pekerja keras

Tak Perlu Khawatir Soal Rezeki

Di saat kita begitu dekat dengan-Nya, segala curahan rahmat dan barakah-Nya akan mengguyuri hari-hari. Kasih sayang-Nya akan benar-benar kita rasa tak bertepi. Rasa ketergantungan yang begitu besar akan segera kita berikan untuk-Nya. Hanya Allah sajalah tempat kita menghaturkan segala apa yang menjadi lara. Tempat kita butuh segala curahan kasih sayangnya. Tak peduli tempat, kondisi, ataupun situasi. Semua adalah episode-episode kedekatan dengan-Nya.

Dan jika Dia sudah memberi, takkan ada yang bisa menghalangi. Jika kita sudah dekat, maka ketenangan hidup menghampiri. Maka dalam kitab Mafatih Al-Ghaib, Syaikh Ar-Razi menceritakan kisah yang pernah disaksikan oleh Dzun Nun Al-Mishri ini, bisa menjadi inspirasinya.

“Suatu hari,” Dzun Nun memulai kisahnya, “aku merasa tidak enak di dalam rumah. Aku segera keluar. Lalu aku ikuti langkahku yang tidak pasti. Sampai kemudian aku tiba di tepi sungai Nil. Di sana tiba-tiba aku melihat seekor kalajengking yang cukup besar. Merangkak perlahan menuju sungai Nil. Aku ikuti arah jalannya. Dan ternyata di tepi sungai itu sudah ada seekor kodok yang seakan sedang menunggunya. Kalajengking itu langsung melompat ke atas punggung kodok tersebut. Kodok segera berang, berenang menggendong si kalajengking ke tepi sungai Nil yang lain. Aku segera mengikutinya dengan menaiki sebuah perahu kecil. Di sana aku menyaksikan kejadian yang sungguh mengagumkan. Aku melihat seorang anak muda yang sedang tidur di bawah rindangnya sebuah pohon. Di sampingnya ada seekor ular yang hendak menyerangnya. Namun, kemudian kalajengking itu melompat ke ular tersebut. Lalu, terjadilah pertarungan yang seru antara kedua makhluk itu, sampai keduanya sama-sama mati. Dan si anak muda tetap tidur nyenyak. Mahasuci Allah yang telah mengutus seekor kalajengking dan seekor kodok untuk menyelamatkan seorang hamba-Nya yang sedang tertidur nyenyak itu.”

Lalu, bagaimana mengemas ketenangan tersebut, agar menjadi ketergantungan yang tinggi dalam hidup kita kepada-Nya? Ada beberapa hal yang kita bisa mulai untuk meneguhkan jiwa. Dengan menyeksamai ayat-ayat ini. Agar ketenangan-ketenangan hidup menghampiri di hari-hari, membersamai di waktu-waktu, dan mendekapi di tiap masanya. Dan izinkan riwayat dari Amir bin Abdul Qais ini memberikan penjelasannya.

“Ada empat tanda dari kitabullah, jika aku membacanya, maka aku tidak peduli lagi apa yang terjadi padaku di waktu pagi atau sore. Pertama, firman Allah dalam surat Fathir ayat dua yang artinya, ‘Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup melepaskannya setelah itu ….’ Kedua, firman Allah dalam surat Al-An‘am ayat tujuh belas, ‘Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan padamu, maka Dia Mahakuasa atas Segala Sesuatu.’ Ketiga, firman Allah dalam surah At-Thalaq ayat tujuh, ‘Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.’ Dan keempat, firman Allah dalam surah Hud ayat enam, ‘Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi, melainkan semuanya dijamin Allah rejekinya ….’

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment