Keserasian Sains dengan Al-Qur’an

Pengetahuan yang telah dicapai oleh sains modern, telah diungkapkan ribuan tahun sebelumnya di dalam Al-Qur’an. Ini membuktikan juga bahwa Al-Qur’an bukanlah karangan manusia. Bahkan, penyampaian bahasa dalam Al-Qur’an yang sangat padat (kadang hanya dalam empat hingga lima kata saja), sanggup mengungkapkan pengetahuan yang baru ribuan tahun setelahnya ditemukan oleh para ilmuwan tentang keterkaitannya dengan sains.

Keadaan ini, sangat selaras dengan apa yang telah dituliskan di dalam Al-Qur’an itu sendiri dengan ungkapan, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zhalim yang mengingkari ayat-ayat kami.” (Al-Ankabut [29]: 49)

Berikut ini adalah beberapa contoh keserasian sains dan Al-Qur’an, agar semakin meneguhkan iman kita betapa luar biasanya keagungan kandungan Al-Qur’an.

 

Jagat Raya yang Berkembang

Teori pengembangan jagad raya yang pertama kali dilontarkan pada tahun 1920-an oleh Edwin Hubble. Ia menunjukkan temuannya dengan Efek Doppler. Hubble menemukan hukum yang mengejutkan bahwa kecepatan galaksi-galaksi yang saling menjauh berbanding lurus dengan jarak antargalaksi. Semakin jauh sebuah galaksi berada, semakin besar akselerasi galaksi itu menjauh. Hasil temuan ini kemudian diuji dan diuji lagi hingga sempurna. Pada tahun 1950, teleskop dengan perbesaran tinggi, instrumen terbesar dalam jenisnya, dipasang di Mount Palomar, AS. Hasil pengujian baru itu membenarkan pengamatan Hubble. Pengukuran yang dibuat menunjukkan fakta bahwa penciptaan alam semestar terjadi sekitar 10-15 miliar tahun lalu. Baik Enstein maupun Lemaitre (kosmolog Belgia yang pertama mengemukakan Teori Big Bang tentang asal-usul alam semesta) sangat tertarik dengan penelitian Hubble. Einstein yang semula tidak sependapat dengan Lemaitre, pada akhirnya mengakui dalam sebuah konferensi bahwa Lemaitre benar. Dia mengaku bahwa penolakannya untuk mendukung temuan itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Jadi, fakta bahwa alam semesta bersifat dinamis dan mengembang, yang ditegaskan oleh pengamatan, juga disahkan oleh ahli fisika terkemuka, yaitu Einstein.

“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.” (Adz-Dzariyat [51]: 47)

 

Teori Big Bang

Teori Big Bang mengajarkan bahwa alam semesta dan waktu memiliki permulaan dan bahwa materi tidak berasal dari keabadian, tetapi diciptakan. Dengan demikian, Teori Big Bang menunjukkan bahwa alam semesta berada di bawah satu kendali Sang Pencipta, karena semuanya adalah ciptaan-Nya.

“(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia berkehendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ maka jadilah sesuatu itu.” (Al-Baqarah [2]: 117)

 

Keberadaan Orbit

Kenyataan bahwa semua bintang dan benda-benda langit bergerak, baru diketahui secara ilmiah setelah teleskop ditemukan dan terjadi kemajuan sains. Jumlah galaksi di alam semesta ini lebih dari ratusan juta, dan masing-masingnya memiliki lebih dari seratus juta bintang. Sebagiannya lebih besar dan sebagiannya lebih kecil dari matahari kita. Matahari kita termasuk bintang yang berukuran sedang. Bintang-bintang ini memiliki banyak planet seperti halnya bumi dan planet satelit seperti bulan. Kesemuanya itu muncul setelah berpisah dari satu titik tunggal. Semua bintang dan planet serta satelit ini mempunyai orbitnya masing-masing.

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.” (Adz-Dzariyat [51]: 7)

 

Atom dan Subatom

Atom adalah partikel terkecil dari benda. Keseluruhan alam semesta ini terbuat dari materi atau energi. Atom adalah struktur tunggal yang menyusun inti dasar dari unsur kimia manapun. Proton adalah artikel dasar yaitu isi bermuatan positif dari materi biasa, dan seperti neutron, ia adalah penyusun inti atom (nukleus). Elektron adalah partikel dasar yang merupakan isi bermuatan negatif dari materi biasa.

“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat dzarrah, baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar; semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).” (Saba’ [34]: 3)

 

Matahari Bergerak

Dahulu, manusia mengira bahwa bumi tidak bergerak dan matahari beredar mengelilingi bumi. Kemudian, Copernicus, Kepler, dan Galileo mengeluarkan teori bahwa mataharilah yang tidak bergerak dan bumi berputar mengelilingi matahari. Penemuan mutakhir justru menyatakan bahwa matahari juga bergerak, dan bumi mengelilingi matahari yang bergerak ini. Matahari terbit tiap pagi dan tenggelam tiap malam. Akan tetapi, titik terbit matahari dan terbenamnya tidak pernah sama. Bumi bergerak mengelilingi matahari, yang juga bergerak di alam semesta tanpa pernah melewati tempat yang sama. Meskipun sains perlu lama untuk menyingkap penemuan ini, akan tetapi Al-Qur’an telah sejak lama memberitahukannya.

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Ya Sin [36]: 38)

 

Perbedaan Matahari dan Bulan

Perbedaan matahari dan bulan dijelaskan dalam Al-Qur’an dengan kata dalam bahasa arab dhiya (pancaran panas) dan cahaya bulan dinyatakan dengan nur (cahaya). Kata dhiya mempunyai konotasi cahaya dan panas, sedangkan nur tidak memiliki konotasi seperti itu. sifat-sifat lain dari matahari dikisahkan dalam Al-Qur’an dengan siraj (obor) atau wahhaj (lampu). Kedua kata tersebut sama-sama berarti mengeluarkan panas dan cahaya melalui api yang dibakar di dalamnya. Kenyataan bahwa sifat-sifat tersebut tidak ditemukan pada cahaya yang dihasilkan bulan memperlihatkan betapa tepatnya pilihan bahasa yang digunakan Al-Qur’an terhadap matahari dan bulan sesuai dengan sifatnya masing-masing.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepara orang-orang yang mengetahui.” (Yunus [10]: 5)

 

Tujuh Lapis Atmosfer

Atmosfer terbuat dari lapisan-lapisan yang memungkinkan terjadinya kehidupan di bumi. Ketiadaan salah satu lapisan berarti akhir dari dunia ini. Atmosfer terdiri dari lapisan-lapisan, yaitu: (1) Troposfer, lapisan terbawah, paling dekat ke permukaan bumi. Tingginya kira-kira 6 KM, di khatulistiwa mencapai 12 KM. Fenomena atmosferis terjadi pada ketinggian 3-4 km dari permukaan bumi. Tujuh puluh lima persen gas di atmosfer terdapat pada lapisan ini. di atas Troposfer adalah (2) Stratosfer yang ketinggiannya mencapai 50 km. Lapisan ketiga adalah (3) Ozonosfer, atau dengan kata lain lapisan ozon, merupakan pelindung dari sinar ultraviolet yang mempunyai efek mematikan bagi makhluk hidup. Di atasnya terdapat lapisan (4) Mesosfer, di atasnya lagi (5) Termosfer, yang diikuti oleh (6) Ionosfer, lapisan yang terletak lebih atas yang tingginya mencapai 500 km dari bumi. Gelombang radio dipantulkan oleh lapisan ini, yang membuat kita bisa melakukan komunikasi. Di atas ketinggian 500 km terdapat lingkaran terluar yang disebut (7) Eksosfer, dengan ketinggian mencapai 10.000 km. Perbandingan gas pada lapisan ini sangat rendah dan terbagi dalam ion-ion.

“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” (Al-Mulk [67]: 3)

 

Baca Juga: Tantangan Pembuktian dari Al-Qur’an

 

Tujuh Lapisan Bumi

Sebagaimana tujuh lapisan langit yang berada dalam keserasian dalam menjalankan perannya, sebegitu pula dengan tujuh lapisan bumi.

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengethaui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq [65]: 12)

Bumi terdiri dari tujuh lapisan yang berbeda. Lapisan-lapisan bagian dalam terbentuk dari logam-logam berat; lebih panas, lebih padat, dan dalam tekanan lebih besar daripada bagian luar. Lapisan-lapisan teratas adalah Lempeng Oceania (1) dan Lempeng Benua (2). Di bawahnya adalah Mantel Atas (3). Lapisan berikutnya adalah Astenosfer (4) yang bersifat lentur. Di bawahnya lagi adalah Mantel Bawah (5). Lapisan Inti Luar (6) terdapat di bawahnya; kandungan berbentuk cair ini memiliki efek dinamo akibat perputaran bumi yang berbentuk lapisan magnetik melindungi bumi. Lapisan terakhir adalah Lapisan Inti Dalam (7).

 

Atmosfer

Temperatur rata-rata di luar angkasa adalah -270o Celcius. Bumi kita terhindar dari dari suhu dingin ini berkat adanya atmosfer. Atmosfer mencegah energi yang datang ke bumi berbalik lagi ke angkasa. Atmosfer mengatur pembagian panas yang merata di bumi dengan fenomena metereologi. Perlindungan terhadap kematian akibat udara dingin dan panas terjamin berkat desain atmosfer yang sempurna. Kata dalam bahasa Arab sama’ boleh jadi berarti langit, angkasa, di samping bermakna atmosfer, dan bisa juga berarti keseluruhan angkasa serta fenomena yang terjadi di dalamnya.

“Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap beraling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain).” (Al-Anbiya’ [21]: 32)

 

Bentuk Bumi

Bentuk bumi yang selalu diperdebatkan di sepanjang sejarah, telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. “Dan setelah itu, Kami membuat bumi dalam bentuk bulat-telur (dahaha)” (An-Naziat [79]: 30)

Kata dahaha dalam bahasa Arab berarti keadaan bulat seperti telur burung unta. Dalam Lisanul Arab, kata dahaha juga didefinisikan sebagai permainan yang dimainkan dengan kenari. Diturunkan dari cabang yang sama, kata medahi merujuk pada batu yang bulat. Bentuk bumi sebenarnya memang seperti bentuk telur burung unta. Dengan demikian, bentuk bumi adalah lonjong dengan ujung tumpul. Bagi sebagian penerjemah, bentuk bumi yang lonjong sukar dipahami. Sehingga, mereka mengartikannya dengan “terhampar/terbentang”.

 

***

 

Amatlah banyak keserasian Al-Qur’an dan sains. Terlebih lagi, penemuan-penemuan modern dalam sains yang terus berkembang. Akan tetapi, semoga yang ditampilkan beberapa di atas dapat memberikan pondasi yang kuat terhadap pemahaman kita dan peneguhan iman serta menambah kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!