Release Early Release Often, Perlukah?

RERO adalah singkatan dari Release Early Release Often. Istilah ini dipopulerkan oleh Eric S. Raymond, dalam karyanya yang fenomenal, The Cathedral and the Bazaar: Musings on Linux and Open Source by an Accidental Revolutionary. Petuah sakti yang terkenal dalam dunia startup itu lahir dari pengalamannya mengembangkan Linux.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa release early release often bagus untuk bisnis kita?

Setiap kita merilis sebuah produk atau layanan sedini mungkin (tanpa menunggu kesempurnaan produk), maka pada saat yang sama kita juga sedang meriset tentang apa yang benar-benar dibutuhkan pelanggan, sekaligus menguji sejauh mana produk atau layanan yang kita rilis apakah benar-benar berhasil menjangkau pelanggan ataukah tidak.

Dengan menerapkan prinsip RERO ini, banyak startup yang berhasil berkembang dengan baik.

Siapa yang mengira Medium bisa menjelma menjadi platform idola untuk blogging seperti sekarang?

Siapa juga yang mengira AirBnB bisa menjadi platform terbesar dan terbaik untuk menyewakan tempat tinggal bagi para pelancong?

Hal itu terjadi karena menggunakan metode release early release often. As Reid Hoffman, founder of LinkedIn, said: “If you’re not embarrassed by the first version of your product, you’ve launched too late.”

Kenapa tidak menunggu saja sampai produk atau layanan kita benar-benar siap (atau mungkin mendekati sempurna) baru dirilis?

Saya akan meminjam jawabannya dari Nate Kohari, CTO dari Adzerk, “Nothing is real until it’s providing value (or not) to your users. Having completed work that isn’t released is wasteful.”

Kesempurnaan produk atau layanan adalah sebuah proses. Dan akan sangat menarik bila perusahaan kita bertumbuh bersama pelanggan, dengan saling memberikan masukan-masukan positif untuk pengembangan produk atau layanan perusahaan lebih lanjut, dan pada saat yang sama kita sebagai perusahaan, memberikan kenyamanan dengan  apa yang dibutuhkan oleh pelanggan.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!