merawat jiwa imani tetap meninggi

Merawat Jiwa Imani Tetap Meninggi

Asmahah bin Ajbar mempunyai seorang paman yang sebapak dengan ayahnya, yang memiliki dua belas orang anak laki-laki. Dikarenakan intrik kerajaan, dibunuhlah ayah dari Asmahah yang merupakan raja saat itu. Karena Asmahah saat itu masih kecil, diangkatlah pamannya untuk menjadi raja. Asmahah pun kemudian diasuh sendiri oleh pamannya. Tapi, Asmahah tumbuh sebagai seorang yang cerdas, berkepribadian luhur, dan banyak wawasan. Karena takut Asmahah akan membalas dendam kematian ayahnya. Berembuklah para pejabat di kerajaan.

‘‘Ternyata, anak ini di luar dugaan. Kami khawatir, jika besar nanti, saat dia jadi raja, dia akan membalas ulah kami. Karena dia tahu, kamilah yang membuat makar untuk membunuh ayahnya.”

Demi mendengar hal tersebut. Raja berkomentar, ‘‘Jahat benar kalian ini. Dahulu, kalian membunuh ayahnya. Sekarang, kalian memintaku untuk membunuhnya. Lebih baik, kita asingkan saja dia.”

Dijuallah Asmahah ke seorang pedagang Arab dari kabilah Bani Dhumairah. Di sana, ia menggembala kambing tuannya. Bahkan, ia pernah sampai pula ke lembah Badar ketika dalam masa penggembalaannya. Di negeri Arab tersebut, Asmahah belajar bahasa dan adat istiadat bangsa tersebut. Ia tinggal cukup lama di daerah tersebut.

Suatu kali, sang raja yang mengusir Asmahah berdoa di lapangan meminta hujan. Maklum, kekeringan panjang sedang melanda negerinya. Malang, hujan turun, dan ia sendiri malah tewas tersengat lecutan halilintar.

Kebingunganlah para pejabat kerajaan. Siapa pengganti raja. Karena, di antara dua belas putera raja tersebut, tak ada yang layak dan mampu menjadi penggantinya.

Setelah lama berdebat. Keputusan tiba, mereka sepakat untuk mengangkat Asmahah menjadi raja. Mengingat segala kecakapan yang dimilikinya.

Dicarilah Asmahah di seluruh Arab. Setelah pencarian yang melelahkan, ditemukanlah Asmahah, dan sesegara mungkin dinobatkan sebagai raja. Sebagai pewaris asli ayahnya.

Siapakah Asmahan bin Ajbar ini?

Dialah manusia berkepribadian mulia yang pernah dipuji Rasulullah, ‘‘Pergilah kalian ke negeri Habasyah. Di sana rajanya tidak pernah melakukan kezhaliman kepada siapapun. Itulah negeri kejujuran, sampai Allah membukakan jalan keluar bagi kalian.”

Yah. Asmahah bin Ajbar adalah An-Najasyi. Gelar raja bagi negeri Ethiopia. Habasyah. Ia yang telah melindungi kaum muslimin dari siksaan berat kaum musyrikin. Dialah yang saat kematiannya, Jibril memberitahukan langsung kepada Rasulullah, yang kemudian beliau bersama para sahabat melaksanakan shalat jenazah dari jauh.

‘‘Ayolah kalian keluar dan shalat kepada saudaramu yang meninggal di luar negeri nan jauh di sana.”

Rasulullah keluar menuju Baqi’ untuk melaksanakan shalat di sana. Dan Allah memperkenankan beliau untuk melihat Najasyi terbaring di tempat tidurnya di kerajaannya, saat itu pula.

Air mata membanjiri negeri penuh kemuliaan tersebut. Penduduknya kehilangan pemimpin yang tak setiap masa mau melahirkan yang seperti dia.

‘‘Mohonkanlah ampunan atas segala kesalahan dan kealpaannya!’’ doa Rasulullah untuk Najasyi.

Orang-orang kafir mencomooh Nabi ketika melihat hal tersebut. ‘‘Lihatlah, ia shalat kepada seorang kafir bangsa Habsyi yang beragama Kristen, tidak pernah dilihatnya, dan tidak pula seagama dengannya!’’

Turunlah firman Allah, “Sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah. Dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pehala di sisi Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.” (Ali-Imran: 199)

Asmahah, mendapatkan dua pujian langsung, dari Rasulullah dan Allah lewat ayat Al-Qur’an. Subhanallah. Karena Asmahah telah membantu awal-awal perjuangan kaum muslimin. Karena Asmahah memiliki kepribadian mulia. Ia, walau telah terbuang, kembali lagi ke istana, dan menjadi raja yang adil dan pemaaf. Seluruh aparat kerajaan menyukainya, seluruh rakyat pun mencintainya.

 

Membeningkan Visi Ukhrawi

Rasulullah Muhammad telah diciptakan sebagai makhluk yang agung sebelum beliau menerima wahyu dan menjadi Rasul. Sejak kecil, beliau tak pernah menyembah berhala-berhala sebagaimana adat orang-orang di sekitarnya. Sejak kecil, beliau telah terkenal sebagai orang jujur dan setia, dicintai, dan juga menarik hati kaumnya. Bahkan, gelar Al-Amin telah melekat pada dirinya, dengan arti: dapat dipercaya. Keutamaan-keutamaan sejak mudanya tersebut kemudian menarik hati seorang wanita kaya raya serta memiliki kedudukan dan keturunan yang terpandang untuk menikahinya; Khadijah binti Khuwailid.

Sejak mudanya, Rasulullah sangat antipati terhadap kezaliman dan penindasan terhadap kaum yang lemah. Oleh itulah, beliau sangat bersemangat turut serta dalam Hilful Fudhul, yaitu sebuah janji setia di kalangan bangsa Arab pada masa jahiliyah. Sebuah perjanjian yang bermula ketika seorang lelaki dari Zubaid, Yaman, yang menjual dagangannya kepada Al-Ash bin Wail As-Suhaimi. Akan tetapi, Al-Ash berlaku curang soal harga. Kemudian, lelaki tersebut menyenandungkan syair kepiluan hingga di dengar oleh Bani Hasyim, yang kemudian mengajak untuk mengadakan perjanjian yang disebut dengan Hilful Fudhul. Dengan perjanjian tersebut, siapa saja yang teraniaya di Makkah, baik pribumi maupun pendatang akan dibela. Pihak-pihak yang berbuat aniaya dan curang akan dituntut agar mengembalikan hak-hak mereka yang telah dirampas dari pemiliknya.

“Perjanjian di rumah Abdullan bin Ju’dan,” kata Rasulullah mengenai perjanjian tersebut, “lebih kusukai daripada unta yang bagus. Seandainya dalam Islam ini aku diundang untuk keperluan serupa, niscaya akan kupenuhi.” Menolong, membantu, dan menciptakan perdamaian sepertinya telah mendarah daging dalam diri Rasulullah sejak mudanya.

Rasulullah dilahirkan di tengah-tengah lingkungan keluarga yang berkuasa secara turun-temurun di Makkah, yaitu kaum Quraisy. Mulai dari Hasyim, Abdu Manaf, dan juga Qushaiy. Bahkan, semua budak tunduk pada Qushaiy dan beliaulah yang mengendalikan kekuasaan di Makkah. Kaum Quraisy memiliki hak prerogatif untuk mengendalikan agama bangsa Arab, melindungi berhala-berhala, mengurus Ka’bah, menyediakan air minum dan makanan untuk para peziarah, dan berbagai kedudukan terpandang lainnya di seluruh negeri.

Di antara anak cucu Abdi Manaf, Bani Hasyim dan Muthalib, beliau mendapatkan pemeliharaan yang belum pernah didapatkan oleh seorang pun dalam keluarga tersebut semasa masih kanak-kanak. Bahkan, beliaulah satu-satunya anak yang pernah duduk di hamparan kakeknya yang saat itu berperan sebagai pemuka kaum.

Kisahnya, yaitu ketika sebuah hamparan dibentangkan untuk Abdul Muthallib di bawah bayang-bayang Ka’bah. Anak cucu Abdul Muthallib duduk di sekitar hamparan tersebut, menunggu sampai orang tua itu keluar. Tak seorang pun berani duduk di atas hamparan karena terhalang oleh rasa hormatnya kepada orang tua itu. Kemudian, tiba-tiba datanglah Muhammad kecil. Ia duduk begitu saja di atas hamparan kakeknya. Tentu saja, paman-pamannya segera menariknya supaya mundur, tetapi Abdul Muthallib mencegahnya, “Biarkanlah anakku itu, demi Allah, dia mempunyai kedudukan tersendiri.” Bahkan, Abdul Muthallib kemudian mendudukkan Muhammad kecil di sampingnya dan mengelus-elus punggungnya. Abdul Muthallib merasa senang sekali melihat apa yang dilakukan oleh Muhammad kecil.

Di lain waktu, ketika sang paman, Abu Thalib bersiap-siap pergi ke Syam, Muhammad kecil memeluknya erat karena ingin ikut serta. Abu Thalib merasa iba dan berkata kepadanya, “Demi Allah, aku akan pergi bersamamu dan takkan kupisahkan lagi dia selama-lamanya dariku.” Lalu, mereka berdua pun menempuh perjalanan panjang perniagaan menuju Syam.

Perlakuan baik dari kakek dan paman yang memeliharanya sejak kecil ini sudah sangat layak kalau membuat Muhammad mengikuti agama yang dipeluk oleh keduanya. Akan tetapi, jiwanya memiliki kecenderungan terhadap kebenaran. Makanya, beliau ber-tahannus di Gua Hira’, mencari kebenaran yang menggelisahkannya.

Rasulullah tidaklah pernah memimpikan untuk menjadi penguasa dengan berbekal kedudukan nenek moyangnya. Bahkan, setelah risalah kenabian terpikul di pundaknya, beliau menyerukan untuk merobohkan tatanan keagamaan yang menyimpang tersebut. Dan menyerukan persaksian bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb dan dirinya adalah utusan Allah. Tentu saja, penolakan dengan hebat terjadi.

Oleh karena itulah, kaum Quraisy menugaskan beberapa tokoh terpandangnya untuk mengancam Abu Thalib dan memintanya agar mencegah kemenakannya melanjutkan dakwah.

“Kaumku telah mengancamku,” kata Abu Thalib kepada Rasulullah, “oleh sebab itu, engkau kuminta menghentikan kegiatanmu. Janganlah engkau membebaniku dengan sesuatu yang tak mampu kupikul.” Pilu suara Abu Thalib.

“Duhai Paman,” kata Nabi, “demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan tugas ini, sungguh aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah membuktikan kemenanganku atau aku harus binasa karenanya.” Setelah berkata demikian, Rasulullah lalu beranjak pergi seraya berurai air mata.

Abu Thalib tersentak. Dipanggilnya lagi kemenakan kesayangannya tersebut. “Kemarilah anak saudaraku. Pergi dan katakanlah apa saja yang kausukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun.”

Yah, itulah Rasulullah Muhammad saw. Sosok agung yang setiap mimpi, harapan, dan juga aksi-aksinya senantiasa agung pula. Selawat dan salam tercurah kepadanya: allahumma shalli ala Muhammad.

Mengaca kepada Rasulullah berarti mengaca tentang hal-hal besar yang menjadi tujuan dan mengaca kepada sekuat upaya beliau untuk menyelesaikan dan mewujudkannya. Selama tugas kerasulannya, Rasulullah selalu menyelesaikan apa yang menjadi visi-visinya untuk meninggikan kalimah Allah.

Risiko bagi kita yang berpikir besar adalah selalu disalahpahami dan disalahmengerti. Ketika pikiran kita fokus pada hal-hal besar dalam hidup, maka hal-hal kecil akan terselesaikan dengan sendirinya. Ketika pikiran kita berpikir hal-hal kecil, kita akan menjadi sosok yang gampang tergoda, bertoleh, dan berhenti seketika. Karena tidak ada hal besar yang menjadi tujuan, yang ada hanyalah remeh-temeh yang sebenarnya tak membutuhkan banyak usaha untuk mewujudkannya. Hanya hal-hal besar yang menjalar di pikiran. Di sanalah, kemudian segala tutur, setiap laku, perlahan menata bata untuk menguatkan fondasi mewujudkan hal besar tersebut. Seolah tanpa sela. Seakan tanpa jeda. Dan saat selesai, memulai untuk berpikir dan mewujudkan hal besar lagi. Satu bangunan selesai, masih banyak yang perlu diselesai pula.

“Maka, apabila kamu telah selesai, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.”  (Al-Insyirah: 7–8)

Itulah kemudian kita mendapati generasi muda, bila mereka tak dibiasakan untuk memikirkan kejayaan peradaban Islam atau hal-hal besar yang dapat mendukung tegaknya bendera dakwah dengan gagah, yang ada hanyalah pikiran melankolik dan kisah cinta yang tiada berakhir ujungnya.

Saat pikiran besar tak menguasai diri, hal-hal kecillah yang kemudian mengambil perannya.

Allah mengajarkan kita dengan firman-Nya:

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 46)

Maka, visi selalu menjelma arah. Visi yang benar mengajarkan bahwa kita bolehlah salah jalan, tapi tak boleh salah tujuan. Visi membuat kita bergegas, sedangkan yang tanpa visi akan bingung, berjalan serampangan, dan asal sampai di mana saja. Hidupnya acak. Harapan-harapannya pun tentu saja: amburadul.

 

Mengenali Kadar Diri

“Kebahagiaan, kesengsaraan, kegelisahan, atau ketenangan seorang manusia bersumber dari dirinya. Sesungguhnya, dialah yang member warna kegembiraan atau kemurungan pada kehidupan, seperti berubahnya warna cairan sesuai dengan warna bejana yang mewadahinya,”  kata syaikh Muhammad Al-Ghazali

Di setiap jalan gelap kehidupan, kita butuh lentera yang akan menerang jalan. Agar tujuan tak hilang. Agar perjalanan terjauhkan dari aral rintangan. Lentera itu adalah ilmu. Ilmu yang akan mendekatkan diri kepada-Nya, dan mendapatkan bimbingan-Nya agar tak salah jalan, dan tak hilang tujuan.

Mengaca diri, berarti menelisik segala kekurangan dan kelebihan diri. Tak ada manusia yang sempurna segala-galanya. Lalu, jika kita tengah mengaca dan mendapati sekian banyak kekurangan, yakinlah bahwa kita adalah manusia. Justru akan begitu sangat aneh ketika kita mendapati diri tak kekurangan suatu apapun. Jangan-jangan, kita ini manusia atau bukan.

Dalam diri, selalu ada sisi kurang, dan selalu ada sisi lebih. Hamba-hamba yang mengerti tentang keadaan diri sebenarnya, tidak menjadikan masalah di sisi kurang itu. Akan tetapi, mereka melesat-tinggikan sisi lebih itu. Maka benarlah, ketika Sang Nabi berujar di suatu kali, “Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar dirinya.”

Mengaca diri, berarti mengerti akan segala kemampuan diri. Mengerti akan segala yang dapat menjadikan kita melangkahi hidup dengan segala yang telah Dia beri. Dengan begitu, kita benar-benar dapat menjawab siapa diri ini. Dengan begitu, kita tak menjadi seorang musafir yang tak kenal siapa orang yang kita jumpai. Dan jika kita adalah sang musafir, maka orang yang kita jumpai itu adalah diri kita, ketika kita mengaca diri.

Dengan mengetahui kekurangan dan kelebihan diri, otomatis kita tak menjadi orang buta yang tak tahu arah dan warna: kita berjalan meraba, dan tak menikmati segala yang ada. Jika kita mampu mengaca diri, kita akan nikmat dalam berjalan di arus kehidupan, sesuai dengan ‘di mana seharusnya kita berada’. Tak terpengaruh dengan suara-suara, tak terpengaruh dengan yang mencoba mencerca apatah lagi merayu dengan ganasnya.

Mengaca diri, berarti mengetahui pagar-pagar yang akan menghambat ketika kita masuk ke suatu wilayah. Dengan begitu, ketika kita memutuskan masuk pun, kita telah tahu perbekalan apa yang seharusnya kita persiapkan. Dan apabila kita memutuskan untuk tidak masuk pun, kita tahu bahwa wilayah itu memang seharusnya tidak kita masuki, dan berarti ada wilayah lain yang bisa kita masuki. Prinsipnya selalu ini: ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan, akan tetapi itu bukan berarti tidak ada satu hal pun yang tidak bisa kita lakukan. Dan dengan mengaca diri, dengan begitu mudah dan teriringi senyuman serta kemantapan langkah dalam menapaki jalan-Nya.

 

Menikmati Nikmat Waktu

Imam Fakhurrazi dalam Mafatihul Ghaib ketika menafsirkan surat Al-Ashr mengatakan:

“Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan menggunakan masa. Sebab di dalamnya terdapat keajaiban-keajaiban. Padanya terdapat kebahagiaan, kesengsaraan, sehat, dan sakit. Kekayaan, kemiskinan dan umur tidak dapat dinilai dengan sesuatu yang lain dalam hal nilai dan kemurahannya.

Sekiranya engkau menyia-nyiakan waktu selama seribu tahun untuk sesuatu yang tidak bermanfaat kemudian engkau bertaubat lalu ditakdirkan mendapat kebahagiaan di sisa umurmu, maka engkau berada dalam surga selamanya. Dengan hal itu engkau menyadari bahwa masa hidupmu yang paling berharga adalah masa akhir tersebut.

Waktu merupakan salah satu pokok-pokok nikmat, maka Allah bersumpah dengannya. Di samping itu, Allah mengingatkan kepada kita bahwasanya siang dan malam merupakan kesempatan yang banyak disia-siakan oleh manusia, dan bahwasanya waktu subuh adalah lebih mulia ketimbang tempat, maka Dia bersumpah dengannya. Sebab waktu adalah nikmat yang suci yang tidak cacat sama sekali. Adapun yang merugi dan layak dicela adalah manusianya sendiri!”

Waktu adalah anugerah besar dan agung yang tidak dapat diketahui nilainya serta tidak dimanfaatkan secara baik kecuali oleh mereka yang diberi taufik Allah serta terpilih. Hal itu sebagaimana diisyaratkan oleh lafal hadits yang berbunyi ‘maghbunun fihima katsirun minan naas’ yang artinya adalah kebanyakan manusia merugi di dalamnya. Redaksi hadits tersebut mengindikasikan bahwa mereka yang dapat memanfaatkan keduanya secara baik adalah sangat sedikit. Sedangkan mayoritas manusia tidak dapat melakukannya. Maka berbahagialah golongan yang sedikit itu.

 

Mengakrabi Penikmat Hidayah

 

Petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta. Petunjuk Allah, hanya diberi kepada yang Allah kehendaki saja. Maka, bilalah saat ini kita tengah menikmati shalat, puasa, zakat, shadaqah, infaq, membaca Al-Qur’an, berbahagialah. Kita adalah hamba-hamba yang telah dipilih-Nya.

Maka, bergembiralah para penikmat hidayah. Bergembiralah dengan memperbanyak ketaatan.

Petunjuk Allah itu, ia terang dan menjelma karunia, nikmat, dan berkah. Telah banyak kenikmatan, karunia dan rasa cinta-Nya yang dengan derasnya tercurah kepada kita. Tapi, alih-alih mengetahui bagaimana harus menyikapi karunai tersebut. Banyak hal yang seharusnya di kerjakan, dilanggar. “Bukanlah sesuatu yang menakjubkan, apabila seseorang hamba tunduk dan beribadah kepada Allah dan tidak pernah jemu untuk berkhidmat kepada-Nya. Sementara ia selalu merasa butuh kepada-Nya. Yang aneh adalah, Sang Raja menanamkan cinta kepada si hamba dengan selalu menganugerahi aneka ragam karunia dan ihsan-Nya. Padahal Ia tidak membutuhkannya.” Kata Ibnu Qayyim mengingatkan kita.

Di sinilah ujian status ‘orang beriman’ yang kita sandang diuji oleh Allah. Bukan hanya dalam bentuk kesusahan. Kesenangan pula. Mungkin, kita akan tegar kala menghadapi rasa sakit, kelaparan, dan ujian kesusahan lainnya. Tapi, kalau ujiannya adalah kekayaan yang melimpah, syahwat yang membara, dan kesehatan yang prima?

Asy-Syahid Sayyid Quthb mengatakan, “Iman bukan kata-kata yang diumbar. Tetapi ia adalah hakekkat yang mempunyai beban. Amanah yang mempunyai cobaan. Perjuangan yang memerlukan kesabaran. Dan kesungguhan yang memerlukan rasa penanggungan. Tak cukup seseorang itu berkata, ‘Aku beriman!’ tanpa ia menujukkan bukti-buktinya. Hingga ia mengalami sejumlah ujian lalu ia tegar dan keluar dari dalamnya dengan keadaan bersih. Dan jernih pula hatinya. Seperti api yang membakar emas, untuk memilih bijih murninya dari karat besi.”

Atas dasar pembuktian pula lah mengapa kita mendapati orang-orang shalih macam Hasan Al-Banna yang memulai dakwahnya dari kedai-kedai kopi. Bukan karena beliau gemar ke sana. Melainkan di sana banyak orang, sedangkan di masjid sangat sepi. Ada pula Abu Bakar Ash-Shiddiq yang selalu mendahului shahabat yang lain dalam hal kebaikan. Sampai-sampai Umar bin Khattab pun mengakuinya, “Aku takkan pernah mendahului Abu Bakar dalam hal kebaikan.”

Maka, bergembiralah para penikmat hidayah. Bergembiralah dengan memperbanyak amal keshalihan.

 

Menjadi Hamba Perindu Surga

Ashabul Kahfi merupakan cerminan sekumpulan pemuda yang bisa menjadi role model ideal atas konsistensi mereka dengan nilai Islam. Mereka melihat dunia dengan neraca iman. Taat kepada Allah dengan ketaatan optimal. Tak pula luntur dan larut dengan ujian berat yang terus menghimpitnya, ataupun surut ke belakang karena belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Segala bentuk teror, intimidasi, tribulasi, bahkan menjadikannya semakin tegar dan semakin merasakan kemuliaan Islam. Imannya bertambah dan keteguhannya pada kebenaran ibarat batu karang.

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri. Lalu mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sesungguhnya bila kami berkata demikian sama artinya mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran’.” (Al-Kahfi: 13-14)

“Banyak para pemuda yang masuk dalam pangkuan Islam. Mereka berasal dari keluarga dan kabilah terhormat. Dan pikiran utama yang bisa kita kemukakan dari sejarah kaum muslimin edisi pertama ialah bahwa Islam pada dasarnya adalah gerakan pemuda,” kata Montgemory Watt.

Nah, camkan kata-kata terakhir tersebut. Artinya, bukan hanya pelakunya saja yang kebanyakan para pemuda. Tapi, semangat dan daya juangnya juga muda.

Sayid Quthb dalam Ma’alim Fith Thariq-nya menulis, “Ada suatu kenyataan sejarah yang patut direnungkan oleh mereka yang bergerak di bidang dakwah islamiyah di setiap tempat dan di setiap waktu. Mereka patut merenungkannya lama-lama, karena ia mempunyai pengaruh yang menentukan bagi metode dan arah dakwah. Dakwah ini pernah menghasilkan suatu generasi manusia, yaitu generasi sahabat. Suatu generasi yang mempunyai ciri tersendiri dalam seluruh sejarah Islam; dalam seluruh sejarah umat manusia. Lalu, dakwah ini tidak pernah menghasilkan jenis yang seperti ini sekali lagi. Memang terdapat orang-orang seperti itu di sepanjang sejarah. Tetapi, belum pernah terjadi sekalipun juga bahwa orang-orang seperti itu berkumpul dalam jumlah yang sedemikian banyaknya, sebagaimana yang pernah terjadi pada periode pertama dari kehidupan dakwah ini.”

Lihatlah, di zaman emas itu ada negarawan-negarawan besar macam Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Lidah kita sering menyebutnya dengan khulafa’ur rasyidin. Yang kemudian kenegarawanan shahabat tersebut mengalir kepada: Umar bin Abdul Aziz, Harun Al-Rasyid, Nuruddin Zanki, dan pula Abdurrahman Ad-Dakhil.

Masih ada lagi? Tentu. Ada penakluk-penakluk seperti Hamzah bin Abdul Muthalib, Khalid bin Walid sang Pedang Allah, Saad bin Abi Waqqash, Amr bin Al-Ash, serta Usamah bin zaid. Ada pula ulama-ulama besar seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas‘ud, Zaid bin Tsabit, dan Muadz bin Jabal. Bahkan, secret agent-nya pun ada, merekalah intelijen-intelijen yang andal seperti: Al-Abbas, serta Salman Al-Farisi. Ada perawi-perawi hadits yang brilian seperti Abu Hurairah, dan Aisyah. Dan di bidang profil pengusaha sukses pun ada pengusaha-pengusaha yang hebat seperti Abdurahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah. Di mana cahaya-cahaya kepribadian luar biasa itu terwariskan kepada Said ibnul Musayib, Hasan Al-Bashri, Atha’ bin Rabbah, Ibnul Mubarak, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi‘i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, serta Al-Khawarizmi. Dan keperkasaan mujahidin mengalir kepada darah Uqbah bin Nafi’, Thariq bin Ziyad, Musa Bin Nusair, Muzhaffar Quthz, Shalahuddin Al-Ayubbi, juga Muhammad Al-Fatih.

Sejarah Islam telah menorehkan tinta emasnya kepada generasi muda Islam untuk dijadikan contoh.

Lihat saja, bagaimana kisah hidup Ali Bin Abi Thalib ketika masih remaja. Peristiwa yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib adalah sebuah kisah yang menarik, yakni tatkala ia menggantikan posisi Rasul yang tidur di ranjang. Padahal, di luar rumah sudah siap orang-orang kafir yang mengepung rumah Rasul. Padahal, ia tahu dengan segala konsekuensinya. Itulah pengorbanan seorang pemuda. Itulah Ali. Karena ia tahu peranan dalam Islam yang mesti digulirkan.

Ada juga Asma’ binti Abu Bakar. Mengirimkan bekal kepada Rasul dan ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ke Gua Tsur. Berusaha sekuat tenaga melindungi jejak mereka berdua agar tidak diketahui oleh orang-orang kafir yang terus mengejar. Ada pula si ganteng yang senantiasa rapi dan wangi. Dialah Mush‘ab Bin Umair. Pemuda perlente dari kalangan jetset kala itu. Mush‘ab terkenal dengan keharuman minyak wangi yang dapat tercium dari jarak yang amat tak dekat. Ketika sang Ibu berusaha keras untuk mengajaknya kembali menyembah berhala, maka dengan tegas Mush‘ab menolak. Dan ia pun pergi dari rumah mewahnya. Tanpa bekal harta, dan hanya pakaian yang melekat pada dirinya. Namun, aroma semangatnya mengalahkan aroma minyak wanginya yang menjadi ciri khasnya semasa jahiliyah. Ketebalan imannya mengalahkan tebalnya pundi-pundi harta yang ia miliki. Cintanya pada Rasul dan agamanya mengalahkan semua rayuan gombal yang tertuju padanya.

Ada juga Abu Ubaidah Al-Jarrah. Memeluk Islam di usia 25 tahun. Di kalangan Quraisy, ia terkenal memiliki pemikiran yang cerdas dan cemerlang. Analisisnya pun tepat karena luasnya pengetahuan. Untuk itulah pendapatnya senantiasa rasional. Dan semua kalangan geleng-geleng dibuatnya. Maka, Abu Bakar pun mendakwahkan Islam kepadanya. Atas izin Allah, dia masuk Islam. Lalu, ia pun masuk 10 shahabat yang dikabarkan masuk surga tanpa hisab.

Ah … ingin rasanya air mata ini menitik. Mengikuti kisah hidup para manusia yang dirindu surga itu memang semakin membuat diri ini kecil dan tiada sebanding dengan mereka. Tetapi, putus asa tak boleh menghinggapi diri, senantiasa terus menjaga taqwa dan melakukan apa perintah-Nya, adalah jalan terdekat sekaligus tercepat untuk bisa seperti mereka. Para pemuda yang mengharumkan agama-Nya.


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Ingin menghasilkan ratusan juta dari skill menulis? Baca saja buku terbaru saya ini. Pembahasan super lengkap, dan bakalan bikin kamu yang hobi dan suka menulis, berubah selamanya! KLIK DI SINI atau pada gambar di bawah ini, ya!


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.