mukjizat muhammad

22 Mukjizat Rasulullah Muhammad

Mukjizat Rasulullah Muhammad – Mukjizat adalah peristiwa luar biasa –di luar kewajaran manusia biasa— yang dikehendaki Allah swt ada pada seorang rasul dalam rangka melemahkan hujah orang-orang yang menentangnya. Mukjizat telah menjadi bagian integral dalam perjalanan dakwah para nabi, termasuk juga Nabi Muhammad saw.

Mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw adalah al-Quran. Dengannya, beliau menantang kaum Quraisy untuk membantah kebenaran ajaran yang dibawanya. Kendati juga beliau saw pun memiliki mukjizat-mukjizat lainnya yang bersifat inderawi (dapat dilihat secara fisik).

 

Al-Quran

Al-Quran adalah mukjizat terbesar kepada Nabi saw. Dengannya, Nabi menantang orang-orang yang tidak percaya akan kebenaran Islam untuk membuat sebuah surah yang sekualitas dengannya.

Al-Quran merupakan mukjizat Nabi saw yang abadi. Aspek-aspek kemukjizatannya tak pernah mati. Sampai hari ini al-Quran tetap terjaga dan terus menantang manusia-manusia yang angkuh untuk menandinginya. Namun hingga detik ini, tidak satu pun orang yang bisa menandingi keluarbiasaan al-Quran. Diksinya adalah mukjizat. Intonasinya juga mukjizat. Hukum-hukum yang terkandung di dalamnya pun mukjizat. Dan yang paling penting, informasi-informasi ilmiah di dalamnya yang nyatanya setelah berbelas abad lamanya dapat dibuktikan secara ilmiah bahwa informasi-informasi tersebut benar.

Berbeda dengan kemukjizatan Rasulullah saw yang lain, yang sifatnya hissiyah (inderawi; dapat dilihat secara fisik). Mukjizat-mukjizat tersebut pengaruhnya cepat menghilang setelah kejadian.

 

Isra-Mikraj

Banyak peristiwa “ajaib” terjadi pada malam Isra-Mikraj. Sebut saja, misalnya, Rasulullah bersama Jibril menaiki Buraq yang sekali melesat lesatannya sejauh mata memandang. Rasulullah saw pun tidak butuh waktu lama untuk menempuh perjalanan yang amat jauh itu. Beliau menempuhnya cukup semalam atas dampingan Jibril dan tentunya berkat pertolongan Allah swt.

Kemukjizatan Isra-Mikraj ini sedikit istimewa. Ia menjadi batu ujian yang membedakan antara mukmin dengan munafik. Memang sulit mengambil sikap mengiyakan perjalanan Rasulullah dengan logika berpikir saat itu. Bagaimana mungkin menempuh perjalanan dari Mekah ke Yerusalem hanya beberapa saat –jauh sebelum lahirnya teknologi pesawat terbang. Namun justru di sinilah umat muslim diuji kebenaran imannya.

 

Membelah Bulan

Mukjizat pembelahan bulan terjadi ketika kaum kafir Mekah meminta Rasulullah saw membuktikan kenabiannya dengan menunjukkan suatu kekuatan luar biasa kepada mereka. Nabi saw lantas menunjuk bulan dengan jarinya dan seketika bulan pun terbelah menjadi dua. Setelah beberapa saat, bulan yang sudah terbelah itu kembali menyatu. Namun, bagaimanapun, orang-orang kafir menilai kejadian itu sebagai sihir.

 

Berita Kemenangan Romawi Atas Persia

Musyrik Quraisy Mekah merasa gembira karena sebelumnya bangsa Romawi sempat dikalahkan oleh bangsa Persia. Mereka memang mendukung Persia dengan harapan kedigdayaan Persia bisa menghentikan gerakan Islam yang baru lahir saat itu.

