tempat bersejarah rasulullah

Tempat-Tempat Bersejarah yang Dikunjungi Rasulullah

Tempat-Tempat Bersejarah yang Dikunjungi Rasulullah – Bila dilihat dari sudut yang berbeda, tempat-tempat yang pernah didiami maupun dikunjungi oleh Rasulullah saw awalnya adalah tempat-tempat yang hanya biasa saja, kemudian memiliki nilai penting sebab mementaskan sejarah Rasulullah saw nan mulia. Ada beberapa tempat yang sudah sangat bersejarah sebelumnya, namun namanya menjadi kian harum karena kunjungan Rasulullah saw. Bahkan ada pula yang sebelumnya tidak memiliki urgensitas sama sekali mendadak menjadi populer semenjak dikunjungi oleh Rasulullah saw.

Menariknya, kunjungan Rasulullah saw tidak hanya pada tempat-tempat di muka bumi, melainkan juga pernah sampai ke langit. Berkat kunjungan itu Rasulullah saw menuturkan gambaran yang sama sekali belum pernah dipersaksikan manusia sebelumnya sehingga membuka cakrawala kita akan sebuah fenomena di ruang angkasa. Bahwa ada aktivitas kehidupan yang jauh lebih hidup daripada yang kita jalani di bumi ini.

 

Tujuh Lapis Langit

Pemaparan tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh Rasulullah saw diawali dari tujuh lapis langit. Tempat ini dikunjungi Nabi saw pada peristiwa Mikraj. Nabi saw naik menembus lapis demi lapis langit didampingi oleh Jibril as, hingga sampai pada lapisan langit yang ketujuh. Di setiap lapisan langit beliau menyaksikan fenomena menakjubkan yang membuat beliau semakin tertegun tunduk terhadap kebesaran Allah swt.

Kunjungan Nabi Muhammad saw ke tujuh lapis langit ini atas undangan suci Allah swt. Beliau dibawa dalam perjalanan Mikraj yang panjang namun dalam waktu sangat singkat.

Lapisan langit yang pertama adalah langit dunia. Jibril as membawa Rasulullah saw melesat dengan kecepatan yang melebihi kedipan mata. Padahal antara bumi dengan langit dunia berjarak perjalanan 500 tahun. Sesampainya di pintu langit dunia, jibril mengetuknya. Penjaga pintu langit menanyakan tentang siapa yang datang sehingga terjadi dialog singkat. Akhirnya, pintu langit dunia dibukakan untuk Muhammad dan Jibril. Setelah membukakan pintu, penjaganya memberikan ucapan salam pada dua tamunya sekaligus menyampaikan kabar gembira akan keutamaan Rasulullah saw.

Di langit dunia Rasulullah menyaksikan ketaatan dan kepatuhan para malaikat dalam mengabdi pada Allah sesuai tugas mereka masing-masing. Beliau juga melihat malaikat-malaikat dengan ukuran sangat besar dan perawakan fisik yang mencengangkan.

Selepas dari langit dunia Nabi saw diajak Jibril naik ke lapisan langit yang kedua. Mereka berdua dipersilakan masuk juga ke langit kedua melalui prosesi yang sama dengan yang pertama. Di lapisan langit kedua ini Nabi saw juga menyaksikan banyak hal yang menakjubkan dan menggambarkan kemahakuasaan Allah swt. Demikian seterusnya sampai lapisan langit yang ketujuh, dimana pada setiap lapisan langit Nabi saw menyaksikan hal-hal baru yang sangat mencengangkan dan belum pernah beliau saksikan sebelumnya.

Pada setiap lapisan langit Nabi saw berkesempatan bertemu dengan para nabi dan rasul. Masing-masing mereka memberikan salam pada beliau dan mengucapkan selamat bahwa beliau adalah manusia yang mulia dan umatnya adalah umat yang mulia. Rasulullah saw juga diperlihatkan pada surga dan neraka serta segala fenomena yang terjadi di dalamnya.

 

Sidratul Muntaha

Usai menikmati berbagai macam keindahan di tujuh lapis langit, Muhammad saw melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha, dimensi paling terakhir yang bisa dicapai atau dikunjungi oleh makhluk. Kali ini Muhammad saw mengunjunginya seorang diri tanpa ditemani Jibril, karena Jibril ditakdirkan tidak dapat menembus dimensi Sidratul Muntaha. Jika nekat menembusnya, Jibril akan binasa terbakar oleh cahaya.

Mulanya Nabi saw ketakutan. Namun tak selang berapa lama datang empat malaikat dari dimensi Sidratul Muntaha menjemput Nabi saw. Mereka membawa sebuah tempat duduk berwarna hijau. Mereka mempersilakan Nabi saw menaikinya, lalu mereka membawanya melesat secepat lesatan anak panah yang terlontar dari busurnya. Nabi saw menembus beberapa hijab raksasa dan bertemu pula beberapa malaikat dengan ukuran sangat besar. Hingga sampailah beliau di Arsy Allah, bertemu dengan Allah dan mendapatkan perintah shalat wajib langsung dari Allah.

 

Baitul Maqdis

Sejarah kota al-Quds (Baitul Maqdis) merupakan sejarah yang sangat tua. Data terkuno menyebutkan bahwa sejarah tempat suci ini dimulai sejak 4000 tahun sebelum masehi. Pada masa itu, orang-orang Kan‘an yang berbangsa Arab mendirikan sebuah kota yang mereka beri nama Yurid Salim, yang berarti tempat kediaman Tuhan Salim atau Syalem.

Pada era kekuasaan bangsa Romawi, al-Quds dikenal dengan sebutan Eliya Kapitolena (Kota Tuhan). Di era inilah diperkirakan Rasulullah saw melakukan lawatannya ke kota tersebut. Dengan demikian, pada waktu itu pula kota ini menjadi saksi berlangsungnya peristiwa Isra-Mikraj.

Secara umum, ada semacam kesepakatan di kalangan sejarawan bahwa tempat-tempat terkenal di kota al-Quds yang dikunjungi Rasulullah saw hanya terbatas pada dua lokasi: Masjid al-Aqsha dan sebuah Shakhra (gundukan batu) yang penuh berkah berada dekat dengan Masjid al-Aqsha. Di atas Shakhra tersebut kemudian hari dibangun sebuah masjid yang diberi nama Qubbah Shakhra pada masa kekhalifahan Umar ibn Khathab.

Mayoritas pakar tafsir dan fikih berpendapat bahwa hikmah Rasulullah saw melakukan perjalanan Isra ke Baitul Maqdis dan menjadikannya sebagai titik tolak keberangkatan beliau menuju tujuh lapis langit, adalah karena Allah ingin menunjukkan secara langsung kepada Rasulullah saw tempat yang pernah menjadi kiblat shalatnya sebelum dialihkan ke Kakbah. Masjid al-Aqsha merupakan kiblat pertama umat muslim. Sehingga, masjid ini memiliki posisi penting dalam Islam. Karenanya, Allah ingin memuliakan masjid ini melalui kunjungan Rasulullah saw ke sana.

Di Baitul Maqdis, Rasulullah saw bertemu dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa, yang datang bersama rombongan para nabi lainnya untuk shalat bersama beliau saw. Mengingat bahwa Baitul Maqdis adalah kota tempat diutusnya para nabi terdahulu dan mereka menjadi pemimpin Bani Israel, maka peristiwa Muhammad saw mengimami shalat para nabi tersebut di Baitul Maqdis merupakan maklumat dari Allah bahwa penghulu dan pemimpin para nabi dan rasul adalah Muhammad saw. Pemimpin seluruh umat pun adalah Muhammad saw. Dengan demikian, Bani Israel yang sekalipun selama ini telah dikaruniai Allah dengan datangnya nabi-nabi, juga harus tunduk kepada Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. Pemaklumatan ini disampaikan dengan begitu historis di Baitul Maqdis.

 

Bukit Sinai

Bukit Sinai adalah tempat yang diberkahi Allah ketika Dia berdialog dengan Nabi Musa serta memerintahkannya untuk berdakwah kepada Firaun dan Bani Israel. Dialog tersebut tepatnya terjadi di lembah Thuwa yang terletak di Bukit Sinai. Bukit Sinai telah didatangi pula oleh banyak nabi, sejak Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad saw. Bukit Sinai memiliki sejarah yang panjang. Di bukit ini Bani Israel mengungsi dari penganiayaan bangsa Mesir.

Disinggahinya Bukit Sinai oleh Rasulullah saw pada malam Isra sebagai bentuk penghormatan pada tempat yang pernah menjadi saksi sejarah dialog antara Tuhan dengan Musa. Seakan Allah hendak mengingatkan Rasulullah saw akan sebuah momen yang menjadi tonggak dakwah di Mesir. Dialog Tuhan dengan Musa di Bukit Sinai inilah memang pintu gerbang dakwah kepada Firaun. Dalam dialog tersebut Tuhan tidak saja memerintahkan Musa untuk menyampaikan dakwah tauhid kepada Firaun, tetapi juga berbagi pendapat tentang bagaimana cara yang tepat melaksanakan dakwah tersebut. Dari dialog itu tercetus permintaan Musa agar dia didampingi oleh Harun dalam berdakwah kepada Firaun.

