Tentang Kebahagiaan dan Passion, Manakah yang Lebih Utama?

Bahagia ataukah sukses, manakah yang lebih penting? Shawn Achor dalam buku The Happiness Advantage membuktikan bahwa kebahagiaan harus datang lebih dahulu, karena itulah syarat menjadi syarat untuk sukses. Ketika kita bahagia, otak menjadi terbuka, kreativitas muncul dan karya terbaik pun lahir. Kebahagiaan menjadi sebab, dasar dan juga fondasi untuk menuju sukses. Jadi, kebahagiaan sama sekali tidak berhubungan dengan jumlah uang. Karena kelemahan uang justru menghilangkan kebersamaan dan gotong-royong. Saat ada uang, lebih suka untuk menyewa bukan bersama-sama membangun. Saat ada uang, lebih suka berpesta sendiri, bukan bersama-sama menikmati sesuatu. Selalu saja begitu.

Passion, mencintai apa yang kita kerjakan.

Passion bukan berarti ambisius. Tapi, karena kecintaan yang terlalu mendalam itulah hingga orang-orang beranggapan bahwa kita terlalu ambisius. Hal ini dapat dimaklumi, karena saat kita mencintai apa yang tengah kita kerjakan, maka kita akan melakukan ini dan itu dengan sangat fokus dan benar-benar mendalam. Dan itu memang terkesan ambisius. Passion sangatlah penting untuk mereguk kesuksesan. Masalahnya hanyalah bagaimana cara kita menemukannya.

Coba kita cermati bagaimana seorang Elli Davis akhirnya menemukan passion-nya. “Aku seorang guru,” katanya, “tapi aku suka membaca tentang iklan real estate, dan aku senang melihat-lihat acara open house di akhir pekan. Aku takut untuk mencoba real estate, tetapi jika aku tidak pernah mencobanya, aku tidak akan pernah tahu sebagus apakah aku di bidang itu.” Lalu, keajaiban itu terjadi. Hanya dengan mencobanya, Elli Davis menemukan jalan yang sesungguhnya menuju passion-nya dan melesat ke puncak profesi bidang real estate. Jalan yang memang seharusnya baginya.

Lalu, bagi kita yang sampai saat ini belum menemukan sebenarnya passion kita ini apa, teruslah menggali; teruslah mencari; teruslah mengamati banyak hal. Karena di antara segala hal yang betebaran di muka bumi ini, pasti ada satu yang menjadi daya tarik terkuat kita. Dan itulah awal mula menemukan passion kita.

Ikutilah kata hati. Uang akan datang pada akhirnya. Passion menghasilkan semangat. Dan semangat dalam pekerjaan apapun kemudian akan menghasilkan uang yang bagus. Debbie Myers, wakil presiden dari GlaxoSmith Kline Biologicals menuturkan, “Aku tidak peduli berapa banyak uang yang aku hasilkan. Bukan itu yang menjadi alasanku mengambil suatu pekerjaan. Aku memilih suatu pekerjaan karena aku mencintainya. Dan pada akhirnya, aku pun digaji dengan cukup baik.”

Jadi, lupakanlah segera jumlah uang yang ingin didapatkan. Carilah cara untuk mencari makan, tetapi berilah juga makanan pada hati kita. Janganlah terlalu peduli dengan jumlah uangnya, pedulilah pada seberapa bergairahnya kita pada pekerjaan. Uang akan mengalir pada sendirinya. Juga, karena kita hanya punya satu kehidupan di dunia ini, tentu akan lebih baik saat kita menjalaninya dengan menjadi apa yang kita cintai. Bila menghendaki diri menjadi kaya, taruhlah uang di bagian paling bawah dari skala prioritas, lalu letakkanlah passion di bagian teratas. Dan kita akan bangun pagi dengan keadaan senang karena melakukan pekerjaan yang kita cintai. Great money always follows great works.

Your work is going to fill a large part of your life,” kata Steve Jobs, “and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle.” Lakukan banyak hal yang kamu sukai. Sesering mungkin. Sekerap kau bisa. Ada banyak perubahan yang akan kau hadirkan di sana. Baik untuk dirimu, juga untuk semesta.

Berunggul-unggullah dengan gayamu sendiri. Cari lahanmu sendiri untuk bersinar. Karena setiap kita dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Jangan berusaha menjadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri, yang kemudian bisa menginspirasi orang lain. Dan cara terbaik menuju ke situ bukanlah dengan meniru orang lain, apalagi menjiplaknya habis-habisan. Selain engkau hanya akan dibanding-bandingkan dengan yang kau tiru itu, engkau juga takkan bertahan lama dalam belantara hidup yang selalu membutuhkan orang-orang yang berbeda, bukan yang sama ini.

Risiko bagi kita yang berpikir besar adalah selalu disalahpahami dan disalahmengerti. Ketika pikiran kita fokus pada hal-hal besar dalam hidup, maka hal-hal kecil akan terselesaikan dengan sendirinya. Ketika pikiran kita berpikir hal-hal kecil, kita akan menjadi sosok yang gampang tergoda, bertoleh, dan berhenti seketika. Karena tidak ada hal besar yang menjadi tujuan, yang ada hanyalah remeh-temeh yang sebenarnya tak butuh banyak usaha untuk mewujudkannya. Hanya hal-hal besar yang menjalar di pikiran. Di sanalah, kemudian segala tutur, setiap lelaku, perlahan menata bata untuk menguatkan fondasi mewujudkan hal besar tersebut. Seolah tanpa sela. Seakan tanpa jeda. Dan saat selesai, memulai untuk berpikir dan mewujudkan hal besar lagi. Satu bangunan selesai, masih banyak yang perlu diselesai pula.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment