Membuat Kover Buku, Judul dan Blurb yang Powerful

Terdapat dua elemen penting dalam pembuatan kover depan dan belakang yang ciamik. Pertama, unsur teksnya yang powerful. Dan kedua, unsur desain yang keren.

 

TEKNIK MEMBUAT JUDUL BUKU

Tak ada aturan resmi bagaimana membuat judul buku yang menarik. Pastinya, judul yang menarik adalah judul yang mudah diingat, mewakili isi buku, dan memiliki daya jual—karena bagaimanapun penerbitan adalah industri, selain memiliki konten yang menarik, tentu buku tersebut harus mampu terjual. Namun begitu, ada beberapa pedoman yang layak diperhatikan untuk membuat judul yang menarik.

Pertama, menggunakan aliterasi. Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata permulaannya sama bunyi. Contoh: Dengar Daku Dadaku Disapu. Dengan memanfaatkan majas ini, tentu akan terasa menambah keindahan sebuah judul buku.

Kedua, menggunakan angka. Menggunakan angka sebagai judul akan memudahkan calon pembeli buku untuk mengetahui seberapa banyak benefit yang ditawarkan dalam buku. Contoh: 7 Keajaiban Menikah; 100 Ide Paling Berpengaruh dalam Bisnis.

Ketiga, menggunakan Hot Words. Yang masuk dalam kategori hot words adalah: Luar Biasa!, Misteri, Rahasia, Keajaiban. Keempat kata tersebut akan menyedot perhatian lebih banyak daripada kata lainnya.

Keempat, kontroversi. Penggunaan judul yang berbau kontroversi tentu hanyalah strategi pemasaran belaka. Isinya tetap harus bertanggungjawab dan menyajikan kebenaran.

Kelima, pertanyaan. Dengan menggunakan model pertanyaan, tentu calon pembaca juga akan merasa, “Oh, iya ya….” Atau, “Apa benar ya….?” Bahkan bisa jadi, “Wah, bagaimana ya…?” Dengan begitu, akan memudahkan calon pembeli untuk berkata dalam hati bahwa buku tersebut wajib beli.

Keenam, KISS. Yaitu singkatan dari keep it simple, stupid! Judul tentu harus padat, ringkas, dan jelas. Selain agar mudah diingat, judul yang panjang akan menyusahkan dalam hal desain. Buku-buku yang sukses di pasaran seringkali memiliki judul yang simpel. Misalnya: The Outliers, Enchantment, Rich Dad Poor Dad, The Secret, Quantum Ikhlas, dan Oh My Goodness!

Ketujuh, pique curiousity. Memberikan efek kepenasaran yang tinggi pada pembaca bahkan cenderung berlawanan dengan pandangan umum yang sudah beredar, tentu akan menimbulkan ketertarikan yang tinggi untuk membeli buku. Misal: Sukses Tidak Butuh Kerja Keras.

Kedelapan, promise a benefit. Orang Barat biasa menyebutnya dengan What’s In It for Me? Yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan Ambak atau Apa Manfaatnya Bagiku. Semakin jelas judul menawarkan sebuah benefit tertentu, semakin mudah untuk menarik perhatian dan pembelian. Misal: Bebas Stroke dengan Bekam.

 

PEDOMAN MEMBUAT DESAIN KOVER

Membuat kover yang menarik, tentu harus memahami prinsip-prinsip desain grafis. Prinsip-prinsip desain grafis ini adalah aturan-aturan dasar. Setelah dikuasai, tentu pada akhirnya boleh untuk melabraknya. Karena pada dasarnya, dalam desain grafis, orisinalitas ide dan kreativitas lebih menjadi andalan utama. Dalam ranah kreativitas, melabrak aturan adalah salah satu aturan untuk menjadi kreatif itu sendiri. Hakikatnya, pelanggaran aturan-aturan itu pun bertujuan untuk menghadirkan visual yang apik dan lebih menarik perhatian audiens. Jadi, hal itu justru menjadi tujuan utama untuk menghadirkan kejutan-kejutan kepada audiens. Akan tetapi, tentu harus mengetahui prinsip awalnya dulu untuk mengetahui komposisi yang pas dalam membuat desain kover yang menarik.