Dengan memperlihatkan tempat yang mulia ini, Allah memutar kembali memori Rasulullah saw bahwa beliau adalah nabi terakhir yang membawa misi termulia dan sangat penting. Nabi-nabi sebelum beliau telah pergi, dan sekarang beliau-lah yang musti melanjutkan misi mereka dan mengantarkan misi itu pada keberhasilan pencapaian targetnya. Melihat tempat bersejarah yang dipenuhi kenangan dapat memotivasi seseorang untuk menggapai apa yang pernah dicita-citakannya. Dengan melihat tempat bersejarah dimana Nabi Musa menerima wahyu dan risalah, Nabi Muhammad saw kembali memperoleh semangat juangnya yang sempat redup.

 

Betlehem

Betlehem terletak sekitar 10 kilometer arah selatan dari Baitul Maqdis. Orang pertama yang berdomisili di Betlehem adalah bangsa Kan‘an, sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Kota Betlehem telah menyaksikan banyak peristiwa religi yang lebih dulu terjadi sebelum kedatangan Nabi Isa. Seperti misalnya, tempat kelahiran Nabi Daud, dan sebuah sumur yang masih ada hingga kini yang dikenal dengan sebutan sumur Daud. Di kota yang sama pula Nabi Sulaiman berdomisili.

Namun dari semua peristiwa penting yang terjadi di Betlehem tersebut, yang paling fenomenal adalah peristiwa kelahiran Nabi Isa. Di salah satu pohon kurma di kota inilah, ibunda Nabi Isa, Maryam, berteduh dalam situasi hendak melahirkan. Dalam kondisi lapar, Maryam dikaruniai Allah makanan tatkala kurma-kurma di pohon itu jatuh berguguran. Di bawah Maryam juga mendadak memancar anak sungai sehingga ia bisa minum airnya. Tidak berapa lama bayi bernama Isa lahir.

Selain menyinggahi Bukit Sinai dalam perjalanan Isra dari Mekah ke Baitul Maqdis, Rasulullah saw juga singgah di Betlehem ini. Kunjungan Nabi Muhammad saw ke Betlehem menunjukkan penghormatan beliau kepada Nabi Isa, sekaligus mepernyatakan bahwa beliau-lah penerus risalah Isa. Beliau merupakan Nabi terakhir yang menyempurnakan dakwah Nabi Isa. Ini sekaligus pemaklumatan bahwa semua kaum, tak terkecuali kaum Nasrani, seharusnya menyempurnakan keberagamaan mereka dengan menerima dan mengikuti dakwah Nabi Muhammad saw.

 

Mekah al-Mukarramah

Mekah adalah bumi Allah yang sangat tercinta. Hal ini dapat dimengerti dari sabda Rasulullah saw, “Demi Allah, sesungguhnya kau adalah bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Kau adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Kalaulah bukan karena pendudukmu yang mengusirku, pastilah aku tidak akan pergi meninggalkanmu.” Dari aspek geografis, posisi kota Mekah sangat strategis, yaitu antara barat dan utara semenanjung Arab. Karenanya, tidak heran bila sepanjang sejarahnya kota ini terkenal sebagai salah satu pusat perniagaan dan terminal pemberhentian para kafilah dagang.

Mekah dimuliakan semenjak tangan Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, membangun Kakbah padanya. Sejak itu Mekah menjadi magnet dunia. Mekah sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia untuk beragam kepentingan. Salah satu kepentingan yang mendorong mereka adalah peribadatan. Orang-orang bermacam agama datang untuk melakukan ibadah haji berdasarkan versi mereka masing-masing di Kakbah. Hal ini berlangsung hingga zaman Rasulullah saw. Namun karena pengaruh kemusyrikan sangat kuat mendominasi wilayah Mekah, di sekitar Kakbah terdapat banyak patung-patung berhala untuk penyembahan.

Di Mekah ini Nabi saw berjuang menegakkan syiar agama tauhid. Beliau berupaya mati-matian untuk membersihkan Kakbah dari kesyirikan. Beliau rela mengalami segala macam penyiksaan dan penganiayaan demi misi tersebut. Hingga akhirnya Allah mengizinkan beliau berhijrah meninggalkan kota tercinta yang sudah sangat sulit diubah. Beliau membangun sebuah peradaban Islam di Madinah. Beliau juga menyusun kekuatan muslimin di sana guna menghadapi berbagai macam ancaman militer, termasuk ancaman dari Quraisy Mekah. Sejumlah peperangan terjadi, hingga akhirnya beliau dan para sahabat berhasil menaklukkan Mekah dalam peristiwa Fathu Mekah.

Pada momen itulah beliau membersihkan Mekah dari patung dan berhala. Semua itu disingkirkan dan dilenyapkan. Beliau lantas mengukuhkan Mekah sebagai kota suci utama umat Islam, dimana ritual ibadah haji diberlangsungkan di sana. Sejak saat itu, Mekah menjadi pusat spiritualitas dan relijiusitas masyarakat dunia. Oleh Rasulullah saw, Mekah dikembalikan kepada fitrah tauhidnya sebagaimana pada saat Nabi Ibrahim dan Ismail mendirikan Kakbah di atasnya.

 

Syam

Rasulullah saw pernah mengunjungi Syam sebanyak dua kali sebelum beliau diutus sebagai Nabi. Pertama, saat beliau masih anak-anak dan usia beliau belum melampaui sepuluh tahun. Kedua, sekitar sepuluh tahun kemudian. Dalam dua kali kedatangan beliau ke sana, semuanya dalam rangka perniagaan, baik bersama paman beliau, Abu Thalib, maupun ekspedisi membawa dagangan Khadijah binti Khuwailid.

Syam termasuk negeri penting yang terdapat di semenanjung Arab. Negeri ini merupakan perpanjangan kawasan Arab yang kaya dan subur. Sepanjang sejarah, negeri ini selalu menjadi tujuan hijrah banyak generasi, untuk menetap, berkeluarga, dan berbisnis di sana. Sudah sejak lama pula hubungan Syam dan Arab terjalin. Kebanyakan hubungan ini terbangun atas dasar perniagaan, pangan, serta produk-produk pokok lainnya.

Keberadaan calon nabi bernama Muhammad mulai dideteksi kaum Nasrani di Syam ini. Tepatnya di wilayah Bushra tatkala beliau berjumpa dengan rahib Nasrani bernama Bahirah. Syam memberi arti penting bagi perjalanan hidup Rasulullah saw, sebab dari Syam beliau banyak belajar tentang aktivitas perdagangan.

 

Thaif

Proses mencari dukungan dakwah mendorong Rasulullah saw melangkahkan kaki ke Thaif. Hal itu dilakukan karena dalam sekian waktu upaya dakwah di Mekah, hasil yang didapatkan tidak terlalu menggembirakan, bahkan orang-orang Mekah kerap melakukan penyiksaan dan penganiayaan terhadap Nabi dan sahabat. Rasulullah saw datang ke Thaif, menyampaikan dakwah Islam kepada penduduknya dengan harapan mereka bisa turut membantu kereta dakwah. Namun, yang didapatkan oleh Rasulullah adalah sebaliknya.

Rasulullah saw dicemooh dan dianiaya dengan sangat keras oleh penduduk Thaif, sampai kepala dan mata kaki beliau terluka parah. Dalam kondisi demikian, malaikat datang menolong Rasulullah saw. Bahkan malaikat menawarkan bantuan, jika Rasulullah saw mau, malaikat bisa saja membinasakan masyarakat Thaif saat itu juga. Tetapi dengan besar hati Rasulullah saw mencegah malaikat dari melakukannya. Rasulullah berargumen, masyarakat Thaif melakukan penganiayaan pada beliau lantara mereka tidak tahu. Suatu saat, jika mereka tahu dan paham tentang Islam, mereka akan berbalik menjadi anugerah bagi Islam.

Harapan dan argumen Rasulullah saw tidak salah. Meski menolak dengan keras kedatangan Muhammad saw, penduduk Thaif mulai tahu keberadaan seorang nabi pembawa ajaran Islam. Walau menentang, lambat laun mereka mau belajar juga tentang ajaran yang dibenci habis-habisan oleh penduduk Mekah. Mereka penasaran, mengapa sebegitu besarnya kebencian penduduk Mekah terhadap ajaran Nabi Muhammad saw. Dari belajar, hidayah terbuka sehingga pada akhirnya beberapa tahun kemudian penduduk Thaif berbondong-bondong masuk Islam.

 

Madinah al-Munawwarah

Madinah al-Munawwarah adalah saksi besar berdirinya sebuah masyarakat berperadaban. Wilayah yang dahulunya bernama Yatsrib ini adalah tempat tujuan hijrah Rasulullah bersama para sahabatnya dari Mekah. Di sini beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau menghimpun semua kelompok masyarakat yang ada di Madinah untuk hidup bersama dan menaati aturan dalam bentuk Piagam Madinah.

Dari Madinah, cahaya Islam yang terang benderang memancar tanpa bisa ditahan apapun. Hal ini membuat orang-orang musyrik Mekah semakin gusar. Mereka melancarkan ancaman peperangan kepada umat muslim. Sehingga, meletuslah sejumlah peperangan hingga akhirnya Allah menakdirkan Islam keluar sebagai pemenang. Demikianlah Islam menapaki tangga kejayaannya semenjak tumbuh dan berkembang di kota Madinah.

 

Khaibar

Selama di Madinah, kaum Yahudi dari Bani Nadhir dan Bani Qainuqa’ senantiasa membuat makar jahat yang mengganggu stabilitas masyarakat. Tindakan makar dan provokasi mereka berujung pada peperangan dalam kota Madinah antara muslim dengan Yahudi. Yahudi kalah dan harus pergi meninggalkan Madinah. Mereka kemudian banyak yang lari ke Khaibar dan menyusun kembali kekuatan mereka di sana. Bahkan, mereka semakin kuat saja di Khaibar.

Yahudi mampu membangun benteng-benteng besar dan kokoh di Khaibar. Dengan perkembangannya yang signifikan, bukan tidak mungkin Yahudi di Khaibar akan menjadi ancaman terbesar bagi muslimin pasca perjanjian Hudaibiyah. Sebab itulah, selama menjalani masa gencatan senjata perjanjian Hudaibiyah dengan musyrikin Mekah, Rasulullah saw melakukan ekspedisi militer ke Khaibar guna meredam ancaman dari kaum Yahudi tersebut. Meletuslah perang Khaibar yang berakhir dengan kemenangan Islam.

Perang Khaibar sendiri mencatat sebuah sejarah perang yang penuh rahmat. Target penyerangan betul-betul pada objek militer. Sebelum berangkat, Rasulullah saw berpesan pada pasukannya agar tidak membunuh wanita dan anak-anak, serta tidak merusak bangunan non-militer, sawah, dan ternak. Perang ini pun dapat diminimalkan jumlah korbannya, sebab banyak orang Yahudi yang kemudian memilih tunduk secara damai kepada kekuasaan Islam. Dengan demikian, wilayah Khaibar berubah menjadi wilayah kedamaian dimana umat Yahudi dapat hidup secara damai dalam kekuasaan Islam.

 

Baca juga: Penulis Biografi Terbaik di Indonesia

 

Tabuk

Tabuk adalah tempat yang menjadi sasaran ekspedisi militer terakhir Rasulullah saw. Itu bermula dari informasi kalau pasukan Romawi tengah menyiapkan pasukan yang besar untuk menyerang Madinah. Nabi Muhammad saw pun segera menyiapkan pasukan sebesar mungkin seakan-akan ini peperangan terakhir, hidup dan mati, karena besarnya musuh yang dihadapi. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di Madinah, pasukan muslim bergerak ke Tabuk.

Romawi yang mendengar bahwa pasukan muslim sudah bersiap untuk berperang, justru malah khawatir dan takut, padahal mereka adalah imperium raksasa yang pastinya lebih digdaya ketimbang pasukan muslimin. Mereka menarik mundur pasukan sehingga peperangan besar tidak terjadi. Pasukan muslim malah leluasa untuk menjalin aliansi kabilah-kabilah yang ada di sekitar perbatasan Romawi. Inilah ekspedisi perang terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Tabuk nyaris menjadi saksi peristiwa pertumpahan darah terbesar dalam sejarah Rasulullah saw. Tetapi atas kehendak Allah hal itu tidak terjadi. Tabuk justru menjadi tempat strategis yang memaklumatkan pada dunia tentang ketangguhan dan keberanian pasukan muslimin serta kekalahan pasukan Romawi tanpa peperangan. Dari peristiwa Tabuk, pamor pasukan muslimin dan pamor Rasulullah saw sebagai pemimpinnya menjadi makin diperhitungkan oleh masyarakat dunia. []


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Ingin menghasilkan ratusan juta dari skill menulis? Baca saja buku terbaru saya ini. Pembahasan super lengkap, dan bakalan bikin kamu yang hobi dan suka menulis, berubah selamanya! KLIK DI SINI atau pada gambar di bawah ini, ya!


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.