abrahah menyerang ka'bah

Kepongahan adalah Kekalahan yang Tertunda

Dulu, kita bukan siapa-siapa dan tak tahu apa-apa. Hingga Ia memberi pengetahuan kepada kita. Dulu, kita bukanlah siapa-siapa. Hingga kita menekuri ayat-ayat-Nya, kemudian kita mendapati keindahan, ketenangan, dan kehalusan rasa jiwa. Hingga kita dapat merasai hidup. Lebih baik. Lebih murni. Sesuai tujuan untuk apa kita dicipta-Nya.

Yah, memiliki kedalaman jiwa dalam mengenal-Nya, adalah anugerah tak terperi. Karena itu, rawatlah ia, agar tumbuhnya senantiasa subur, dan cabang-cabangnya terus menjulang tinggi, hingga ujung usia, hingga ke surga.

Ada dua macam penjerumusan: syubhat dan syahwat. Yang pertama, jiwa tertaklukkan karena kebodohan yang menyertainya. Sehingga, wilayah samar-samar selalu dimasuki dan dinikmati. Jauh berbeda dengan yang kedua. Ia tahu. Bahkan sangat tahu. Ia alim, bahkan sangat alim. Tapi, kekuatan ilmunya terkulaikan oleh tipuan syahwatnya. Lambat laun, ia menjadi budaknya. Tak terasa, ia terjerumuskan tentunya. Halus sekali. Sebenang saja tebalnya.  

Seperti Abrahah Al-Asyram, raja Habasyah yang memiliki kekuasaan di Yaman. Ia murka dengan keberadaan Baitullah Al-Haram di Mekah, yaitu Ka‘bah. Karena itu, di Yaman, ia membangun Ka‘bah tandingan. Lebih raksasa, megah, besar, tinggi, dan tentunya menjulang. Dinamailah Ka‘bah tandingan itu dengan Al-Qulais. Dan ia menyeru manusia untuk berhaji di situ. Berani sekali.

Saat pasukannya mulai menyerang Ka’bah, terasuki kepongahan dan syahwat yang tiada ujungnya itu, Allah lalu memberinya pelajaran dengan cara yang tak pernah ia duga. Allah menurunkan pasukan-Nya: rombongan burung dari laut, sejenis burung-burung penyambar yang masyhur dengan sebutan Ababil, bentuk jamak dari ibbil, yakni sejenis burung besar.

Masing-masing dari burung itu, membawa sebutir batu dari sijjil. Batu itu, masing-masing dilemparkan ke arah tentara Abrahah, sehingga mereka semua terkulai mati secara mengerikan. Batu itu dapat membunuh seseorang dari mulai kepala hingga ke ujung kakinya.

Pasukan gajah itu akhirnya berubah tak ubahnya daun yang dimakan ulat bulu. Dan Abrahah sendiri, justru dibiarkan hidup oleh Allah dalam peperangan mahadahsyat dengan burung-burung itu. Abrahah pulang dengan rasa kekalahan yang tak terurai kata. Sesampainya di Yaman, tubuh Abrahah menjadi pesakitan. Yang pongah itu, kini terkulai tak berdaya.

Ada kalanya, kepongahan lah yang menjadi mukadimah dari setiap penjerumusan yang digeluti. Abrahah, adalah senyawa-rasa dalam hal kepongahan dengan Firaun. Dan akhirnya selalu begitu. Terhinakan dengan cara yang lebih dahsyat daripada yang pernah dikoar-koarkan sendiri.

Adakah pantas bagi diri ini, manakala mencipta udara saja tak bisa, menghadirkan senyamuk saja tak mampu, kemudian mengambil selendang-Nya untuk kita gunakan menyambit ciptaan-Nya yang lain? Tentu saja tidak. Karena keagungan adalah milik-Nya, dan tak boleh kita mengaku-ngaku ikut mempunyainya.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.