. . .

Kronologi dan Akhlaq Bisnis Rasulullah Muhammad

Kronologi dan Akhlaq Bisnis Rasulullah Muhammad – Sebelum menyandang tugas sebagai nabi dan rasul, Nabi Muhammad saw telah lama dikenal sebagai juru dagang yang sukses. Beliau merintis karier dagangnya sejak berusia 12 tahun. Semakin dewasa kemampuan berbisnis beliau semakin matang. Setiap kali membawa misi dagang ke sebuah kota, beliau selalu kembali dengan keuntungan yang menggembirakan. Kepiawaian beliau ini membuat takjub banyak orang, dan membuat banyak orang pula senang menjalin hubungan muamalah dengan beliau.

Keberhasilan dagang beliau bukan didapat melalui maksimalisasi marjin keuntungan, ataupun manipulasi kotor sehingga memenangkan persaingan. Keberhasilan dagang beliau diperoleh lewat sebuah proses penjualan yang jujur, bermarjin kecil, serta upaya untuk memberi kepuasan yang maksimal kepada pelanggan. Beliau tidak ingin mengecewakan pembeli. Maka bila ada kekurangan atau cacat pada barang dagangan yang dibawanya, beliau beritahukan hal itu apa adanya kepada calon pembeli, dan menghargainya dengan layak sesuai kadar kekurangannya.

 

Motivasi Dagang

Selain karena lahir dari keturunan keluarga pedagang –ayah beliau adalah seorang pedagang— yang membuat Rasulullah saw menerjuni bidang ini, beliau juga terdorong oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut menjadi motivasi kuat bagi beliau untuk benar-benar menggeluti aktivitas perdagangan.

 

Kepedihan di Masa Kecil

Berbagai kepedihan yang dialami oleh Nabi Muhammad saw semasa kecil menyebabkan beliau menjadi pribadi yang berpikir dewasa ketika umurnya masih belia. Lahir dalam keadaan yatim, kemudian menyaksikan ibu dan kakeknya meninggal dunia, beliau mengenal betapa kerasnya hidup padahal beliau berada di usia yang semestinya dilewati oleh anak-anak untuk bersenang-senang dan bermain-main.

Peristiwa demi peristiwa memilukan yang tergurat di hadapan mata beliau itu melecut semangat beliau untuk hidup mandiri sejak muda. Meski berada dalam asuhan pamannya, beliau tidak ingin menyusahkan pamannya. Bahkan beliau bertekad untuk membantu pamannya meringankan beban keluarga. Karena itulah beliau berusaha untuk bekerja dan belajar berdagang sejak usia beliau masih anak-anak.

 

Diasuh oleh Keluarga Miskin

Selain karena kepedihan yang beliau alami di waktu kecil, diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, yang miskin juga menjadi motivasi tersendiri. Di masa tersebut sebagian besar Jazirah Arab memang dilanda musim paceklik, termasuk Mekah, tempat tinggal Abu Thalib. Sehingga tidak mengherankan Abu Thalib hidup miskin padahal ia menanggung beban menafkahi anak-anaknya dan juga Muhammad saw.

Melihat kenyataan tersebut, Muhammad saw yang sudah mampu berpikir dewasa termotivasi untuk bisa membantu pamannya. Ia berusaha mencari penghasilan sendiri agar mengurangi beban biaya hidup pamannya. Usahanya diawali dengan menjadi penggembala kambing milik orang-orang Mekah. Beliau mendapatkan upah atas usahanya tersebut. Dan ketika peluang mencicipi pengalaman dagang itu datang di usia 12 tahun, beliau turut serta bersama pamannya ke negeri Syam untuk menjajakan barang dagangan mereka.

 

Karier Dagang

Terdorong oleh faktor-faktor di atas, Nabi Muhammad saw memulai karier dagangnya di usia 12 tahun. Grafik pengalaman bisnis beliau terus menanjak hingga akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti di usia 37 tahun. Itu artinya beliau menjalani profesi sebagai pedagang dalam kurun waktu sekitar 25 tahun.

