Mahir Meresensi Buku ala Djony Herfan

kiat menulis resensi

Kata resensi sendiri berasal dari bahasa Latin recenseo yang berarti “memeriksa kembali” atau “menimbang”. Kata resensi di Indonesia berasal dari bahasa Belanda, recensie. Selain istilah “resensi buku”, untuk pengertian yang sama, juga dipakai istilah “tinjauan buku”, “timbangan buku” atau “pembicaraan buku”. Semua mengacu pada pengertian yang sama.

Apakah hakikat resensi buku itu? Resensi buku adalah pertimbangan baik-buruknya sebuah buku. Jadi, buku itu ditilik dari berbagai segi/aspek. Kemudian, disimpulkan apakah buku itu, misalnya, “bagus”, “sedang-sedang saja”, atau “tidak bagus”.

Biasanya, resensi dimuat di media cetak (koran dan majalah). Dengan demikian, si pembaca resensi bisa memutuskan apakah dia akan membeli buku bersangkutan atau tidak. Ini bisa diketahui dari dua hal. Pertama, isi buku yang dipaparkan si penulis resensi. Kedua, penilaian si penulis resensi terhadap buku yang dibicarakan.

Kalau begitu, apakah resensi buku sama dengan promosi gratis bagi penerbit atau pengarang buku?

Dari satu segi, bisa dikatakan demikian. Apalagi jika dilihat dari segi penerbit atau pengarang. Hanya saja, penulis resensi yang baik haruslah menulis secara objektif. Harus mempertimbangkan buku secara objektif. Tidak boleh berat sebelah. Misalnya, kalau hubungannya baik dengan penerbit/pengarang, penulis resensi langsung memuji-muji buku yang dibicarakannya. Sebaliknya, karena tidak akrab dengan penerbit/penulis, atau bahkan tidak mengenalnya, lantas mengecam/mengkiritik habis buku yang dibicarakan.

Cara semacam ini tidak boleh dilakukan penulis resensi. Cara ini tidak etis. Sebaiknya tidak dipraktekkan.

 

Buku yang Diresensi

Buku apa yang bisa diresensi?

Sebetulnya, buku apa saja bisa diresensi. Bisa buku fiksi, bisa buku nonfiksi. Bisa buku umum, bisa buku khusus (bidang tertentu). Kekecualian tentu ada. Biasanya, buku pelajaran dan kitab suci tidak diresensi.

Lazimnya,  yang diresensi adalah buku yang baru terbit. Misalnya, buku yang terbit pada tahun yang sama (1999). Minimal, buku yang terbit tahun sebelumnya (1998). Buku yang sudah terbit dua tahun sebelumnya (1997), biasanya tidak diresensi lagi. Demikian pula buku cetak ulang; biasanya tidak diresensi.

Dengan kata lain, ada fungsi lain dari resensi buku, yaitu fungsi pemberitahuan/pengumuman kepada khalayak (pembaca) mengenai adanya buku yang baru terbit. Buku yang patut dipertimbangkan pembaca untuk membelinya atau tidak.

Untuk buletin/majalah sekolah, barangkali perlu dibatasi buku-buku yang diresensi, misalnya

  1. buku pendidikan,
  2. buku fiksi/nonfiksi untuk remaja,
  3. buku keterampilan remaja, dan
  4. buku untuk pengembangan hobi (mobil, motor, filateli, korespondensi).

 

Penulis Resensi

Siapa yang bisa menulis resensi?

Sebetulnya, siapa saja bisa menyunting naskah. Bisa guru, siswa, mahasiswa, dosen, kepala sekolah, mahasiswa, wartawan. Pokoknya, siapa saja yang berminat menyunting naskah. Yang penting, peresensi menguasai materi buku yang dibicarakan. Minimal peresensi mempunyai pengetahuan mengenai buku yang diresensi. Jadi, kalau kita tidak tahu mengenai ekonomi atau teknologi, sebaiknya jangan kita coba-coba meresensi buku ekonomi atau buku teknologi. Kalau dipaksakan, akibatnya bisa fatal. Misalnya, resensi kita jelek sehingga tak layak muat.

Jadi, sebaiknya kita hanya meresensi buku yang kita minati dan jangan sekali-kali meresensi buku yang tidak kita kuasai materi/isinya.

Struktur/Pola Resensi

Apakah ada struktur/pola resensi buku yang standar (baku)?

Seperti halnya sebuah artikel, untuk resensi buku juga berlaku pola berikut:

  1. bagian pembukaan,
  2. bagian isi, dan
  3. bagian penutup.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Kiat Mahir Menulis Artikel dari Pamusuk Eneste

kiat menulis artikel

Menulis itu gampang-gampang susah. Gampang—tentu—bagi yang sudah mahir menulis. Susah—mungkin—bagi yang belum pernah menulis. Bagi yang sudah mahir, menulis artikel sama dengan pekerjaan rutin. Misalnya, bagi wartawan,  kolumnis, atau penulis profesional. Ini masuk akal karena memang pekerjaan mereka  menulis.

Namun, bagi pemula, menulis artikel itu mungkin merupakan siksaan. Bayangkan, seseorang yang belum pernah menulis artikel, tahu-tahu disuruh menulis artikel. Dari mana memulainya? Bagaimana memulainya? Caranya bagaimana? Lalu, apa yang harus ditulis?

Para pemula tentu tak perlu khawatir karena menulis artikel itu sebetulnya bisa dipelajari. Untuk itu, berikut ini disajikan hakikat artikel, struktur artikel, materi artikel, langkah-langkah menulis artikel, panjang artikel, membuat judul artikel, dan tip bagi pemula.

 

Hakikat Artikel

Apakah hakikat artikel itu? Hakikat artikel adalah ide. Ada ide yang ingin dikemukakan pada orang lain (pembaca). Apakah ide itu? Ide ini adalah sesuatu yang ingin dikemukakan kepada khalayak. Ide dapat  berupa pendapat mengenai suatu persoalan, tanggapan terhadap masalah tertentu, pemecahan persoalan, atau yang lain.

Tanpa ide (= sesuatu yang ingin dikemukakan), pastilah seseorang tak bisa menulis. Jadi, mula-mula harus ada ide. Ide itulah yang menggerakkan seseorang untuk menulis.

Dengan kata lain, ide itu adalah mesin penggerak. Jadi, sebelum mulai menulis,  seorang penulis artikel harus bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku mempunyai ide? Apa ideku? Ide apa yang ingin aku sampaikan kepada pembaca?   

Perhatikan bagan berikut.

IDE –> ARTIKEL –> MEDIA CETAK –> PEMBACA

 

Struktur/Pola Artikel

Adakah struktur/pola artikel yang bisa dipelajari? Artikel biasanya terdiri dari tiga bagian, yaitu Bagian Pembukaan, Bagian Isi, dan Bagian Penutup. Dalam artikel, ada kemungkinan nama bagian ini tidak disebutkan secara jelas (eksplisit), kecuali barangkali “Pengantar” dan “Penutup”.

Bagian Pembukaan adalah semacam pengantar ke dalam tulisan. Pada bagian ini dikemukakan, misalnya, hal-hal yang mendorong penulis untuk membuat artikel itu. Lantas, pada bagian akhir Pembukaan biasanya juga dicantumkan hal-hal (subjek) yang akan dikemukakan dalam sub-sub di bawahnya (Bagian Isi).

Pada Bagian Isi dikemukakan ide penulis. Ide itu tentu harus dijabarkan menjadi sub-sub atau alinea-alinea (paragraf-paragraf) yang logis dan sistematis sehingga dapat meyakinkan pembaca.

Bagian Penutup adalah semacam rangkuman atau kesimpulan artikel. Ide yang dikemukakan pada Bagian Isi dirangkum atau disimpulkan  pada bagian ini.

Adakah persentase bagian-bagian ini?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Free Ebook! Spirit Menulis untuk Dakwah

ebook tentang dakwah

Lihat dan perhatikanlah bagaimana sejarah bertutur penuh semangat tentang para ulama yang berkarya di semasa hidupnya.

Ibnu Main mampu meninggalkan karya tulis sejumlah 100 qimatr dan 14 belas hibab di semasa hidupnya. Imam Ibnu Al-Jauzy dikabarkan mampu menulis empat puluh halaman sehari.

Imam Hasan Al-Banna menulis sebuah tanggapan atas buku Dr. Thaha Husein (tokoh sekuler Mesir) ketika beliau sedang dalam perjalanan pulang naik kereta.

Imam Muhammad Abduh menulis buku Ilmu Menurut Islam dan Kristen hanya dalam sehari, sebagai tanggapan terhadap tulisan seorang Kristen yang menyebutkan bahwa Islam tidak menghargai ilmu pengetahuan.

Prof. Musthafa Al-A’zami menulis sejumlah buku yang meruntuhkan pemikiran sesat para orientalis. Bahkan cuma dengan satu buku saja, beliau mampu meruntuhkan teori Schacht dan Goldziher yang sebelumnya mampu bertahan bertahun-tahun lamanya dan dianggap sebagai teori ilmiah.

Asy-Syahid Sayyid Quthb yang menjemput syahidnya di tiang gantungan ini menulis bukunya yang paling fenomenal tafsir Fi Zhilalil Qur’an ketika sedang berada di dalam penjara.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Langkah Awal Menulis Buku Nonfiksi

Menulis buku non fiksi membutuhkan beberapa tahapan. Berikut ini adalah langkah-langkah awal untuk memulainya.

1. Tentukan Tema

Langkah pertama dan terutama memanglah menentukan tema apa yang hendak ditulis. Saat tema sudah di dapat, barulah dapat menentukan langkah selanjutnya untuk memulai menulis. Tema bukanlah judul. Misalkan begini:

Tema: Memotivasi Muslimah Agar Selalu Percaya Diri

Judul: Energi Percaya Diri Sang Bidadari Bumi

Sudah mengerti bedanya? Tema adalah garis besar dari isi buku yang akan kita tulis. Sedangkan judul, hanyalah pemercantik luarnya saja. Karena judul selalu mengandung unsur: bagaimana lebih menarik perhatian calon pembaca, bombastis, dan unik. Di lain kesempatan akan kita bahas mengenai bagaimana cara membuat judul yang powerful.

2. Kumpulkan Referensi

Carilah semua referensi yang memungkinkan untuk mendukung naskah yang sesuai dengan tema tersebut. Untuk referensi dibagi menjadi dua macam, yaitu: Referensi Utama, dan Referensi Pendukung. Usahakan untuk Referensi Utama minimal tiga sampai lima buku. Sedangkan untuk referensi pendukung, terserah jumlahnya. Semakin banyak semakin bagus. Untuk Referensi Utama, usahakan jangan berasal dari artikel di internet atau koran. Usahakanlah Referensi Utama berupa buku. Sedangkan untuk Referensi Pendukung lebih fleksibel. Bisa berupa artikel di internet, koran, ataupun dari catatan sendiri yang berasal dari ceramah, renungan, dan lain sebagainya.

Jangan lupa, baca semua referensi tersebut dengan seksama. Karena dengan membaca semua referensi yang berhubungan dengan tema yang akan digarap nantinya itu, akan semakin memperkaya wawasan kita dan semakin mempermudah untuk penulisannya. Jangan lupa, catat atau menggarisbawahi bagian-bagian terpenting dari referensi yang menjadi poin acuan dari gagasan yang terdapat dalam buku tersebut.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Bila Antusiasme Penulis dan Pembaca Bertemu

Joker. Kulit putih pucat, rambut hijau berminyak dengan tubuh kerempeng. Karakter ini diganjar sebagai juara tertinggi dari 100 Greatest Villains of All Time oleh Wizard. Pria aneh dengan cengiran lebar. Beraksi gila dalam perampokan bank, pembunuhan berantai-rantai secara gelap, hingga pembunuhan massal. Dan coba tebak, ia melakukan semua itu karena ia pikir, “Ini menyenangkan!”

Penjahat kelas kakap lain macam Lex Luthor paling-paling hanya ingin menghancurkan musuh bebuyutannya saja. Tapi Joker, ia tak puas dengan itu. Ia bermain-main dulu dengan orang-orang terdekat musuh utamanya. Ia bermain-main dengan mereka dalam ruang kejahatan yang sangat pekat nan rumit. Keluarga komisaris Gordon, Todd, Barbara, semua kena ulah anehnya.

Setiap kemunculannya dalam komik, Joker selalu menghadirkan semangat di benak pembaca. