Yudasmoro Minasiani, Passionate Travel Writer

Bila harus dideskripsikan, seperti apa sih perjalanan hidup Mas Yudas hingga menjadi seperti sekarang?

Ibu saya orangnya disiplin soal pendidikan dan cenderung cerewet. Waktu kelas 4 SD saya harus sudah hafal perkalian di bawah 100. Ibu saya sangat disiplin soal waktu belajar. Mungkin karena beliau dulunya pernah sekolah pendidikan guru. Bapak saya orangnya sederhana. Yang menonjol dari beliau hanya dua: jujur dan tidak muluk-muluk. Soal kejujuran, panutan saya, ya beliau. Mereka berdua sangat terbuka dan penyabar. Kami dibesarkan dengan lingkungan yang berbeda agama dan tradisi Jawa yang cukup kuat.

Bila harus mengucapkan terima kasih kepada orang tua, ucapan apa yang hendak disampaikan kepada mereka?

Kalau ingin berterima kasih, saya ingin ucapkan pada bapak saya betapa bangganya saya terhadap beliau, dan betapa ibu saya adalah supermom yang tiada duanya dalam membesarkan orang seperti saya. Mungkin mereka belum paham soal pekerjaan saya dan pilihan-pilihan saya lainnya. Tapi, satu hal yang pasti suatu saat saya akan membanggakan mereka.

Apa arti passion bagi Mas Yudas, dan apakah cukup dengan passion yang kuat saja kita bisa menjadi sosok yang akan sampai kepada apa yang dicitakan? Mengapa?

Bagi saya, passion itu seperti jebakan. Enak didengar atau diucap, tapi untuk dijalankan belum tentu bisa bertahan setengah jalan. Passion yang kuat memang penting, tapi sering kita lupa bahwa apa pun passion seseorang itu harus didukung banyak hal. Ada ilmu yang belum tentu kita mampu kuasai, ada persaingan, ada kejatuhan, kekalahan dan masih banyak lagi yang tak terduga.

Contoh saja untuk menjadi travel writer yang baik tak hanya sering traveling saja. Tapi, harus mengerti dunia marketing, memiliki networking yang bagus di bidang traveling, menguasai komunikasi agar tak canggung saat presentasi atau negosiasi dengan klien, menguasai fotografi dan lain-lain.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!