creativepreneur

Creativepreneur: Mindset Menjadi Pebisnis Kreatif Sukses!

Creativepreneur – Mengarungi hidup sebagai seorang creativepreneur adalah anugerah, sekaligus sebuah tantangan. Anugerah, karena tak semua orang bisa menjadi creativepreneur. Pengusaha kreatif yang menghadirkan produk atau jasa kreatif untuk menyelesaikan permasalahan orang-orang. Dan tantangan, karena sebagaimana dalam dunia usaha pada umumnya, selalu saja ada hal-hal yang menakjubkan, yah, mengagetkan, yang ada di hadapan untuk harus terus diselesaikan.

Dasar kerja creativepreneur adalah kreativitas. Kreativitaslah yang menuntun seorang creativepreneur memulai konsep bisnisnya, kemudian mengeksekusinya menjadi bisnis nyata.

Dan saat badai cobaan menjatuhkan bisnisnya, kreativitas pulalah yang membuatnya bangkit lagi. Meracik ramuan kreativitas baru lagi. Siap untuk menggema dan menggemparkan lagi.

Dan dengan bekal kreativitasnya itu pula lah ia mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengatasi berbagai masalah sosial di masyarakat.

“Pebisnis itu seperti seniman,” kata Richard Branson. “Yang Anda hadapi saat memulai sebuah perusahaan adalah kanvas kosong. Anda harus mengisinya. Persis seperti seniman cakap yang harus menempatkan setiap detail dengan tepat di kanvas, seorang pebisnis harus memastikan semuanya tepat di awal bisnis agar berhasil. Tetapi, tak seperti karya seni, bisnis tak pernah selesai. Bisnis terus-menerus berkembang dan juga tak semudah itu menutupi kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan.”

Kreativitasnya menghadirkan keberanian. Bagi para creativepreneur, keberanian untuk mengeksekusi idenya adalah kemutlakan.

Orang yang berani mengambil risiko memang mengherankan.

Dia menempuh jalan yang orang lain tidak tempuh. Mendaki keterjalan yang orang lain enggan bahkan untuk mendekat. Tetapi, bagi orang-orang yang berani seperti itu, memegang teguh prinsip bahwa:

Orang berani mungkin memang tak hidup selamanya, tetapi orang yang berhati-hati takkan hidup sama sekali!

Hal pertama yang harus kamu ketahui ketika memutuskan menjadi seorang entrepreneur adalah kamu harus benar-benar tahu apa yang akan kamu lakukan. Jangan menjadi seorang entrepreneur hanya karena ini adalah tren, atau karena kelihatannya menarik. Atau menjadi seorang entrepreneur hanya karena kamu sering melihat orang-orang sukses yang bermewah-mewahan dengan harta dan bersenang-senang dengan liburan.

Jadilah seorang entrepreneur karena kamu memang menginginkannya. Benar-benar menginginkannya. Hal itu harus benar-benar lahir dari passion terdalammu. Lalu, persiapkanlah juga dirimu dengan segala konsekuensi yang akan datang menghampirimu nantinya.

Menjadi seorang entrepreneur memang harus lahir dari passion, karena ketika ada aral dan permasalahan bisnis yang menghadang, kamu akan menganggapnya sebagai tantangan, bukannya beban hidup yang membuatmu makin stres.

Starting a business is like deciding you will climb mount everest, so be ready mentally and physically!

Have a clear road map towards your goals.

Envisioning is powerful, to work on it requires a blueprint and pick your mentors.

And always remember: victory loves preparation. Take action but prepare before your ACT!

Dalam mewujudkan keinginanmu menjadi seorang entrepreneur, jadikan motivasi terbesarmu adalah ingin menantang dirimu sediri untuk naik ke level berikutnya, yakni level kehidupan dan level kemampuanmu yang baru. Dengan begitu, kamu akan terus bekerja dengan serius untuk menaklukkan dan mencapai level baru yang kamu inginkan.

Menjadi seorang entrepreneur akan menghabiskan sumber daya personalmu: waktu, keluarga, keahlian, bahkan uang. Maka, pastikan bahwa kamu memiliki keyakinan yang kuat, bahwa potensi bisnismu akan sepadan dengan apa yang sekarang tengah kamu korbankan.

The only way to be satisfied in your work is to do work that you truly believe in.

Tak usah gelisah dengan risiko. Ambil. Bila pada akhirnya gagal, jadikan pelajaran. Bila pada akhirnya berhasil, tentu itu berdasar naluri bisnismu yang kuat, kalkulasimu yang matang, dan sudah melalui perencanaanmu yang brilian.

Dalam hidup dan berbisnis, kita akan selalu dihadapkan pada dua hal, yakni keberhasilan atau kegagalan. Jangan sesali kegagalan, tapi sesalilah saat kita tak berani ambil keputusan untuk melakukan sesuatu. Toh, pada akhirnya, saat menua nanti, kita cenderung menyesal pada hal-hal yang belum dan tak berani kita ambil keputusan untuk dilakukan, daripada hal-hal yang sudah kita lakukan.

Seperti teman saya, yang meneruskan usaha orang tuanya. Namanya adalah CV Parbo House, sebuah perusahaan yang fokus menjual plywood. Dia pun mem-branding usahanya dengan sebagai pusat jual plywood di Solo, karena memang banyak sekali varian produknya yang berdasarkan pada plywood. Sangat menginspirasi dan tak kenal menyerah segala upayanya membesarkan usaha orang tuanya tersebut. Patut diacungi jempol!

Seperti itu juga yang dialami oleh Chris Ozer. Awalnya, fotografi baginya hanyalah sekadar hobi, sampai Michael O’Neal, temannya yang seorang fotografer profesional menyarankannya untuk menjadikan fotografi lebih diseriusi.

Tentunya, awalnya ia tak membayangkan bahwa fotografi profesional akan menjadi jalan hidupnya yang terbentang cerah.

Sejak SMA-nya, Chris serius di musik. Bahkan, mengambil jurusan musik semasa kuliah di University of North Carolina, dan kemudian mengambil master yang juga di jurusan musik di Indiana University. Jadi, sangat jauh dari profesi profesionalnya sekarang sebagai fotografer.

Toh, dengan latar belakang musik yang ditekuninya sangat lama itu, Chris tidak menyesalinya bila sekarang tidak menghabiskan waktu untuk bermain musik sebagaimana bayangannya dulu ketika mengambil jurusan itu. Latar belakangnya itu justru memberikan emosi yang kuat dan warna yang khas dalam setiap gambar yang diambilnya. Olah skill fotografi berpadu dengan latar belakang musiknya yang kuat itulah yang menjadikannya memiliki keunikan di antara fotografer lainnya.

Skill dan keunikannya pernah diminta kerjasamanya oleh Cole Haan, Facebook, Nike, PayPal, Sony, Burger King, General Electric, Grey Goose, Mercedes Benz, Stella Artois, TOMS, dan masih banyak lainnya.

Dengan latar belakang kuat dan skill yang kita punya, sebenarnya klien tidak sedang membayar kita untuk itu, tetapi membayar atas perjalanan panjang kita sampai ke titik sekarang, atas segala ilmu, atas segala perjuangan, atas segala jerih payah, atas segala apa pun yang kita amati, pelajari, rasakan, dan ingin kita kreasikan.

Jalan hidup memang sering tak bisa kita tebak. Untuk itulah kita harus selalu menyiapkan segala persiapan yang perlu. Lakukan yang terbaik hari ini, di hari depan kita akan bergelimang kebaikan menghampiri.

Jangan menyesali jalan hidupmu. Bila hari ini kita masih berkutat dengan rutinitas yang belum sesuai dengan apa yang kita impikan, suatu saat nanti kita akan meraihnya, asalkan kita terus berusaha menggapai ke tempat yang kita inginkan tersebut.

Seperti Chris, yang akhirnya menemukan jalan kreatifnya, walau sebelumnya harus melalui jalan yang amat jauh dari dunia kreatif yang tengah digelutinya sekarang, namun itu justru memperkuat profesi kreatifnya, karena memiliki kekhasan yang teramat sulit untuk ditiru fotografer lainnya.

So, what is your unique point in your creative field?

Percaya diri bahwa kita bisa mewujudkan impian dan sukses adalah kekuatan yang perlu kita pelihara dengan baik. “Whether you think you can, or think you can’t, you’re right,” kata Henry Ford. Saat kita selalu percaya bahwa kita akan sampai pada impian kesuksesan yang kita tuju, kita akan selalu menemukan jalan untuk ditrabas. Ada saja jalannya, dan ada saja caranya. Hal itu karena kita yakin. Berbeda saat kita tidak yakin dengan diri sendiri. Kita menjadi lemah, pengecut, dan selalu menemukan alasan.

Being a successful entrepreneur takes a lot of work, a lot of vision and a lot of perseverance.

Truly understanding your industry is key to having success.

 

Mendirikan Usaha Berdasarkan Passion

Banyak orang bertanya-tanya, apakah memilih usaha berdasar passion bisa diwujudkan? Karena, passion identik dengan hobi, dan hobi adalah kegiatan yang sudah pasti mengeluarkan uang. Bahkan, banyak orang yang memercayai bahwa menyalurkan hobi adalah kegiatan yang menghambur-hamburkan uang.

Namun, satu hal yang harus kita tahu, bahwa Mark Zuckerberg membesarkan Facebook juga karena passion-nya di bidang teknologi. Begitu juga Steve Jobs dan Bill Gates. Bahkan, Dian Pelangi, membesarkan usaha busana muslimahnya juga karena passion-nya di bidang tata busana muslimah. Hal yang sama bisa kita temui pada Ria Miranda mau pun Jenahara.

Akhir-akhir ini, kita bahkan sudah menemui makin banyak pengusaha muda yang memulai usahanya berdasarkan minatnya, gairah terbesarnya, passion-nya, dan bukan yang lain.

Jika kamu membuka usaha berdasar passion kamu, efeknya kamu akan lebih sering untuk bekerja lebih keras daripada orang lain, mengenal dan lebih mencintai usaha yang dipilih dan lebih mudah untuk memecahkan banyak kendala dalam perjalanan bisnismu, menikmati keseimbangan hidup antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta selalu bergairah melakukan pekerjaan secara konsisten, dan akan lebih banyak membangun momentum yang akan mendatangkan keuntungan dan hal-hal baik.

Kelihatannya menarik, bukan?

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara menemukan passion diri untuk kemudian bisa diaplikasikan dalam membuka usaha?

Gampang. Cukup lakukan saja beberapa hal berikut ini.

1 – Berhentilah sejenak dari aktivitas. Berdiamlah. Dan pikirkanlah baik-baik. Kegiatan apa sih yang membuatmu sering lupa waktu karena kamu begitu menikmatinya?

2 – Hal apa yang sering kamu melakukannya tanpa pamrih? Bahkan, tanpa dibayar pun, kamu sangat senang untuk melakukan hal tersebut.

3 – Mintalah pendapat kepada teman dekat, keluarga, dan orang-orang yang sering bergaul denganmu, tentang ketertarikan terbesarmu ada pada apa. Selain minat, mungkin kamu bisa juga menanyakan kepada mereka, tentang pandangan hal terbaik apa yang pernah kamu lakukan, sehingga itu bisa menjadi bagian dari aktivitas terbaik yang pernah kamu lakukan.

4 – Catat atau ingat-ingat, prestasi-prestasi terbaik yang pernah kamu buat, terbanyak ada pada bidang apa?

5 – Nah, setelah itu, coba pikirkan lagi, kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi dalam bidang yang menjadi passion kamu itu. Misalkan nih, passion kamu adalah hal-hal yang berhubungan dengan adventure sport. Ambil peluangnya, misalkan dengan menjadi produsen, distributor, atau agen grosir atau juga pengecer mengenai peralatan adventure sport. Bisa juga mengambil ceruk di jasa guide, dan lain sebagainya. Bila kamu cukup passionate tentang dunia yang kamu geluti, kamu pasti akan tahu dengan sendirinya, ceruk apa yang bisa kamu manfaatkan dan ambil untuk mendapatkan peluang usaha tersebut.

6 – Intinya, penuhi semua kebutuhan, baik produk maupun jasa yang sebisa mungkin dapat menciptakan kesenangan, keterampilan, keamanan, kesehatan, juga kenikmatan, keindahan, dan efisiensi, dalam bidang yang kamu geluti tersebut. Di sanalah peluang usaha akan dapat kamu tangkap dan maksimalkan menjadi pundi-pundi uang.

 

Nah, untuk kamu yang ingin maupun yang sudah terjun menjadi creativepreneur, kedua belas karakter ini harus ada dan tertanam dalam diri kamu.

1 – Adaptability

Kemampuan untuk menghadapi situasi baru dan menemukan solusi kreatif dari permasalahan-permasalahan yang ada. Misalkan dengan isu kenaikan BBM, perubahan customer behavior, dan aspek-aspek lainnya yang perlu disikapi dengan cepat.

Setiap pengusaha kreatif harus selalu beradaptasi pada situasi baru dan menemukan solusi kreatif atas permasalahan-permasalahan tersebut.

2 – Competitiveness

Kesediaan untuk terus bersaing dan menguji diri sendiri terhadap yang lain. Dalam dunia usaha, akan selalu ada dan juga tumbuh pesaing-pesaing baru. Hal ini wajar dan pasti akan dialami oleh semua pengusaha. Makanya, sikap untuk terus mau berkompetisi, melakukan yang terbaik, dan menghadirkan kekuatan terbaik harus menjadi karakter.

3 – Confidence

Sikap penuh keyakinan bahwa kamu bisa melalukan apa yang telah kamu terapkan dengan konsisten. Tetapi, sikap percaya diri jangan berlebihan, namun harus ditingkatkan. Kepercayaan diri harus ada, agar kamu bisa membangun networking dengan lebih baik. Apalagi, misalkan ketika pas presentasi. Tentu sangat aneh bila kamu tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup akan produk atau jasamu sendiri. Jika kamu tidak cukup percaya dengan produk atau jasamu, mengapa orang lain harus percaya, bukan?

4 – Discipline

Kemampuan untuk tetap fokus dan taat pada jadwal dan rencana serta deadline. Disiplin pada setiap target harian. Target bulanan. Juga target tahunan. Semua harus dilakukan dengan determinasi dan disiplin yang kuat. Tentu, membangun bisnis tidak dilakukan dan dikembangkan dalam satu atau dua hari saja. Maka, tanpa disiplin yang cukup, bisnismu tak akan ke mana-mana.

5 – Passion

Gairah untuk terus bekerja keras dalam mencapai tujuan. Passion akan memacu semangatmu dalam berkarya dan bekerja serta tak mudah bosan. Passion akan membuatmu bertahan, di saat teman-temanmu seangkatan sudah mulai menyerah pada bisnisnya. Passion akan membuatmu mampu melihat visi lebih jauh dan juga lebih jernih.

6 – Honesty

Komitmen untuk berpegang teguh pada kebenaran, tidak dusta, dan bersikap fair setiap kali harus berhubungan dengan orang lain. Sikap jujur akan membuat loyalitas pelanggan membesar. Usaha yang kamu jalankan pun akan semakin lancar.

7 – Organizing

Kemampuan untuk mengorganisasikan atau mengatur segala sesuatu agar mencapai tujuan. Dengan tim kerja yang solid, usaha yang kamu jalankan akan lebih mudah mencapai tujuan. Jangan dikira, membangun bisnis adalah tentang kamu. Bukan, ini adalah tentang timmu dan tentang pelanggan-pelangganmu. Saat kamu tak memiliki kemampuan untuk mengatur dan memberikan delegasi, atau merancang sesuatu, bisnismu akan tidak berjalan baik.

8 – Perseverance

Kegigihan untuk terus bertahan mencapai tujuan, apa pun kendalanya. Kegagalan dan kerugian membuat semua rintangan tersebut bisa dilibas dengan baik. Memang butuh waktu lama, tetapi itu sepadan, kok.

9 – Persuasiveness

Kemampuan membuat orang lain tertarik dan meyakinkan orang lain atas ide kamu. Ber-networking dan bernegosiasi tentu butuh kemampuan untuk meyakinkan orang lain atas ide-ide brilianmu. Ide terbaik tanpa suguhan kemampuan meyakinkan kepada rekan bisnis maupun calon klien, tentu sia-sia saja.

10 – Risk Taking

Dorongan untuk berani menghadapi dan mengambil risiko. Dalam perjalanan panjang membangun bisnis, risiko akan selalu ada dan hadir dalam perjalanan. Tanpa keberanian mengambil risiko dan keteguhan hati untuk menyelesaikannya hingga tuntas, akan membuat bisnismu stagnan.

11 – Understanding

Kemampuan untuk mendengarkan dan berempati kepada orang lain. Kemampuan mendengar dan memahami konsumen dan mitra kerja akan memberikan dampak luar biasa terhadap kemajuan usaha kamu.

12 – Vision

Kemampuan untuk melihat hasil akhir dari tujuan kamu sambil bekerja untuk mencapainya. Visi bagi seorang pengusaha adalah target pengembangan usaha yang hendak dicapainya di masa depan.

”Mastering others is strength. Mastering yourself is true power.” —Lao Tzu

1 – Multi

Ada dua multi yang dimiliki oleh seoarang creative leader, yang pertama adalah multikarier, dan yang kedua adalah multiskill.

Multikarier bermakna menjalani dua atau lebih karier dalam waktu bersamaan. Bisa juga, berganti karier setelah menjalani satu karier dalam periode waktu tertentu.

Contoh yang sukses dengan multikarier adalah John Grisham. DIa menjadi politisi pada rentang 1983–1990, dan sebelumnya adalah pengacara selama 10 tahun. Novel masyhurnya yang berjudul A Time to Kill, dimulai rentang waktu 1983–1987 setiap pagi sebelum ke kantor. Yah, seperti novelnya yang terlihat nyata itu, inspirasi kisahnya juga dia dapatkan dari kasus hukum nyata yang terjadi saat itu.

Contoh lain adalah Andrea Bocelli. Menjadi pengacara hanya selama setahun, kemudian memutuskan untuk berkarier di dunia musik. Franco Corelli dipilihnya sebagai mentor, dan sekarang kita mengenalnya sebagai penyanyi dengan suara indah dan beberapanya menjadi musik favorit manusia sejagad, seperti The Prayer ( yang hasil duet dengan Celine Dion), Con Te Partiro, atau Time to Say Goodbye (duet dengan Sarah Brightman).

Bayangkan, seorang ahli filsafat, kritikus seni, pelukis, sekaligus penulis berbagai bidang, seperti geologi, arsitektur, mitos, sastra, dan juga botani!

Itu seperti profesi 20 orang, berkumpul dalam satu sosok.

Dialah John Ruskin. Dan untuk menjadi multiskill seperti dia, rahasianya hanya, ”Ketika cinta dan keterampilan bersatu, adikarya akan tercipta.”

Stephen R. Covey, mengatakan bahwa salah satu upaya memberdayakan sebuah organisasi adalah ketika ada kesempatan sukses secara pribadi bagi individu yang memiliki pengetahuan, keterampilan, keinginan, dan kesempatan dengan cara yang nantinya mengarah pada keberhasilan organisasi secara kolektif. Bahkan, dia juga menggambarkan pemberian kesempatan bagi para individu yang memiliki beragam keterampilan haruslah dikembangkan oleh setiap perusahaan dan organisasi yang ingin sukses.

2 – Lihai Merangkul

Seorang pemimpin tidak dilahirkan, dia terbentuk. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti proses interview pembuatan buku biografi resmi Jokowi, yang ditulis oleh Alberthiene Endah. Saat itulah saya kemudian tahu, bahwa Jokowi memang telah melewati serangkaian ‘jedar-jeder’ hidup, hingga kemudian menduduki puncak tertinggi kepemimpinan di Indonesia: Presiden. Tetapi, satu hal yang saya salut, adalah kemampuan beliau untuk merangkul.

Seorang creative leader akan memilih motivasi daripada manipulasi. Dan akan lebih memilih merangkul daripada menyuruh, membentak, apalagi menghardik.

Berkali-kali saya bertemu Jokowi, dan beliau selalu menunjukkan karakter itu. Sebuah sejatinya tugas pemimpin, untuk menjadi integrator; penghubung dari berbagai macam kemampuan orang-orang yang dipimpinnya. Bukan menjadi pucuk pimpinan yang sok tahu, apalagi belagu.

Dan dari karakteristik lihai merangkul itulah, kemudian walau hadir beragam konflik, serang creative leader akan selalu bisa mengubah konflik yang destruktif menjadi konstruktif, membuat semuanya nyaman untuk bekerja sama mencapai tujuan, menguatkan hubungan berbagai pihak hingga lahir rasa saling menghargai, dan tentu saja, terpenting adalah meningkatkan kemampuan semua pihak sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

3 – Berjejaring

Lihai dalam membuka diri untuk menjalin interaksi dengan beragam komunitas atau pihak adalah karakteristik ketiga. Salah satu cara untuk memperluas jejaring adalah dengan mengikuti seminar, pelatihan, atau social gathering.

Apalagi, sekarang dengan maraknya media sosial seperti LinkedIn, Facebook, Twitter, Path, Instagram maupun aplikasi sosial seperti LINE, Whatsap, Blackberry Messenger, dll.

Semua bebas kita pilih grup atau diskusi yang sesuai dengan interest kita.

4 – Disiplin dan Konsisten

Tanpa disiplin diri dan konsistensi yang kuat, pendiri bisnis legendaris Mustika Ratu, yakni Mooryati Sudibyo tentu tak secemerlang namanya seperti sekarang. Rhenald Kasali menjadi saksi, bagaimana Mooryati Sudibyo mengambil jenjang doktoralnya, dan saat itu Rhenald Kasali ada dosennya.

Rhenald menceritakan bawah Mooryati Sudibyo yang sudah berusia lanjut, yakni 75 tahun, selalu berkebaya saat kuliah! Dan hebatnya, walau memakai kebaya membutuhkan pematutan diri yang tak sebentar, namun nyatanya Mooryati tak pernah telat datang kuliah.

Dan kejutannya pun tak hanya itu, Mooryati Sudibyo bahkan lulus dalam rentang empat tahun, dan disertasinya mendapatkan banyak pujian dari pakar ekonomi.

Salut!

5 – Gairah dan Motivasi Diri yang Kukuh

Venus Williams telah meraih 22 gelar Grand Slam yang terdiri atas tujuh gelar tunggal, tiga belas gelar ganda, dan dua gelar ganda campuran. Tujuh gelar Grand Slam tunggalnya ia dapatkan dari Wimbledon (lima kali) dan US Open (dua kali).

Bahkan, bersama adiknya, Serena, ia telah memenangi semua turnamen Grand Slam setidaknya dua kali!

Venus Williams juga telah memenangi empat medali emas olimpiade, satu dari sektor tunggal dan tiga dari sektor ganda (yang ia menangi bersama Serena).

Gairah Venus dan Serena adalah tenis. Motivasi dirinya adalah memenangkan turnamen. Bila diiringi kerja keras, konsistensi, disiplin, dan ketekenunan, siapa yang akan bisa mengalahkan mereka, bukan?

6 – Kemampuan Beradaptasi

Siapapun pasti tak ingin tertimpa penyakit yang melanda Stephen Hawking, ilmuwan fisika yang sekaligus juga penulis buku Fisika Kuantum. Tetapi, satu hal yang patut kita saluti darinya adalah kemampuannya beradaptasi dengan keadaannya.

he’s truly creative leader.

Pada usia 21 tahun, pada tahun terakhir kuliahnya di Oxford, ia terkena gejala kelumpuhan Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) yang secara perlahan tetapi pasti membuatnya mengalami kelumpuhan menyeluruh.

Tidak hanya kehilangan kemampuannya untuk berdiri, berjalan, atau makan sendiri, bahkan Hawking pun kehilangan kemampuan untuk berbicara!

Namun Hawking memilih untuk tidak menyerah dengan keadaannya.

Kejeniusan Hawking teruji ketika kemudian ia mampu menggunakan sebuah komputer yang diciptakan oleh seorang ahli dari Cambridge University untuk mengubah setiap kata yang diketiknya menjadi suara setelah Hawking benar-benar tidak mampu berbicara lagi pada tahun 1985-an.

Namun, keterbatasan fisik tersebut tak menghalangi Hawking untuk menghasilkan buku-buku ilmiah best seller dunia. Beragam penghargaan dalam bidang ilmu pengetahuan pun diperoleh Hawking karena berbagai risetnya yang tidak pernah berhenti.

7 – Berbeda

Menjadi sedikit lebih baik itu mudah. Tetapi sangat susah menjadi sedikit lebih berbeda. Dan biasanya, para creative leader memang memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal ‘berbeda’ dalam hidupnya.

Maria Saraphova, petenis dunia perempuan asal Rusia yang sekaligus menjadi foto model profesional, juga mengakui selalu ingin tampil beda dari orang lain. ”Saya ingin berbeda. Jika orang-orang mengenakan baju hitam, saya ingin mengenakan baju merah.”

Itu tandanya adalah dia memang memiliki kemampuan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Melakukan sesuatu yang berbeda ini bukan hanya dalam ranah tampilan luar, namun juga kondisi dalam jiwa. Seperti yang dilkaukan oleh Lee Iacocca, yang memiliki prinsip menarik ketika mengalami stres. ”Pada saat stres tinggi atau ada kesulitan, hal yang terbaik adalah untuk tetap sibuk mengelola kemarahan dan energi Anda menjadi sesuatu yang positif.”

Setelah delapan tahun menjadi CEO Ford Motor Co. dan mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan otomotif tersebut, tiba-tiba Lee dipecat.

Panikkah dia?

Tidak.

Padahal, alasan utama kenapa Lee dipecat hanyalah karena Henry Ford, merasa terancam atas nama besar Lee yang makin cemerlang dan terkenal, dan bisa menyaingi kemasyhuran sang pemilik.

Terdengar aneh, memang. Namun Lee memiliki daya bedanya sendiri dalam menghadapi cobaan aneh dalam hidupnya tersebut.

Lee justru menerima tawaran Chrysler Corp., sebuah perusahaan otomotif yang hampir bangkrut. Yah, kamu tak salah baca, hampir bangkrut!

Dan yang terjadi kemudian justru mengagumkan. Saat Lee bergabung dengan Chrysler, perusahaan itu bangkit dan brand-nya justru menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Amerika.

Seseorang yang memiliki ‘daya beda’ dalam dirinya memang akan selalu bisa membuat perbedaan.

8 – Terus Maju

Terakhir, karakteristik yang dimiliki oleh creative leader adalah gairahnya untuk terus maju dan menghasilkan yang terbaik.

Andrea Bocelli, mengalami kebutaan ketika terjadi kecelakaan saat bermain sepak bola pada usia 12 tahun. Namun, sejak usia 6 tahun Bocelli sudah mulai belajar piano, flute, saksofon, terompet, trombon, harpa, gitar, dan drum.

Memiliki dasar bermusik yang kuat, Bocelli kemudian memenangkan sebuah kompetisi menyanyi pada usia 14 tahun, 2 tahun setelah dirinya mengalami kebutaan total. Sampai saat ini, Bocelli sudah merekam tujuh opera komplet dan berbagai album pop serta klasik dengan penjualan mencapai 65 juta kopi di seluruh dunia!

Bukan hanya itu, di tengah segala kesibukannya sebagai penyanyi dan penulis lagu, Bocelli bahkan melanjutkan tingkat pendidikannya di bidang Hukum sampai jenjang doktor dengan semua materi kuliah dalam huruf braille!

Mencapai kegemilangan di bisnis kreatif adalah perpaduan apik antara kerja keras, kesinambungan untuk terus belajar dan juga kemauan untuk berkembang.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan mungkin tahun demi tahun, terus melakukan inovasi dan pengembangan hingga menjadi brand dan bisnis yang disegani dan berhasil akan tiba masanya jika kita mau untuk terus melakukan ketiga hal mendasar di atas.

Ugmonk besutan Jeff Seldon juga melakukan itu. Setelah perjalanan panjang, yakni hampir lima tahun, Ugmonk akhirnya menjadi brand besar. Diliput di banyak media cetak dan televisi. Dan melayani pembeli di lebih dari enam puluh negara. Dan di tangan Seldon, Ugmonk berhasil menjadi brand yang memiliki desain khas dan terjamin mutunya.

Jeff Seldon berhasil mengubah dirinya dari seorang desainer grafis menjadi creativepreneur. Mendirikan label clothing sendiri. Kala memutuskan seperti itu, Seldon harus berhadapan dengan banyak hal. Menciptakan desain sendiri. Memerhatikan proses produksinya dari hulu ke hilir. Dan tentu saja, promosi dan cara menjual ke konsumen.

Kini, Ugmonk sudah menjadi bisnis keluarga yang menjanjikan masa depaannya. Dan apa rahasia kesuksesannya? Ini dia.

“Work hard and stay humble. There’s no such thing as an overnight success. It’s all about taking initiative and pushing yourself to improve as a designer.” —Jeff Seldon

Only happy people can make other people happy. Keriangan, kebahagiaan, akan membuat orang-orang yang bekerja dengan kita memiliki energi yang lebih. Dan kabar baiknya, ketika orang-orang yang bekerja dengan kita memiliki kebahagiaan yang cukup, mereka akan memiliki dedikasi yang baik pada tempat di mana mereka bekerja.

Kita sudah sering mendengar orang-orang yang berkeluh kesah, sedih, juga kecewa dengan tempat di mana mereka bekerja, bukan? Atau bahkan kita sendiri juga pernah mengalaminya. Maka, pastikan usaha kreatif yang tengah kita kembangkan ini memiliki iklim yang bisa membahagiakan siapa saja.

[bctt tweet=”Talking won’t make you any wiser. Listening can make you the wisest person in the world. “]

Pertama, selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan curahan hati tentang pekerjaan mereka. Banyak orang keluar dari pekerjaan mereka karena frustasi. Kegalauan yang tak tersampaikan. Jangan sampai hal itu terulang di perusahaanmu.

Kedua, menyampaikan kritik dan makian di depan umum bisa membuat mereka berubah drastis menjadi orang yang begitu tidak antusias dengan pekerjaan dan juga usaha yang sedang kita kembangkan ini. Bahkan, parahnya bisa dengan terselubung pelan-pelan menjelek-jelekkan citra perusahaan ke orang-orang.

Ketiga, jangan segan sampaikan pujian. Hargai pekerjaan-pekerjaan yang telah mereka lakukan dengan baik. Tak pernah ada salahnya melakukan itu.

Rayakan kemenangan dan keberhasilan bersama-sama. Pastikan berbisnis dengan riang dan bersikap minim tekanan, walau tentu aslinya tak seperti itu. Tetapi, jika ternyata bisnis hanya membuat kita stres, alangkah lebih baiknya untuk tidak melakukannya saja.

[pullquote]
Fulfillment is when you are living in the present, happy about the past, and excited for the future. Pastikan bisnis kreatifmu dan juga dirimu seperti itu.
[/pullquote]

Alangkah sangat menyenangkan, bekerja dengan orang-orang baik nan hebat, dan bersenang-senang dengan mereka setiap saat untuk menciptakan terobosan-terobosan keren dan mengagumkan.

Don Clark dan Ryan Clark, dua bersaudara berjarak empat tahun kelahiran sekaligus pemilik studio kreatif Invisible Creature mengerti benar arti dari sukses bermula dari mengerjakan apa yang kita sukai. Dari situlah, Invisible Creature memiliki klien kelas atas, sebut saja seperti LEGO, Nike, XBox, Adobe, The New York Times, Nickelodeon juga MTV.

Dulunya, kakek mereka adalah ilustrator di NASA. Yah, NASA. Kamu tak salah baca. NASA yang kepanjangan dari National Aeronautics and Space Administration milik Amerika itu. Sekarang, kakeknya menghabiskan masa tuanya dengan memproduksi gitar. Don dan Ryan, tentu saja teracuni positif dengan dua hal itu: gambar dan musik. Di usia 15 tahun-an, mereka bahkan sudah memiliki band dan mempunyai jadwal tur yang lumayan, walau akhirnya kemudian bubar beberapa tahun kemudian.

Dengan kegemaran yang sama yaitu menggambar, orang tua mereka bahkan sering mengikutkan kelas tambahan berupa kursus menggambar untuk makin membaguskan skill mereka. Saat ulang tahun datang, tak jarang mereka juga mendapatkan hadiah buku how-to-draw, alat mewarnai dan juga buku sketsa. Diri menggemari ilustrasi, dan di saat yang sama keluarga mendukung, tentu sangat menyenangkan teranugerahi kondisi keluarga yang seperti itu.

Invisible Creatures terus memberikan hasil kreatifnya yang mengagumkan. Salah satu favorit saya adalah Stackable Monster Block Sets yang terbuat dari kayu.

Setiap setnya terdiri atas gigi, tanduk, lengan, bahu, mata, kepala, tangan, kaki, dan masih banyak lagi padu padan kreatif lainnya dengan pola-pola khusus warna-warni yang sangat keren dan merangsang kreativitas anak-anak. Produk ini dinamakan Stack and Scare.

Don Clark dan Ryan Clark, dua bersaudara berjarak empat tahun kelahiran sekaligus pemilik studio kreatif Invisible Creature mengerti benar bahwa:

[bctt tweet=”Arti dari sukses bermula dari mengerjakan apa yang kita sukai. “]

Lihatlah bagaimana pola kreatif ini bekerja. Mereka menciptakan produk yang endless creative creation from users. Mau disusun sampai seperti apa pun akan tetap menghasilkan variasi yang banyak. Dengan pemanfaatan sosial media yang jenius, #stackandscare tentu akan mudah mewabah. Ini ditunjang dari konten produk yang menarik dan variasi kreativitas dari pengguna yang endless.

So, what is your endless creative creation product?

Produk yang sangat apik akan menjadikan ia bahan perbincangan. Dan saat ia menjadi bahan perbincangan betapa bagusnya produk kita, akan susah dihentikan menularnya. Kita mendapatkan publikasi dan testimoni secara gratis dari user.

Dua hal itu saja sudah sangat bagus bagi kita terus membuat dan mengembangkan produk kreatif selanjutnya, karena kita sudah memiliki target market yang jelas dan loyal.

 

Mengemas Fanbase

Untuk berhasil membangun brand dengan baik, inovasi dan lompatan kreativitas harus senantiasa dilakukan agar brand tetap menarik dan masuk di jajaran top of mind. Yang juga tak boleh dilupakan adalah jangan sampai menjadi besar, namun tak mengakar.

Artinya, lupa membangun fanbase dan tak mengembangkannya. Juga, lupa mengubah diri menjadi brand yang senantiasa menjadi top of mind, selalu bernilai dan memberikan keuntungan.

Johnny Cupcakes, setiap tahunnya selalu berhasil berinovasi. Selalu saja ada pembenahan. Website, outlet, cara berkomunikasi ke konsumen, perawatan fanbase, selalu bisa dikerjakan dengan apik dan manis oleh Johnny Cupcakes.

