Decoy Effect: Strategi Pemasaran Usang Tetapi Selalu Berhasil

Kita sangat sering tertipu dengan strategi pemasaran bernama Decoy Effect. Bahkan, strategi ini disebut sebagai biang dari segala pemborosan pembelian. Strateginya sederhana, tetapi entah mengapa selalu saja berhasil.

Bayangkan kamu ingin menonton sebuah film di bioskop. Tak ingin merasa garing di dalam bioskop, kamu mampir dulu ke outlet yang menyediakan makanan dan minuman ringan.

Daripada di dalam bioskop gigit-gigit jari, mending pesan popcorn, dong. Masa’ di dalam bioskop ngerakit Gundam, gelap dong ….

popcorn decoy effect

Ada tiga pilihan yang disediakan.

  • Popcorn kecil seharga Rp18.000
  • Popcorn sedang seharga Rp25.000
  • Popcorn besar seharga Rp27.000

Responsmu?

“Mmm … pilih yang mana, ya …. Kalau pilih yang kecil, isinya sedikit. Harganya memang lebih murah, sih.”

“Beli yang sedang, kok nanggung banget. Tinggal tambah Rp2.000 doang, bisa dapat ukuran besar.”

Tak sampai setengah menit, otak kita akan bergegas untuk memilih ukuran besar. Padahal, ya memang itu rencananya. Ukuran kecil dan ukuran sedang memang hanya berfungsi sebagai decoy alias umpan saja.

Pemilik bisnis, memang sedang mengarahkanmu untuk membeli yang ukuran besar. Tapi, ya kamunya kayak nggak sadar aja gitu kalau sedang diarahkan. Iya, kan?

Hal ini akan berbeda, ketika kamu hanya diberikan dua pilihan.

  • Popcorn kecil seharga Rp20.000
  • Popcorn besar seharga Rp27.000

Bila pilihannya hanya dua, otak kita akan langsung merespons dengan berbagai macam pertimbangan.

“Mmm …. Mending beli yang kecil, deh. Toh yang besar terlalu banyak. Nggak akan habis juga. Lagian, popcorn kan nggak sehat.”

 

Baca Juga: Perbedaan Branding, Marketing, dan Selling

 

“Kan gue jomlo, mending beli yang kecil aja, deh. Manusia macam apa yang bisa menghabiskan popcorn sebanyak itu sendirian?”

Atau respons-respons lain yang berkelahi di otakmu. Hanya kamu dan Tuhan yang tahu.

Semua perusahaan, mulai dari kecil sampai besar, memakai umpan ini dalam penentuan harga mereka untuk mengubah caramu mengambil keputusan, untuk merogoh kocekmu lebih dalam. Kadang orang terkecoh untuk membeli lebih agar merasa nilai uang yang dikeluarkan sebanding (atau lebih untung) dari produk yang didapatkan, padahal bisa saja itu adalah ilusi efek pengecoh semata.

Bahkan, ada beberapa yang menerapkan strategy Double Decoy, alias memberikan umpan ganda.

double decoy effect

Jadi, kalau kamu merasa boros hari ini, itu bukan salah terlalu menariknya barang-barang yang ada di display sehingga membuat jiwa miskinmu meronta-ronta. Itu ya …. karena gebleknya dirimu saja.

Mulai sekarang, telitilah sebelum membeli. Pastikan benar-benar bahwa kamu sedang tidak terburu-buru dan termakan gengsi. Apalagi termakan strategi pemasaran Decoy Effect yang sebenarnya ya …. gitu-gitu aja.

Untuk lebih jauh memahami tentang Decoy Effect ini, bisa juga menyimak artikel di The Conversation.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

2 Comments

  • ekonov

    mantabs mas. ajari aku decoy decoynan..

    • Fachmy Casofa

      Nggak mau

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.