pola hidup minimalis

Pola Hidup Minimalis dan Apa Alasan Saya Menerapkannya?

Pola hidup minimalis? Apaan sih? Jujur, saya dengan ide ini, ketika empat tahun lalu saya sering membaca postingan-postingan salah satu idola saya, Badroni Yuzirman, tentang hidup minimalis. Pada saat yang sama, saya juga rutin membaca postingan-postingan tentang hal itu dari Leo Babauta. Bahkan, saya berkesempatan untuk menjadi editor dari sebuah buku best-seller bertema mindfulness karya Adjie Silarus.

Saya ingin segera mempraktikkan pola hidup minimalis, tetapi kok ya tidak jalan-jalan. Dan seolah, kerjaan juga tak berhenti, aktivitas ada saja yang harus dijalani.

Hidup tak teratur.

Makanya, ketika menulis resolusi untuk 2016, saya hanya menargetkan satu hal: khusyuk.

Saya ingin hidup yang lebih khusyuk. Tenang. Tuma’ninah. Jauh dari ingar-bingar, politik kantor yang menyebalkan, ghibah antar teman yang menyesatkan, dan lain sebagainya.

Saya ingin bekerja dengan tenang, beribadah dengan tenang, dan menikmati proses berkeluarga dengan tenang. Saya benar-benar ingin menikmati hidup tanpa gincu yang para pesolek biasa gunakan untuk menampilkan riasan tebal dan menipu.

Setelah menikah Februari lalu, saya pun mulai memutuskan untuk mulai menjalani hidup yang lebih pola hidup minimalis.

Hal pertama yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah merapikan folder di laptop

Ini penting, karena sebagai seorang pekerja kreatif, laptop adalah barang yang sering kita gunakan untuk bekerja. Makin rapi dan makin memudahkan otak kita untuk berpikir tanpa ribet, makin baik.

Dikarenakan saya hanya bekerja dalam ranah penulisan dan desain, maka saya hanya membagi tiga folder utama: writing, design, dan yang terakhir photo.

Folder film, musik, gambar inspirasi, dan lain sebagainya, saya delete. Bila ingin menonton film, saya biasanya mengunduh di Ganool. Setelah ditonton, akan langsung saya delete. Bila malas mendonlot, saya biasanya streaming-an. Untuk mendengarkan musik, cukup pakai Joox atau YouTube. Beres.

Sejak menerapkan pola hidup minimalis, saya pun tak lagi menyimpan gambar-gambar inspirasi. Bila ada kerjaan misalkan bikin logo atau kover buku, saya akan langsung menuju Behance atau Pinterest. Di sana ada banyak inspirasi yang langsung bisa melejitkan ide.

Alhasil, setelah saya men-delete fail-fail tak penting versi saya, ketika melihat laptop pikiran saya tidak kacau lagi. Lebih tenang dan lebih mudah untuk mencari fail-fail pekerjaan.Hasilnya, lebih produktif berkarya dan menyelesaikan pekerjaan juga.

Jadi, sekarang di laptop hanya ada tiga folder besar. Folder Writing, berisi kerjaan menulis dan project-project yang berhubungan dengan itu, misalkan koleksi artikel, dan sebagainya. Folder Design, berisi kerjaan desain, seperti kover buku, layout, logo, tipografi, dan lain sebagainya. Folder Photo, berisi koleksi foto-foto keluarga besar Bani Sukoyo dan Bani Surahman, dan foto-foto pribadi bersama istri.

Pada intinya, saya hanya membutuhkan ketiga hal itu saja. Saya langsung men-delete fail-fail yang saya rasa sudah tak digunakan lagi.

Mengambil esensi dan hal inti memang sangat menyenangkan, dan memudahkan pikiran saya untuk tetap tenang dan fokus. Dan itulah inti dari pola hidup minimalis.

Hal Kedua yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah merapikan email

Lalu lintas email saya benar-benar padat. Dari ratusan email yang masih ngendon, saya langsung mengecek satu-satu, dan men-delete yang sudah saya gunakan dan saya rasa tidak perlu. Hasilnya, hanya ada 7 email yang benar-benar penting dan tak bisa saya delete. Sekarang, pikiran lebih segar bila membuka akun email, karena langsung bisa terdeteksi mana saja email baru yang perlu penanganan, dan sebagainya.

hal ketiga yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah merapikan koleksi buku

Ketika melihat koleksi buku, di satu sisi, saya bangga. Di satu sisi lain, saya merasa, buat apa buku-buku ini saya simpan? Saya mengatakan hal itu kepada buku-buku yang saya anggap tak perlu untuk saya simpan lagi.

