Setiap Kita adalah Musafir di Dunia Ini

Deklarasi kebaikan mutlak dikumandangkan tiap hari baru mulai menyapa. Menyedikitkan dosa baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Karena jika tidak menggesa dan memaksa diri untuk lebih baik, akan menimbulkan pesta syaithan yang menjingkat-jingkat.

Bukankah hidup pasti berakhir? Maka, pada tiap sisa waktu yang kita punya, semoga ia adalah suatu aktivitas yang masuk kategori ketaatan kepada-Nya.

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Hud [13]: 114)

Bayarlah segala keburukan itu dengan kebaikan. Karena dosa-dosa itu ibarat debu yang kemudian terhapus oleh derasnya hujan kebaikan. Tetapi, mengakui kesalahan, kebodohan, dan segala kekurangan diri adalah perkara paling rumit yang dialami manusia yang ingin berubah. Maka, berhati-hatilah .…

Mari sejenak berkelana ke selaksa hikmah dari Fudhail bin Iyadh.

Suatu hari, Fudhail bertanya kepada seorang lelaki.

“Berapa umurmu?”

“Enam puluh tahun,” jawab lelaki itu.

Sesungguhnya Anda telah 60 tahun menuju Rabb-mu. Dan kini Anda hampir sampai.” Kata Fudhail kemudian.

Lelaki itu kemudian berkata, “Innalillahi wa inna lillahi raji’un …”

Mendengar ucapan lelaki itu, Fudhail berkata, “Tahukah Anda bagaimana maksud dari kalimat itu?”

“Beritahukanlah kepada kami tafsirannya wahai Fudhail,” pinta lelaki tersebut.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!