sebelum masuk waktu subuh tidak menyebabkan wajah menjadi pucat dan badannya pun tidak lelah. Ketiga, tidur yang dilakukan setelah bangun kemungkinan bisa mendatangkan mimpi yang baik. Dan mimpi yang baik itu termasuk kabar gembira yang Allah berikan atas hamba-Nya yang beriman. Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Mimpi yang baik adalah satu dari kabar gembira yang Allah berikan.’ (HR. Bukhari dan Muslim).”

 

Keutamaan Sholat Malam Dibanding Sholat Siang

Bagi para pendosa, malam menjadi waktu yang istimewa karena di waktu itu mereka benar-benar terselimuti malam untuk melakukan banyak kemaksiatan. Misalnya saja para pezina, penikmat diskotik, pelahap dunia malam, dan bentuk-bentuk kesia-siaan yang naudzubillah min dzalik lainnya. Namun, bagi para hamba-hamba yang shalih, waktu malam juga menempati waktu teristimewa untuk mematri syukur dan memanjatkan segala rasa penghambaan dalam diri atas segala kemudahan, limpahan rahmat, dan kucuran rezeki serta segala karunia yang telah diberikan oleh Allah. Kesan ini, tentu lebih mendalam bila termunajatkan di waktu malam dengan segala keheningan dan ketenangan alam yang ditampakkannya.

Apalagi, ditambah jaminan dari Allah, sebagaimana firman Allah berikut ini, bahwa bacaaan Al-Qur’an ketika melaksanakan sholat lebih merasuk dan memberikan kesan mendalam demi membentuk kekhusyukan diri.

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzammil [73]: 6)

Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam mengomentari ayat tersebut sebagaimana terpapar dalam kitab tafsirnya yang masyhur, Tafsir Ath-Thabari, menuliskan dengan, “Sholat malam adalah lebih membekas daripada sholat siang dan lebih berakar di hati. Hal itu karena amal di malam hari lebih membekas daripada amal di siang hari.”

Sebegitu istimewanya waktu malam dan menjelang subuh, kita akan mendapati sebegitu banyak riwayat dari para salafush shalih tentang waktu-waktu tersebut.

Salah satunya adalah sebagaimana pemaparan berikut ini, “Di antara perkara pokok agama adalah adanya waktu-waktu tersebarnya ruhani di bumi dan beredarnya kekuatan ideal,” kata Syaikh Syah Waliyullah Ad-Dahlawi sebagai termaktub dalam kitabnya Hujjatullah Al-Balighah, “Tidak ada waktu yang lebih dekat bagi diterimanya ketaatan dan dikabulkannya doa selain daripada waktu-waktu itu.”

Apalagi, jika musim dingin tiba, di mana malamnya menjadi sangat panjang. Di sanalah kesempatan untuk berqiyamul lail untuk lebih khusyuk dan lama menjadi idaman para salafush shalih.

“Selamat datang musim dingin,” kata Abdullah ibn Mas’ud suatu kali sebagaimana tertera dalam Lathaif Al-Ma’arif-nya Ibnu Rajab Al-Hanbali, “saat ini, berkah turun, malam menjadi panjang untuk qiyamul lail, dan siang menjadi pendek untuk berpuasa.”

Senada, Ubaid bin Umair Al-Laitsi juga berkata, “Wahai orang-orang yang rajin membaca Al-Qur’an! Malam ini panjang untuk sholat kalian dan siangnya pendek untuk puasa kalian. Jika kalian merasa letih pada waktu malam, maka tahanlah. Jika kalian merasa takut terhadap musuh, maka lawanlah. Jika kalian bakhil terhadap harta, maka infakkanlah. Perbanyaklah mengingat Allah.”

Setiap mukmin harus menyadari sekaligus meyakini, bahwa dirinya tidak akan pernah bisa lepas dari rasa bergantung kepada Allah. Dengan begitu, setiap malam-malam yang datang, akan menjadi momen-momen munajat paling mengasyikkan nan ditunggu-tunggu. “Orang bodoh,” kata Ibnul Qayyim, “adalah yang mengadukan Allah kepada manusia. Andaikan ia tahu siapa Rabbnya, tentu ia tidak akan mengadukan-Nya kepada manusia, dan andiakan dia tahu siapa manusia, tentu dia tidak akan mengadu kepada mereka.”

Apa maksud mengadukan Allah kepada manusia? Maksudnya adalah mengeluhkan segala permasalahan yang terus menghampiri dalam roda kehidupan kita itu pada sesama makhluk.

 

D. Syarat Sholat Tahajud

“Betapa buruknya kelalaian dari menaati Dzat yang tidak lalai berbuat baik kepadamu, dan betapa jeleknya kelalaian dari mengingat Dzat yang tidak lalai mengingatmu.” Mimsyad Ad-Dainuri

Shalat adalah medium yang menghubungkan kita dengan Allah. Artinya, saat kita berdiri dalam sholat, kita tengah menghadap kepada Allah. Saat sujud, kita tengah sujud kepada Allah. Saat ruku’, kita tengah ruku’ kepada Allah. Maka, sholat memang tak sekadar aktivitas fisik. Sholat harus didirikan dengan penuh kesadaran, kehadiran hati, kesungguhan, ketundukan, dan penuh rasa pengawasan bahwa kita sedang menghadap kepada Sang Pencipta.

Mari kita menyeksamai bagaimana dialog seorang hamba dengan Rabbnya kala dalam sholat sebagaimana sabda Rasulullah, “Allah berfirman, ‘Aku membagi sholat dua bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta. Bila dia membaca, ‘Alhamdulillahi rabbil alamin,’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjungku.’ Bila dia membaca, ‘Ar-rahmanir rahim,’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku menyanjungku.’ Bila dia membaca, ‘Maliki yaumiddin,’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkanku.’ Bila dia membaca, ‘Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in,’ Allah berfirman, ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang dia pinta.’ Bila dia membaca, ‘Ihdinash shiratal mustaqim, shiratal ladzina an’amta alaihim waladh dhallin,’ Allah berfirman, ‘Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia pinta’.” (HR. Muslim)

Maka, jika sholat adalah medium yang menghubungkan kita dengan Allah, tentu kita harus menyiapkan persiapan-persiapannya agar kita siap menghadap-Nya. Terlebih lagi sholat tahajud, yang statusnya bukan sholat wajib namun penuh anjuran untuk mendirikannya. Ia butuh cara-cara khusus yang bisa mempermudah dan membangkitkan semangat kita dalam mendirikannya. Ada banyak cara untuk menyiapkan diri agar bisa melaksanakan qiyamul lail. Sebenarnya, tip-tip akan efektif bila disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Akan tetapi, tip-tip berikut adalah tip yang sudah biasa dilaksanakan oleh para salafush shalih. Jadi, pahamilah dan padukanlah dengan keadaan Anda. Insya Allah, dengan begitu kefektifannya akan lebih terasa karena sesuai dengan kondisi Anda. Agar kemenangan untuk terus melazimi sholat tahajud bisa kita raih.

 

1. Ikhlas Mengerjakan Tahajud karena Allah

Keikhlasan adalah fondasi terdasar. Syarat diterimanya amal shalih adalah ikhlas. Keinginan kita untuk melaksanakan sholat tahajud harus dipersiapkan sejak dini bahwa tahajudnya benar-benar hanya dilakukan untuk Allah saja. Bukan selain-Nya. Ini penting, karena esensi taqarrub ada di sini.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al-Bayyinah [98]: 5)

“Baiknya amal itu tergantung pada baiknya hati, sedangkan baiknya hati tergantung pada baiknya niat. Barangsiapa melakukan amal dengan ikhlas, niscaya hatinya akan jernih. Sebaliknya, barangsiapa melakukan amal dengan tidak ikhlas, niscaya hatinya akan kotor,” kata Mutharrif bin Asy-Syukhair.

