. . .

Mengapa Kita Harus Selalu Berdoa?

doa

Maka aku katakan kepada mereka, ‘Memohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.’ (Nuh [71]: 10)

Mengenai ayat ini dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Nabi Nuh meminta kepada kaumnya agar mau berdoa kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya dan segera bertaubat dari kemusyrikan dan agar menge-Esa-kan Allah Yang Maha Tinggi. Karena Allah akan mengampuni dosa mereka walau sebesar apapun dosa mereka. Dan apabila mereka mau bertaubat maka Allah akan menganugerahkan anak-anak dan harta yang banyak serta akan menumbuhkan berbagai macam tanaman bagi mereka dan memperbanyak susu ternak dan memberi mereka rezeki dengan sungai-sungai dan kebun-kebun yang indah nan menyenangkan.

Di dalam ayat di atas kita akan melihat sebegitu pentingnya sebuah doa. Sampai-sampai, Allah akan memberikan begitu banyak anugerah yang berlimpah apabila kaum Nabi Nuh mau berdoa untuk bertaubat kepada-Nya. Karena pada dasarnya doa itu intinya adalah ibadah, dan doa adalah senjata. Doa adalah benteng, dan doa adalah obat. Begitu pula doa adalah pintu segala kebaikan. Begitulah ungkapan yang menggambarkan dahsyatnya kekuatan doa.

Allah, tempat diarahkannya doa memiliki dua sifat agung: Ar-rahman dan Ar-rahiim. Tentang dua sifat itu Abdullah Ibnul Mubarak berkata, “Ar-rahmaan yaitu jika dia diminta pasti memberi, Ar-rahiim yaitu jika tidak dimintai maka dia murka.”

Tentang dahsyatnya kekuatan doa, marilah sejenak kita melihat cerita yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa ada seorang Anshar yang biasa dipanggil Abu Ma’laq. Ia adalah seorang sahabat Rasulullah yang taat beribadah dan selalu menjaga kebersihan diri.

Abu Ma’laq, ia adalah pedagang yang biasa berkeliling berbagai negeri. Suatu hari, ia dihadang oleh para perampok bertopeng. Perampok itu berkata “Serahkan barang-barangmu, dan aku akan membunuhmu.”

“Bukankah engkau hanya memerlukan hartaku?” jawab Abu Ma’laq.

“Harta itu telah menjadi milikku, tapi aku tetap ingin membunuhmu.” Paksa para perampok.

“Baiklah jika begitu,” jawab Abu Ma’laq pasarah, “tetapi izinkanlah aku shalat empat rakaat dahulu.”

Perampok itu menyahut, “Shalatlah seberapa banyak rakaat pun yang kamu suka.”

Abu Ma’laq berwudhu lalu melakukan shalat empat rakaat. Pada sujud yang paling terakhir dalam shalatnya ia berdoa, “Wahai yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Arsy Paling Mulia, wahai yang Maha Berbuat Apa-Apa Sesuai Kehendaknya. Aku memohon dengan keperkasaan-Mu yang tidak tertandingi. Dan dengan kekuasaan-Mu yang memenuhi semua penjuru singgasana-Mu. Agar Engkau menghalangi kejahatan perampok ini.”

Setelah membaca doa itu tiga kali. Tiba-tiba datanglah seorang pejuang penunggang kuda yang membawa sebuah tombak di antara kedua telinga kudanya. Ketika perampok itu melihatnya, penunggang kuda itu langsung membunuhnya, setelah itu penunggang kuda tersebut berkata kepada Abu Ma’laq, “Berdirilah kamu!”

Abu Ma’laq kemudian menutup shalatnya.

Setelah itu Abu Ma’laq bertanya kepada lelaki itu, siapa sesungguhnya dirinya.

“Aku adalah malaikat dari langit yang keempat,” jawab lelaki itu, “Ketika kamu berdoa pada kali yang pertama, aku mendengar di pintu langit ada bunyi gemeretak. Kemudian ketika kamu berdoa pada kali yang ketiga, ada yang berkata, ‘Itu adalah doa seorang hamba yang sedang ditimpa kezhaliman.’ Lalu, aku memohon kepada Allah agar aku dijadikan utusan-Nya untuk membunuh pelaku kedzaliman itu.”

 

Baca juga: Berdoa di Waktu Lapang Maupun Sempit

 

Setiap saat kita bergantung kepada Allah, kita tidak pernah tahu apa kesudahan dari seluruh langkah-langkah hidup kita, dalam jangka pendek maupun panjang. Akankah kita sukses, ataukah malah gagal? Akankah kita menemui kesenangan, ataukah tersandung segunung kepahitan? Akankah usaha kita lancar, ataukah justru mengalami kebangkrutan? Yang kita lakukan hanyalah menata ikhtiar sebaik mungkin. Kita memang harus yakin dengan tujuan, tetapi kita juga harus sadar, bahwa segala kesudahan itu tidak hanya bergantung kepada keyakinan.

Kita tak pernah bisa memastikan tentang apa yang akan kita temui, bahkan untuk beberapa saat kemudian. Maka ketergantungan kita kepada Allah adalah bahasa lain dari keharusan kita untuk selalu berdoa. Karena memang, bukan kita penentu segalanya. Dan dengan berdoa kepada Allah, kita telah mengadu kepada dzat yang paling tulus menerima pengaduan. Allah Maha Pengasih dan Maha Mendengar doa hambanya.[]

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.