Unkl347, distro kenamaan di Bandung, setiap tahunnya juga mengeluarkan tema-tema khusus. Logonya bahkan sering diganti. Dan hebatnya, itu selalu berhasil terkomunikasikan dengan baik kepada pelanggan.

Kenapa? Karena mereka memiliki fanbase yang loyal, tergila-gila, dan selalu setia dan bahkan tak sabar dengan inovasi-inovasi apa yang akan brand favorit mereka itu gulirkan di setiap tahunnya. Hal yang sama juga terjadi pada Johnny Cupcake. Dalam membangun brand apapun, menciptakan, merawat dan mengemas fanbase mutlak diperlukan.

Jadi, sudahkah kamu mengemas fanbase-mu?

“Before you think about hiring your next full time employee, consider the crowd. Are there people who could solve a problem for you, for less? That’s the beauty of crowdsourcing. You can farm out your work to people all over the world, and often only pay the one whose work you like best. At times you can pay on a per project basis, rather than taking someone on board full-time.”
—Jeff Hoffman

Jeff Hoffman adalah seorang serial entrepreneur yang juga berhasil dengan program GiveForward.com, sebuah startup dengan program membantu orang-orang yang tak memiliki biaya perawatan medis dengan model crowdfunding.

Semenjak saya mengenal Threadless.com, saya terhenyak dengan konsepnya. Desainer submit desain, dan hanya yang terpilih saja yang kemudian dicetak. Jenius bukan?

Tak perlu berpusing ria mempekerjakan designer in-house, dengan risiko terkadang ide-ide segar yang mampet dan monoton.

Dengan memanfaatkan crowd, berbagai ide tentu akan mengalir deras. Win-win solution pun tercipta: desainer mendapatkan sharing profit dan memiliki portofolio, vendornya pun memiliki stok desain melimpah dan sudah dites dipasar, bahwa publik menyukainya.

Crowdsourcing adalah ide jenius pada dekade ini.

Pasca itu, ketika Threadless.com merilis bukunya, saya bela-belain membelinya walau harganya tak murah. Saya suka ide besarnya, suka bagaimana para founder-nya menjadikan kreativitas benar-benar bekerja dengan baik. Dan karena saya orang perbukuan, sangat suka dengan visual dari buku tersebut.

Selain Threadless.com, banyak sekali model crowdsourcing, di mana kita bisa mendapatkan talenta-talenta terbaik dari seluruh dunia.

Bagi yang membutuhkan programmer maupun software designer, bisa langsung mengeluarkan project di TopCoder.com atau Odesk.com. Dijamin akan banyak yang menyambutnya.

Bila sedang membutuhkan desainer grafis, bisa mengunjungi 99designs.com ataupun CrowdSpring.com yang bahkan memiliki lebih dari 100.000 desainer di lebih dari 200 negara. Segala kebutuhan yang memerlukan sentuhan desainer grafis dengan mudah bisa didapatkan di tempat ini.

Startup yang menampung talenta-talenta terbaik dari seluruh dunia seperti itu adalah tempat favorit perusahaan yang membutuhkan sentuhan-sentuhan kreativitas dan ide-ide segar. Dengan suguhan ide-ide brilian dari ribuan orang, tentu perusahan tersebut tinggal memlih salah satunya saja untuk dieksekusi.

Di Indonesia, yang serupa dengan Threadless.com kita memiliki GantiBaju.com, ThinkCookCook.com. dan tempat di mana bisa menemukan desainer-desainer terbaik ada di Sribu.com atau Kreavi.com.

Atau, di mana ingin mendapatkan pendaan dari publik, bisa menuju ke PlumFund ataupun Kickstarter. Sudah banyak program dan ide kreatif yang berhasil diwujudkan lewat dua platform keren itu.

Customer Experience

Siapa pun yang masuk ke outlet Ouval Research selalu sepakat bahwa tempat itu memberikan pengalaman tempat berbelanja daily wear yang mengagumkan. Desain interiornya mengagumkan, padahal tempatnya tak begitu besar. Setiap detail produk juga kaya akan sentuhan grafis yang keren.

Inilah pentingnya bagaimana memberikan pengalaman yang keren bagi pengunjung.

Serampung memberikan pengalaman dalam desain outlet, perhatikan juga bagaimana keramahan tuan rumah. Pada akhirnya, semua ini tak sekadar produk. Namun hardware, software, dan humanware.

Tentu saja, karena hardware mudah dibeli, software begitu gampang diinstalasi dan tinggal melatih pegawai. Namun humanware, paling susah karena terkait dengan spirit juga attitude karyawan.

Bakda memberikan pengalaman secara visual , berikan juga pengalaman memorable secara layanan. Zappos bahkan menyebut bisnisnya adalah bisnis pelayanan, bukan menjual sepatu.

Apa layanan Zappos? Delivering happiness.

Produk mudah dilupakan, namun mendapatkan pengalaman pelayanan yang tak biasa, akan membekas dan menghadirkan repeat order yang melampaui bayangan.

 

Howt to Make Profitable Business

Show me the money.

Itulah perbedaan bisnis dengan proyek sosial. Saya mendapati layeredthoughts.com  memberikan saran yang keren untuk para pemula startup dalam membangun bisnisnya dan tentang menyikapi kompetitor.

Aslinya agak panjang, tapi saya kutipkan ke bagian-bagian yang saya suka saja. Uraiannya simpel, tapi menyadarkan saya tentang makna profitable itu sejatinya seperti apa.

I think you should focus on ideas that, while smaller, can much more easily be made profitable.

if your company isn’t selling something, you have a project, not a product.

Build a “must have” product, not a disposable “nice-to-have” product.

If you want to increase your chances of early stage success with your first startup, you need to focus on building products that once your customer has started to use, they will be in pain if they have to get rid of your product.

The 10x Rule is that your product should deliver 10x more value than the price of your product.

The true key to startup success is to make a product so good that you alleviate your customer’s original pain point, and then make the idea of losing your product the new pain point.

Don’t try to capitalize on something trendy. Oftentimes the most boring niches and products are some of the most profitable.

The internet moves fast, you need to move with it but you still need to give your ideas an opportunity to grow.

Focus on selling your product for a profit.

Don’t build a product that’s value is dependent on something out of your control.

If the value of your product goes up and down based on the amount of participation from the community, you’re kinda fucked.

We all have weird hobbies, or backgrounds, or interests. Smash those together with your technical know how or design talents and build a niche targeted product.

There’s always room in any market for something simpler, faster, or more beautiful.

Look at what your competitors are doing and if it makes sense to add to your product, do it better than they did. Make it sexier, make it simpler. Make your customers go “Yeah, well competitor has that too, but these guys do it so much better.”

 

Jadilah Product Owner

Tak perlu kursus, setiap kita memiliki kejeniusan alami bila diminta untuk membayangkan apa saja yang akan dilakukan saat memiliki banyak uang. Akan tetapi, kita menjadi mendadak pandir maksimal, saat harus memaparkan apa yang harus dilakukan saat semua tak berjalan sesuai rencana dan kegagalan atau kebangkrutan tiba-tiba menerpa.

Padahal, sebagaimana kita tahu, mempersiapkan kemungkinan gagal, sama pentingnya dengan merancang apa saja yang diperlukan untuk menang dan berhasil.

Para pemilik bisnis media cetak, misalnya.

Sudah tahu usianya tinggal sesaat. Seharusnya mau berpindah ke model bisnis lain, seperti media online. Tetapi, sepertinya enggan berubah menolak, karena mungkin lebih baik mati dibanding berubah menjalani yang tak pasti. Padahal, senjakala sudah ada di depan mata.

Kita harus selalu siap untuk menghadapi perubahan. Selalu siap dengan inovasi yang hadir. Bagi rakyat lilin, sebuah lampu pijar adalah musibah inovasi. Menyiapkan diri untuk menghadapi inovasi berarti tidak bersikeras untuk berdelusi mengenai bisnis yang sedang kita jalankan.

Segeralah jadi product owner. Pemilik brand. Intinya, kita harus memiliki produk sendiri.

Mengapa? Karena kita akan jadi lebih mudah untuk me-leverage, baik di website pribadi maupun marketplace. Kita jadi lebih mudah untuk melakukan scale up. Hal tersebut tidak bisa kita lakukan kalau masih menjadi dropshipper.

Menjadi dropshipper sih oke-oke saja. Yah, lumayanlah ya untuk biaya hidup harian. Akan tetapi, lama-kelamaan kita akan bosan, karena scale up-nya yang cenderung agak susah. Ya iya, karena memang bukan brand kita sendiri. Kita jadi nggak bisa ngapa-ngapain.

Saya senang, ketika pekan lalu, adik saya curhat dan ingin bikin brand sendiri. Saya menyambutnya. Saya bikinkan website-nya. Saya siapkan juga peta dagangnya, apa saja yang harus dia lakukan sebagai pebisnis ranah online.

Hal-hal tradisional yang masih kita lakukan dalam bisnis sebaiknya pelan-pelan kita benahi. Saya tahu, merancang strategi pemasaran membutuhkan pengetahuan digital marketing yang cukup (demi belajar hal ini, dulu bahkan saya rela selama dua tahun untuk fokus mempelajari dasar-dasarnya, heuheuhe). Memiliki fondasi itu enak, kalau ada perubahan, kita tinggal menyambutnya.

Yuk berbenah. Perbanyak belajar. Praktik. Belajar. Praktik. Gitu terus.

Bayangkan. Apa yang bisa kita lakukan? Tokopedia dan Lazada di-invest oleh Alibab. Shopee, JD, Traveloka di-invest oleh Tencent. Bibli dan Tiket.com di-invest oleh GDP Capital. Artinya, dalam kurun waktu dua tahun ke depan, pasar Indonesia hanya akan menjadi medan pertempuran dua raksasa ecommerce dari China: yaitu Lazada (+Tokopedia) dan Shopee. Blibli? Hmm… masih kuat lah. Tapi jadi nomor sekian.

Jangan sampai kita gini-gini aja, padahal sebenarnya kesempatan dan peluang sudah terpapar di depan mata.

So, saran saya, jadilah brand owner dan perbanyak pengetahuan menyoal digital marketing.

 

Agar Orang-Orang Mendukung Idemu

Rahasia tentang ide yang hebat bukan pada ketika ide itu sudah menjadi nyata, namun justru pada ‘ perjalanan ide’ itu sendiri. Rahasia tentang ide yang hebat, sukses, dan hebat adalah tentang bagaimana pada menyampaikan ide itu; proses mewujudkannya.

1 – Temukan orang yang sealiran

Mengapa kadang ketika menyampaikan sebuah ide, padahal ide tersebut menurutmu sangat hebat, keren, dan bakalan jadi gokil, tapi justru orang yang kamu ajak untuk diskusi malah menganggapmu aneh dan tidak bermutu? Misalkan nih, kamu memiliki ide keren tentang sebuah produk bisnis kreatif yang keren dan juga sangat berguna di masyarakat. Tetapi, ketika kamu mempresentasikan ide itu kepada orang lain, mereka justru malas untuk mendengarkanmu dan tidak menggubrismu?

Yah, kamu salah mengajak diskusi orang.

Sebelum mempresentasikan, pastikan dulu bahwa orang itu memiliki passion, ketertarikan, dan yah, kloningan-mu. Atau, gampangannya, carilah beberapa hal yang ada pada dirimu, ada pada mereka. Dengan mengetahui hal itu terlebih dahulu, delivering ideas-mu akan lebih mudah, dan tentu sesuati dengan target diskusi.

2 – Juga, percaya dengan apa yang sedang kamu kerjakan

Orang-orang tidak membeli apa yang kamu buat. Mereka membeli ‘mengapa kamu membuat barang itu’. Masih ingat kan, mengapa orang-orang mau membeli kreasi Steve Jobs, padahal komputer lain sudah ada juga. Mereka membeli visi, cita rasa, dan mimpi Steve Jobs, yang memang disajikan dengan sangat keren.

Gali dan temukan alasan paling kuat, mengapa kamu memiliki ide bisnis kreatif itu.

– Apa tujuanmu dengan ide tersebut?

– Hal keren apa yang tengah kamu tawarkan?

– Akan membantu siapa saja idemu itu?

– Perubahan apa yang tengah ditawarkannya dan di luaran sana mengapa belum ada?

Ketika kamu tahu KENAPA-nya dan menceritakan KENAPA-nya itu kepada orang-orang yang percaya dengan mimpi dan idemu, mereka akan mendukungmu. Seratus persen!

3 – Bangun rasa penasaran

Memiliki ide yang keren itu satu hal, dan membuat orang-orang penasaran itu hal lain. Jangan takut untuk meluncurkannya di waktu yang tepat dengan elemen-elemen ide yang lebih lengkap. Itu akan membuat orang-orang dengan gratis mendukung bahkan mempromosikan idemu!

Selamat mencoba!

Luck dalam Bisnis Seorang Creativepreneur

Sejatinya, keburuntungan akan menghampiri bisnismu hanya sebanyak 10%, dengan syarat kamu sudah melakukan semua proses yang perlu kamu lakukan untuk membuat bisnis berjalan dengan baik.

Akan tetapi, ada juga beberapa orang yang mengatakan bahwa keberuntungan adalah 90% karena mereka secara tidak sengaja berada pada waktu yang tepat, produk yang tepat, permintaan yang benar.

Definis keberuntungan (LUCK) menurut saya adalah:

Location Understanding + Connection Knowledge

Location Understanding adalah bila kamu tak memahami “lokasi” bisnismu, dalam arti memahami lokasi target pasarmu, ukuran bisnismu, dan terpenting adalah solusi yang kamu tawarkan apakah menyelesaikan masalah ataukah tidak, tentu kamu tidak akan berhasil membangun bisnis yang memiliki fondasi yang kukuh dan arah perkembangan bisnis yang akan signifikan.

Connection Knowledge adalah bila kamu tidak memiliki koneksi yang luas dan pengetahuan tentang bisnis yang cukup, maka hal-hal tersebut akan menghambatmu untuk berkembang.

