manfaat untuk dakwah

Sudahkah Diri Bermanfaat untuk Dakwah?

Tanyalah selalu kepada diri, sudah sejauh apa diri ini menunjukkan kemanfaatannya dalam jalan dakwah?

Mengacalah diri pada mereka yang masih dianggap kecil dalam Perang Uhud, seperti Usaid bin Zhuhair bin Rafi’, Jabir bin Abdillah bin Ri’ab, Sa’ad bin Bujair, Sa’ad bin Malik, atau tiga Zaid: Zaid bin Arqam, Zaid bin Jariyah, sedangkan Zaid bin Tsabit dianggap masih terlalu kecil dalam Perang Badar. 

Atau Rafi’ bin Khadij, Al-Barra’ bin Azib yang masih dianggap kecil dalam Perang Badar. Atau Sa’ad bin Khaula yang turut dalam Perang Badar ketika berusia 25 tahun. Atau syuhada yang syahid di Perang Badar ketika masih kecil, yaitu Haritsah bin Suraqah, serta Umair bin Abi Waqqash yang syahid kala usianya baru 16 tahun.

Jangan lupakan juga Zubair bin Awwam yang masuk Islam pada usia 8 atau 12 tahun. Atau Ziyad bin Abdillah bin Malik yang menjadi duta bersama kaumnya ketika ia masih muda. Juga kepada As-Sa’ib bin Yazid yang menunaikan haji bersama Nabi ketika usianya baru 7 tahun.

Ada lagi Sa’ad bin Abi Waqqash yang masuk Islam ketika berusia 17 tahun. Atau Sa’id bin Huraits yang turut dalam penaklukan Makkah ketika berusia 15 tahun. Ada lagi Abdullah bin Yazid Al-Anshari yang menyaksikan Baiat Ridhwan saat berumur 17 tahun. Attab bin Asid yang diangkat sebagai penguasa Makkah ketika berumur 20-an tahun, bahkan Amru bin Salamah yang sudah menjadi imam bagi kaumnya ketika masih kecil.

Atau berkacalah pula kepada Abu Said bin Aus bin Al-Mu’alla dan Anas bin Malik yang ketika hijrah umurnya barulah 10 tahun. Atau Iyas bin Muadz yang masuk Islam sebelum hijrah dan kala itu masih kanak-kanak. Demikian juga dengan Aiman bin Khuraim yang masuk Islam saat penaklukan kota Makkah, ketika usianya hampir balig. Ada juga Bakr bin Asy-Syadakh Al-Laitsi yang masuk jajaran anak kecil yang pernah mengabdi melayani Nabi.

Lalu, sudah sejauh apa diri ini menunjukkan kemanfaatannya dalam jalan dakwah?

Mengacalah diri pada Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama, sahabat Nabi yang senantiasa menyertai setiap jengkal perjuangan Islam. Atau Umar bin Khaththab, yang terjuluki Al-Faruq, Sang Pembeda antara yang benar dan salah, yang masyhur karena keadilan dan kebijaksanaannya. Atau pada Ali bin Abi Thalib, gerbang ilmu dan sudah membela Rasulullah sejak belia. Atau Utsman bin Affan, sang Pemilik Dua Cahaya yang berhasil mengodifikasi dan menstandardisasi Al-Quran berdasarkan salinan asli, sehingga memudahkan umat untuk berdekat-dekatan dengan Al-Quran.

Dan, sudah sejauh apa diri menunjukkan kemanfaatannya?

Mengacalah diri pada Khalid bin Walid, jenderal militer jenius yang bergelar Pedang Allah yang berhasil menaklukkan Persia dan Byzantium, dua imperium terbesar dalam zaman itu. Atau Abu Hurairah yang berhasil meriwayatkan hadits lebih banyak dari Aisyah, istri Nabi, juga para sahabat lainnya. Atau Imam Bukhari, yang berhasil menghadirkan Shahih Al-Bukhari sebagai kitab yang berisi lebih dari 7.000 hadits Rasulullah paling autentik yang dipilih dari 0,5 juta hadits yang dihafalkannya. Atau Abu Hanifah, pengembang konsep ijtihad sehingga bermekar menjadi salah satu sintesis hukum paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Atau Salahudin Al-Ayyubi yang berhasil menghalau tentara Salib keluar dari Yerusalem dengan menunjukkan kemurahan hati dan belas kasih kepada lawan di medan pertempuran. Atau Asy-Syafi’i yang seorang ahli teori dan sintesis hukum terbesar dalam sejarah intelektual Islam hingga terjuluki Bapak Ilmu Hukum Islam. Atau Al-Khawarizmi, jenius matematika terbesar sepanjang masa yang berperan besar dalam pengembangan aljabar, aritmetika, trigonometri, dan angka-angka Arab.

Sudah sejauh apa diri menunjukkan kemanfaatannya?

Mengacalah diri pada Malik bin Anas, seorang ahli hadits, fikih, dan teologi terkemuka yang gaya mengajarnya melahirkan konsep madrasah. Atau Ibnu Sina yang masyhur lewat Al-Qanun fit Thibb. Atau Abdurrahman I yang mengubah Islam Spanyol di Andalusia menjadi salah satu pusat budaya dan peradaban paling makmur di Eropa pada Abad Pertengahan. Atau Thariq bin Ziyad, Muslim pertama yang menginjakkan kaki di dataran Eropa dan turut merintis dimulainya masa pemerintahan Islam di Spanyol selama lebih dari tujuh abad. Atau Sultan Muhammad II yang bergelar Al-Fatih, yang terkenal di Timur dan juga Barat karena merebut Konstantinopel dari genggaman kekaisaran Byzantium dengan taktik militer brilian. Atau Abdullah Al-Ma’mun, yang berhasil membawa dunia Islam ke dalam periode yang hebat dari segi stabilitas politik, kemakmuran ekonomi, serta perkembangan dan kemajuan teknologi.

Jadi, sudah sejauh apakah diri kita menunjukkan kemanfaatannya? Sesungguhnya, selalu ada kesempatan untuk membuktikan bahwa hadirnya di diri dunia bukan untuk berfoya hingga lena, namun untuk menghadirkan kemanfaatan hingga mengangkasa.


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.