Ada kisah menarik sebagaimana dipaparkan dalam Al-Jarh wat Ta’dil-nya Abi Hatim dengan penceritanya adalah Muhammad bin A’yun. “Suatu ketika,” katanya memulai kisah, “aku menyertai Abdullah Ibnul Mubarak dalam sebuah peperangan di negeri Romawi. Setelah kami mengerjakan sholat Isya’, Abdullah Ibnul Mubarak meletakkan kepalanya di atas tanah agar terlihat olehku bahwa dia telah tidur. Dalam hati, aku berkata, ‘Wah, aku masih membawa tombak di tangan.’ Aku pun menggenggam tombak itu. Lalu, kusandarkan kepalaku di atasnya seakan-akan juga tidur. Ternyata, Abdullah Ibnul Mubarak menyangka bahwa aku telah tidur. Dia bangkit dengan sangat pelan agar tidak terdengar oleh seorang pun. Dia lalu mengerjakan sholat hingga terbit fajar. Tatkala terbit fajar, Abdullah Ibnul Mubarak datang membangunkanku. Dia menyangka bahwa aku tidur. Dia berkata, ‘Wahai Muhammad, bangun!’ ‘Aku tidak tidur,’ kataku. Mendengar jawabanku dan mengetahui bahwa aku melihat sholat yang dia kerjakan semalam, Abdullah Ibnul Mubarak tidak pernah lagi berbicara kepadaku. Dia juga tidak bersikap terbuka lagi kepadaku dalam semua hal yang dia kerjakan dalam peperangan itu. Sepertinya dia merasa tidak senang ketika aku mengetahuinya mengerjakan sholat malam. Perasaan tidak senang itu terus aku lihat di wajah Ibnul Mubarak sampai dia meninggal. Belum pernah aku melihat orang yang sangat menjaga rahasia perbuatan baiknya melebihi dirinya.”

 

2. Tidur dengan Niat Bangun untuk Mengerjakan Tahajud

Hebatnya, saat kita sudah berniat untuk bangun di tengah malam kemudian mengerjakan sholat tahajud, namun kemudian tidak bisa bangun, kita tetap mendapatkan pahala karena niat baik kita tersebut. Bahkan, dalam versi sabda Rasulullah, itu dihitung sebagai sedekah dari Allah.

مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Barangsiapa beranjak tidur dengan niat untuk bangun dan sholat malam, namun kantuk mengalahkannya hingga tiba pagi, maka akan ditulis baginya apa yang dia niatkan. Tidurnya itu dihitung sebagai sedekah dari Rabbnya Azza Wajalla.” (HR. Nasa’i)

“Hadits ini,” kata Muhammad bin Shalih Abu Abdillah dalam Kaifa Tatahammas li Qiyamil Lail, “bukan bermaksud agar orang malas bangun untuk mengerjakan sholat malam dan mencukupkan diri dengan niat untuk bangun. Lalu orang itu mengira bahwa niat ini sebanding dengan pahala bangun malam. Tentu bukan demikian. Ini adalah pemahaman yang salah terhadap kandungan hadits tersebut. Dalam timbangan Allah, tidak sama antara orang yang bangun pada waktu malam untuk mengerjakan sholat dengan ikhlas dan khusyuk kepada Allah serta meninggalkan istrinya yang cantik, kasurnya yang empuk, dan tidurnya yang nyenyak dengan orang yang hanya berniat untuk bangun ketika beranjak tidur, kemudian matanya terpejam sehingga sepanjang malam tidur sampai terbit fajar.”

Artinya, kita memang harus berniat, juga harus mengamalkan. Niat yang terlaksana, tentu lebih baik dari amalan tanpa niat, atau niat yang hanya tinggal niat saja tanpa melaksanakannya.

 

3. Berdoa dan Berdzikir Hendak Tidur

Dzikir dan doa adalah benteng. Sehingga, saat melazimkannya sebelum tidur, harapannya kita akan dijaga oleh Allah saat tidur dari gangguan setan. Dengan begitu, akan mudah bagi kita untuk bangun malam.

Sebenarnya, ada banyak cara dan juga doa apa yang bisa kita panjatkan ketika hendak tidur. Kita tinggal memilih salah satunya, atau pun dipanjatkan semuanya tidaklah masalah.

Sunnah Pertama

“Apabila seseorang dari kalian hendak tidur,” pesan Rasulullah sebagaimana riwayat dari Bukhari dan Muslim, “hendaklah dia mengibaskan di atas tempat tidurnya itu dengan kain sarungnya. Sebab, dia tidak tahu apa yang terdapat di atas kasurnya. Lalu, mengucapkan doa:

بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِى، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِى فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ الصَّالِحِينَ

‘Dengan nama-Mu wahai Rabbku, aku baringkan punggungku, dan atas nama-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan diriku, maka rahmatilah aku. Jika engkau melepaskannya, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-Mu yang shalih’.”

Sunnah Kedua

Penjelasan dari Aisyah sebagaimana dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa apabila Nabi hendak beranjak ke tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya kemudian membaca:

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas [112]: 1-4)

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepad aTuhan ayng menguasai subuh (fajar). Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. Dan dari kehatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya). Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”  (Al-Falaq [113]: 1-5)

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyai, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (An-Nas [114]: 1-6)

Setelah itu, beliau mengusapkan dengan kedua tangannya pada anggota tubuhnya yang terjangkau olehnya. Beliau memulainya dari kepala, wajah, dan anggota yang dapat dijangkaunya. Beliau melakukan itu sebanyak tiga kali.

Sunnah Ketiga

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada suatu malam, niscaya ayat itu akan mencukupinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah adalah sebagaimana berikut:

“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seirang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah [2]: 285-286)

Sunnah Keempat

Sebagaimana penuturan Anas bin Malik, bahwa Rasulullah apabila berbaring di tempat tidur, beliau mengucapkan doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِىَ لَهُ وَلاَ مُئْوِىَ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta mencukupi kebutuhan kami dan memberikan kami tempat berlindung. Betapa banyak orang yang tidak mempunyai kecukupan dan tempat berlindung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sunnah Kelima

Dalam hadits Abu Hurairah yang panjang, disebutkan bahwa setan berkata kepadanya, “Apabila engkau mau berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi. Sebab, engkau akan selalu dijaga oleh Allah dan setan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi.” Abu Hurairah lalu menceritakan kejadian tadi kepada Nabi, dan beliau pun bersabda, “Benar apa yang dikatakannya, padahal dia adalah pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat Kursi terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 255. Ayat tersebut berbunyi demikian:

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belekang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu)nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursinya, meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan dia Mahatinggi, Mahabesar.” (Al-Baqarah [2]: 255)

Sunnah Keenam

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi bersabda kepada putrinya, Fatimah, ketika datang kepada beliau untuk meminta seorang pelayan, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pelayan? Apabila kalian tidur, maka bertakbirlah kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertasbihlah sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah sebanyak tiga puluh empat kali. Semua ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pelayan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Takbir adalah lantunan dzikir yang berbunyi:

اَللُهُ أَكْبَرُ

“Allah Mahabesar.”

Tasbih adalah lantunan dzikir yang berbunyi:

سُبْحَانَ اللهُ

“Mahasuci Allah.”

Tahmid adalah lantunan dzikir yang berbunyi:

أَلْحَمْدُ لِلهِ

“Segala puji bagi Allah.”

Sunnah Ketujuh

Dari Al-Barra’ bin Azib, dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhu untuk sholat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu dan ucapkanlah:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

‘Ya Allah, aku pasrahkan wajahku kepada-Mu. Aku serahkan urusanku kepada-Mu. Aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan perasaan senang dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksa-Mu melainkan kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang engkau utus.’

