Kita Tidak Akan Ketinggalan Apa pun

Salah satu adegan dalam film Yeh Jawaani Hai Deewani membuat saya tertegun. Saat Rabin Kapoor yang hobinya traveling menjelajah dunia itu memegang sebuah tiket acara konser, dan Depheeka membuang tiket itu begitu saja.

Rabin marah-marah, karena untuk mendapatkan tiket itu begitu sulit, dan itu acara yang langka dan keren. Dan sebentar lagi acara akan dimulai. Akan sangat sayang untuk dilewatkan. Tetapi, Depheeka justru memintanya untuk duduk bersila, menikmati sunset yang ada di hadapan mereka.

“Kau tak akan ketinggalan apapun. Nikmatilah apa yang ada di hadapanmu saat ini.” Begitu kira-kira Depheeka mewejangi. Kira-kira, karena memang film itu sudah saya tonton dua tahun lalu. Lupa dengan dialognya, tetapi tak lupa dengan esensinya: menikmati kekinian; menikmati saat ini.

Saking ambisiusnya saya terhadap sesuatu, sering kali ketika makan pun saya masih memikirkan tentang projek-projek ke depan. Saya sampai tidak menikmati bagaimana makanan itu tersaji indahnya, apa rasa makanannya, dan memakannya terlalu cepat. Tahu-tahu sudah selesai, sudah kenyang. Kayak nggak ada soul-nya. Saking ngototnya saya terhadap sesuatu, saat lari pagi pun, saya tak bisa menikmati udara pagi yang sejuk, pemandangan sawah yang masyaAllah bin subhanAllah indahnya! Pikiran saya melayang ke mana-mana, mikirin projek, dan sebagainya.

Tetapi itu dulu.

Sejak 2016, saya mulai hidup minimalis, sebagaimana postingan sebelumnya, dan saya merasa lebih bisa merasakan kenikmatan hari ini, daripada resah dengan masa depan.

Saat lari pagi misalnya, saya lebih memilih tak memakai sepatu, dan rasanya, ya Allah enaknya! Hahahahha. Terakhir kali saya sering telanjang kaki mungkin waktu SMA, waktu masih di pesantren. Lari pagi telanjang kaki, menghirup udara paginya pun hya Allah, dipuas-puasin, sambil bergumam, “Ya Allah, ini udara sumpah enak banget!” Rasanya seger banget, adem banget, sejuk banget, nggak ada duanya deh!

Saat tak lagi menonton tivi, pikiran pun jadi lebih enteng. Bawaannya lebih bijak aja. Mood pengen berdebat dengan orang lain nggak ada sama sekali. Jadi kuper? Enggak. Bahkan malah merasa otaknya jadi makin pinter. Bacaanya kayak jadi lebih bermutu saja. Berita-berita dan portal media online yang sampah pun tak saya baca. Walau orang lagi serame apapun di sosial media ngebahas isu terkini, saya tak akan mengklik tautan yang dibagikan itu.

Buat apa?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Pola Hidup Minimalis dan Apa Alasan Saya Menerapkannya?

pola hidup minimalis

Pola hidup minimalis? Apaan sih? Jujur, saya dengan ide ini, ketika empat tahun lalu saya sering membaca postingan-postingan salah satu idola saya, Badroni Yuzirman, tentang hidup minimalis. Pada saat yang sama, saya juga rutin membaca postingan-postingan tentang hal itu dari Leo Babauta. Bahkan, saya berkesempatan untuk menjadi editor dari sebuah buku best-seller bertema mindfulness karya Adjie Silarus.

Saya ingin segera mempraktikkan pola hidup minimalis, tetapi kok ya tidak jalan-jalan. Dan seolah, kerjaan juga tak berhenti, aktivitas ada saja yang harus dijalani.

Hidup tak teratur.

Makanya, ketika menulis resolusi untuk 2016, saya hanya menargetkan satu hal: khusyuk.

Saya ingin hidup yang lebih khusyuk. Tenang. Tuma’ninah. Jauh dari ingar-bingar, politik kantor yang menyebalkan, ghibah antar teman yang menyesatkan, dan lain sebagainya.

