Panduan Lengkap Editing Naskah

Menguasai editing naskah mutlak diperlukan oleh seorang penulis. Dengan menguasai editing naskah, kita sebagai penulis akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tak perlu dalam penulisan. Oleh itulah, postingan tentang panduan lengkap editing naskah ini saya hadirkan untukmu.

#1 – Penggunaan Kata Tanya yang Tidak Tepat

Buku ini ditujukan untuk mengenalkan apa itu Al-Quran secara lebih mendalam.

Penggunaan kata apa itu tidak tepat dan sia-sia. Kalimat itu dapat diperbaiki menjadi berikut.

Buku ini ditujukan untuk mengenalkan Al-Quran secara lebih mendalam.

Contoh yang lain.

Letak kekuatan Al-Quran yang lain ada pada bagaimana Al-Quran menyajikan sifat-sifat cahaya.

Kata bagaimana pada kalimat di atas menjadikan kalimat kurang efektif. Kalimat itu dapat diperbaiki menjadi berikut.

Letak kekuatan Al-Quran yang lain terdapat pada adanya sajian sifat-sifat cahaya dalam Al-Quran.

Kata terdapat pada juga dapat diganti dengan adalah.

#2 – Judul Kata Asing

Dalam editing naskah, kika di judul terdapat kata asing, kata asing tersebut ditulis secara italic.

Contoh: Jurus Jitu Menjadi Entrepreneur

#3 – Tanda Kurung untuk Kata Asing

Dalam editing naskah, tanda kurung yang dipakai untuk mengapit kata asing, baik di judul maupun di dalam bacaan, tidak di-italic meski kata asing tersebut di-italic.

Contoh: Jurus Jitu menjadi Pengusaha Kreatif (Creativepreneur)

Tanda kurung yang mengapit kata asing yang di-italic ikut di-italic jika kalimat tersebut memang dalam konsep italic. Contoh kalimat seperti ini antara lain kalimat arti sebuah ayat.

#4 – Penulisan Bilangan

Dalam editing naskah, masih banyak yang bingung menuliskan lambang bilangan dalam sebuah kalimat, misalnya 5 atau lima. Penulisan lambang bilangan yang benar akan lebih mudah dipahami melalui rumus berikut.

Rumus untuk mengingat!

> 2 kata = angka

< 3 kata = huruf

 

Contoh penulisan bakunya:

1 Kata 2 Kata > 2 Kata
lima dua belas 31
seratus tiga puluh 250
seribu lima ribu 355

Contoh:

  1. Saya menonton film itu tiga kali.
  2. Bantuan yang disumbangkan berupa dua ribu buku.

 

Namun, aturan tersebut tidak berlaku jika kalimatnya berupa perincian.

Contoh:

  1. Kendaraan yang digunakan terdiri atas 5 sedan dan 31 minibus.
  2. Di antara 1.060 orang yang hadir, 1.000 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 45 orang abstain.

 

Penulisan bilangan yang lebih dari dua kata tidak dapat dituliskan di awal kalimat. Jika perlu, kalimat tersebut diubah.

Contoh:

  1. 30 buku berhasil diterbitkan pada bulan ini. (salah)
  2. Tiga puluh buku berhasil diterbitkan pada bulan ini. (benar)
  3. 350 meja dipesan Pak Mandor. (salah)
  4. Pak Mandor memesan 350 meja. (benar)

 

Penulisan jumlah rupiah yang benar adalah seperti berikut.

Rp25.000,00

Catatan:

  • Rp tidak diikuti tanda titik.
  • Antara ”Rp” dan angka tidak diberi spasi. Hal itu berbeda dengan aturan ejaan sebelumnya. Hal tersebut ditujukan untuk menghindari terjadinya manipulasi data. Contoh: Rp 25.000,00 dapat dimanipulasi menjadi 000,00.
  • Menggunakan satuan sen (,00), bukan tanda ,-.

 

Jenjang kelas sebaiknya ditulis dengan angka Romawi, misalnya kelas VI.

Jenjang semester sebaiknya ditulis dengan angka Arab, misalnya semester 2.

 

#5 – Penulisan Sekolah

Dalam editing naskah, nama jenjang sekolah yang tidak diikuti oleh nama sekolahnya ditulis dengan huruf awal kecil.

Contoh:

  1. Selain menjadi penulis, Dea Savira merupakan guru taman kanak-kanak (TK).
  2. Selain menjadi penulis, Dea Savira merupakan guru Taman Kanak-Kanak Bhakti Siwi.
  3. Ayahnya bekerja sebagai guru sekolah menengah pertama.
  4. Ayahnya bekerja sebagai guru di SMP Al-Firdaus, Solo.

 

#6 – Penulisan Fakultas

Penulisan nama jurusan, fakultas, dan universitas yang serangkai ditulis dengan huruf awal kapital dan dipisahkan tanda koma sebagai tanda perbedaan tingkatan jenjang.

Nama universitas selalu ditulis dengan huruf awal kapital karena merupakan nama tunggal.

Contoh:

Dia pernah kuliah di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi (FE), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Namun, jika setiap jenjang tersebut sudah dipisahkan oleh kata penghubung atau kata lain, penulisan nama jurusan dan fakultas ditulis dengan huruf awal kecil.

Contoh:

  1. Dia pernah kuliah di jurusan akuntasi saat kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah M
  2. Dia kuliah di Universitas Gadjah Mada karena tertarik pada fakultas e

 

#7 – Penulisan Juara

Dalam editing naskah, penulisan jenjang juara yang langsung diikuti oleh nama lombanya ditulis dengan huruf awal kapital.

Contoh:

Roni pernah menjadi Juara Harapan 2 Lomba Membaca Ayat Pendek Al-Quran 2017. (benar)

Roni pernah menjadi juara harapan 2 saat mengikuti Lomba Membaca Ayat Pendek Al-Quran 2017. (benar)

 

#8 – Penulisan Waktu/Jam

Dalam editing naskah, kata pukul dan jam mempunyai makna yang berbeda. Cara penulisannya pun tidak boleh asal.

Pukul = saat yang menyatakan waktu.

Jam = seluruh rangkaian saat.

Salah Benar
Jam 01.00 Pukul 01.00
Pukul 3 pagi Pukul 03.00
Pukul 9 malam Pukul 21.00
Pukul 12 tengah malam Pukul 24.00
Pukul setengah dua siang Pukul 13.30
Pukul setengah dua malam/pagi Pukul 01.30

 

Contoh:

Diah Utami biasa menulis selama tiga jam sehari, yaitu dari pukul00­—10.00. (benar)

Diah Utami biasa menulis selama tiga jam sehari, yaitu dari pukul 00­ hingga pukul 10.00. (benar)

 

#9 – Penulisan Huruf Kapital

Dalam editing naskah, penulisan huruf kapital adalah sebagai berikut:

KEKERABATAN

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, adik, paman, dan sebagainya yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Contoh:

”Kapan Ibu berangkat?” tanya Ani.

Besok Paman akan datang.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Contoh:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

NAMA

Huruf kapital dipakai untuk menuliskan nama.

Contoh:

Susilo Bambang Yudhoyono

Gedung Wayang Orang Sriwedari

PETIK

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Contoh:

Adik bertanya, ”Kapan Ibu pulang?”

Besok pagi,” kata Ibu, ”dia akan berangkat.”

JABATAN

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Contoh:

Wakil Presiden Boediono, Perdana Menteri Nehru, Profesor Soepomo, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, Gubernur Irian Jaya.

TAHUN, BULAN, DSB.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Contoh:

tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Juni, bulan Maulid, hari Jumat, hari Lebaran, hari Natal, Perang Candu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

GEOGRAFI

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Contoh:

Asia Tenggara, Bukit Cihendai, Lembah Baliem, Dataran Tinggi Dieng, Pegunungan Jaya Wijaya, Gunung Merapi, Danau Toba, Jalan Melati, Jazirah Arab, Sungai Pepe, Ngarai Sianok, Selat Lombok, Tanjung Harapan, Teluk Benggala, Terusan Zues.

TUHAN, KITAB SUCI, DSB.

Huruf kapital dipakai untuk menuliskan Tuhan, kata ganti Tuhan, serta nama agama dan kitab suci.

Contoh:

Allah, Yang Mahakuasa, kepada-Nya, Al-Quran, Injil, Islam, Kristen.

GELAR.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, atau keagamaan yang diikuti nama orang.

Contoh:

Sultan Hasanudin, Raden Wijaya, Nabi Isa.

 

#10 – Penulisan Kata Gabung

Dalam editing naskah, jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.

Rumus untuk mengingat!

tanda tangan

bertanda tangan

tanda tangani

menandatangani

 

Jika di tengah kata juga terdapat imbuhan, penulisannya bisa diberi tanda hubung (-) untuk memudahkan pembacaan.

Contoh:

bergandengan-mesralah

ketidak-berhasilan

 

#11 – Jenis-Jenis Konjungsi

Konjungsi gabungan: dan, serta, lagi, juga

Konjungsi pilihan: atau

Konjungsi pertentangan: sedangkan, tetapi, melainkan

Konjungsi penguatan/penegasan: bahkan, malah, apalagi

Konjungsi lanjutan: lalu, kemudian, selanjutnya

 

#12 – Jenis-Jenis Konjungsi Antarkalimat

Hal Konjungsi Hal Konjungsi
Menyatakan akibat Oleh karena itu, Menyatakan kelanjutan Kemudian,

Lalu,

Sesudah itu,

Setelah itu,

Selanjutnya,

Menyatakan kejadian yang mendahului Sebelum itu, Menyatakan bahwa ada hal, peristiwa, atau keadaan lain Selain itu,
Menyatakan pertentangan Namun,

Akan tetapi,

Menyatakan kebalikan Sebaliknya,
Menyatakan kekhususan Kecuali itu, Menyatakan keadaan sesungguhnya Sesungguhnya,
Menyatakan konsekuensi Dengan demikian, Menyatakan kesediaan Biarpun begitu,

 

#13 – Kata Penghubung Korelatif/Berpasangan

ada … yang …, ada … yang …. kalau tidak …, sekurang-kurangnya ….
apakah …, apakah …. makin …, makin ….
apakah … atau …. padahal telah … bahwa …, tetapi … pula sehingga ….
baik …, baik …. seandainya …, pasti ….
baik … maupun …. seandainya …, kemungkinan ….
betapapun …, masih lebih (kata sifat) …. seandainya …, mungkin ….
bukannya …, melainkan …. sebagaimana …, demikian juga ….
bukan hanya …, tetapi juga …. sedemikian rupa … sehingga ….
bukankah sudah … bahwa …, tetapi … juga akibatnya …. semakin …, semakin ….
demikian … sehingga …. seperti halnya …, demikian juga ….
entah … entah …. … sedemikian sehingga ….
jangankan …, … pun …. tidak …, tetapi ….
kian …, kian …. tidak hanya …, tetapi juga ….

 

 

#14 – Beda Singkatan dan Akronim

Singkatan adalah gabungan huruf dan dibaca per huruf, sedangkan akronim adalah gabungan huruf atau suku kata dan dapat diperlakukan sebagai kata (bisa dibaca) meskipun terdiri atas huruf-huruf kapital.

Singkatan Akronim
KTP SIM
DPR PAN
GBHN Iwapi
Bpk. Bulog
Sdr. Bappenas
dkk. pemilu
s.d. rapim

 

#15 – Singkatan Jenjang Pendidikan

Strata 1 disingkat S-1.

Diploma 4 disingkat D-4.

 

#16 – Singkatan Gelar Akademis

Singkatan gelar akademis baik disingkat dengan huruf, gabungan huruf, maupun suku kata wajib diberi tanda titik.

Contoh:

Singkatan huruf

Sarjana Ekonomi disingkat S.E.

Magister Teknik disingkat M.T.

Singkatan gabungan huruf

Magister Seni disingkat M.Sn.

Singkatan suku kata

Magister Humaniora disingkat M.Hum.

Magister Kesehatan disingkat M.Kes.

 

#17 – Perbedaan Tapi, Tetapi, Akan Tetapi, Namun, dan Namun Demikian

Tapi : Tidak baku dan harus diperbaiki menjadi tetapi.

Tetapi  : Kata penghubung dalam/intrakalimat, tidak boleh di awal kalimat, dan harus didahului tanda koma.