Jadi, saat kemenangan besar atau “keberuntungan” tiba-tiba terjadi, saya yakin, itu bukan karena suatu hal yang terjadi begitu saja, namun karena kamu sudah menyiapkan diri dan bisnismu.

 

Menjadi Internetpreneur – Teman saya, empat bulan lalu, masih menjadi seorang hotel e-commerce in-house sebuah hotel di Jogja. Istrinya tinggal di Solo, dan dia kerja di Jogja. Pulang setiap hari Sabtu. Waktu itu istrinya sedang hamil.

Saya bilang, “Bro, ngapain kerja kok sebegitunya harus ninggal istri dan nanti anak yang mau lahir demi gaji yang nggak seberapa. Bukannya ini zaman internet, kenapa nggak kerja di rumah saja, dan semua kerjaan dikendalikan lewat internet?”

Dia berpikir keras.

Mengangguk mengamini.

“Bagaimana caranya, Mas?”

Lalu saya ajarkan cara cari duit lewat internet. Detail. Sebuah bisnis pasti. Bukan angin surga. Bukan harapan berbunga.

Bulan depannya dia resign. Dan sekarang penghasilannya memang baru Rp2 jutaan sebulan, akan tetapi cukuplah untuk biaya tinggal di Solo, dengan waktu kebersamaan bareng keluarga yang “tumpah ruah”. Dan bisnisnya masih bisa di-scale up. Artinya, kesempatan untuk dinaikin jadi Rp100 juta sebulan juga mungkin.

Sekarang dia bangga ke mana-mana pakai tagar #saveworkfromhome.

Heuheuheu.

Yah, itulah sekelumit cerita nyata tentang kawan saya.

Ada satu kawan saya malah lain lagi ceritanya.

Hanya dalam dua minggu, dia mendapatkan Rp70 juta! Iya. Itu duit semua, nggak pake daun.

Apa yang dia jual?

Buku.

Hah?

Iya, buku cetak. Tapi sistemnya preorder, dengan harga satu bukunya sekitar Rp175.000.

Ini sebuah buku bisnis sederhana, namun dibutuhkan banyak orang. Tulis sendiri, cetak sendiri, pasarkan sendiri. Itu pun pakai sistem pre-order. Apa nggak memangkas jalur distribusi yang banyak banget namanya? Facebook Ads menjadi tempatnya untuk mengiklankan.

Satu buku, dia dapat laba bersihnya Rp100.000. Dan pemesannya mencapai 700 orang lebih.

Tinggal kalikan saja, kan?

Dan dia mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu bulan.

Itulah kekuatan dari bisnis internet. Dan fakta unik dari anak-anak muda Indonesia sekarang adalah penghasilan tahunannya memang sudah tembus miliaran. Bandingkan dengan orang-orang yang tak memanfaatkan internet sebagai lahan bisnis, paling banter hanya Rp50 juta per tahun.

Menyesakkan, memang.

Berbisnis lewat internet memaksa kita untuk memikirkan ulang posisi kita saat ini yang masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan.

Ngapain jua pergi gelap pulang petang di jalan kena macet bikin stres nggak karuan?

Sesungguhnya ada perbedaan besar antara bekerja dan dikerjain. Ada beda antara kerja cerdas dan kerja keras.

Bekerja lewat internet berpotensi penghasilan bisa sangat-sangat besar, dibandingkan dengan yang mengandalkan gaji bulanan dari kantornya. Asal tahu caranya. Asal ngerti bagaimana sih berbisnis lewat internet seharusnya.

Dan itu yang nggak banyak orang tahu.

Dan alhamdulillahnya saya tahu. Teman saya yang resign itu pun juga sudah kukasih tahu. Beberapa orang yang lain pun juga sudah kukasih tahu.

Apakah kamu juga mau tahu?

 

Menjadi Internetpreneur

Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang internetpreneur? Koneksi internet, mindset, pengetahuan, dan kreativitas. Empat hal utama itu saja yang diperlukan. Lainnya hanya bersifat teknis, yang kabar baiknya bisa dipelajari oleh siapa saja.

Emang enak nggak sih menjadi internetpreneur?

Mungkin pertanyaan itu akan saya ganti dengan:

Lebih enak mana, jadi karyawan dengan gaji Rp4 juta per bulan, dengan menjadi internetpreneur bergaji Rp40 juta per bulan?

Ya iya. Enakan yang terakhir tentunya.

Mengapa? Karena sifat internetpreneur yang bisnisnya bisa di-scaleup. Beda dengan karyawan, mau kerja serajin apa pun, naiknya paling ratusan ribu. Dikit banget. Buang-buang waktu.

 

Pertanyaan Penting dalam Hidupmu

Satu pertanyaan penting yang harus kamu tanyakan dalam hidupmu saat ini adalah:

Kehidupan seperti apa yang kamu inginkan?

Atau, merasa pertanyaan itu terlalu klise? Oke, gue bikinin pertanyaan yang lebih menohok bin menihik binti membuat kamu harus menjawabnya dengan jujur dan benar, ya.

Apakah penghasilan kamu sekarang, sudah bisa untuk membeli pakaian yang bagus dan layak, dan tempat tinggal yang indah dan nyaman untuk keluarga, serta makan makanan yang enak dan halal?

Bagaimana? Terasa seperti terlalu menusuk jantung pertanyaannya?

Yah, saya tahu perasaan itu. Saya juga pernah berada pada posisi itu. Rasanya menyebalkan hidup dalam garis penghasilan yang pas-pasan.

Saat kita bergairah untuk mengubah hidup menjadi lebih baik, kita akan memiliki energi besar. Energi yang akan memberantas segala alasan dan aral yang menghadang.

Sebagai penutup, saya akan bercerita tentang Rusdi Kirana. Tak banyak orang yang tahu siapa beliau. Namun beliau adalah pendiri Lion Air. Beliau memulai usahanya bahkan sebagai calo tiket di Banda Halim pada tahun 80-an. Jalan keliling di sekitar bandar, menjajakan tiket kepada calon penumpang dengan baju dekil.

Pelan-pelan usahanya maju.

Dari calo keliling menjadi agen penjualan tiket. Lalu di tahun 2000 ia beli satu pesawat bekas. Dan kini ia punya 200 pesawat Boeing terbaru, dengan kekayaan Rp19 triliun.

Nggak ada yang nggak mungkin. Kegigihan selalu menjadi kunci untuk kesuksesan. Dan satu hal pasti, kita bisa berubah dari seorang yang berpenghasilan pas-pasan menuju seorang yang duitnya miliaran.

Dan satu hal pasti lagi, kita selalu bisa menjadi miliarder meski harus merangkak dari bawah: entah dari jualan siomai sambil naik sepeda onthel berwarna merah, atau menjajakan tiket pesawat di jalanan berdebu kepada calon pelanggan.

Selamat menjadi internetpreneur!


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Ingin menghasilkan ratusan juta dari skill menulis? Baca saja buku terbaru saya ini. Pembahasan super lengkap, dan bakalan bikin kamu yang hobi dan suka menulis, berubah selamanya! KLIK DI SINI atau pada gambar di bawah ini, ya!


Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.