Ethos, Pathos, dan Logos dalam copywriting

Ethos, Pathos, dan Logos dalam Copywriting

Ethos, Pathos, dan Logos dalam Copywriting – Formula ini ditemukan oleh Aristoteles, 2000 tahun yang lalu. Walaupun sudah usang, sejatinya formula ini adalah dasar dari semua pula copywriting yang kita kenal sekarang.

Mengapa?

Karena pada dasarnya, copywriting adalah teknik tentang persuasi. Dan Aristoteles adalah jagonya.

 

Ethos

Ethos dalam bahasa Yunani bermakna karakter. Dalam konteks persuasi atau dalam elemen copywriting, maka bermakna: tunjukkan bahwa Anda dapat atau layak dipercaya.

Untuk mempersuasi seseorang, kita harus menunjukkan bahwa kita layak untuk didengar.

Carany?

Pertama, ceritakan tentang dirimu sendiri. Sebuah cerita membutuhkan empati, dan empati dapat membawa pembaca percaya bahwa Anda adalah seorang story teller.

Kedua, sajikan secara gamblang keahlian dan prestasi Anda. Akan tetapi, jangan sampai kelihatan norak.

Ketiga, kaitkan dirimua dengan seseorang yang layak dipercaya, dan Anda akan “nampak” dapat dipercaya juga secara otomatis.

Perhatikan landing page dari Ramit Sethi berikut ini. Buat yang belum tahu, dia adalah seorang internet marketer modern yang sangat keren.

Lihat yang saya tandai dengan warna merah. Itu namanya adalah Ethos. Ramit Sethi menunjukkan bahwa ia adalah seorang New York Time Best Seller. Dan itu adalah prestasi yang patut untuk dibanggakan sekaligus ditampilkan untuk mempersuasi pembaca agar memperoleh kepercayaan dari pembaca secara seketika.

Sekali masalah Ethos ini selesai, langkah selanjutnya adalah Pathos.

 

Pathos

Setelah memperoleh kepercayaan, langkah berikutnya adalah mengolah emosi pembaca.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk emosional. Walaupun sebenarnya kita ingin menjadi rasional, akan tetapi sebenarnya yang terjadi adalah kita memoles alasan-alasan emosional kita agar terlihat rasional.

Iya, kan?

 

Perhatikan lagi landing page tersebut. Perhatikan bagaimana Sethi merangsang emosi kita dengan kata-kata berikut: Rich. More money. Bonus. Free. Insider Kit. Access.

Orang-orang ketika melihat landing page ini akan segera berpikir secara otomotis, “Wah, hanya ngasih email doang dan dapat gratisan sekeren ini?”

Selanjutnya, setelah Ethos dan Pathos, adalah Logos.

Pada dasarnya, maksudnya adalah menyajikan alasan-alasan logis mengapa pembaca harus tertarik dengan penawaran kita.

Akan tetapi, biasanya, setelah Ethos dan Pathos terpenuhi, Logos tidak menjadi masalah bila tidak kita tampilkan. Itulah mengapa letaknya ada di nomor tiga.

Perhatikan lagi landing page tersebut. Tak ada sajian logis apa pun agar pembaca menerima tawaran. Unsur yang ada hanyalah Ethos dan Pathos. Tak ada Logos di atas.

Silakan baca juga ulasan mengenai Teknik Menulis Iklan untuk mendapatkan informasi yang lebih utuh mengenai iklan dan copywriting.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.