 

Menyertai Paman ke Syam

Pengalaman paling pertama Rasulullah saw dalam mencicipi aktivitas perdagangan adalah saat menyertai perjalanan dagang Abu Thalib ke negeri Syam. Pada mulanya Abu Thalib keberatan untuk mengikutsertakan beliau karena kasihan melihat beliau masih terlalu kecil. Namun pada akhirnya Abu Thalib tidak tega melihat mimik muka Rasulullah saw yang memelas dan terlihat sangat berharap agar dia diperkenankan ikut. Maka diizinkanlah Muhammad saw ikut serta dalam perjalanan tersebut.

Dari situ Muhammad saw merasakan langsung bagaimana interaksi perdagangan. Meski tidak mendapatkan upah karena beliau membantu pamannya sendiri, beliau memperoleh pengalaman yang sangat berharga dan kelak menjadi modal bagi beliau untuk berdagang secara mandiri. Ajaibnya, meski baru sekali ikut serta dalam aktivitas perdagangan, Rasulullah saw sudah mampu menyerap banyak pelajaran. Beliau mampu menganalisis mana cara interaksi yang benar dan mana yang keliru. Beliau juga sudah dapat mengira-ngira berapa besar modal yang beliau butuhkan bila beliau hendak merintis usaha dagangnya secara mandiri.

 

Berdagang Eceran di Mekah

Sepulang dari Syam, beliau makin terlecut untuk menjadi pedagang. Namun, beliau belum mempunyai modal untuk melakukannya. Maka yang beliau lakukan pertama kali adalah menggembalakan ternak milik penduduk Mekah. Dari kerja menggembala ternak tersebut Rasulullah mendapatkan upah beberapa dinar. Upah itu selain untuk mencukupi kebutuhan hidup beliau, sebagiannya juga ditabung agar nantinya bisa menjadi modal ketika beliau terjun ke dunia perdagangan.

Menginjak usia 17 tahun ketika dirasa modal yang ditabungnya sudah cukup untuk memulai berdagang, beliau mulai membeli beberapa barang dari pasar induk kemudian dijual lagi ke pasar kecil ataupun berkeliling ke kampung-kampung. Dari situ pamor dagang beliau mulai dikenal orang-orang. Mereka senang bertransaksi dengan beliau lantaran mereka merasakan sendiri tidak pernah dirugikan oleh Muhammad saw. Selain itu, beliau juga berkesempatan untuk belajar lebih banyak lagi tentang seluk-beluk perdagangan. Walau laba keuntungan yang diperoleh tidak banyak, tapi aspek pengalaman, pembelajaran, juga popularitas dagang menjadi keuntungan-keuntungan non-material yang lebih mahal dibandingkan keuntungan material sesaat.

 

Menjadi Mudharib bagi Banyak Orang

Dengan popularitas dagangnya yang positif di mata banyak orang, Rasulullah saw kemudian dipercaya menjadi agen pengelola modal orang lain dalam perdagangan. Ada orang-orang yang memiliki modal dagang dalam bentuk material namun mereka tidak punya waktu untuk menangani sendiri usahanya. Bahkan sebagiannya karena tidak memiliki keterampilan berdagang, tidak mampu mengelola modal yang ia punya. Karena itulah mereka menempuh cara lain agar modal yang mereka punya dapat dikelola dengan baik.

Mereka pun mempercayakan pengelolaan modal tersebut kepada Muhammad saw. Maka mulailah Rasulullah saw menempuh jenjang karier yang lain dalam pengalaman dagangnya. Selain mengecerkan dagangannya sendiri, Muhammad saw juga menjualkan dagangan orang lain. Dengan setiap orang yang menitipkan modalnya kepada beliau, beliau menjalankan kerjasama ini dengan akad mudharabah. Beliau menjadi mudharib (pengelola) sementara mereka berposisi sebagai shahibul mal (pemilik modal). Keuntungan yang diperoleh dari perdagangan ini dibagi berdasarkan sistem bagi hasil. Walau bagi hasil yang beliau peroleh dari masing-masing orang nilainya sedikit, namun karena beliau menjalin kerjasama dengan banyak orang, maka bila diakumulasikan hasilnya lumayan juga.