#1: Keseimbangan (Balance)

Keseimbangan berarti pembagian sama berat dalam komposisi desain. Dalam aturan keseimbangan, sama berat berarti menciptakan kesan sama berat, baik bersifat simetris maupun asimetris. Dalam hal ini, terdapat dua pembagian. Pertama, Keseimbangan Formal (Formal Balance), yaitu membagi sama berat kiri-kanan atau atas-bawah secara simetris atau setara. Kedua, Keseimbangan Asimetris (Informal Balance), yaitu penyusunan elemen-elemen desain yang tidak sama antara sisi kiri dan sisi kanan, namun terasa seimbang. Jadi, pada dasarnya tidak terjadi keseimbangan secara harfiah, akan tetapi pembagian berat sama-sama enak untuk dilihat dan mengesankan seimbang. Penyusunan visualnya pun tidak hanya terbatas pada gambar, tapi juga pada warna, value, bidang, tekstur, dan elemen-elemen lainnya yang memberikan kesan seimbang.

#2: Tekanan (Emphasis)

Yaitu penekanan yang ingin disampaikan kepada audiens. Hal itu bisa dilakukan dengan beragam cara, misalnya adalah warna yang sangat mencolok, ukuran yang sangat besar, huruf yang menarik, dan elemen-elemen lain yang membuat keterpukauan audiens akan penekanan. Berikut ini beberapa aturan untuk menciptakan penekanan yang menarik.

Kontras. Yaitu obyek yang paling penting perananannya dibuat berbeda dengan elemen-elemen lainnya. Berkreativitaslah sebaik mungkin. Membuat berbeda bisa jadi dengan membuat suatu obyek vertikal saat obyek lain horisontal, atau membuat satu obyek berwarna terang saat obyek lain berwarna gelap.

Isolasi obyek. Yaitu dengan cara memisahkan obyek paling penting dari sebuah kerumunan. Obyek yang keluar dari sebuah kerumunan akan lebih mudah ditangkap mata terlebih dahulu daripada yang berada dalam sebuah kerumunan.

Penempatan obyek. Suatu obyek akan menjadi pusat perhatian manakalah audiens sanggup tertahan beberapa saat untuk memerhatikan visual yang ditampilkan. Jadi, terdapat unsur stopping power yang sangat kuat. Caranya bisa dengan benar-benar mengolah secara maksimal obyek utama yang paling penting yang ingin disampaikan. Jika audiens sanggup berhenti dan memerhatikan visual tersebut selama beberapa saat untuk memerhatikan karena keterpukauannnya terhadap olahan obyek, maka kita telah berhasil memaksimalkan unsur ini karena telah menghadirkan stopping power bagi audiens.

#3: irama (Rhytm)

Memberikan unsur irama pada elemen visual juga memberikan keterpukauan bagi audiens. Irama dalam ranah visual berarti menghadikan repetisi bagi suatu obyek secara konsisten. Atau, bisa juga dengan variasi, yaitu menghadirkan perulangan visual tapi tidak dengan sama persis, melainkan repetisi elemen visual yang disertai perubahan bentuk, ukuran, ataupun posisi.

Akan tetapi, repetisi pun harus diperhatikan efektif tidaknya. Bila repetisinya terlalu sering atau banyak, tentu akan menghadirkan kebosanan dan keriuhan visual yang tidak efektif. Jadi, hadirkanlah repetisi atau variasi, tapi lakukanlah dengan seefektif mungkin agar kebosanan tidak melanda audiens.

#4: Kesatuan (Unity)

Unsur kesatuan berarti terjadi keharmonisan dalam tipografi, ilustrasi, warna, dan unsur-unsur desain yang lainnya. Menghadirkan keharmonisan dalam desain yang hanya satu muka seperti poster, akan lebih mudah mengaturnya. Akan tetapi, mengatur keharmonisan dalam desain kover buku kemudian menjalar kepada tema layout-nya yang berlembar-lembar, tentu tidak mudah untuk mengatur keharmonisan dan juga agar pembaca tidak merasa bosan.

 

PEDOMAN MEMBUAT BLURB

Blurb adalah penjelasan singkat tentang isi di back cover buku yang telah terbit. Tujuannya jelas untuk menarik minat baca dan keputusan membeli pembaca. Jadi, blurb harus dibuat semenarik dan semenggelitik mungkin.

Blurb juga menjadi kunci bagi sebuah buku untuk bernapas dan hidup di pasaran. Oleh karena itu, blurb harus memiliki kemampuan menambat hati pembaca dan calon pembeli.

Di toko buku, calon pembeli harus berhadapan dengan ribuan buku yang ter-display. Dengan begitu, setelah tertarik dengan judul dan olahan grafis di kover depan, ia akan membalik buku tersebut dan memerhatikan blurb. Dan ia hanya membutuhkan sekitar 20 detik untuk memutuskan membeli buku tersebut ataukah tidak. Oleh karena itu, blurb harus mampu memiliki daya pikat yang tinggi. Blurb yang hanya dua hingga empat paragraf yang ada di belakang buku adalah salah satu faktor penting untuk menjadi iklan sekaligus penjelasan isi buku.

Kover belakang memiliki fungsi sama pentingnya dengan kover bagian depan. Untuk itu, kover belakang perlu dikemas sedemikian rupa hingga mampu memberikan tiga macam penjelasan mengenai:

  • siapa penulis buku tersebut;
  • apa isi buku tersebut;
  • apa keistimewaan buku tersebut.

Bagaimanapun, buku adalah suatu produk. Kover belakang adalah tempat di mana kita harus menyatukan dua hal. Pertama, betapa kerennya isi buku tersebut, sehingga untuk alasan itulah buku ini beredar. Kedua, meyakinkan calon pembeli dan pembaca tersebut untuk segera membawa buku tersebut pulang dan membayarnya di kasir. Paling tidak, terdapat tujuh bagian penting yang layak menjadi perhatian untuk membuat blurb kover belakang.

1. Kategori

Pemberian kategori pada buku berfungsi untuk mengklasifikasikan di mana produk tersebut seharusnya berada. Tentu, sangat tidak lucu jika buku kita bertema parenting namun ditempatkan di rak bisnis hanya karena petugas toko tidak bisa membedakan kategori buku kita. Berikanlah kategori, misalnya How To/Keterampilan, Faksi/Inspirasi, dan lain sebagainya.

2. Headline

Gunakan tip dan trik sebagaimana sudah dijabarkan dalam ad headline yang sudah dijelaskan sebelumnya. Headline pada blurb harus berbeda dengan judul buku di kover depan. Bila diulang selain menampakkan tidak adanya kreativitas juga sangat membosankan. Buatlah headline blurb yang menarik.

3. Sales Copy

Di sinilah kita dituntut untuk memadukan dua kepiawaian, yaitu merangkum keseluruhan isi buku menjadi serentetan kalimat keren yang ringkas, padat, dan jelas. Dan yang kedua adalah menyusun kata-kata yang bisa menjual buku tersebut. Untuk buku nonfiksi, berikan sedikit pembukaan pada sebuah paragraf, dan langsung paparkan benefit pembaca akan buku tersebut. Untuk fiksi, bisa memadukan setting, tokoh, dan konflik dalam dua atau tiga paragraf saja, dengan diksi sebaik mungkin, kemudian padukan dengan unsur kepenasaran.

4. Testimoni

Adanya testimoni tentu akan makin memperkuat isi buku dan nilai jualnya. Selain dari tokoh, bisa juga dari media.

5. Tentang Penulis

Menyantumkan informasi penting tentang pengarang tentu akan menambah kredibilitas isi buku. Catatan informasi penting, seperti pengalaman, jabatan, pendidikan tinggi, dan prestasi istimewa. Sebaiknya tidak menuliskan biodata, seperti tanggal lahir, pendidikan dasar, atau pengalaman yang tidak relevan lainnya.

6. Sales Closer

Untuk tip dan trik membuat closer yang baik bisa merujuk kepada penjelasan copywriting sebelumnya. Bagian ini digunakan untuk kembali meyakinkan calon pembaca mengenai pentingnya buku ini untuk dibaca, dan tentu saja untuk dibeli. Berikan kalimat penutup yang nendang dan menghasilkan keputusan hebat ia akan membeli buku tersebut.

7. ISBN, Barkod, dan Alamat Penerbit

Barkod dan ISBN biasanya diletakkan di sisi kanan. ISBN adalah singkatan dari International Standard Book Number yang dapat diperoleh penomoran induknya di Perpustakaan Nasional RI. Alamat penerbit beserta logonya biasa diletakkan pada bagian kiri.

Kemasan yang baik pada kover akan menjadikannya memiliki daya jual yang hebat. Memadukan unsur kekuatan desain dan teks yang ciamik, akan menjadikan sebuah buku memiliki sisi packaging yang kuat.[]

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment