Dzikir Laksana Pohon Hijau

“Anggaplah bahwa sedikit rezeki yang Allah karuniakan kepadamu itu banyak, sebagai jalan agar bersyukur,” kata Ahmad bin Ashim berkata, “Anggaplah bahwa banyaknya ketaatanmu kepada Allah itu sedikit, supaya engkau bisa merendahkan diri dan menjemput ampunan-Nya. Raihlah kewaspadaan dengan ketakutan yang sangat kepada Allah. Lawanlah rasa tamak yang berlebihan dengan mengutamakan qanaah. Putuskanlah hal-hal yang menjadi penyebab ketamakan dengan putus asa yang dibenarkan. Tutuplah jalan ujub dengan mengenal diri sendiri. Carilah kerehatan badan dengan menghibur hati. Selamatkanlah hiburan hati dengan sedikit bergaul. Terbukalah untuk melunakkan hati dengan selalu bermajelis dengan orang yang gemar berdzikir. Dan bersegeralah untuk mencari kebaikan selama masih ada kesempatan. Aku juga mengingatkanmu dari kata, ‘Ah, nanti saja!’.”

Kehidupan Malik bin Dinar sangat sederhana. Namun, tetap bersahaja. Saking sederhananya, sampai-sampai ketika ada pencuri masuk ke rumahnya. Tak mendapatkan apa-apa.

Menyadari pencuri yang kecewa berat. Daripada pulang tak membawa apa-apa. Malik Bin Dinar berkata, “Kamu tidak mendapati sesuatu dari dunia yang bisa kamu curi kan? Mari sini, aku tawarkan sesuatu yang bisa kamu ambil nanti di kemudian hari.”

Merasa terpojok, daripada di teriaki maling, pencuri itu pun menurut saja. Kemudian Malik bin Dinar mengajaknya berwudhu dan mengerjakan shalat dua rekaat. Malik bin Dinar telah berhasil mengajak orang untuk berdzikir kepada-Nya. Dan dia adalah pencuri di rumahnya sendiri!

Orang yang berdzikir kepada Allah di tengah-tengah orang orang yang lalai adalah seperti pohon yang hijau di tengah-tengah pohon yang kering. Maka, selalu basahkan lisan dengan dzikir setiap saat. Agar diri selalu merasa dekat dengan-Nya. Agar syetan juga tidak punya kesempatan untuk mendekati.

“Tidak ada sesaat pun di dunia ini kecuali akan ditampakkan kepada seorang hamba pada hari kiamat sehari demi sehari, jam demi sejam. Tidak ada sesaat yang berlalu tanpa berdzikir kepada Allah kecuali jiwanya sangat menyesali. Lantas, bagaimana bila jam demi jam, dan hari demi hari terlewati?” kata Abu Amru Al-Auza’i.

“Selama tiga puluh tahun, setiap kali aku hendak berdzikir kepada Allah, aku selalu berkumur dan mencuci mulutku, sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya,” kata Abu Yazid Al-Busthami.

Senada, Yahya bin Mu’adz juga berkata, “Betapa banyak orang beristighfar yang dimurkai dan betapa banyak orang diam yang dirahmati. Karena orang tersebut beristighfar kepada Allah tetapi hatinya durhaka, dan orang ini diam tetapi hatinya berdzikir.”

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.