. . .

Energi Kemenangan Itu Bernama Qiyamullail

qiyamullail

QIYAMULLAIL – Malam kini tidak lagi menjadi idaman orang-orang mukmin. Malam kini menjadi sepi akan air mata penyesalan hambanya yang telah melakukan maksiat di siang hari. Malam kini tak lagi mendapat tempat istimewa di hati orang-orang mukmin.

Padahal, jika melihat sejarah salafush shalih dan tuntunan agama, ada satu tali yang umat ini terlupa. Ada satu ibadah yang Allah dan Rasul-Nya telah menjanjikan pahala yang luar biasa. Ada satu ibadah yang sampai-sampai Rsulullah beserta para sahabatnya yang mulia dan orang-orang shalih yang setelahnya berusaha dengan ‘mati-matian’ agar tidak pernah satu malampun terlewat tanpa melaksanakan satu ibadah yang syarif ini. Dan ibadah itu bernama: qiyamullail.

Qiyamullail adalah salah satu ibadah yang luar biasa hebatnya dalam upaya meningkatkan kualitas keimanan dan upaya untuk bertaqarub kepada Allah. Orang-orang yang biasa mendekatkan diri kepada Allah, akan dikaruniai kekuatan mata hati yang tajam. Sehingga dengan mudah ia bisa menilai, apakah sesuatu itu baik atau buruk.

Di tengah gemerlapnya nilai kehidupan yang semakin rancu seperti saat ini, tidaklah mudah menjadi orang yang sensitif terhadap nilai-nilai keburukan. Betapa banyak orang yang tidak punya pembeda. Sungguh, betapa banyaknya.

Qiyamullail adalah solusi. Apabila umat ini mampu melaksanakan qiyamullail, maka bukanlah tidak mungkin, jamaah shalat subuh di masjid bukan hanya di isi oleh satu sampai dua baris saja. Namun, shalat subuh sudah pasti akan seperti shalatJum’at yang jamaahnya melebihi kapasitas masjid tersebut.

Mengapa?

Karena qiyamullail adalah pengambilan energi iman pertama sebelum menapaki getirnya siang hari. Dan qiyamullail adalah kekuatan ruhani positif pertama sembari menunggu pagi dengan bermunajat mesra kepada-Nya.

Suatu hari,Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sedang shalat fajar di Kufah. Ketika selesai shalat, tiba-tiba dia berpaling ke sebelah kanan dan diam seakan-akan beliau sedang bersedih. Hingga ketika telah sampai matahari menyinari dinding masjid setinggi tombak, beliau membalikkan tangannya seraya mengadu:

“Saya telah melihat bekas sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia, dan aku tidak melihat seorangpun yang sanggup menyerupai mereka. Demi Allah, di pagi hari mereka kelihatan lusuh, dekil dan begitu pucat, hingga diantara kedua matanya ada bercak hitam. Di malam hari mereka membaca Kitabullah dan bersimpuh dengan kaki dan kening mereka. Jika menyebut asma Allah mereka tunduk seperti tunduknya pohon ketika tertiup angin, mata mereka sembab hingga membasahi baju mereka. Demi Allah, seakan kaum pada saat ini tidur dalam keadaan lalai dan tidak bangun malam untuk mengerjakan shalat.”

Yah, sungguh amatlah benar perkatan Ali bin Abi Thalib, umat sekarang ini telah meninggalkan salah satu ibadah yang paling dicintai oleh Rasulullah, padahal generasi sahabat telah memberikan teladan yang patut untuk diikuti. Dan kepedihan akan musibah ini pun telah diriwayatkan oleh Ibnu Umar, “Sesuatu yang pertama kali berkurang dari ibadah adalah bertahajud di malam hari dan membaca Al-Qur’an di dalamnya.” (HR. Bukhari)

“Pada masa tabiin dahulu,” kisah Abu Al-Ahwash, “orang-orang lebih mengutamakan menghidupkan malam sehingga terdengarlah dengungan seperti dengungannya para lebah dikarenakan tahajjud mereka. Lalu, mengapa orang-orang yang hidup sesudah masanya tidak bangun malam dan merasa aman dari apa yang mereka takutkan (yaitu neraka) sehingga mereka tidak bangun malam?”

Banyak malam-malam telah berlalu, tapi tak sedikitpun meninggalkan penyesalan karena tidak dapat meraih sejuta berkah di dalamnya. Padahal, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah menasihati, “Bumi berguncang dan langit gelap gulita. Kerusakan tampak di darat dan laut karena kezhaliman mereka terhadap diri sendiri. Barakah hilang, kebaikan berkurang, dan kehidupan mengeruh karena kezhaliman. Cahaya siang dan kegelapan malam menangis karena dosa, kemaksiatan dan amal perbuatan tercela. Orang-orang yang mulia dan beriman mengadu kepada Rabb mereka tentang banyaknya kejahatan, kemunkaran dan kejelekan yang terjadi. Demi Allah, ini adalah peringatan tentang azab Allah yang telah lepas dari talinya dan penyeru bahwa kegelapan malam telah datang, maka jauhilah jalan ini dengan cara bertaubat selama taubat masih memungkinkan dan pintunya masih terbuka. Jika kematian telah datang, maka tertutuplah pintu itu dan habislah masa untuk bertaubat. Sehingga, hanya berakhir dengan kepedihan.”

Shalat malam adalah ibadah yang Rasulullah tidak pernah meninggalkanya walaupun dalam keadaan sakit. Namun sekarang, kita umatnya ini, pun kalah dengan empuknya kasur dan mimpi-mimpi. Padahal, shalat malam adalah energi kemenangan yang paling dahsyat.

Mari menyeksamai sejarah untuk membuktikannya.

Ketika Romawi jatuh ke tangan kaum muslimin, Raja Romawi berkata kepada tentara-tentaranya, “Mengapa kalian kalah? Bukankah jumlah musuh lebih sedikit dari jumlah kalian?”

Salah seorang pembesar Romawi menjawab, “Ini semua dikarenakan mereka bangun malam dan berpuasa di siang harinya!”

Cerita tersebut tak jauh berbeda dengan cerita kemenangan tentara Islam ketika membebaskanSuriah. Sang Raja melarikan diri dari Suriah ke ibukota kerajaannya.

“Ceritakan kepadaku tentang orang-orang Islam, mengapa mereka mudah sekali menang atas kita?” pinta sang Raja kepada tentaranya.

“Saya akan ceritakan kepada engkau wahai Raja dan bayangkan seakan-akan engkau melihat mereka. Mereka adalah pasukan di siang hari dan pendeta di malam harinya. Tidak makan dalam tugas mereka kecuali secukupnya. Dan tidak masuk kecuali dengan salam. Mereka menerjang siapa saja yang memeranginya hingga menang atasnya!”

Raja berkata, “Jika apa yang kamu katakan itu benar, pasti mereka akan menguasai negeri yang kedua kakiku ini menginjak di atasnya!”

Ketika orang-orang Perancis mengambil wilayah Al-Quds, beberapa orang Islam masuk kota Quds untuk berziarah. Lalu mereka mendengar orang-orang Perancis berkata, “Sesungguhnya Nuruddin Zanki mempunyai rahasia dengan Allah! Dia tidak menang dengan kita karena banyaknya tentara, tetapi menang atas kita karena doa dan shalat malam. Dia shalat malam dan mengangkat tangannya kepada Allah dan berdoa. Allah pun mengabulkan doanya dan memberikan permintaaannya sehingga bisa menang atas kita.”

Tak jauh berbeda. Inilah rahasia kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan perang Salib.

Penuturan kisahnya kita simak dari Al-Qadhi Bahauddin.

Jika Shalahuddin mendengar bahwa musuh telah menekan kaum muslimin atau mendekati waktu peperangan dengan orang-orang Kristen. Malam harinya dia berpikir keras memecahkan masalah umat Islam dengan bersujud dan berdoa di malam sujudnya. ‘Ya Allah, semua urusan duniaku telah putus untuk menolong agama-Mu. Maka, tidak tersisa bagiku kecuali keabadianku di sisi-Mu. Berpegang teguh kepada tali-Mu. Dan bersandar kepada karunia-Mu. Hanya Engkaulah tumpuan dan harapanku’.”

“Saya melihatnya bersujud dan air matanya menetes diatas jenggotnya, kemudian diatas sajadahnya,” lanjut Bahaudin, “Dan aku tidak mendengar apa yang dikatakannya. Tidak henti-hentinya dia melakukan hal itu kecuali datang berita kemenangan atas musuh-musuhnya!”

Itulah rahasia kemenangan umat Islam. Rahasia malam telah mereka kuak, dan menggetarkan siapa saja yang menjadi musuh Al-Haq. Dan begitulah seharusnya para penegak kalimatullah, juga orang-orang yang telah berikrar untuk menolong dan membela agama ini, karena saat itulah kedekatan hamba dan Rabb-Nya begitu terasa.

“Saya melihat suatu kaum yang malu kepada Allah jika dia tidur terlalu lama di malam hari,” kata Fudhail Bin Iyadh, “Dia sedang tidur, ketika bangun dari tidurnya dia berkata, ‘Ini tidak seharusnya kamu lakukan, bangun dan ambilah bagianmu di akhirat!’.”

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”(Adz-Dzariyat [51]: 15-17)

Kita sedih ketika kehilangan harta benda. Kita ini sedih ketika kehilangan harta yang dicintai. Kita ini sedih ketika kehilangan sanak saudara yang meninggal dunia. Namun, kita ini tidak sedih ketika kehilangan malam tanpa ada qiyamullail di dalamnya. Bukankah generasi shalih telah mengajarkan kemuliaan ini?

Bahkan, suasana lomba dalam kebaikan benar-benar terjadi di kalangan salaf. Sampai sampai berkata, “Jika seseorang mendengar bahwa ada orang lain yang lebih taat darinya, dia menjadi sangat bersedih!”