Jika engkau meninggal pada malam itu, maka engkau meninggal dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa ini sebagai akhir kalimat yang engkau ucapkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sunnah Kedelapan

Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi bersabda, “Bacalah surat Al-Kafirun ketika engkau mau tidur. Sebab, surat ini akan membebaskanmu dari kesyirikan.” (HR. Al-Baihaqi)

Surat Al-Kafirun berbunyi:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (Al-Kafirun [109]: 1-6)

Sunnah Kesembilan

Dari Hafshah bahwa apabila Nabi hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya. Kemudian beliau berdoa:

اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

“Wahai Rabbku! Jagalah diriku dari siksa-Mu pada hari ketika Engkau membangkitkan hamba-Mu.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

 

4. Perhatikan Makan dan Minummu

Sudah menjadi kelaziman, bilamana seseorang terlalu banyak makan dan minum, maka dia akan mudah pula tertidur lama. Oleh itulah, menjaga pola makan yang baik patut diperhatikan, agar tidak kehilangan ibadah utama yang berupa sholat tahajud di malam hari.

Standar ideal dalam makan dan minum sudah dijelaskan oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Tidak ada wadah yang dipenuhi oleh manusia yang lebih buruk daripada perut. Cukup bagi manusia itu beberapa suapan yang menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Pesan penambah kejalasan poin penting ini dijelaskan oleh Sufyan Ats-Tsauri dengan, “Kurangilah makan, niscaya kalian akan mampu mengerjakan qiyamul lail.”

Sedangkan contoh nyata bagaimana makan berlebihan berpengaruh terhadap ibadah qiyamul lail, baiknya kita simak apa yang disampaikan oleh Wuhaib Ibnul Warad yang mengisahkan bahwa setan pernah menampakkan diri kepada Yahya bin Zakaria. Yahya menanyainya, “Mampukah engkau menggodaku?” Setan menjawab, “Tidak, kecuali sekali saja. Yaitu ketika engkau makan. Aku terus membuatmu ingin makan sampai engkau makan melebihi yang engkau inginkan. Pada malam itu, engkau tidur dan tidak bangun untuk mengerjakan sholat, sebagaimana biasanya engkau mengerjakannya.”

Maka, makan dan minumlah secukupnya. Agar ibadah tenang dan khusyuk.

 

5. Perhatikan Tempat Tidurmu

Tempat tidur yang terlalu nyaman akan membuat kita benar-benar lalai dan sering luput dari kesempatan mulia untuk qiyamul lail. Bayangkan saja, Rasululullah itu, sebagaimana keterangan dari Aisyah, “Bantal Nabi yang dipakai tidur dari kulit isinya rumput kering.” (HR. Ahmad) Bahkan, sebagaimana pengakuan Ali, suami Fathimah, “Rasulullah membekali Fathimah ketika mengirimnya ke rumahku berupa kain tebal, geriba, dan bantal dari kulit yang isinya dedaunan pohon idkhir (sebuah tetumbuhan yang memiliki aroma wangi).” (HR. Ahmad)

Terlena dengan keempukan kasur tentu akan menjauhkan kita dari kesempatan besar meraup pahala dan kenikmatan beribadah sholat tahajud. Maka, perhatikanlah diri. Bila diri adalah pribadi yang mudah sekali tertidur manakala kasur begitu nyaman, hendaknya harus menakar diri: memilih untuk tetap seperti itu, ataukah memilih untuk mengutamakan sholat tahajud. Bila yang terakhir menjadi pilihan, tentu kenikmatan-kenikmatan ragawi yang hanya bersifat sementara itu harus kita tanggalkan. Insya Allah, banyak kenikmatan yang kemudian akan Allah turunkan kepada kita. Sungguh, keberkahan yang menghujani diri jauh lebih penting daripada nikmat-nikmat syahwati yang sering menjerumuskan itu.

 

6. Jangan Lupa Berdoa Agar Allah Memudahkan

Allah adalah sebaik-baik penolong. Maka, serahkanlah jiwa dan segenap rasa kehambaan kita pada-Nya, agar senantiasa dimudahkan untuk terus bisa mendirikan qiyamul lail. Jaminan dari Allah untuk mengabulkan doa kita, sebagaimana dalam ayat:

“Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Ghafir [40]: 60)

“Wahai manusia,” kata Qatadah, “Jika engkau hanya mau melakukan kebaikan ketika merasa senang, maka jiwamu akan cenderung bosan. Seorang mukmin selalu melakukan kebaikan di saat lemah maupun kuat. Orang-orang mukmin selalu berdoa kepada Allah pada siang maupun malam. Mereka terus memanjatkan doa, ‘Wahai Rabb kami, wahai Rabb kami,’ di saat sepi maupun ramai sampai Allah mengabulkannya.”

Dalam kitab Fawaid-nya, Ibnul Qayyim menyampaikan, “Seseorang mendapatkan sial tidak lain karena tidak mau bersyukur dan menyepelekan doa. Sebaliknya, seseorang mendapatkan keberuntungan dengan kehendak dan pertolongan Allah tidak lain karena mau bersyukur dan bersungguh-sungguh dalam berdoa.”

 

7. Berselimut Tebal Bisa Melenakanmu

Selimut tebal tentu saja akan membuat badan malas, karena badan terlindungi dari sergapan dingin malam yang menusuk. Maka tak heran, para salafush shalih melakukan berbagai upaya agar tidak tergoda oleh rayuan sementara dunia ini, yang kadang bisa berupa sebuah selimut saja.

Shafwan bin Sulaim, misalnya, biasa mengerjakan sholat pada musim panas di atap rumahnya dan pada musim dingin di dalam rumahnya. Dia selalu bangun, baik pada masa musim panas maupun pada masa musim dingin. Dia berkata suatu kali dengan, “Ya Allah, inilah jerih upaya Shafwan dan Engkau pun mengetahuinya.” Kedua kaki Shafwan bengkak karena lamanya qiyamul lail hingga seperti sisik ikan.

Tak jauh berbeda, trik unik juga dilakukan oleh Mu’adzah Al-Adawiyah yang ketika musim dingin tiba, selalu mengenakan baju tipis kala tidur, agar rasa dingin dapat mencegahnya dari tidur nyenyak.

Dengan begitu, tidur kita pun memang kemudian tak lagi berlebihan. Karena efek dari tidur yang berlebihan adalah hati yang keras dan jiwa yang lalai. Badan menjadi lemas, lesu, dan tidak bergairah. Tak heran, bila Rasulullah bersabada demikian, “Ibunya Sulaiman bin Dawud berkata kepada Sulaiman, ‘Wahai anakku! Jangan memperbanyak tidur di malam hari. Sebab, banyak tidur di malam hari akan menjadikan seseorang laki-laki fakir pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

“Aku pernah bertemu beberapa orang yang merasa malu kepada Allah jika malam hari mereka banyak tidur,” kata Fudhail bin Iyadh, “tidur mereka miring di atas pinggang, apabila bangun, mereka berkata, ‘Ini bukan bagianmu, bangunlah dan ambillah bagianmu dari akhirat’.”

Muadzah Al-Adawiyah, seorang wanita shalihah, sebagaimana teriwayatkan dalam Shifatus Shafwah-nya Ibnul Jauzi bahwa ia selalu bangun malam dan bermunajat kepada Allah. Apabila mengantuk ketika sedang sholat, dia pun mengelilingi rumahnya dan berkata, “Wahai diriku, kelak engkau akan tidur. Jika telah masuk kubur, engkau akan tidur panjang, baik dengan rasa sedih atau gembira. Sungguh aneh mata yang selalu tidur, padahal ia mengetahui bahwa kelak akan tidur panjang di dalam kubur yang gelap.”

Apapun sepertinya dilakukan oleh salafush shalih agar bisa menunaikan sholat tahajud tanpa pernah terjeda satu hari pun. Istiqamah memang tidak mudah. Namun pengupayaannya lah yang terus disaksikan oleh Allah, bahwa kita sangat berazzam untuk mengabdi kepada-Nya dengan segenap kemampuan.

 

8. Memaksa Diri Terkadang Juga Perlu

Fitrah nafsu adalah menyeru kepada keburukan. Maka, jika kita selalu menuruti nafsu dan cenderung untuk mengikuti segala keinginan nafsu, lembah kehinaan akan dengan sangat cantiknya menanti kehadiran kita. Hamba-hamba yang senantiasa melawan nafsu kemudian bergiat mendirikan qiyamul lail, dipuji oleh Allah dengan:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipadang sebagai balasan abgi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah [32]: 16-17)

Melawan nafsu di diri, dan memaksanya agar mau menaati amalan sunnah utama ini, dipuji oleh Allah, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah, “Ada seorang dari umatku yang selalu bangun pada waktu malam lalu bersuci. Sementara itu, pada dirinya masih terdapat sejumlah ikatan. Apabila dia membasuh tangannya, akan lepaslah satu ikatan. Apabila dia membasuh kepalanya, akan lepaslah satu ikatan lagi. Apabila dia membasuh wajahnya, akan lepaslah satu ikatan. Apabila dia mengusap kepalanya, akan lepas pulalah satu ikatan. Kemudian ketika dia membasuh kedua kakinya, maka lepaslah satu ikatan lagi. Allah Azza Wajalla lalu berfirman kepada para malaikat, ‘Lihatlah hamba-Ku ini. Dia membenahi dirinya dan memohon kepada-Ku. Apa yang dimohon oleh hamba-Ku ini akan diperolehnya’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

“Berhati-hatilah terhadap nafsumu,” kata Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid-nya, “tiada musibah yang menimpamu kecuali berasal darinya. Jangan pernah berdamai dengannya. Demi Allah, tidak akan mulia orang yang tidak menundukkannya. Tidak akan kuat orang yang tidak menaklukkannya. Tidak akan tenang orang yang tidak membuatnya letih. Tidak akan aman orang yang tidak membuatnya takut. Tidak akan gembira orang yang tidak membuatnya sedih.”

 

9. Jaga Kehalalan Makananmu

Ini adalah perkara penting yang sering terabaikan. Menjaga sumber makanan kita agar selalu halal. Padahal, secara jelas Allah telah memfirmankan:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (Al-Baqarah [2]: 168)

Para salafush shalih telah banyak memberikan periwayatan bahwa menjaga apa-apa yang masuk ke perut dengan terpilih yang halal sajalah yang bisa ikut menyokong kemudahan kita bangun malam untuk mengerjakan qiyamul lail. “Perbaikilah makananmu,” kata Ibrahim bin Adham, “jika tidak, engkau tidak akan mampu mengerjakan qiyamul lail dan berpuasa pada waktu siang.”

Bahkan, dua perbedaaan besar, yakni yang zuhud dan yang cinta dunia, dikategorikan oleh Wahab bin Munabbih hanya berdasarkan kategori halal tidak makanan yang dikonsumsinya.

“Orang yang paling zuhud terhadap dunia,” katanya, “adalah orang yang hanya mau mendapatkan harta yang halal dan baik, meskipun dia harus berusaha keras mencarinya. Sebaliknya, orang yang paling cinta terhadap dunia adalah orang yang tidak mau peduli apakah dia mendapatkan harta yang halal atau haram, meskipun dia berusaha menghindar darinya.”

Penjelasan paling apik, dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid, mengenai makanan yang halal ini. “Harta itu ada empat macam,” jelasnya, “pertama, harta yang didapatkan dengan menaati Allah dan digunakan untuk menunaikan hak Allah. Ini adalah harta yang paling baik. Kedua, harta yang didapat dengan mendurhakai Allah dan digunakan untuk mendurhakai Allah. Ini adalah harta yang paling buruk. Ketiga, harta yang didapat dengan mengganggu orang muslim dan digunakan untuk mengganggu orang Islam. Harta itu juga sama buruknya dengan yang kedua. Keempat, harta yang didapat dengan cara yang mubah dan digunakan untuk kesenangan yang mubah. Harta ini tidak bermanfaat dan juga tidak berbahaya. Keempat harta ini masih bisa dibagi dalam beberapa macam lainnya. Di antaranya adalah harta yang didapat dengan cara yang baik dan digunakan untuk keburukan. Harta yang didapat dengan cara yang buruk dan digunakan untuk kebaikan. Penggunaannya untuk kebaikan menebus keburukannya. Harta yang didapat dengan cara syubhat. Penebusnya adalah dengan menggunakannya dalam ketaatan. Pahala maupun hukuman serta pujian maupun celaan sangat berkaitan dengan bagaimana menggunakan harta dan dari mana mendapatkannya. Sumber pendapatan dan tempat penyaluran harta akan ditanyakan pada hari kiamat.”

“Akan datang suatu zaman, di mana seseorang tidak akan perduli lagi terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal ataukah haram.” (HR. Bukhori dan An-Nasa’i).

Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan kepada kaum muslimin supaya hanya memakan makanan yang halal dan juga thayyib. Jangan sampai makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang termasuk dalam kategori yang diharamkan dalam Islam. Dan jangan pula memakan makanan sampai di luar batas kewajaran.

Apa pentingnya makanan yang halal? Manusia itu adalah ciptaan Allah yang terdiri dari jutaan sel. Sel-sel itu terbentuk dari sari makanan yang tiap hari kita konsumsi. Bila makanan yang di makan statusnya halal. Sudah pasti, sel-sel yang terbentuk dari sari makanan itu akan baik dan mempengaruhi tubuh. Bukan hanya rohani, tapi juga jasmani, akal dan juga kejiwaan. Sebaliknya, bila makanan yang di konsumsi adalah yang haram. Pun akan sangat berpotensi untuk mempengaruhi kehidupan kita. Bukankah Rasul telah bersabda, “Semua sel daging yang tumbuh dari makanan haram maka neraka lebih berhak membakarnya.

Tatkala Abu Bakar mengetahui bahwa sebutir kurma pemberian pelayannya adalah hasil kerja si pelayan tersebut menjampi seseorang di masa jahiliyah. Maka Abu Bakar segera memasukkan ujung jarinya ke tenggorokan agar kurma yang telah ia telan keluar lagi. Ia terus berusaha mengeluarkannya dan berkata, “Andaikan makanan ini tidak keluar kecuali dengan keluarnya nyawa, maka saya akan mengeluarkannya.” Sahal At-Tustury berkata, “Seseorang tidak mungkin mencapai hakikat keimanan sehingga memiliki empat sifat: melaksanakan semua yang wajib ditambah yang sunnah, memakan yang halal dengan penuh wara’, menjauhi yang diharamkan baik yang lahir ataupun yang batin dan selalu melaksanakan semuanya sampai mati”.

Mengapa harus halal? Memakan makanan yang halal berarti mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, melindungi diri dari neraka, mendapat keberkahan rezeki, juga dikabulkan Do’a.

Dari Ibnu Abbas di sampikan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash pernah berkata, “Ya Rasulullah, doakan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang di kabulkan do’anya oleh Allah.”. Maka Rasul bersabda, “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal), niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya. Sungguh, jika ada orang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari. Dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. Tirmidzi)

Juga, dapat mencapai hakikat keimanan, sebagaimana Rasul yang bersabda, “Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sampai meninggalkan apa-apa yang halal karena khawatir terperosok pada yang haram” (HR. Tirmidzi)

Atas dasar itu semua, wajarlah jika Abu Hurairah berkata, “Adalah lebih baik bagi salah seorang dari kalian memasukkan tanah ke dalam mulutnya daripada memasukkan barang yang haram.”

