tak usah membenci pekerjaanmu

Tak Usah Membenci Pekerjaanmu: Ini Alasannya!

Mengapa bekerja dari Senin hingga Jumat—beberapa bahkan hingga Sabtu—pikiran dan badan terasa begitu lelah, hingga begitu menantikan hari libur?

Jawabannya jelas: karena di hari libur, kita bisa mengerjakan apa pun yang kita idamkan dan kita sukai, seperti melakukan beberapa hobi, dan mengerjakan project sampingan yang lebih menyenangkan hati. Aktivitas di waktu luang itu dapat menyegarkan jiwa kita yang penat setelah begitu terkuras habis energi kita di hari kerja. Kita menjadi segar kembali dan lebih memiliki energi untuk ‘hidup’.

Pertanyaannya: mengapa melakukan pekerjaan rutin itu terasa menguras energi sehingga butuh liburan untuk mengisi lagi energi yang hilang itu?

Bisa jadi, penyebabnya adalah:

1. Rutinitas yang Lupa Memberi Kesadaran Diri

Semua menjadi rutinitas yang bahkan tak sempat menghadirkan energi kreatif untuk andil dalam keseharian. Bahkan, ketika berangkat ke kantor, diri tak sadar, tau-tau terasa sudah sampai begitu saja.

Kita kehilangan momen kesadaran diri yang utuh untuk menikmati hidup, karena sudah terjerat dengan kesibukan yang repetitif dan hampir nirmakna.

2. Panggilan Jiwa yang Tak Terdengar

Bekerja karena ingin mendapatkan ‘balasan’, berupa materi atau pengakuan. Bukan berangkat dari kepuasan diri untuk melakukan sesuatu yang berasal dari panggilan jiwa.

Pernah nggak melakukan suatu project yang tanpa dibayar tetapi membuat hati begitu gembira? Rasanya begitu menggugah hati padahal tak ada uang yang akan mampir di rekening. Ah, alangkah indahnya bila setiap hari kita bekerja dengan perasaan seperti itu, namun rekening tetap gemuk terisi.

Bila pekerjaan seperti itu yang kita jalani setiap hari, liburan atau waktu luang memang tetap diperlukan, tetapi fungsinya bukan lagi mengganti energi yang hilang, namun menambah energi untuk bergerak lebih kreatif lagi. Mengapa? Ya … karena kerja itu sendiri telah menghasilkan efek liburan kepada kita.

Tetapi memang, hidup harus realistis. Dan kesempurnaan atau kondisi yang ideal seperti itu terasa tidak ada. Tapi setidaknya, bisa kita upayakan agar ada, paling tidak beberapa persen saja. Agar hidup terasa lebih bermakna, dan tak terjebak pada rutinitas yang itu-itu saja.


Terima kasih sudah membaca artikelnya. Yuk segera gabung di beberapa channel inspiratif yang sudah saya buat:

Dapatkan tips-tips menarik seputar dunia bisnis, penulisan, juga tausiyah singkat tentang hidup yang lebih baik. Nah, kalau ingin menjalani hidup sebagai penulis profesional yang dibayar mahal, ikutan saja E-COURSE MENULIS terkeren ini!

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.