Selain keuntungan material yang didapat oleh Rasulullah saw di jenjang ini, beliau juga mendapatkan keuntungan-keuntungan non-material. Semakin banyak saja ilmu dagang yang beliau serap dan pelajari. Juga, popularitas dagang beliau kian meluas kemana-mana. Beliau dikenal jujur, profesional, cakap, mahir dan telaten sehingga semakin banyak orang menyukai beliau dan merasa aman bertransaksi dagang dengan beliau.

 

Kemitraan dengan Khadijah

Berita tentang kepiawaian dagang seorang pemuda bernama Muhammad saw akhirnya sampai ke telinga pemilik bisnis paling berpengalaman di kota Mekah. Ia seorang janda kaya-raya berumur 40 tahun bernama Khadijah. Sudah berpuluh tahun ia menjalankan korporasinya. Sudah berpuluh orang pula ia rekrut menjadi sales bahkan manajer pemasaran untuk memasarkan produknya. Namun prestasi orang-orang yang direkrut itu hanya biasa-biasa saja. Tatkala mendengar informasi tentang Muhammad saw, ia tertarik merekrut beliau.

Karena ini pengalaman pertamanya bermuamalah dengan Muhammad saw, Khadijah belum berani berspekulasi terlalu jauh. Ia hanya menawarkan kepada Nabi saw untuk menjadi sales pemasarnya di beberapa pasar di Bushra. Keuntungan bagi hasil yang ditawarkannya pun belum terlalu besar. Sebagai pedagang muda yang mempunyai semangat belajar dan menimba pengalaman sangat tinggi, Nabi saw tidak menampik tawaran ini. Beliau menerimanya dan mulailah tahapan baru dalam jenjang karier dagangnya. Beliau mulai memasarkan produk dalam jumlah lebih banyak karena kekuatan modal Khadijah.

Masa “uji-coba” ini dilalui Nabi saw dengan sangat baik. Khadijah pun merasakan sendiri bahwa popularitas Muhammad saw yang selama ini ia dengar ternyata bukan omong kosong. Dalam tugas pemasaran ini Rasulullah saw membawa pulang keuntungan dua kali lipat dibandingkan keuntungan yang dibawa oleh sales-sales lain. Hal ini membuat Khadijah takjub dan mencoba memberikan peran yang lebih tinggi kepada Nabi saw.

 

Diangkat Menjadi Manajer Pemasaran

Atas prestasi gemilangnya sebagai sales pemasar, Rasulullah saw dinaikkan perannya oleh Khadijah menjadi manajer pemasaran. Jika sebelumnya beliau membawa dagangan Khadijah seorang diri, kini beliau mengkoordinir beberapa staf dan didampingi oleh Maisarah. Beliau memimpin ekspedisi dagang atas nama korporasi Khadijah ke negeri Yaman sebanyak dua kali. Tujuan utama yang beliau kunjungi adalah pusat perdagangan Habasyah di Yaman. Seperti peran beliau sebelumnya, kali ini di bawah koordinasi beliau, tim yang beliau bawa berhasil membawa pulang laba dua kali lipat dibandingkan tim-tim lainnya.

Terlebih lagi beliau ke Yaman bukan hanya untuk menjual barang dagangan yang dibawa dari Mekah, tapi sekaligus juga membeli barang dagangan dari Yaman yang terkenal akan tekstilnya. Dagangan khas Yaman tersebut dibawa pulang ke Mekah untuk dijual kembali. Hasil keuntungannya tentu menjadi lebih banyak lagi.

Hal ini semakin menambah kekaguman Khadijah pada sosok Muhammad saw. Apalagi Maisarah melaporkan secara detail bagaimana teknik dagang Nabi saw serta mukjizat naungan awan yang menyertai mereka sepanjang perjalanan dari Mekah ke Yaman hingga kembali ke Mekah lagi. Naungan awan tersebut membuat perjalanan mereka menjadi teduh dan nyaman sehingga mereka bisa menghemat tenaga, dan sudah barang tentu menghemat pula biaya operasional. Hematnya, atas pertolongan Allah, naik jabatan menjadi manajer pemasaran, Rasulullah saw berhasil melaksanakan tugasnya dengan sangat baik.

 

Menikah dan Menjadi Manajer Utama

Kekaguman Khadijah pada Nabi saw lantas berubah menjadi keterpesonaan. Ia seakan menemukan barang berharganya yang telah lama hilang. Ia sudah lama menjanda karena ditinggal mati suami pertamanya. Selama menjanda, ia memimpin sendiri korporasinya. Sepak terjang Muhammad saw dalam mengerjakan tugasnya menumbuhkan percikan harapan di hati Khadijah untuk menikahinya, dengan harapan nantinya mereka bisa mengelola korporasi tersebut bersama-sama. Apalagi dia menyadari, usianya sudah 40 tahun, sehingga sudah semestinya ia istirahat dari terjun langsung menangani pengelolaan korporasinya. Untuk itu harus ada seseorang yang bisa melanjutkan pengelolaannya.

Gayung pun bersambut. Rasulullah saw bersedia menikah dengan Khadijah ra. Setelah mereka menikah, pengelolaan korporasi dagang Khadijah lantas diserahkan kepada Muhammad saw. Rasulullah saw menjalankan pengelolaan tersebut dengan jabatan manajer utama, sementara Khadijah menjadi komisaris sehingga tidak lagi terlibat langsung dalam persoalan-persoalan teknis. Rasulullah saw pun menjadi pusat komando seluruh aktivitas dalam korporasi dagang Khadijah.

Pada masa ini Muhammad saw beberapa kali memimpin ekspedisi dagang ke Syria dan Yordania. Beliau juga tercatat pernah menjejakkan kaki di Bahrain dalam rangka perdagangan.

 

Menjelajahi Pasar Regional

Semenjak menikah dengan Khadijah, Muhammad saw menjadi orang nomor satu dalam sebuah korporasi dagang. Kesempatan ini beliau manfaatkan dengan sangat baik untuk memperkaya jam terbang, memantapkan ilmu dagang, dan membuka jaringan seluas-luasnya. Tercatat wilayah perdagangan yang pernah dikunjungi oleh Nabi saw meliputi Yaman, Syria, Bushra, Irak, Yordania, Bahrain, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab lainnya. Dengan demikian seluruh sentra perdagangan di Jazirah Arab telah beliau jelajahi. Pemahaman beliau yang sangat baik terhadap peta wilayah di seluruh Jazirah Arab ini menjadi sangat penting ketika beliau mengemban amanah menyebarluaskan dakwah.

 

Berinteraksi dengan Pedagang Lintas Kawasan

Selain menjelajahi seluruh pasar di region Jazirah Arab, Muhammad saw juga berinteraksi dengan banyak pedagang internasional. Itu karena akses bangsa-bangsa lain dengan Jazirah Arab sangat mudah, sehingga pedagang-pedagang dari mancanegara mudah ditemui di sentra-sentra perdagangan di Arab. Hal ini membuat Muhammad saw bisa mengenal ciri dan watak orang dari berbagai macam bangsa. Dari pedagang-pedagang asing itu pula beliau bisa mengorek keterangan tentang kondisi bangsa mereka, demikian juga pemimpin mereka. Dengan kata lain, beliau jadi mengerti tentang situasi perpolitikan dan perekonomian secara global.

 

Membangun Pasar di Dekat Masjid

Setelah sekitar 25 tahun lamanya bergelut dengan dunia perdagangan, Rasulullah saw memutuskan berhenti di usia 37 tahun. Pada waktu itu beliau bersama Khadijah telah berada pada posisi passive income; korporasi dagang mereka dijalankan oleh orang lain. Beliau saw pun jadi lebih suka mengisi waktunya dengan bertafakur, merenungkan tentang kondisi alam dan masyarakat, serta memikirkan tentang sebuah kebenaran sejati. Tiga tahun lamanya beliau terus berpikir namun masih menjalani aktivitas sosial seperti biasanya di tengah masyarakat Mekah. Hingga pada usia 40 tahun beliau memutuskan untuk menjauh dari manusia. Beliau pergi ke gua Hira untuk bertahanuts.

Di tengah bertahanuts inilah beliau mengalami kejadian diangkat menjadi rasul. Sejak itu jalan hidup beliau berubah menjadi juru dakwah murni. Beliau tidak lagi mengurusi perdagangannya. Bahkan ada kemungkinan korporasi dagangnya berangsur-angsur mengalami kemunduran karena kebencian masyarakat Quraisy pada beliau. Puncaknya, meninggalnya Khadijah diikuti pula dengan kematian korporasi dagangnya.

Harta yang beliau punya –tabungan dari hasil berdagang sebelum beliau menjadi rasul— tidak hanya dipakai untuk memenuhi keperluan harian, tetapi disisihkan sebagian untuk mendanai kepentingan dakwah. Sehingga berangsur-angsur kondisi ekonomi keluarga beliau –setelah menikah dengan Aisyah— melemah hingga beliau pun jatuh miskin. Walau bagaimanapun, beliau tidak punya waktu untuk meratapi hal itu karena amanah dakwah yang beliau emban jauh lebih besar urusannya daripada sekadar harta beliau.

Di Madinah Rasulullah saw memegang peranan bukan hanya sebagai juru dakwah, tapi juga menjadi pemimpin masyarakat. Beliau merasakan sendiri bagaimana pahitnya hidup miskin, dengan demikian beliau memiliki rasa tanggung jawab agar masyarakat yang dipimpinnya dapat hidup layak. Beliau tidak ingin masyarakat juga mengalami kepahitan hidup seperti beliau. Beliau akan merasa gagal sebagai pemimpin jika umatnya tercekik oleh jerat kemiskinan. Oleh sebab itu, berdasarkan pengalaman dagangnya dahulu, beliau menginisiasi berdirinya sebuah pasar di dekat masjid Nabawi.

Pasar itu dibangun di dekat masjid agar antara kepentingan memenuhi maisyah dan semangat beribadah umatnya dapat berjalan beriringan. Setelah itu Rasulullah saw mendorong para wirausahawan di Madinah –seperti Abdurrahman ibn Auf dan lain-lainnya— untuk menghidupkan aktivitas perdagangan di pasar tersebut. Dengan demikian, setelah sekian lama pasif dari dunia perdagangan, pada akhirnya beliau kembali memberikan sumbangsih bagi umatnya dalam bidang perdagangan.

 

Baca juga: Tak Perlu Khawatir Soal Rezeki

 

Akhlaq Bisnis

Keberhasilan dagang Nabi saw disebabkan karena beliau mengedepankan akhlak mulia dalam berdagang. Beliau menghiasi aktivitas dagangnya dengan perilaku-perilaku terpuji yang membuat orang-orang senang bermuamalah dengan beliau.

 

1 – Jujur

Inti utama dari perilaku terpuji Rasulullah saw dalam berdagang adalah kejujuran. Beliau senantiasa menyampaikan kondisi barang apa adanya. Beliau menetapkan harga jual yang fair untuk setiap barang berdasarkan kegunaan dan kondisi fisik barang tersebut. Dalam hal ini beliau mengambil marjin keuntungan kecil. Bahkan untuk barang cacat, beliau rela menanggung kerugian dengan menetapkan harga jualnya lebih rendah. Beliau tidak ingin pembeli merasa kecewa di belakang, mengira bahwa barang yang dibelinya berkualitas prima namun ternyata malah ada kekurangan.

Sebisa mungkin beliau berusaha agar akad jual-beli antara beliau dengan pembelinya dilakukan atas dasar keridhaan semua pihak. Untuk itu, mengerti kondisi barang dengan sejelas-jelasnya adalah keniscayaan. Dan maka dari itu diperlukan adanya kejujuran menjelaskan kondisi barang apa adanya. Inilah yang sudah dilakukan oleh Rasulullah saw.

 

2 – Anti-Riba

Dalam memasarkan barang dagangannya, Nabi Muhammad saw memiliki beberapa strategi penjualan. Untuk barang-barang istimewa berkualitas bagus dan memiliki kegunaan sangat penting –apalagi jika stoknya terbatas— beliau seringnya menjualnya dengan cara lelang. Beliau mempersilakan para pembeli untuk mengajukan penawaran harga mereka. Lelang itu sendiri dilakukan secara fair, sehingga siapa yang memberikan penawaran tertinggi dialah yang berhak mendapatkan barang tersebut. Untuk barang-barang dengan kualitas standar –apalagi dengan stok banyak— beliau menjualnya secara konvensional dengan menetapkan harga yang pas untuk setiap barang dan siapapun berhak membelinya dengan harga tersebut.

Bagi calon pembeli yang tidak memiliki cukup uang untuk mendapatkan barang yang diinginkannya secara kontan, Nabi Muhammad saw memberikan kemudahan dengan sistem kredit. Di sinilah letak keunggulan dagang beliau yang disegani banyak orang. Tatkala perilaku ribawi pada masa itu merebak dimana-mana hingga dianggap sebagai hal yang biasa, Rasulullah saw justru memberikan kredit tanpa riba sepeser pun. Kemudahan sistem kredit tanpa bunga yang diberikan oleh beliau ini membuat banyak pembeli menjadi senang berhubungan dagang dengan beliau. Inilah kunci kenapa beliau berhasil merangkul dan mempertahankan para pembelinya yang loyal, sehingga dagangan beliau senantiasa laris dan membuahkan keuntungan berlimpah.

 

3 – Ramah

Setelah kualitas barang yang transparan dan sistem transaksi yang memberikan kemudahan, kunci ketiga adalah layanan yang menyenangkan pembeli. Layanan yang menyenangkan ini diwujudkan oleh beliau dengan selalu bersikap ramah pada setiap calon pembelinya, bahkan kepada pelanggan lamanya sekalipun. Beliau memposisikan para pembeli sebagai “raja” yang harus dilayani dengan sebaik mungkin. Beliau menunjukkan sikap bahwa beliau butuh mereka dan beliau perlu membuat mereka betah bermuamalah dengan beliau. Untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan komunikasi yang makin cair, secara ramah beliau mengajak calon pembeli berbasa-basi membicarakan tentang kondisi dan seluk-beluk daerah mereka.

 

4 – Mendahulukan Kepuasan Pembeli

Filosofi dagang Nabi Muhammad saw bukan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Filosofi dasar dagang beliau adalah memberi kepuasan kepada pembeli dan membuat mereka senang untuk selalu bermuamalah dengan beliau. Bagi beliau, dengan memperlakukan pembeli secara baik sehingga mereka mendapatkan kepuasan maka keuntungan akan datang dengan sendirinya, dan target penjualan akan tercapai secara alamiah. Beliau tidak pernah melakukan trik-trik menipu dan janji-janji mengecoh demi mengejar target penjualan. Yang beliau lakukan justru menyampaikan kondisi barang secara jujur, menetapkan harga sesuai dengan barang tersebut, dengan tujuan agar pembeli puas dan tidak merasa kecewa.

Konsep menjual dengan mendahulukan kepuasan pembeli ini membuat Rasulullah saw berhasil mendapatkan banyak pembeli yang loyal kepada beliau. Maka tidak mengherankan, setiap kali membawa barang dagangan ke sebuah pusat perniagaan, beliau senantiasa dikerubungi oleh banyak pembeli. Dan dengan demikian, beliau selalu membawa pulang keuntungan yang menggembirakan.

 

5 – Konsistensi Menjaga Pelanggan

Dalam karier perdagangannya, Nabi Muhammad saw tercatat melakukan perjalanan dagang ke berbagai tempat tidak hanya sekali. Untuk sebuah tempat, beliau mendatangi sampai lebih dari dua kali. Bahkan untuk beberapa tempat tertentu beliau senantiasa mendatanginya secara rutin dan terjadwal. Apa yang beliau lakukan ini merupakan kunci penting dalam menjaga loyalitas pelanggan. Sekali mereka merasakan kepuasan bermuamalah dengan beliau, tentu mereka berharap beliau akan datang lagi. Sehingga setiap kali beliau datang, para pelanggan setia ini pun senantiasa membeli dagangan yang beliau bawa. Kepuasan mereka dalam bermuamalah dengan Nabi saw kemudian menjadi buah bibir di mana-mana sehingga semakin banyak saja orang yang ingin bermuamalah dengan beliau dan menjadi pelanggan loyalnya. []

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.