Melawan Segala Luka dengan Doa

Keyakinan terdahap Allah akan mengantarkan kita menuju hamba seutuhnya. Doa-doa yang terlantun akan semakin memperkukuh keyakinan kita akan pertolongan dan rahmat-Nya.   

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Memohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (Nuh: 10)

Mengenai ayat ini dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Nabi Nuh meminta kepada kaumnya agar mau berdoa kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya dan segera bertaubat dari kemusyrikan, serta agar mengesakan Allah yang Maha Tinggi. Hal ini disebabkan Allah akan mengampuni dosa mereka walau sebesar apa. Juga, apabila mereka mau bertaubat, Allah akan menganugerahkan anak-anak dan harta yang banyak, serta akan menumbuhkan berbagai macam tanaman bagi mereka dan memperbanyak susu ternak dan memberi mereka rezeki dengan sungai-sungai dan kebun-kebun yang indah nan menyenangkan.

Ayat di atas memberikan penjelasan tentang sebegitu pentingnya sebuah doa. Sampai-sampai, Allah akan memberikan begitu banyak anugerah yang berlimpah apabila kaum Nabi Nuh, kalau mau bertaubat kepada-Nya.

Allah, tempat diarahkannya doa memiliki dua sifat agung; Ar-rahman dan Ar-rahim. Tentang dua sifat itu Abdullah Ibnul Mubarak berkata, “Ar-rahman yaitu jika Ia diminta pasti memberi, Ar-rahim yaitu jika tidak dimintai maka Ia murka.”

Tentang dahsyatnya kekuatan doa, marilah sejenak kita melihat cerita yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.

Ada seorang Anshar yang biasa dipanggil Abu Ma’laq. Ia adalah seorang sahabat Rasulullah yang taat beribadah dan selalu menjaga kebersihan diri.

Abu Ma’laq, ia adalah pedagang yang biasa berkeliling negeri untuk menjual dagangannya, atau dagangan orang lain. Suatu hari, ia dihadang oleh para perampok bertopeng.

“Serahkan barang-barangmu lalu aku akan membunuhmu.” Ancam para perampok itu.

“Bukankah engkau hanya memerlukan hartaku? Mengapa harus membunuhku juga?” Walau ketakutan, Abu Ma’laq jua keheranan.

“Harta itu telah menjadi milikku, tetapi kami tetap ingin membunuhmu.” Para perampok itu terbahak-bahak.

“Baiklah jika begitu, tetapi izinkanlah aku shalat empat rakaat dahulu.” Abu Ma’laq pasrah. Melawan pun akan musnah. Hanya kepada Allah lah tempatnya mengadu dan meminta.

 

Baca Juga: Cerdik Melantun Doa

 

“Shalatlah seberapa banyak rakaat pun yang kamu suka. Toh engkau akan mati juga di tangan kami.” Para perampok makin pongah dan bermain-main dengan Abu Ma’laq.

Abu Ma’laq kemudian berwudhu dan melakukan shalat empat rakaat. Pada sujud yang paling terakhir dalam shalatnya ia berdoa, “Wahai yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Singgasana yang Paling Mulia, wahai yang Maha Berbuat Apa-Apa Sesuai Kehendaknya. Aku memohon dengan keperkasaan-Mu yang tidak tertandingi. Dan dengan kekuasaan-Mu yang memenuhi semua penjuru singgasana-Mu agar Engkau menghalangi kejahatan perampok ini.”

Setelah membaca doa itu tiga kali. Tiba-tiba datanglah seorang pejuang penunggang kuda yang membawa sebuah tombak di antara kedua telinga kudanya.

Ketika para perampok itu melihatnya, penunggang kuda itu langsung membunuhnya.

Setelah itu penunggang kuda tersebut berkata kepada Abu Ma’laq “Berdirilah kamu!”

Abu Ma’laq kemudian menutup shalatnya. Setelah itu bertanya kepada lelaki itu, siapa sesungguhnya dirinya.

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah malaikat dari langit yang keempat. Ketika kamu berdoa pada kali yang pertama, aku mendengar di pintu langit ada bunyi gemeretak. Kemudian ketika kamu berdoa pada kali yang ketiga, ada yang berkata, ‘Itu adalah doa seorang hamba yang sedang ditimpa kezhaliman.’ Lalu, aku memohon kepada Allah agar aku dijadikan utusan-Nya untuk membunuh pelaku kezhaliman itu’.”

 

***

 

Setiap saat kita mesti bergantung kepada Allah. Karena kita tidak pernah tahu apa kesudahan dari seluruh langkah-langkah hidup kita, dalam jangka pendek maupun panjang.

Akankah kita sukses, ataukah malah gagal?

Akankah  kita menemui kesenangan, ataukah tersandung segunung kepahitan?

Akankah usaha kita lancar, ataukah justru mengalami kebangkrutan?

Yang tetap bisa kita lakukan hanyalah menata ikhtiar sebaik mungkin. Kita memang harus yakin dengan tujuan, tetapi kita juga harus sadar, bahwa segala kesudahan itu tidak hanya bergantung pada keyakinan. Kita takkan pernah bisa memastikan tentang apa yang akan kita temui, bahkan untuk beberapa saat kemudian.

Oleh karena itu, ketergantungan kita kepada Allah adalah bahasa lain dari keharusan kita untuk selalu berdoa. Karena memang, bukan kita penentu segalanya. Dan dengan berdoa kepada Allah, kita telah mengadu kepada dzat yang paling tulus menerima pengaduan. Saat luka tiba, saat itulah doa harus ada. Mari melawan luka dengan doa. Agar segala hambat dan aral menjadi lebih indah untuk dilewati hati yang pasrah. []

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!