Hak dan Kewajiban antara Penulis dan Penerbit

Hak dan kewajiban penulis dan penerbit

Penulis dan penerbit adalah partner yang harusnya bisa bersinergi dalam industri perbukuan, karena antara penulis dan penerbit memang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.

Apalah arti penulis tanpa penerbit, dan apalah pula arti penerbit tanpa adanya penulis. Makanya, hak dan kewajiban masing-masing memang harus saling dipahami dengan baik.

 

Hak Penerbit

1 – Mendapatkan naskah sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang disepakati.

2 – Menerima naskah sesuai dengan deadline yang ditetapkan.

3 – Mendapatkan hak eksploitasi eksklusif atas naskah.

4 – Mendapat jaminan legalitas atas naskah.

Naskah dikelola sebaiknya setelah ada akad atau perjanjian penerbitan yang disepakati bersama.

Penulis atau pengarang diberi keleluasaan untuk memilih sistem kerja sama yang ditawarkan: outright (flat free), semiroyalti, atau royalti.

Bahan-bahan naskah yang dilindungi hak cipta harus mendapatkan izin dari pemegang hak cipta apabila memenuhi unsur untuk wajib mendapatkan izin, seperti pencantuman foto, pengutipan yang besar secara kualitatif.

5 – Menetapkan judul, perwajahan kover dan isi, serta spesifikasi produksi buku.

 

Hak Penulis

1 – Mendapatkan imbalan atas penulisan dan eksploitasi naskah sesuai dengan yang disepakati.

2 – Tetap memiliki hak cipta atas terbitan.

3 – Menyetujui batas waktu atau batas oplag eksploitasi naskah.

4 – Mengajukan perlunya revisi atau penambahan naskah dan mendapatkan imbalan tambahan.

5 – Mendapatkan contoh terbitan secara cuma-cuma sesuai dengan jumlah yang disepakati.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menuntaskan Mimpi Menjadi Penulis

Tak seperti kebanyakan penulis di zamannya, Jane Austen memang menentang arus. Kebanyakan, penulis di zamannya itu menyeruakkan tema tentang petualangan dan imaji yang liar. Sebut saja yang mengusung tema itu seperti Daniel Defoe, Samuel Richardson, atau Henry Fielding. Tapi Jane tidak, ia justru menampilkan tema yang unik: dengan setting-an yang selalu bangsawan, ia seringkali mengisahkan gadis muda yang mencari jati diri. Dan itu sangat menggemparkan. Bagaimana tidak, sosok wanita di zaman dahulu, adalah kasta kedua dalam kehidupan sosial. Tema yang diangkat Jane, sangat tidak lazim.

Sense and Sensibility, novel pertamanya, terbit. Tapi pasar belum beraksi apa-apa atas karyanya itu. Hingga dua tahun kemudian, naskah Pride and Prejudice pun ketika ditawarkan ke penerbit, semuanya tak menggubris. Naskah Jane tertolak dengan sukses. Bahkan, sang ayah, yang mengerti benar tentang kemauan besar anaknya ini, ikut membantunya menghubungi penerbit-penerbit di London, tapi sepertinya, gayung belum juga bersambut. Tapi Jane, terus menulis. Bahkan lebih bersemangat menulis.

Hingga akhirnya, perlu delapan tahun karyanya akhirnya terterbitkan, itu pun setelah ia tak mencantumkan nama aslinya dalam novel. Tapi, karena banyak yang memuji karyanya, akhirnya ia pun mulai menggunakan nama asli. Secara beruntun, akhirnya karyanya pun membanjiri pasar.

Kita belajar dari Jane tentang tak kenal lelah berkarya. Jika ada di suatu hari dalam hitungan hari-hari kita, kita mengingini karya kita diterbitkan menjadi buku, dan naskah sudah kita siapkan sedemikian cantik dan memesona, namun penerbit belum ada yang mau membuka matanya sekali saja untuk melirik karya kita, berhentikan kita dari cita itu? Jangan. Tidak. Sekali-kali jangan, sekali-kali juga tidak.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!