 

10. Tidur Siang lah Sejenak

Ternyata, tidur siang dapat membantu kita untuk lebih bersemangat melakukan qiyamul lail. Buktinya, banyak riwayat dari para salafush shalih yang menjadikan tidur siang sejenak sebagai aktivitas yang dapat membantu mereka meraih nikmatnya sholat tahajud.

Dalam sebuah hadits yang dinilai hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah-nya, Rasulullah bersabda, “Tidurlah sejenak di waktu siang hari karena setan tidak pernah tidur siang.” (HR. Thabrani)

Bahkan, Ishaq bin Abdullah merasakan sendiri bagaimana pengaruh dari tidur siang sejenak itu. “Tidur siang adalah salah satu perbuatan orang baik,” katanya, “tidur siang dapat menenangkan hati dan membantu qiyamul lail.”

Dalam Mukhtashar Qiyamil Lail-nya Al-Maqrizi, terkisahkan tentang Hasan Al-Bashri yang suatu ketika melewati sekelompok orang pada tengah siang. Dia melihat mereka ribut. Dia pun bertanya, “Apakah mereka tidur siang?” Seseorang menjawab, “Tidak.” Dia lalu berkata, “Sungguh, aku melihat malam mereka pasti malam yang buruk.”

Jadi, tidur siang sejenak menandakan pengaruh yang sangat besar bagi hamba-hamba yang ingin dimudahkan oleh Allah dalam melaksanakan qiyamul lail.

 

11. Hindari Banyak Tertawa dan Bermain

Kerasnya hati membuat jiwa lalai, enggan taat, dan tidak mudah melakukan ibadah. Salah satu penyebab kerasnya hati adalah dengan banyak tertawa dan bersendau gurau. “Jangan banyak bicara, tertawa, dan bercanda dengan teman-temanmu,” kata Al-Khaththab bin Al-Mu’la Al-Makhzumi, “sebab, semua itu dapat menghilangkan kewibawaan dan membangkitkan permusuhan. Bersikaplah tenang tanpa menyombongkan diri dan menipu.”

Apa-apa jika sudah berlebihan akan tidak baik. Ibnul Qayyim sudah mewanti-wanti kita dengan beberapa perkara yang jika berlebihan akan menjadi sangat tidak baik untuk perkembangan ruhiyah kita. “Kerasnya hati itu karena empat perkara ketika melebihi kadar kebutuhannya,” tuturnya dalam Al-Fawaid, “yaitu: makan, tidur, berbicara, dan berteman. Ketika badan sakit, makanan dan minuman tidak akan bermanfaat. Demikian juga, ketika hati sakit lantaran syahwat, nasihat pun tidak akan berguna.”

 

12. Meminta Orang Lain Membangunkan

Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala’-nya mengisahkan tentang seorang hamba yang shalih, Al-Yunini, “Dia adalah seorang kakek yang berusia panjang. Dia mempunyai tongkat yang diberi nama Al-Afiyah. Pada pertengahan malam, dia selalu bangun dan pergi ke tempat orang-orang miskin. Jika melihat ada orang yang tidur, dia memukulnya dengan pelan agar bangun untuk qiyamul lail. Dia dikenal sering menyuruh orang lain untuk melakukan kebaikan.”

Meminta bantuan orang lain agar membangunkan kita sholat tahajud akan membuat kita bisa membuang kemalasan dengan cepat. Orang lain itu bisa saja istri, tetangga, adik, kakak, pembantu, mertua, dan lain sebagainya. Apalagi, di zaman sekarang, cara membangunkan tak harus lewat kontak fisik secara langsung. Bisa juga dengan menelepon sampai bangun. Banyak lah sarana yang bisa memudahkan kita untuk bisa bangun malam. Kuncinya hanyalah kita mau saja.

Muhammad binYusuf bercerita bahwa, “Sufyan Ats-Tsauri,” katanya, “selalu membangunkan kami di malam hari. Dia berkata, ‘Bangunlah, wahai pemuda! Sholatlah selagi kalian masih muda. Jika kalian tidak mau sholat hari ini, lantas kapan?’.”

Sosok pahlawan Islam, Nuruddin Zanki, sebagaimana tertera kisahnya dalam Al-Bidayah Wan Nihayah-nya Ibnu Katsir bahwa istrinya, yaitu Ishmatudin Khatun binti Al-Atabik Mu’inuddin, sering bangun malam untuk sholat tahajud. Pada suatu malam, dia tidur dan tidak bangun seperti biasanya. Di pagi harinya, dia terlihat marah. Nuruddin pun menanyakan apa masalahnya. Ishmatuddin menceritakan tidurnya yang menyebabkannya tidak mengerjakan sholat tahajud. Mendengar cerita istrinya, Nuruddin lalu memerintahkan agar dipukul genderang di benteng pada sepertiga malam untuk membangunkan orang yang tidur supaya mengerjakan qiyamul lail. Nuruddin memberikan upah yang cukup banyak kepada si pemukul genderang itu.”

Bagaimanapun, akan selalu tiba hari di mana kita akan sangat kelelahan dan kehilangan semangat untuk melakukan ibadah. Nah, di sinilah kita perlu bantuan orang lain untuk selalu menjaga semangat kita.

 

E. Tata Cara Sholat Tahajud

“Sholat malam adalah cahaya bagi orang mukmin pada hari kiamat, di mana ia berjalan di hadapan dan di belakang cahaya tersebut. Sementara itu, puasa seorang hamba akan menjauhkannya dari panasnya neraka yang menyala-nyala.” Yazid Ar-Raqasy dalam Ash-Sholat wat Tahajjud

 

Bilasaja seorang muslim mau merenungi betapa besarnya pahala yang mengalir dalam sholat tahajud, tentu tak akan pernah ditinggalkannya ibadah yang satu ini. Abdullah bin Amur bin Ash menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Di dalam surga, kamar-kamar yang bagian luarnya bisa dilihat dari abgian dalamnya dan bagian dalamnya bisa dilihat dari bagian luarnya.” Abu Malik Al-Asy’ari bertanya, “Untuk siapa itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Itu diberikan kepada orang yang baik lisannya, suka memberi makan, dan selalu sholat malam saat manusia tertidur.” (HR. Thabrani)

Maka, mari meraih kemenangan dengan melazimi sholat tahajud sesuai dengan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah.

tata cara sholat tahajud

1. Jumlah Rakaat Sholat Tahajud

Mengenai jumlah rakaat sholat tahajud, Syaikh Wahid Abdussalam Bali menjelaskan dalam Al-Umur Al-Muyassarah li Qiyamil Lail dengan, “Tidak ada bilangan tertentu dalam sholat malam. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi, ‘Sholat malam (dilaksanakan) dua, dua. Apabila salah seorang di antara kalian khawatir akan datangnya (waktu) subuh, hendaklah ia sholat satu rakaat sebagai witir dari (bilangan) sholat yang telah ia kerjakan.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi, sebaiknya seseorang cukup mengerjakan sebelas atau tiga belas rakaat saja, berdasar pada amalan Nabi.

