. . .

Brand Without Trust and Trustworthy is Nothing!

Ketika keluarga dari Jepara datang ke Solo, keponakan dan adik saya langsung minta diantar ke House of Ria Miranda: Hijabstory, yang kebetulan memang tak jauh dari daerah saya tinggal.

Padahal, outlet cabang milik Ria Miranda ini tergolong baru di kota Solo. Jadi, saya juga langsung mengiyakan karena sekaligus penasaran sekreatif apa Ria Miranda mengembangkan brand-nya di Solo. Apalagi, di Solo juga banyak outlet muslimah macam Bilqis dan Up2date, namun mengapa yang menjadi top of mind adik dan keponakan saya hanya Hijabstory-nya Ria Miranda?

Sekreatif apa pun kita melakukan aktivasi brand, namun bila brand kita sendiri tidak begitu bagus di top of mind konsumen, ya nihil juga.

[bctt tweet=”Kepercayaan itulah yang penting.”]

Itu yang membuat di mana pun kita membuka cabang, kita akan dengan mudah untuk diserbu dan selalu menjadi pilihan utama.

Dalam binsis kreatif, kita harus memperhatikan dengan seksama kebutuhan konsumen. Salah satunya pengalaman konsumen harus termanjakan. Perlu diingat, persepsi konsumen terbentuk lewat experience itu.

Salah satu penciptaan experience itu terdapat dalam penataan outlet yang menawan. Ketika konsumen puas dengan konsep yang ditawarkan dalam outlet dan mendapatkan pengalaman yang menggemaskan, mereka akan kembali. Sebelum kembali, bahkan mereka menceritakannya kepada orang lain.

Telling story-nya pun dalam bentuk rekomendasi, dan kebanyakan melalui sosial media. Apalagi perempuan. Mereka sangat menyukai sharing. Bagi para perempuan, Facebook, Instagram, Path, Twitter, tak sekadar teknologi, namun benar-benar sebagai media sharing.

[pullquote]
Itulah mengapa, bila produk kita menyasar para perempuan, berikan experience paling mengagumkan yang bisa mereka rasakan. Itu menjadi alat promosi yang luar biasa hebatnya.
[/pullquote]

Ketika baru saja masuk outlet Hijabstory-nya Ria Miranda, adik dan keponakan sudah meminta untuk dipotret di depan pintu masuk.

Tulisan Hijabstory dan House of Ria Miranda yang begitu besar, adalah spot menarik untuk hijaber muda mengabadikan momen tersebut, lalu mengunggahnya ke Instagram, Facebook, Path, juga Twitter, sembari mention maupun nge-tag ke official account dari Ria Miranda maupun outletnya.

Teman-teman dunia maya sang pengunggah pasti juga akan saling berebutan komentar. Admin official account juga akan ikut nimbrung di perbincangan. Bahkan, jika beruntung, Ria Miranda sendiri yang ikut memberikan apresiasi.

Hal ini juga menyadarkan saya bahwa begitulah format digital marketing sesungguhnya. Bukan sekadar menampilkan iklan banner di website ataupun memperbanyak penyuka di Facebook fanspage dan follower di Twitter, namun sebuah aktivitas marketing horizontal yang bersifat connecting, engaging, dan kalau bisa juga entertaining.

Bagaimana kalau menurut kamu?

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.