Demi Mereka yang Kita Cintai

Imajinasikanlah kondisi ini. Saat engkau telah terkapar lunglai tak lagi bisa merasai lagi udara yang menjelajahi bumi. Napasmu sesak, tersengal, hingga berseliweranlah seluruh kenangan apa-apa yang pernah kau lihat, apa-apa yang telah engkau impikan, dan apa-apa yang engkau citakan.

Jika yang telah terjadi dan sempat engkau perjuangkan, mungkin akan mensenyumkanmu. Akan tetapi, bagaimana bila apa-apa yang engkau citakan belum juga terealisasikan?

Mari kali ini kita membicarakan masalah kesempatan.

Kesempatan masuk dalam kategori dua nikmat yang sering melalaikan. “Ni‘matâni maghbûnun,” kata nabi. “Fîhimâ katsîrun minan nâs,” kata beliau melanjutkan. Ada dua nikmat—begitu bila kita terjemahkan ke dalam bahasa kita—yang sering melalaikan, yaitu “Ash-shihhatu wal farâgh; nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang.” Ingat, kedua hal tersebut masuk kategori nikmat. Oleh karena itu, sebagaimana ayat, bila kita pandai bersyukur, tentu akan diganda-gandakan.

Di usia sebesar ini, apa saja yang telah kita lakukan? Adakah beberapa penyesalan yang ingin kita ulang dan ingin kita selesaikan? Adakah beberapa hal yang sebetulnya ingin kita lakukan di masa dahulu, tetapi terkendala beberapa hal yang tak penting sebetulnya yang menghalangi kita melakukannya? Kemudian sekarang, kita menyesal, padahal kita masih memiliki kesempatan kala itu. Yah, inilah kesempatan.

Kesempatan, oleh siapa pun, harus berusaha untuk diguna-baikkan. Karena penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan hari ini, harus kita laksanakan segala apa yang telah kita rencanakan dan impikan, agar di tahun ke depan, kita tak berpenyesalan yang berkepanjangan.

Ada dua macam kesempatan yang biasa menjadi penyesalan. Yang pertama, dalam lingkup aktivitas cita. Kita seringkali menangisi masa lalu serta meratapinya. Terkadang, sampai dalam tahap lupa diri. Padahal, sekarang kita tak lagi hidup di masa lalu, tetapi sedang merasakan saat-saat sekarang. Oleh karena itu, solusinya tentu saja hari ini kita gunakan, agar hari esok, kita tak lagi menyesali seperti hari ini kita menyesali masa lalu.

 

Baca Juga: Mengemas Baik Sangka kepada-Nya

 

Yang kedua, adalah penyesalan atas perasaan. Perasaan? Coba, berapa kali kita seringnya merasa menyesal dengan banyaknya perasaan yang tak sempat kita utarakan kepada seseorang? Kepada ayah, ibu, betapa kita sangat menyayangi mereka. Kepada adik dan kakak betapa rindunya kita ketika berpisah dengan mereka. Kepada para sahabat, betapa kita ingin mengucap terima kasihnya kepada mereka atas segala perhatian dan kebersamaan. Dan luapan ungkapan perasaan tak selalu dengan kata-kata hingga berbusa-busa. Akan tetapi, tindakan-tindakan nyata yang menunjukkan kepedulian dan kekasih-sayangan, adalah juga luapan ungkapan itu. Dan kapan biasanya kita menyesali perasaan ini? Yaitu, ketika mereka telah tiada. Tatkala mereka telah meninggalkan kita selama-lamanya.

Perih rasanya saat mereka telah tiada, tetapi banyak hal yang ingin kita laksana pada mereka. Pedih rasanya saat mereka telah tiada, tetapi banyak kata yang kita ucap pada mereka. Apalagi saat kita tahu, kita pernah mengecewakan mereka. Ingin sekali merangkulnya, menetes air mata di depannya, membagi rasa dan mengucap kekata kedamaian. Bahwa hidup bukan untuk terus membesar-besarkan perbedaan ataupun menggelayuti hari-hari dengan pertikaian. Ingin rasanya bergandeng mesra menuju jannah-Nya.

Mari jadikan hari ini penuh arti. Penuh dengan aksi-aksi. Penuh dengan episode-episode hidup yang penuh makna. Penuh dengan kenangan-kenangan yang bisa kita resapi dan nikmati. Agar sesal diri tak lagi menghampiri dan menyesaki segala hari-hari di nanti-nanti. Demi segala perbaikan kualitas dalam diri. Demi pula mereka yang kita cintai.

Dan demi mereka yang kita cintai, apa yang sudah kita beri?

Demi mereka yang kita cintai, apa saja yang telah kita lakukan hingga senyuman terus mengembang dari bibir mereka?

Demi mereka yang kita kasihi, apa saja yang telah kita perjuangkan agar mereka merasai bahwa mereka begitu berarti bagi kita?

Dan demi orang yang dia cintai, mari memberi bukti. Bukan kata-kata berbusa, bukan karangan bunga yang segede raksasa. Akan tetapi, segala apa yang telah dia laksana, telah mensenyumkan dan menggembira bukan hanya ruang bibir, tetapi juga hati mereka.

Selalulah tanamkan keyakinan. Tidak pernah ada kesalahan. Yang Kuasa tidak salah dalam mendesain kita. Semua adalah ruang-ruang anugerah yang patut kita syukuri. Rabb tidaklah tidur, dan Dia tidaklah pernah meninggalkan kita. Maka, kita berkarya dengan disaksikan-Nya, kita memberikan yang terbaik kepada mereka yang kita cintai, dengan diliputi keajaiban-keajaiban dari-Nya.

Maka, demi yang tercinta, kita selalu menghadiahi mereka dengan beribu-juta aksi. Ada aksi yang mengejutkan, ada aksi pula yang dalam diam. Akan tetapi, semua tetap sama, untuk menghajatkan kepercayaan, bahwa kita benar-benar ada cinta yang membara untuk mereka.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.