Subhanallah, suasana itulah yang umat ini perlukan. Saling menasihati akan kebaikan. Dan selalu berusaha istiqamah dalam beribadah kepada-Nya, sebagaimana imam-imam besar yang telah menghidupkan malamnya.

“Abu Hanifah menghidupkan seluruh malamnya dan menangis hingga tetangga-tetangganya merasa kasihan kepadanya,” kisah Khatib Al-Baghdadi, “Diberitakan secara mutawatir tentangnya bahwa dia menghidupkan seluruh malamnya hingga tukang cucinya berkata setelah selesai mencuci, ‘Kamu telah memberatkan orang sesudahmu dan mengalahkan para pembaca Al-Qur’an’.”

“Saya pernah bersama Imam Bukhari dalam sebuah perjalanan dan singgah dalam satu rumah,” kisah Muhammad bin Abi Hatim Al-Warraq, “Aku melihatnya dalam satu malam bangun lima belas hingga dua puluh kali. Setiap kali ia bangun ia mengambil batu bara lalu menyalakan api ditangannya dan menyalakan lampu. Kemudian mentakhrij hadits kemudian meletakkan kepalanya untuk tidur. Di waktu sahur beliau shalat sebanyak tiga belas rakaat dengan satu witir. Dia tidak membangunkanku di setiap dia bangun. Aku katakan kepadanya, ‘Kamu melakukan itu untuk dirimu sendiri tetapi mengapa tidak membangunkanku?’. Dia menjawab, ‘Kamu masih muda, maka aku tidak senang merusak tidurmu’.”

Ibnu Abdul Hadi, murid Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang kehidupan malam gurunya. “Pada malam hari, dia mengasingkan diri dari manusia dan menyendiri bersama Rabbnya. Dalam keadaan khusyuk dan tunduk seraya membaca Al-Qur’an dengan mengulang-ulang berbagai macam ibadah malam dan siang. Jika memasuki waktu shalat anggota badannya gemetar hingga condong ke kanan dan kekiri.”

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam menggambarkan keadaan gurunya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam beribadah juga tak kalah luar biasa, “Beliau rajin dalam beribadah, bertahajud, dan shalat yang panjang hingga mencapai puncak. Aku tidak pernah mendapai seseorang yang sepertinya dalam beribadah. Begitu pula dalam pengetahuannya terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Serta hakikat keimanan, dia tidak ma’shum, tetapi aku tidak menemukan makna lain selainnya.”

“Wahai Dawud,” firman Allah pada Nabi Dawud, “sesungguhnya Aku memiliki beberapa hamba yang Aku cintai dan mereka pun mencintai Aku. Aku merindukan mereka dan merekapun merindukan Aku. Jika kamu ikuti mereka wahai Dawud, Aku pun akan mencintaimu. Dawudpun berkata, “Ya Rabbi, tunjukkanlah mereka kepadaku.”

Allah berfirman, “Mereka menjaga keterasingan di waktu siang dan merindukan malam hari sebagaimana burung-burung merindukan sarangnya. Sampai tatkala tiba waktu malam dan setiap orang menyendiri bersama kekasihnya, mereka pun menggelar wajah dan menegakkan telapak kaki untuk menyendiri dengan-Ku bersama firman-firman-Ku dan mendekat kepada-Ku dengan nikmat-nikmat-Ku. Mereka ada yang merintih, ada yang menangis, ada yang menengadah, serta ada yang bergetar. Tahukah kamu wahai Dawud, Aku memberi mereka tiga hal. Pertama, kalaulah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh ditimbang dengan mereka di hari kiamat, Aku pasti akan memberatkan mereka. Kedua, Aku pancarkan beberapa cahaya-Ku di wajah dan hati mereka. Dan ketiga, aku menatap mereka dengan wajah-Ku. Tahukah kamu Dawud, orang yang Aku tatap dengan wajah-Ku, adakah seseorang pun yang akan tahu apa yang akan Aku berikan kepadanya!”

Mari merajut malam-malam yang penuh berkah dengan rajutan iman yang membara dan azzam yang kuat untuk melaksanakannya. Semangat yang tak pernah luntur, semangat yang senantiasa menghimpun kekuatan bathiniyah yang semakin menyadarkan bahwa diri ini kecil di hadapan-Nya. Bahwa diri ini begitu hina dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

“Sesiapa memperlama shalat malamnya, niscaya Allah akan meringankannya saat berdiri pada hari kiamat kelak (di padang mahsyar),” kata Marwan bin Muhammad.

Senada, Qasim Al-Ju’i juga mewejangi, “Pokok agama adalah wara’, ibadah yang paling utama adalah shalat malam, dan jalan surga yang paling utama adalah keselamatan hati.” Dan Abu Sulaiman, akan menutup perbincangan kita dengan, “Sungguh ahli taat yang shalat malam lebih merasa nikmat daripada orang yang bersenda gurau dengan gurauannya. Kalaulah bukan karena malam, aku tidak suka berlama-lama tinggal di dunia.”

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.