Aisyah berkata, ‘Rasulullah senantiasa mengerjakan sholat 11 rakaat antara waktu setelah sholat Isya’ hingga fajar. Setiap dua rakaat, beliau salam dan kemudian witir satu rakaat.’ (HR. Muslim) atau hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Aisyah, ‘Rasulullah tidak pernah sholat lebih dari sebelas rakaat, baik itu di dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

 

2. Waktu Paling Utama untuk Sholat Tahajud

Waktu paling utama untuk melaksanakan sholat tahajud adalah sepertiga malam terakhir. Meskipun demikian, sholat tahajud boleh dilaksanakan di awal, pertengahan, maupun di akhir malam. Berdasar pada hadits Amr bin Abasah, bahwa ia pernah mendengar Nabi bersabda, “(Posisi) Rabb (pada bagian malam) terakhir. Untuk itu, jika kamu bisa menjadi orang yang mengingat Allah pada saat-saat itu, lakukanlah.” (HR. Tirmidzi)

Hadits tersebut diperjelas lagi oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Nabi bersabda, “Setiap malam, saat malam tersisa sepertiga terakhir, Rabb kita turun ke langit ayng paling bawah lalu berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku pasti akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku pasti akan memberinya. Dan siapa yang beristighfar (memohon ampun) kepada-Ku, Aku pasti akan mengampuni dosanya.’ (Dia akan terus-menerus mengulangnya sampai fajar menyingsing).” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

3. Meninggalkan Tahajud Karena Ketiduran

Ada beberapa orang yang tidak mengerjakan sholat tahajud hanya dikarenakan ketiduran. Padahal, ketika hendak tidur, ia sudah berazzam untuk bisa bangun mengerjakan qiyamul lail. Orang seperti ini, dianjurkan untuk mengqadha’ sholat malamnya tersebut di siang hari. Hanya saja, tidak boleh mengqadha’ witirnya. Sebagaimana riwayat Aisyah, bahwa Rasulullah tidur malam lalu tidak kuat mengerjakan sholat malam karena sakit perut, beliau lalu sholat di siang hari dua belas rakaat. (HR. Muslim)

 

4. Tak Perlu Berlebih-Lebihan

Memberatkan diri sendiri dalam melaksanakan ibadah melebihi batas kemampuan bukanlah termasuk ajaran Islam. Dan sesiapa yang menyelisihi urusan ini, berarti menyelisihi sunnah Rasulullah. “Aku tidur dan juga bangun,” sabda beliau suatu waktu, “maka barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut membungkam suatu kaum yang menganggap ibadah Rasulullah masih kurang masif, dan mereka hendak mengerjakan ibadah-ibadah yang lebih rajin dan hebat dari apa yang telah Rasulullah lakukan.

Kata Aisyah, “Aku tidak pernah mengetahui Nabi membaca Al-Qur’an secara keseluruhan (mengkhatamkannya) dalam satu malam, tidak pula sholat malam hingga pagi hari, dan tidak jgua berpuasa sebulan penuh, selain pada bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)

Lalu, bagaimana bila kemalasan tengah mendera diri untuk sholat malam? Tak hanya kita. Yang notabene istri seorang Rasulullah pun pernah merasakannya, yaitu Zainab.

Mari menyimak bagaimana Anas menceritakan. “Suatu ketika, Nabi masuk masjid. Tiba-tiba beliau melihat sebuah tali yang dibentangkan di antara dua tiang. Beliau pun bertanya, ‘Tali apa ini?’ Orang-orang menjawab, ‘Tali ini milik Zainab. Bila sedang tidak semangat (malas), ia akan bergelayut di tali tersebut.’ Nabi bersabda, ‘Jangan begitu, lepaskan tali itu. Hendaklah salah satu seorang dari kalian sholat (malam) ketika bersemangat dan jika sedang malas, hendaklah sholat dengan duduk’.” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga pernah memberi wejangan kepada Abdullah bin Amru bin Ash, saat ia memaksakan diri sholat malam dan berpuasa di siang hari. “Kalau kamu tetap melakukan hal itu, matamu pasti akan lemah (karena seringnya bergadang) dan badanmu akan letih. Sesungguhnya badanmu punya hak dan keluargamu juga punya hak. Untuk itu, berpuasalah dan berbukalah, bangun dan tidurlah kamu.” (HR. Bukhari)

Imam Nawawi, mewejangi kita jangan sampai berlebihan dalam melaksanakan qiyamul lail. “Sesungguhnya, sholat sepanjang malam secara terus menerus dapat membahayakan mata dan seluruh badan. Adapun menghidupkan sebagian malam seperti sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan tidak dimakruhkan.”

 

F. Dzikir dan Doa Sholat Tahajud

“Maka aku katakan kepada mereka “Memohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” (Nuh [71]: 10)

Mengenai ayat ini, Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, menjelaskan bahwa Nabi meminta kepada kaumnya agar mau berdoa kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya dan segera bertaubat dari kemusyrikan dan agar mengeesakan Allah Yang Maha Tinggi. Karena Allah akan mengampuni dosa mereka walau sebesar apapun dosa mereka. Dan apabila mereka mau bertaubat maka Allah akan menganugerahkan anak-anak dan harta yang banyak serta akan menumbuhkan berbagai macam tanaman bagi mereka dan memperbanyak susu ternak dan memberi mereka rezeki dengan sungai-sungai dan kebun-kebun yang indah nan menyenangkan.

Di dalam ayat diatas kita akan melihat sebegitu pentingnya sebuah do’a. Sampai-sampai, Allah akan memberikan begitu banyak anugerah yang berlimpah apabila kaum Nabi Nuh mau berdo’a untuk bertaubat kepada-Nya. Karena pada dasarnya doa itu intinya adalah ibadah, dan doa adalah senjata. Doa adalah benteng, dan doa adalah obat. Begitu pula doa adalah pintu segala kebaikan. Begitulah ungkapan yang menggambarkan dahsyatnya kekuatan do’a. Allah, tempat diarahkannya doa. Memiliki dua sifat agung. Ar-rahman dan Ar-rahiim. Tentang dua sifat itu Abdullah Ibnul Mubarak berkata, “Ar-rahman yaitu jika dia diminta pasti memberi, Ar-rahim yaitu jika tidak dimintai maka dia murka”.

Tentang dahsyatnya kekuatan doa, marilah sejenak kita melihat cerita yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa ada seorang Anshar yang biasa dipanggil Abu Ma’laq. Ia adalah seorang sahabat Rasulullah yang taat beribadah dan selalu menjaga kebersihan diri. Abu Ma’laq, ia adalah pedagang yang biasa berkeliling negeri untuk menjual dagangannya, atau dagangan orang lain.

Suatu hari ia dihadang oleh para perampok bertopeng. Perampok itu berkata “Serahkan barang-barangmu, dan aku akan membunuhmu.” Abu Ma’laq menjawab “Bukankah engkau hanya memerlukan hartaku?” para perampok itu menjawab “Harta itu telah menjadi milikku, tapi aku tetap ingin membunuhmu.” Abu Ma’laq berkata, “Baiklah jika begitu, tetapi izinkanlah aku sholat empat rakaat dahulu.” Perampok itu menyahut, “Sholatlah seberapa banyak rakaat pun yang kamu suka.”

dzikir dan doa sholat tahajud

Kemudian Abu Ma’laq berwudhu lalu melakukan sholat empat rakaat. Pada sujud yang paling terakhir dalam sholatnya ia berdo’a, “Wahai yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Singgasana (arsy) yang Paling Mulia, wahai yang Maha Berbuat Apa-apa Sesuai Kehendaknya. Aku memohon dengan keperkasaan-Mu yang tidak tertandingi. Dan dengan kekuasaan-Mu yang memenuhi semua penjuru singgasana-Mu. Agar Engkau menghalangi kejahatan perampok ini.” Setelah membaca doa itu tiga kali. Tiba-tiba datanglah seorang pejuang penunggang kuda yang membawa sebuah tombak di antara kedua telinga kudanya. Ketika perampok itu melihatnya, penunggang kuda itu langsung membunuhnya, setelah itu penunggang kuda tersebut berkata kepada Abu Ma’laq, “Berdirilah kamu!” Abu Ma’laq kemudian menutup sholatnya.

Setelah itu bertanya kepada lelaki itu, siapa sesungguhnya dirinya. Lelaki itu menjawab, “Aku adalah malaikat dari langit yang keempat. Ketika kamu berdoa pada kali yang pertama, aku mendengar di pintu langit ada bunyi gemeretak. Kemudian ketika kamu berdoa pada kali yang ketiga, ada yang berkata, “Itu adalah doa seorang hamba yang sedang ditimpa kezhaliman.” Lalu aku memohon kepada Allah agar aku dijadikan utusan-Nya untuk membunuh pelaku kezhaliman itu.”

Setiap saat kita bergantung kepada Allah, kita tidak pernah tahu apa kesudahan dari seluruh langkah-langkah hidup kita, dalam jangka pendek maupun panjang. Akankah kita sukses? Ataukah malah gagal? Akankah  kita menemui kesenangan. Ataukah tersandung segunung kepahitan? Akankah usaha kita lancar? Ataukah justru mengalami kebangkrutan? Yang kita lakukan hanyalah menata ikhtiar sebaik mungkin. Kita memang harus yakin dengan tujuan, tetapi kita juga harus sadar, bahwa segala kesudahan itu tidak hanya bergantung kepada keyakinan.

Kita pernah bisa memastikan tentang apa yang akan kita temui, bahkan untuk beberapa saat kemudian. Maka ketergantungan kita kepada Allah adalah bahasa lain dari keharusan kita untuk selalu berdoa. Karena memang, bukan kita penentu segalanya. Dan dengan berdoa kepada Allah, kita telah mengadu kepada dzat yang paling tulus menerima pengaduan, Allah Maha Kaya. Maha Pengasih. Dan Maha Mendengar doa hambanya. Seorang mukmin tak akan menyia-nyiakan kasih sayang Allah. Sebagaimana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 186. Karenanya, di tengah hirup pikuk hidup yang keras, sejujurnya ada jenak-jenak sesaat, kala ketulusan hati kita bicara, tentang kebergantungan kita kepada Allah yang Maha Perkasa. Saat kita dengan sadar mengakui kelemahan kita. Saat itulah, segerakanlah pengharapan, segerakan-lah berdoa kepada Allah yang Maha Kuasa.

“Mintalah kepada Allah, karena Allah suka jika dimintai.(HR. Tirmidzi)

Namun, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan ketika berdo’a. Karena doa pun ada adabnya.

Pertama. Pilihlah waktu yang tepat untuk berdo’a. Sebenarnya doa itu tidak terkait dengan waktu. Tetapi Islam memang mengajarkan ada waktu yang paling baik dan istimewa untuk berdoa. Yaitu: sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan (malam lailatul qadar), di hari Arafah (9 dzulhijah dikala jamaah haji wuquf di Arafah), di bulan Ramadhan, di hari Jumat, di sepertiga malam yang terakhir (sesudah jam 2 malam), pada waktu sahur (sebelum fajar), sesudah berwudhu, diantara azan dan iqamat, ketika sedang berbuka puasa, ketika dalam medah jihad, di setiap selesai sholat fardhu, pada waktu sedang sujud (dalam sholat atau diluar sholat), ketika sedang musafir atau bepergian, dan sebagainya.

Kedua. Gunakan keberadaan diri kita untuk meraih kesempatan berdoa. Rasul menjelaskan di antara doa mustajab adalah doa orang tua kepada anaknya, atau doa anak yang berbakti dengan baik kepada orang tuanya dan doa seorang muslim untuk saudaranya muslim, tanpa diketahui oleh saudara yang didoakan itu.

“Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya secara diam-diam kecuali malaikat berkata, Dan untukmu seperti yang engkau mintakan untuknya’. (HR. Muslim)

Ketiga. Mulailah berdoa dengan banyak-banyak memuji Allah. “Jika salah seorang di antara kamu berdoa hendaknya memulai dengan memuji dan menyanjung Rabbnya, dan bershalawat kepada Nabi kemudian berdoa apa yang dia kehendaki” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad, disahihkan oleh Albani)

Keempat. Mengangkat kedua tangan. “Sesungguhnya Rabbmu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia. Malu dari hambanya jika ia mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangannya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Albani)

Kelima. Jangan mengeraskan suara, dan harus dengan rasa rendah diri. “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas.” (Al-A’raf [7]: 55). Sedangkan maksud dan ‘melampaui batas’ adalah melampui batas tentang yang diminta dan cara meminta.

Keenam. Konsentrasi dan khusyuk. “Mohonlah kepada Allah sementara kamu sangat yakin akan dikabulkan dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main.” (At-Tirmizi, di hasankan oleh Al-Mundziri dan Albani)

Ketujuh. Tidak tergesa-gesa agar doa itu dikabulkan. “Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa. Yaitu dengan berkata, “Saya telah berdoa tapi tidak dikabulkan. (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk penyakit yang menghalangi terkabulnya dia adalah tergesa-gesa. Menganggap lambat pengabulan doanya sehingga ia malas untuk berdoa lagi”. Padahal bisa jadi antara doa dan jawabnya memerlukan waktu 40 tahun seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Ibnul Jauzi berkata, “Ketahuilah bahwa doa orang mukmin itu tidak akan tertolak, hanya saja terkadang yang lebih utama baginya itu diundur jawabannya atau diganti dengan yang lebih baik dari permintaanya, cepat atau lambat.”

Kedelapan. Berdoalah kepada Allah dalam segala keadaan. “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, ataupun berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia kembali melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampui batas itu mamandang baik apa yang selalu  mereka kerjakan.(Yunus [10]: 12)

Nah, lalu bagaimana dengan doa dan dzikir tahajud? Asim bin Humaid pernah bertanya kepada Aisyah tentang dzikir yang dibaca oleh Rasulullah saat sholat malam. Aisyah menjelaskan bahwa Rasulullah membaca takbir sebanyak 10 kali, tahmid 10 kali, tasbih 10 kali, tahlil 10 kali, dan istighfar 10 kali. Kemudian membaca doa:

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah, ampunilah aku, tunjukilah aku, anugerahkanlah rezeki kepadaku, dan lindungilah aku. Aku berlindung kepada Allah dari keadaan yang susah pada hari kiamat.” (HR. Nasa’i)

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa apabila Nabi sholat malam, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ ، لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ ، وَالنَّارُ حَقٌّ ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ ، وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ ، وَبِكَ خَاصَمْتُ ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ ، فَاغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, Engkaulah Yang Mengurusi langit-langit dan bumi serta siapa pun yang berada di antara keduanya. Hanya milik-Mu segala puji. Milik-Mu segala kerajaan langit dan bumi serta siapa pun yang berada di antara keduanya. Hanya milik-Mu segala puji, Engkaulah Maha raja langit-langit dan bumi. Hanya milik-Mu segala puji. Engkaulah Al-Haq (Yang Maha Benar), janji-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, perjumpaan kepada-Mu adalah benar, surga-Mu benar, neraka-Mu benar, hari kiamat juga benar, seluruh para Nabi adalah benar, Muhammad adalah benar. Ya Allah, untuk-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali. Dengan (ilmu dari) Engkau aku memerangi (musuh-Mu). Kepada-Mu aku berhukum, ampunilah segala dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau atau tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan juga oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Nabi ketika sholat malam memanjatkan doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, perbuatanku yang melampaui batas, dan segala yang Engkau lebih mengetahuinya dari-Ku. Ya Allah, ampunilah keseriusanku dan gurauanku, kesalahanku dan kesengajaanku, semua itu ada padaku. Ya Allah, ampunilah segala dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, serta segala yang engkau lebih mengetahuinya dariku. Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sedangkan Ibnu Abbas, sebagaimana riwayat dari Imam Tirmidzi, pernah mendengar Rasulullah berdoa pada suatu malam setelah menunaikan sholat dengan doa-doa berikut ini:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِى بِهَا قَلْبِى وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرِى وَتَلُمُّ بِهَا شَعَثِى وَتُصْلِحُ بِهَا غَائِبِى وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِى وَتُزَكِّى بِهَا عَمَلِى وَتُلْهِمُنِى بِهَا رَشَدِى وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِى وَتَعْصِمُنِى بِهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ

“Ya Allah, sungguh aku memohon rahmat dari-Mu, yang dengannya (rahmat-Mu) itu aku mohon Engkau menunjukkan hatiku, menyelesaikan urusanku, mengembalikan urusan yang terlepas dariku, membersihkan nuraniku, membimbingku, dan memperbaiki amal perbuatanku, menganugerahkan petunjuk kepadaku, menjadikanku bersikap lemah lembut, serta menjagaku dari segala keburukan.”

