Kesalahan memang bukan hal baik. Akan tetapi, kita harus melihat hal positifnya. Kesalahan bisa melecut ide-ide. Karena kesalahan dan kegagalan adalah benih-benih kreativitas. Bahkan, seorang Albert Einstein pun bertemankan kantong sampah untuk menyampahkan ribuan formula-formula salahnya. Ketika Albert Einstein mengajar di Princeton, murid-muridnya bertanya apa yang ia butuhkan di kantornya, dan ia menjawab, “Sebuah meja, beberapa buku catatan, dan sebuah pensil, serta sebuah tempat sampah yang besar untuk menampung semua kesalahan-kesalahanku.”

Formulanya yang paling terkenal E=mc2 juga ditemukan dalam proses yang sama. Pada manuskripnya pertamanya justru tertulis N=1/c2. Rupanya, ia sadar akan kesalahannya dan segera menulis lagi. Jadi, jika kita menginginkan ide yang menjadi tanda sepanjang masa dalam sejarah, olah lagi ide-ide yang telah kita buang. Kita harus memproduksi banyak sampah sebelum emas.

Pada masa-masa pertama fotografi, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengolah dan mencetak foto setelah gambar ter-capture. Sampai pada suatu hari, saat George Land berjalan-jalan di pantai, dia mengambil gambar dengan kameranya dan anak perempuannya melemparkan pertanyaan yang sederhana, “Mengapa aku tidak bisa melihat fotonya sekarang?” George pun segera mendapatkan ide untuk foto instan, dan ia menemukan proses Polaroid.

Jangan memfokuskan pada hal-hal seperti kesuksesan, uang, penghormatan, atau penghargaan. Fokuslah pada kinerja yang sungguh baik, maka semua hal-hal lain yang baik akan menghampiri secara otomatis. Juga, berikanlah performa terbaik. Jangan sampai setelah pertunjukan selesai kita baru menyesali diri dengan, “Seandainya aku melakukannya dengan lebih baik.” Kejarlah performa terbaik. Kesuksesan akan ikut dengan sendirinya.

Motivasi diri mutlak diperlukan untuk mengatasi segala keengganan dan kemalasan yang selalu menyergapi diri. Ada begitu banyak sifat buruk yang dapat menghinggapi diri. Misalnya adalah mengatasi rasa malu. Sejatinya, banyak orang sukses yang pada masa mudanya adalah pemalu, tetapi kemudian mereka terus mengatasinya hingga menjadi sukses. Menjadi pemalu bukanlah hal yang buruk. Pada dasarnya, para pemalu cenderung menghabiskan waktunya berjam-jam untuk membaca, belajar, memusatkan perhatian, menggunakan imajinasi, dan belajar sesuatu hingga menjadi ahli. Dan itulah yang membuat mereka menjadi sukses. Arthur Benjamin, profesor matematika paling jago di Amerika berkata, “Aku menghabiskan banyak waktu sendirian karena aku termasuk orang yang canggung dalam bersosialisasi. Aku ingin teman-temanku bermain denganku, tetapi aku bukanlah seseorang yang menjadi pilihan pertama dalam pemilihan tim sepakbola. Jadi, aku menghabiskan waktuku dengan mengerjakan soal-soal matematika.”

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

2 thoughts on “Bagaimana Mengubah Kesalahan dan Kemalasan Menjadi Karya Nyata”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.