The Secret of Taqwa

Rasa takut merupakan cambuk Allah untuk meluruskan orang-orang yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya. Bentuk takut kepada Allah adalah takut terhadap siksaan-Nya serta takut terhadap kewibawaan, keagungan, serta kemuliaan-Nya.

“Tidaklah rasa takut itu berpisah dari hati,” kata Abu Salman, “kecuali hati itu pasti akan binasa.”

Rasa takut kepada Allah tidak akan tercipta kecuali dengan mengenal Allah Yang Mahatinggi dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana dikata Fudhail bin Iyadh, “Rasa takut seorang hamba kepada Allah Ta’ala tergantung sejauh mana ia mengenal Allah. Sedangkan, kezuhudannya terhadap dunia tergantung sejauh mana ia merindukan surga.”

Takut kepada-Nya adalah ibadah termulia, yang takkan pernah diraih oleh hamba-Nya kecuali dengan kejujuran untuk bersegera menyambut seruan-Nya, dan meminggirkan hawa nafsunya. Seorang hamba yang takut kepada-Nya melakukan itu semua tentulah sebagai rasa pengagungan kepada-Nya.

Bukanlah yang menangis dan mengusap air matanya itu yang takut kepada-Nya. Akan tetapi, orang yang takut adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan akan disiksa karenanya.

Dalam hidup, mayoritas kita lebih banyak berharap daripada takut. Kita mengingat rahmat Allah, tapi lupa akan siksa-Nya. Kita berkhayal tentang surga-Nya, tapi pura-pura lupa akan neraka-Nya. Padahal, yang seharusnya dilakukan adalah kebalikan dari itu. Bila kita hendak menguji kebenaran rasa takut diri kepada Allah, lihatlah bagaimana diri berbuat saat dihadapkan dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah kala sedang sendirian.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!