Akan tetapi dan namun: Kata penghubung antarkalimat, harus di awal kalimat (bukan di tengah kalimat), harus diikuti tanda koma, dan kedudukannya bisa saling menggantikan (tergantung yang sesuai dengan konteks kalimatnya).

Namun demikian: Tidak baku karena juga tidak ada akan tetapi demikian dan harus diperbaiki menjadi meski demikian.

 

#18 – Imbuhan ter- dan ber-

Imbuhan ter- dan ber- berubah menjadi te- dan be- jika bertemu kata dengan suku kata pertamanya berakhir dengan er-.

Contoh:

ber + cer-min                        = becermin

ber + ker-ja               = bekerja

ber + per-gi + an       = bepergian

ber + ser-ta               = beserta

 

ter + ber-sih  = tebersih

ter + ber-sit  = tebersit

ter + cer-min = tecermin

ter + per-ca-ya         = tepercaya

ter + per-cik  = tepercik

 

Bandingkan dengan berikut.

ber + be-ri-ta        = berberita

ter + pe-ra-ngah  = terperangah

 

#19 – Imbuhan me-

Kata dasar yang diawali huruf K, T, S, dan P serta huruf keduanya berupa vokal mengalami peluluhan ketika bertemu dengan imbuhan me-.

Contoh:

me + korupsi = mengorupsi

me + pagar + I = memagari

me + tabrak  = menabrak

me + pengaruh + I = memengaruhi

me + sapu = menyapu

me + per + hati + kan = memperhatikan (kata dasarnya hati, per– merupakan imbuhan sehingga huruf p-nya tidak luluh).

Setiap kata dasar tersebut mempunyai huruf kedua yang berupa vokal, yaitu kOrupsi, tAbrak, sApu, pAgar, dan pEngaruh.

Jika huruf keduanya berupa konsonan, peluluhan tidak berlaku.

Contoh:

me + kRitik = mengkritik

me + sYukur + I = mensyukuri

me + tRaktor = mentraktor

me + pRoduksi = memproduksi

 

Namun, ada beberapa pengecualian.

Contoh:

me + kaji = mengaji (mempelajari Al-Quran)

me + kaji = mengkaji (meneliti)

me + punya + i= mempunyai

 

#20 – Bentuk Terikat

Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata berikut ditulis serangkai atau jika bertemu kata dasar, penulisan kata-kata berikut dirangkai.

adi dasa manca pra
aero de mono purna
antar deka multi sapta
anti dwi nara semi
anu eka non sub
audio ekstra panca swa
awa in pasca tele
bi infra pari trans
bio ko poli tri
catur maha pramu ultra
serba super    

 

Jika bertemu dengan nama, penulisan kata-kata tersebut dirangkai dengan tanda hubung (-).

Contoh:

anti-Israel

 

#21 – Kata Tugas pada Judul

Pada judul, penulisan kata-kata berikut diawali dengan huruf kecil (bukan kapital).

agar demi lalu secara sungguhpun
ala dengan lewat sehingga supaya
andaikan di manakala sejak tanpa
asalkan guna melalui sekaligus tatkala
atau hingga mengenai sekalipun tentang
bagaikan jika meski(pun) selagi terhadap
bagi jikalau oleh selama tetapi
bahwa kala pada seolah-olah untuk
berkat kalau saat sepanjang yang (kecuali pada posisi S)
biar(pun) karena sambil seperti walau(pun)
bila ke sampai seraya  
dalam kepada seakan-akan sesudah  
dan kendati(pun) sebagai setelah  
dari ketika sebagaimana sewaktu  
daripada laksana sebelum soal  

 

Demikian panduan editing naskah. Semoga bisa menjadi tambahan wawasan bagi penulis demi menghasilkan karya yang lebih baik dan bermutu.

Fachmy Casofa
Bagaimana Mendapatkan Rp10 Juta Pertamamu dari Menulis?
Dengan pengalaman menjadi editor, penulis profesional, dan digital marketer sejak 2009, saya akan memaparkan bagaimana caranya. Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
Jangan khawatir, saya juga benci dengan spamming. Kita belajar bersama untuk hidup yang lebih baik.
Jangan Lupa Share, Ya!
  • 2
    Shares
  • 1
    Share

Leave a Comment