Saya ingin bekerja dengan tenang, beribadah dengan tenang, dan menikmati proses berkeluarga dengan tenang. Saya benar-benar ingin menikmati hidup tanpa gincu yang para pesolek biasa gunakan untuk menampilkan riasan tebal dan menipu.

Setelah menikah Februari lalu, saya pun mulai memutuskan untuk mulai menjalani hidup yang lebih pola hidup minimalis.

Hal pertama yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah merapikan folder di laptop

Ini penting, karena sebagai seorang pekerja kreatif, laptop adalah barang yang sering kita gunakan untuk bekerja. Makin rapi dan makin memudahkan otak kita untuk berpikir tanpa ribet, makin baik.

Dikarenakan saya hanya bekerja dalam ranah penulisan dan desain, maka saya hanya membagi tiga folder utama: writing, design, dan yang terakhir photo.

Folder film, musik, gambar inspirasi, dan lain sebagainya, saya delete. Bila ingin menonton film, saya biasanya mengunduh di Ganool. Setelah ditonton, akan langsung saya delete. Bila malas mendonlot, saya biasanya streaming-an. Untuk mendengarkan musik, cukup pakai Joox atau YouTube. Beres.

Sejak menerapkan pola hidup minimalis, saya pun tak lagi menyimpan gambar-gambar inspirasi. Bila ada kerjaan misalkan bikin logo atau kover buku, saya akan langsung menuju Behance atau Pinterest. Di sana ada banyak inspirasi yang langsung bisa melejitkan ide.

Alhasil, setelah saya men-delete fail-fail tak penting versi saya, ketika melihat laptop pikiran saya tidak kacau lagi. Lebih tenang dan lebih mudah untuk mencari fail-fail pekerjaan.Hasilnya, lebih produktif berkarya dan menyelesaikan pekerjaan juga.

Jadi, sekarang di laptop hanya ada tiga folder besar. Folder Writing, berisi kerjaan menulis dan project-project yang berhubungan dengan itu, misalkan koleksi artikel, dan sebagainya. Folder Design, berisi kerjaan desain, seperti kover buku, layout, logo, tipografi, dan lain sebagainya. Folder Photo, berisi koleksi foto-foto keluarga besar Bani Sukoyo dan Bani Surahman, dan foto-foto pribadi bersama istri.

Pada intinya, saya hanya membutuhkan ketiga hal itu saja. Saya langsung men-delete fail-fail yang saya rasa sudah tak digunakan lagi.

Mengambil esensi dan hal inti memang sangat menyenangkan, dan memudahkan pikiran saya untuk tetap tenang dan fokus. Dan itulah inti dari pola hidup minimalis.

Hal Kedua yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah merapikan email

Lalu lintas email saya benar-benar padat. Dari ratusan email yang masih ngendon, saya langsung mengecek satu-satu, dan men-delete yang sudah saya gunakan dan saya rasa tidak perlu. Hasilnya, hanya ada 7 email yang benar-benar penting dan tak bisa saya delete. Sekarang, pikiran lebih segar bila membuka akun email, karena langsung bisa terdeteksi mana saja email baru yang perlu penanganan, dan sebagainya.

hal ketiga yang saya lakukan untuk menerapkan pola hidup minimalis adalah merapikan koleksi buku

Ketika melihat koleksi buku, di satu sisi, saya bangga. Di satu sisi lain, saya merasa, buat apa buku-buku ini saya simpan? Saya mengatakan hal itu kepada buku-buku yang saya anggap tak perlu untuk saya simpan lagi.

Sejak menerapkan pola hidup minimalis, saya pun memutuskan untuk menyedekahkannya.

Buku-buku yang masih saya simpan adalah buku-buku dengan kategori induk, buku penting, seperti tentang Fiqih, Sirah Nabawiyah, dan semisalnya. Sedangkan novel, buku-buku motivasi, kisah inspirasi, dan semisalnya, langsung saya kardusin, dan saya sedekahin.

Di satu sisi, buku itu tentu saja banyak peminatnya. Buktinya, ketika saya woro-worokan di grup Telegram, banyak yang berebut. Di satu sisi lagi, buku itu semoga menjadi amal jariyah dari saya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!