Sejak menerapkan pola hidup minimalis, saya pun memutuskan untuk menyedekahkannya.

Buku-buku yang masih saya simpan adalah buku-buku dengan kategori induk, buku penting, seperti tentang Fiqih, Sirah Nabawiyah, dan semisalnya. Sedangkan novel, buku-buku motivasi, kisah inspirasi, dan semisalnya, langsung saya kardusin, dan saya sedekahin.

Di satu sisi, buku itu tentu saja banyak peminatnya. Buktinya, ketika saya woro-worokan di grup Telegram, banyak yang berebut. Di satu sisi lagi, buku itu semoga menjadi amal jariyah dari saya.

hal keempat yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah mengurangi atau lebih tepatnya menghindari acara nongkrong

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2016 ini, bisa dipastikan, saya hampir tak kelihatan di acara nongkrong. Mau seheboh apa pun acara komunitas, saya memilih untuk tidak hadir. Mau serame apa pun acara teman-teman yang nongkrong di kafe mana yang mengundang saya, saya memilih tidak hadir.

Sejak menikah Februari lalu dan mulai menerapkan pola hidup minimalis, saya lebih banyak menikmati waktu bersama istri dan mengutamakan keluarga besar.

Melakukan hal-hal bodoh di rumah. Atau bepergian berdua saja ke mana gitu. Mengurus taman di rumah. Membersihkan rumah berdua. Dan hal-hal tak penting lain yang saya lakukan bersama istri di rumah.

Sudah bertahun-tahun saya mengutamakan kehidupan bersama teman-teman. Melakukan banyak hal untuk dan bersama mereka. Saya tak bisa melakukan itu lagi, karena lama-lama saya sadar, saya tak memiliki energi yang cukup untuk mengurus adik-adik saya dan istri, dan anak saya yang sebentar lagi lahir, lalu ikut hahahihi bersama kawan-kawan. Saya sudah masuk fase ‘family first’.

Dan dengan menerapkan pola hidup minimalis, saya merasa semua itu kemudian bisa ter-handle dengan baik.

hal kelima yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah membuang barang-barang tak penting

Mulai hanya menyisakan barang-barang yang memiliki fungsi saja di rumah. Barang-barang, termasuk baju, sudah saya sortir semua. Yang tak masuk kategori penting, saya buang atau berikan kepada yang lebih membutuhkan.

Rumah pun menjadi lebih lega, resik, dan menyenangkan untuk dilihat dan ditempati.

hal keenam yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah memilih sosial media yang cocok dan perlu

Saya hanya menggunakan empat akun sosial media: Facebook, WhatsApp, Telegram, dan Instagram. Saya tidak menggunakan BBM, Path, atau Line.

Mengapa?

Facebook, karena memang masih relevan dan di sana saya tetap bisa menyapa teman-teman jauh dan menikmati pemikiran-pemikiran unik mereka.

WhatsApp dan Telegram, karena banyak grup di mana kita bisa belajar dan kita tetap bisa menjalin silaturahim dengan teman-teman sekolah dan keluarga.

Dan Instagram, tentu saja untuk memposting foto-foto sehari-hari.

hal ketujuh yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah tidak menonton tivi dan membaca berita, baik koran ataupun media online

Maksudnya berita-berita sampah, yak. Selain tidak tertarik, saya sudah tak memiliki slot waktu untuk menikmati itu.

Lalu, apa hasilnya dari ketujuh hal yang sudah saya lakukan di atas?

Saya benar-benar mulai terbiasa untuk fokus, dan sekarang lebih mudah untuk fokus.

Dalam pekerjaan, saya kemudian bisa fokus kepada InstitutPenulis.id, karena saya sebagai co-founder. Dalam berteman, walaupun saya sudah hampir tak lagi menghadiri acara-acara nongkrong, alhasil malah teman-teman yang justru rajin ke rumah saya. Biasanya, seminggu tiga kali, kami akan bermain PS bersama di ruang tamu, dan istri saya akan menyediakan makan malam plus camilan dan minuman yang bisa dinikmati bersama.

Dan uniknya, setelah pikiran saya tak lagi kacau, tahun depan saya dan istri insyaAllah sudah bisa menempati rumah baru milik kami. Padahal, dua tahun lalu, saat saya mencari rumah untuk hunian saya dan calon istri, ada aja masalahnya. Sertifikat bermasalah, pemilik rumah yang tidak kooperatif, dan lain sebagainya. Perlu dua tahun saya kemudian memilih untuk tak memaksa diri saya melakukan pengejaran. Saya berhenti mencari. Saya menikmati hidup. Menikmati keadaan. Saya tidak grusa-grusu. Saya mulai fokus untuk menenangkan pikiran, meminimalisir segala sesuatu. Hasilnya, malah ada penjual tanah yang menawarkan, dan lokasinya sangat ideal dan sesuai impian saya: dekat dengan masjid, dan hanya berjarak 100 meter dari rumah kakak saya!

Dengan menerapkan pola hidup minimalis, secara harian, hidup saya sekarang lebih simpel. Lebih enak untuk dijalani. Lebih tenang, dan lebih minim konflik. Tak seperti dulu.

Subuhan di masjid, lalu berjalan bersama istri menuju warung, kemudian saya tinggal untuk lari pagi sebentar. Pulangnya, saya biasanya menghidupkan laptop, sambil memutar YouTube, saya menulis sekitar 30 menit, sambil berbincang hal-hal tak penting dengan istri yang sedang memasak di dapur untuk sarapan kami. Kebetulan meja kerja dan dapur berdekatan. Sehabis sarapan, saya mandi, dan ke kantor. Pulang kantor, mandi, maghriban di masjid. Lepas itu, biasanya naik motor berdua bersama istri, membeli sesuatu, makan malam di luar, atau main ke rumah saudara.  Atau, kalau saya sedang kerjaan, saya akan bekerja di rumah hingga jam 10 atau 11 malam.

Membalasi WhatsApp atau Telegram hanya yang penting-penting saja. Grup-grup hanya dibaca ketika senggang. Kecuali grup InstitutPenulis, Cordoba, dan Epixplay dan alumni pesantren dulu. Seminggu sekali, saya masih bisa kajian rutin bergilir sesama teman pengajian. Di akhir weekend, ponakan-ponakan biasanya akan main ke rumah sampai sore atau malam. Atau kami yang main ke tempat saudara hingga sore atau malam. Berbincang, beriang, dan melakukan hal-hal seru bersama.

Saya merasa hidup saya sekarang lebih tenang. Lebih menarik. Minim konflik. Dan itu semua dimulai dari hal-hal simpel: memerhatikan hal-hal yang esensial saja, dan menghindari atau membuang hal-hal tak penting. Karena kita tak bisa meraih semuanya dalam satu waktu. Ketika lari pagi, pikiran saya benar-benar bisa fokus menikmati proses lari pagi itu. Menikmati sawah-sawah, atau semburat senyum pagi yang hendak terbit. Ketika bekerja pun, bisa fokus untuk menyelesaikan pekerjaan, tanpa terganggu hal-hal tak penting. Juga, lebih bisa melakukan hobi-hobi lain, seperti fotografi dengan lebih tenang.

Saya kira ini progress yang bagus. Dan makin membuat saya siap menghadapi tahun-tahun berikutnya dengan hal-hal baik dan membahagiakan.

Kamu juga mulai tertarik untuk menerapkan pola hidup minimalis? Bagi pengalaman kamu, ya. Aku juga ingin mendengarnya.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

13 thoughts on “Pola Hidup Minimalis dan Apa Alasan Saya Menerapkannya?

  1. Tulisannya bagus sekali, Mas. Perlahan tapi pasti, saya juga mulai menerapkan konsep hidup minimalis seperti ini. Rasanya damai sekali. ?

    • Wah, bagus, Mas. Senang rasanya kalau ada teman 😆 Efeknya memang lebih tenang banget, sih, Mas. Ya, hidup memang tak akan lepas dari masalah. Tetapi, kalau kitanya cara ngatur hidupnya mulai lebih esensial, masalah yang datang juga akan dihadapi dengan lebih tenang, semeleh, dan tumakninah 😀

  2. I’m on my way doing this kind of lifestyle, Mas. Gara – gara baca buku mba Marie Kondo dan liat beberapa TED Talks tentang minimalism. Ketemu tulisan ini jadi semakin semangat, hihi. Suwun 🙂

    • Yuk sama-sama mengamalkan. Saya merasa hidup lebih enteng saja. Pikiran lebih jernih, dan tak memiliki banyak beban. Bisa fokus bekerja, berkeluarga, berkarya, dan beribadah sebagai bekal ke akhirat. 😉

  3. aahh soo nice article.. tips-tipsnya boleh nih saya tiru yaa Fachmy, terutama mengenai perapihan folder-folder file di komputer. Selama ini sudah bikin kategorisasi folder file digital. tapi masih nampak semrawut hihih…

    yess menjalani hidup minimalis memang terasa lebih menyenangkan..

Leave a Comment