Namun mereka salah membaca tanda-tanda zaman. Sebaliknya, berdasarkan wahyu, Rasulullah saw memprediksikan –bahkan menjamin pasti— bahwa Romawi akan mengalahkan Persia.

Apa yang diprediksikan Rasulullah saw berdasarkan wahyu itu benar-benar terjadi. Pada Perang Issus, Kaisar Heraklius membawa pasukannya menusuk dan melumpuhkan jantung kekuatan Persia.

 

Pembelahan Dada dan Penyucian Hati

Jantung hati secara simbolis adalah tempat ilmu pengetahuan dan perasaan cinta kasih, juga tempat tersimpannya sifat-sifat utama seorang manusia. Jantung hati Rasulullah saw telah disucikan malaikat semenjak beliau kecil. Hati itu dicuci dengan air zamzam, sebaik-baik air di muka bumi.

Peristiwa pembelahan dada dan penyucian hati ini memang sedikit mencengangkan. Orang-orang mengira Muhammad saw dibunuh. Namun setelah kejadian, justru Muhammad dalam keadaan baik-baik saja bahkan makin ceria.

 

Terungkapnya Rencana Pembunuh Atas Muhammad Saw

Segala macam cara telah dikerahkan kaum Quraisy demi menghalangi tersebarnya ajaran Muhammad saw. Namun, bertambah hari justru pengikut Muhammad saw juga makin bertambah. Dalam keputusasaan, seluruh pemuka suku Quraisy kemudian bersepakat untuk membunuh Nabi Muhammad saw.

Rencana yang sudah mereka susun sedemikian matang dan mereka rahasiakan sedemikian rapat itu, tetap diketahui Rasulullah saw melalui perantaraan wahyu. Maka Nabi saw segera berdiskusi dengan Abu Bakr dan Aly untuk merumuskan strategi guna menghindari kondisi mencekam itu.

 

Terbongkarnya Rencana Jahat Bani Nadhir

Di Madinah, musuh-musuh Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengganggu Rasulullah saw dalam menyebarkan dakwah Islam. Suatu saat Nabi Muhammad saw bersama sepuluh sahabat pergi ke Bani Nadhir untuk merundingkan cara pembayaran diyat (denda) atas pembunuhan dua orang oleh Amru ibn Umayyah. Sebagian uang itu juga harus disumbangkan oleh Bani Nadhir.

Mereka menyambut Rasulullah saw dengan menunjukkan keramahan dan mempersilakannya duduk bersandar pada sebuah tembok tinggi. Mereka tampak setuju untuk membayar bagian mereka tetapi diam-diam menyuruh Amru ibn Jahsy naik ke atas tembok untuk melemparkan batu besar ke arah Nabi saw.

Rasulullah saw merasakan rencana jahat ini dan langsung bangun dari tempat duduknya lalu segera kembali ke Madinah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

Lolos dari Rencana Pembunuhan Quraisy

Satu malam sebelum peristiwa hijrah, Quraisy menyelenggarakan rapat darurat di Darun Nadwah yang dihadiri oleh semua pemuka kabilah Quraisy, guna membahas cara paling jitu untuk menghentikan gelombang hijrah orang muslim ke Yatsrib. Mereka menyadari bahwa sumber bara api ini adalah Muhammad saw, maka Muhammad-lah yang harus dihentikan. Namun, dengan cara apa Muhammad saw dihentikan? Berbagai usulan cara diajukan, hingga akhirnya disepakatilah usulan untuk membunuh Muhammad saw.

Eksekusi rencana tersebut akan dijalankan pada malam berikutnya. Siang harinya, sebelum eksekusi, Nabi Muhammad saw sudah mengetahui rencana jahat Quraisy melalui wahyu dari Allah, padahal rencana tersebut ditutup rapat oleh Quraisy sehingga tidak ada seorang pun yang tahu. Maka beliau menemui Abu Bakr dan memintanya untuk bersiap-siap menyertai beliau berhijrah. Sebelum pemuda-pemuda perwakilan Quraisy mengepung rumah Rasulullah saw, Abu Bakr dan Aly telah hadir di rumah Nabi saw untuk mendiskusikan strategi terbaik melakukan hijrah. Malam hari ketika para pemuda Quraisy sudah mengepung rumah Rasulullah, penghuni rumah juga segera melaksanakan strategi yang sudah mereka persiapkan.

Aly ra diminta tidur di tempat tidur Rasulullah saw. Sementara Rasulullah saw dan Abu Bakr ra mengendap-endap keluar rumah. Pemuda-pemuda Quraisy yang mengepung rumah Rasulullah tidak melihat mereka berdua berjalan keluar. Mereka berdua lolos dari pengepungan tersebut. Sementara para pemuda Quraisy mengira Rasulullah masih berbaring di tempat tidurnya. Mereka masih tetap menunggu sampai Subuh tiba karena Rasulullah saw pasti akan keluar pada waktu itu. Apa yang mereka prediksikan meleset, sebab Rasulullah saw sudah tidak ada di dalam rumah itu.

 

Gua Seolah Tak Dimasuki Orang

Di tengah kejaran Quraisy setelah menyadari bahwa Muhammad saw dan Abu Bakr ra kabur, beliau berdua masuk ke dalam gua Tsur lantaran gentingnya situasi. Sesaat setelah mereka berdua masuk, seekor laba-laba dengan cepat membuat sarang yang membentang tepat di mulut gua.

Tak lama kemudian para pengejar Quraisy sampai juga di mulut gua. Menyaksikan bentangan sarang laba-laba, mereka berpikir tidak mungkin mulut gua ini dilewati manusia. Maka mereka bergegas pergi tanpa memandang ke bawah apakah ada jejak kaki di tanah.

 

Usapan Tangan yang Mengeluarkan Susu

Rasulullah saw dan Abu Bakr al-Shiddiq terus melanjutkan perjalanan hijrah mereka hingga sampai di tenda milik Ummu Ma‘bad. Ummu Ma‘bad dikenal sebagai wanita yang murah hati dan berusaha menghormati setiap tamu yang beristirahat di pepohonan di dekat tendanya dengan mempersiapkan makanan dan minuman. Namun saat itu ia tidak punya bahan makanan untuk dihidangkan. Ketika itu sedang masa paceklik dan domba-dombanya sangat kurus.

Rasulullah saw memandangi kambing betina di samping Ummu Ma‘bad; seekor kambing tua yang sudah tidak melahirkan anak dan tidak lagi bisa memberikan susu. Rasulullah saw meminta izin untuk memerah susu dari kambing tersebut. Ummu Ma‘bad mengizinkannya, memberikan kesempatan bagi tamunya untuk melakukan suatu usaha. Nabi saw mulai mengusap kantong kelenjar susu kambing tersebut, melafalkan bismillah, dan berdoa.

Dalam sekejap kantong susu yang tadinya kempes tiba-tiba menggelembung dan membesar. Kantong susu itu pun lantas memancarkan air susu yang melimpah. Mereka bisa minum susu sampai kenyang, bahkan tersisa sebanyak satu bejana yang ditinggalkan untuk minum Ummu Ma‘bad dan suaminya. Ummu Ma‘bad hanya bisa terbengong-bengong dan memuji Allah atas apa yang ia lihat.

 

Ucapan Salam Pohon dan Batu

Aly ibn Abu Thalib ra meriwayatkan, beliau membersamai Nabi saw di Mekah pada sebuah hari. Setiap kali mereka berjalan melewati batu dan pohon, batu dan pohon mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah (semoga keselamatan selalu menyertaimu, Rasulullah).” (HR. Muslim).

 

Pohon Berpindah Tempat

Ibn Abbas ra meriwayatkan, seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah saw dan bertanya, “Bagaimana saya bisa tahu bahwa Anda seorang nabi?” Rasul saw menjawab, “Dengan kesaksian pohon kurma itu.” Si Arab Badui setuju.