اللَّهُمَّ أَعْطِنِى إِيمَانًا وَيَقِينًا لَيْسَ بَعْدَهُ كُفْرٌ وَرَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَامَتِكَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

 “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku keimanan dan keyakinan yang tidak disertai kekufuran, anugerahkan kepadaku rahmat-Mu, sehingga aku dapat meraih kemuliaan di  dunia dan akhirat.”

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْفَوْزَ فِى الْعَطَاءِ وَيُرْوَى فِى الْقَضَاءِ وَنُزُلَ الشُّهَدَاءِ وَعَيْشَ السُّعَدَاءِ وَالنَّصْرَ عَلَى الأَعْدَاءِ

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu keberuntungan dalam karunia-Mu, kehormatan para syuhada’, kehidupan yang bahagia, serta kemenangan atas musuh-musuh Islam.”

اللَّهُمَّ إِنِّى أُنْزِلُ بِكَ حَاجَتِى وَإِنْ قَصَّرَ رَأْيِى وَضَعُفَ عَمَلِى افْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِىَ الأُمُورِ وَيَا شَافِىَ الصُّدُورِ كَمَا تُجِيرُ بَيْنَ الْبُحُورِ أَنْ تُجِيرَنِى مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ دَعْوَةِ الثُّبُورِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقُبُورِ

“Ya Allah, sungguh aku haturkan kepada-Mu segenap kebutuhanku dengan keterbatasan pikiran dan sedikitnya usahaku. Aku sangat membutuhkan rahmat-Mu. Aku mohon kepada-Mu wahai Zat Yang memutuskan segala sesuatu, wahai Zat Yang Menenangkan hati, sebagaimana Engkau menyelamatkanku dari keburukan. Hanya Engkaulah yang dapat menjagaku dari siksa neraka Sair dan dari kehancuran serta dari fitnah kubur.”

 اللَّهُمَّ مَا قَصَّرَ عَنْهُ رَأْيِى وَلَمْ تَبْلُغْهُ نِيَّتِى وَلَمْ تَبْلُغْهُ مَسْأَلَتِى مِنْ خَيْرٍ وَعَدْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ خَيْرٍ أَنْتَ مُعْطِيهِ أَحَدًا مِنْ عِبَادِكَ فَإِنِّى أَرْغَبُ إِلَيْكَ فِيهِ وَأَسْأَلُكَهُ بِرَحْمَتِكَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Ya Allah, betapa pun pendeknya pikiranku dan niatku, serta persoalanku yang tidak smapai pada kebaikan yang telah Engkau janjikan kepada seseorang di antara makhluk-Mu, atau pada kebaikan yang Engkau telah berikan kepada seseorang di antara hamba-Mu. Maka, aku senantiasa mengharapkan-Mu dan merajut serta memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu, wahai Rabb semesta alam.”

 اللَّهُمَّ ذَا الْحَبْلِ الشَّدِيدِ وَالأَمْرِ الرَّشِيدِ أَسْأَلُكَ الأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيدِ وَالْجَنَّةَ يَوْمَ الْخُلُودِ مَعَ الْمُقَرَّبِينَ الشُّهُودِ الرُّكَّعِ السُّجُودِ الْمُوفِينَ بِالْعُهُودِ إِنَّكَ رَحِيمٌ وَدُودٌ وَأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ

 “Ya Allah, Zat yang memiliki tambatan yang kokoh, petunjuk yang lurus, aku memohon kepada-Mu ketenangan pada hari akhir, dan surga yang kekal, bersama orang-orang yang senantiasa beriman, rukuk, sujud, serta menunaikan janji-janji. Sungguh Engkau adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan Engkau akan melaksanakan apa pun yang Engkau kehendaki.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِينَ مُهْتَدِينَ غَيْرَ ضَالِّينَ وَلاَ مُضِلِّينَ سِلْمًا لأَوْلِيَائِكَ وَعَدُوًّا لأَعْدَائِكَ نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ وَنُعَادِى بِعَدَاوَتِكَ مَنْ خَالَفَكَ

 “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk, bukan orang yang sesat dan menyesatkan. Senantiasa dekat dengan para wali-Mu, memusuhi musuh-musuh-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dengan cinta-Mu, dan menjauhi dengan sikap tegas-Mu dari orang-orang yang memusuhi-Mu.”

 اللَّهُمَّ هَذَا الدُّعَاءُ وَعَلَيْكَ الاِسْتِجَابَةُ وَهَذَا الْجَهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلاَنُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِى نُورًا فِى قَبْرِى وَنُورًا فِى قَلْبِى وَنُورًا مِنْ بَيْنِ يَدَىَّ وَنُورًا مِنْ خَلْفِى وَنُورًا عَنْ يَمِينِى وَنُورًا عَنْ شِمَالِى وَنُورًا مِنْ فَوْقِى وَنُورًا مِنْ تَحْتِى وَنُورًا فِى سَمْعِى وَنُورًا فِى بَصَرِى وَنُورًا فِى شَعْرِى وَنُورًا فِى بَشَرِى وَنُورًا فِى لَحْمِى وَنُورًا فِى دَمِى وَنُورًا فِى عِظَامِى اللَّهُمَّ أَعْظِمْ لِى نُورًا وَأَعْطِنِى نُورًا وَاجْعَلْ لِى نُورًا

“Ya Allah, inilah doaku kepada-Mu, aku mohon Engkau mengabulkannya, inilah usahaku, aku mohon Engkau memerhatikannya. Ya Allah, karuniakanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam kuburku, cahaya di depanku dan di belakangku, cahaya di samping kanan dan kiriku, cahaya di atas dan di bawahku, cahaya pada pendengaran serta penglihatanku, cahaya pada rambut dan kulitku, cahaya pada daging dan darah serta tulangku. Ya Allah, agungkanlah cahaya bagiku, anugerahkan dan karuniakanlah cahaya kepadaku.”

 سُبْحَانَ الَّذِى تَعَطَّفَ الْعِزَّ وَقَالَ بِهِ سُبْحَانَ الَّذِى لَبِسَ الْمَجْدَ وَتَكَرَّمَ بِهِ سُبْحَانَ الَّذِى لاَ يَنْبَغِى التَّسْبِيحُ إِلاَّ لَهُ سُبْحَانَ ذِى الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ سُبْحَانَ ذِى الْمَجْدِ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ ذِى الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

 “Mahasuci Zat Yang Mahamulia dan telah berfirman dengannya, Mahasuci Zat Yang Mahatinggi dan telah bersifat dengannya. Mahasuci Zat yang tiada tasbih melainkan hanya untuk-Nya. Mahasuci Zat yang Memiliki keutamaan dan kenikmatan. Mahasuci Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Mahasuci Zat Yang Mahabesar dan Mahamulia.”

***

Demikian pembahasan mengenai sholat tahajud. Simak pembahasan lain mengenai shalat pada kategori tersebut. Ada banyak materi yang membahas tentang shalat dan yang seputar mengenainya.


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.