Menulislah untuk Diri Sendiri

“Menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistem imunitas dan harmonal dalam merespons beban stress, dan meningkatkan hubungan serta kemampuan kita dalam menghadapi stress,” kata Joshua M. Smyth, psikolog di Syracuse University.

Empat tahun lalu, Veronica Chapa mengalami depresi berat. Dia patah hati. Kecewa dengan mantan pacarnya dan merasa heran mengapa dia bisa memiliki lelaki macam Joni yang tak pernah punya perhatian sedikit pun kepada dirinya.

Tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya, Veronica mengikuti sebuah terapi. Harapannya, dengan terapi tersebut, dia dapat mengenal dirinya sehingga tidak salah lagi dalam mengambil keputusan.

Maka, ikutlah dia dalam sebuah kelompok terapi menulis. Karena latar belakangnya adalah penulis di bidang pemasaran, Veronica yang saat itu berumur 29 tahun ini, merasa terapi ini pastilah tak begitu sulit untuk diikuti. Tetapi ternyata, dugaan Veronica meleset. “Saya tahu saya hanya tinggal menulis pada kertas kosong yang disediakan,” katanya, “tapi kok rasanya sulit sekali ya menulis tentang diri sendiri,” terangnya jujur.

Pemimpin dari terapi ini, Michele Weldon, seorang penulis berjudul Writing to Save Yourlife, memiliki solusi sederhana untuk Veronica. “Tulislah surat untuk diri sendiri.”

Veronica pun kemudian menemukan kunci dari kesulitannya tersebut. Lalu, mulailah Veronica menangis beberapa menit setelah menulis dua kata di kertasnya yang berbunyi: Dear Veronica. “Sekali dua kata itu tertuliskan,” katanya, “langsung terbukalah kepenatan, kekecewaan, serta kegelisahan yang saya alami. Semuanya seolah mengalir dan terurai keluar tanpa bisa ditahan.”

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!