Rasulullah saw kemudian memanggil pohon kurma yang dimaksud dan pohon itu pun bergerak menghampiri beliau saw. Bahkan selanjutnya pohon itu merunduk di hadapan beliau.

Setelah itu, Rasulullah saw menyuruh pohon itu kembali lalu ia pun kembali ke tempatnya semula. Si Arab Badui memeluk Islam saat itu juga dan di situ juga. (HR. Tirmidzi).

 

Tangisan Batang Pohon Kurma

Jabir ra meriwayatkan, dalam setiap penyampaian khutbah Nabi saw biasa bersandar pada sebatang pohon kurma. Ketika para sahabat membuatkan mimbar untuk Rasulullah saw, beliau berkhutbah di atas mimbar itu.

Batang pohon kurma yang sebelumnya dipakai Nabi saw untuk berkhutbah, meraung dan menangis tersedu-sedu sampai hampir terbelah. Nabi saw turun dari mimbar lalu menepuk-nepuk dan memeluknya. Pohon kurma itu mulai merengek seperti anak kecil hingga menjadi tenang.

 

Baca juga: Muslim Muda Era Rasulullah, Apa Peran Mereka?

 

Jemari Memancarkan Air

Jabir ra meriwayatkan, pada perjanjian Hudaibiyah orang-orang merasa kehausan. Mereka menghampiri Nabi saw untuk meminta air. Air dalam bejana hanya tinggal sedikit.

Rasulullah saw lantas berwudhu. Setelah itu beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, dan air pun memancar dari sela-sela jemari beliau seperti mengalirnya air dari mata air. Orang-orang dapat minum sepuasnya dan berwudhu, padahal jumlah mereka seribu lima ratus orang. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Isi yang Diambil Tak Kunjung Habis

Diriwayatkan oleh Imran ibn Husain, ketika Rasulullah saw bepergian bersama para sahabat untuk suatu keperluan, di tengah perjalanan malam, para sahabat kehausan. Maka Rasulullah saw mengutus Aly dan Zubair untuk mencari air. Beliau berpesan pada keduanya, bahwa mereka akan menemui seorang wanita di suatu tempat, mempunyai seekor onta dan membawa dua wadah air dari kulit.

Aly dan Zubair segera berangkat menyusuri jalan sesuai petunjuk Rasulullah saw. Tibalah mereka di suatu tempat dan bertemu dengan wanita sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan Rasulullah saw tadi. Mereka mengajak wanita itu datang menemui Rasulullah, dan si wanita setuju.

Setibanya wanita tersebut di hadapan Rasulullah saw, beliau menyuruh para sahabat menyiapkan wadah mereka. Setelah semua wadah air milik para sahabat disiapkan, Rasulullah saw mengambil air yang terdapat dalam dua wadah milik wanita tadi. Air tersebut dituangkan ke seluruh wadah milik para sahabat.

Wanita pemilik air sangat terkesima melihat kejadian itu. Ia takjub menyaksikan airnya yang hanya dua wadah itu mampu mengisi beberapa wadah milik para sahabat sampai penuh.

Setelah semua wadah terisi penuh, Rasulullah saw mengembalikan dua wadah air milik wanita tadi. Betapa terkejutnya wanita itu melihat airnya masih penuh, tidak berkurang sedikitpun.

 

Menyuruh Gilingan Tepung Berputar Sendiri

Dituturkan oleh Abu Hurairah ra, suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumah Fatimah karena ada suatu keperluan. Di dalam rumah tersebut beliau bertemu putrinya sedang menggiling biji gandum dengan menangis tersedu-sedu.

Fatimah, apa yang menyebabkan kamu menangis?” tanya Rasulullah saw setelah melihat kejadian di depan matanya.

“Aku menangis karena sangat lelah menggiling tepung juga melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah sendiri,” jawabnya.

“Ayah, bisakah Ayah menyuruh Aly agar membeli budak perempuan untuk membantu meringankan pekerjaan rumahku?” lanjutnya.

Mendengar pengaduan putrinya, Rasulullah saw bangkit berdiri mendatangi gilingan tepung. Beliau mengambil biji-biji gandum, memasukkannya ke gilingan tepung, lalu mengucap bismillah, dan seketika gilingan tepung itu berputar sendiri. Padahal teknologi gilingan tepung di masa itu harus dilakukan secara manual, tangan harus selalu memutar untuk melakukan penggilingan.

Rasulullah saw tersenyum dan berkata pada Fatimah, “Jika Allah menghendaki, gilingan ini bisa berputar sendiri sebanyak yang kau kehendaki, tanpa menggunakan bantuan tenagamu. Tetapi Allah menghendaki kamu tetap dalam kebaikan, sebab kebaikan yang kau lakukan dapat menghapus seluruh keburukanmu, sekaligus mengangkat derajatmu.”

 

Menghilang di Hadapan Pembunuh

Kemasyhuran dakwah Islam membuat para pemimpin negara tetangga mengirim utusan untuk mendengarkan ajaran yang Muhammad saw bawa. Utusan-utusan tersebut datang dari berbagai daerah di Jazirah Arab. Oleh sebab itu, tahun ke-9 H dikenal dengan sebutan ‘Amul Wufud (Tahun Utusan).

Ternyata tidak semua utusan berniat baik. Ada seorang utusan bernama Amir ibn Thufail –utusan dari Bani Amir yang memang sudah sejak lama tidak senang dengan ajaran Islam—  justru bermaksud membunuh Nabi saw. Ia bersekongkol dengan temannya, Ibad ibn Qais.

Amir dan Ibad diterima oleh Rasulullah saw di sebuah ruangan. Mereka berbincang tentang masalah-masalah keagamaan. Ketika mendapatkan momennya, Amir memberi kode pada Ibad. Ibad pun memahami, bergerak ke arah belakang Rasulullah saw.

Di belakang Rasulullah, Ibad segera menghunuskan pedangnya. Namun, ia tidak kunjung menebas Rasulullah saw. Malahan ia seolah kebingungan mencari buruannya yang mendadak hilang.

Selesai pembicaraan, dua orang tersebut keluar ruangan. Amir jelas marah-marah kepada Ibad karena tak kunjung menebaskan pedangnya kepada Muhammad saw. Tetapi Ibad punya alasan, setiap kali pedang akan ditebaskan, tubuh Rasulullah mendadak hilang dan yang ia lihat justru hanya Amir.

 

Membuat Tangan Abu Jahal Kaku

Peristiwa ini bermula dari kedengkian Abu Jahal setiap kali melihat Muhammad saw mengerjakan shalat di dekat Kakbah. Sampai-sampai ia mengeluarkan ucapan sumpah, “Jika aku melihat Muhammad melakukan shalat lagi, pasti akan kujatuhi kepalanya dengan batu hingga dia tewas.”

Sumpahnya rupanya bukan bualan semata. Ia benar-benar akan melakukannya ketika melihat Muhammad saw melakukan shalat lagi di dekat Kakbah. Kemarahan Abu Jahal meluap sampai ke ubun-ubun. Ia buru-buru mengambil sebuah batu besar dan diangkatnya tinggi-tinggi, hendak dijatuhkan ke kepala Rasulullah saw. Ketika batu itu siap dijatuhkan, tangan Abu Jahal mendadak kaku, tak bisa bergerak. Tangan tersebut tetap menjulur ke atas, sedangkan batu yang digenggamnya tetap berada di tangannya, tak bisa dijatuhkan.

Kondisi Abu Jahal baru kembali normal setelah Rasulullah saw memaafkannya.

 

Mengetahui Siksa Kubur

Umar ibn Khathab ra menuturkan, suatu pagi dia mendapati Rasulullah saw sedang duduk menangis ditemani Abu Bakr yang juga ikut menangis. Umar bertanya apa sebab yang membuat mereka berdua menangis.

Aku menangis karena temanmu ini (Abu Bakr) mengusulkan padaku untuk menerima uang tebusan (pembebasan tawanan). Kini telah diperlihatkan (oleh Allah) kepadaku azab yang nyaris menimpa kalian. Azab tersebut tampak lebih dekat dari pohon ini,” jawab Rasulullah saw sambil menunjuk sebatang pohon yang tak jauh darinya.

 

Mencerdaskan dalam Sekejap

Abu Hurairah adalah seorang sahabat yang semulanya sangat pelupa terhadap segala hal yang baru didengarnya. Ia sangat mencemaskan sifat pelupanya ini, karena Rasullah senantiasa menyampaikan hadits-hadits penting.

Kelemahannya itu akhirnya disampaikan kepada Rasulullah saw. Oleh Rasulullah, dia diminta membentangkan sorbannya. Setelah sorbannya dibentangkan, Rasulullah saw seolah menciduk sesuatu dengan kedua tangannya untuk dimasukkan ke sorban tersebut. “Lipatlah,” suruh Rasulullah. Abu Hurairah pun melipat sorbannya.

Setelah kejadian tersebut, Abu Hurairah tak pernah lupa lagi. Bahkan dia menjadi sahabat yang hafalan haditsnya paling banyak.

 

Pantulan Cahaya untuk Sekitarnya

Anas ra meriwayatkan, ada dua orang sahabat Nabi saw keluar dari majelis beliau setelah menerima pelajaran agama. Berjalan pulang di tengah malam yang gulita, mereka berdua bagaikan lampu yang menyinari jalan. Tatkala keduanya berpisah karena mengambil arah berbeda menuju rumah masing-masing, tubuh masing-masing mereka masih tetap memancarkan sinar sampai tiba di rumah.

Sebelumnya, kedua sahabat ini datang ke majelis Nabi saw dalam keadaan tidak bersinar. Setelah berkumpul dalam satu majelis dengan Nabi saw, mereka berdua terkena pantulan cahaya Rasulullah saw sampai pulang ke rumah.

 

Tubuh Memancarkan Nyala Api dan Petir

Dalam perang Hunain, di antara muslim yang ikut serta dalam pasukan kafir ada Syaibah ibn Utsman ibn Thalhah, yang ayah dan pamannya terbunuh dalam perang Uhud. Keikutsertaan Syaibah dalam perang Hunain untuk membalas dendam atas kematian bapak dan pamannya.

Target utamanya adalah membunuh Rasulullah saw. Pedang yang dibawa ia asah tajam-tajam sehingga nanti diharapkan dapat memisahkan kepala Rasulullah saw dari tubuhnya hanya dengan sekali tebas.

Ketika perang sudah berkecamuk, dia terus mengamati pergerakan Rasulullah saw. Akhirnya momen yang dia tunggu-tunggu datang juga. Dia menghunus pedangnya mendekati Rasulullah saw. Begitu dekat, Syaibah langsung melancarkan serangan, namun tiba-tiba ada nyala api keluar dari tubuh Rasulullah saw laksana petir menyambar-nyamar dan nyaris membakar kulit wajah Syaibah. Syaibah menutup wajahnya dengan penuh ketakutan. Dia menghindarkan diri dari Rasulullah saw sejauh mungkin.

Setelah perang usai, Rasulullah saw mengundang Syaibah. Ia datang menemui beliau dengan perasaan takut. Rasulullah mengusap dada Syaibah dan berdoa, “Ya Allah, lindungilah dia dari bisikan setan.”

Sejak itu Syaibah tidak lagi dendam pada Rasulullah saw. Dia sangat mencintai beliau, bahkan selanjutnya berjuang bersama-sama beliau. []

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.