Berani Mengubah Pertanyaan

Sering kita terjebak pada pikiran kita sendiri. Kita terhalang satu tembok besar nan kuat bernama ketakutan. Padahal, ketika kita berani mengubah pertanyaan, akan dengan sangat mudah aral megah itu kita runtuhkan.

Misalkan, ketika ingin membuka bisnis, kita sering kali berkutat pada satu pertanyaan mendasar, “Bagaimana kalau bisnisnya bangkrut?”

Pertanyaan “ampas” seperti itu akan membuat langkah kita terhenti. Pikiran sesak. Obsesi mandeg. Dan segala kekuatan tiba-tiba lenyap.

Kita harus berani mengubahnya pertanyaannya menjadi seperti ini:

“Kalau saya tidak memulainya sekarang, saya akan rugi apa?”

“Kalau saya berani memulainya sekarang, apa hal positif yang akan saya dapatkan?”

“Agar peluang suksesnya lebih besar, hal apa yang harus saya lakukan?”

Berani mengubah pertanyaan menjadi lebih tepat akan membuat kita juga menjadi lebih berani untuk mengambil keputusan yang tepat. Ingat, dalam hidup, banyak hal-hal hebat terjadi berdasarkan keputusan tepat yang kita lakukan. Nah, keputusan yang tepat, berdasar pada bagaimana cara kita menyajikan pertanyaan-pertanyaan dasar.

 

Baca Juga: Grit dan Growth Mindset

 

Misalkan dari pertanyaan di atas, berarti jawabannya akan sebagaimana berikut.

“Bila menunggu tua atau pensiun baru buka usaha, bila gagal akan sangat sulit untuk bangkit lagi karena mental sudah tidak ada. Dana pensiun juga pasti sudah habis untuk kebutuhan harian. Rasa malu juga akan makin berlipat-lipat.”

“Kalaupun gagal, saya belajar banyak hal. Umur muda harus dihabiskan untuk belajar agar ketika tua sudah matang dan menikmati banyak kejayaan.”

“Kerja sama dan berkolaborasi dengan orang-orang yang saya kenal dan memiliki kompetensi yang bisa mendukung kesuksesan.”

Nah, dengan berani mengubah pertanyaan, kita akan berani melangkah dan menghasilkan keputusan tepat yang akan berdampak besar bagi masa depan kita. Sebagaimana kata Pak Tung Desem Waringin, “Pertanyaan yang salah akan menghasilkan jawaban yang salah. Jawaban yang salah akan menghasilkan emosi yang salah. Emosi yang salah akan menghasilkan keputusan yang salah. Keputusna yang salah akan menghasilkan tindakan yang salah. Tindakan yang salah akan mendatangkan hasil yang salah. Hasil yang salah akan menghasilkan nasib yang salah. Nasib yang salah akan menghasilkan hidup yang susah.”[]

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!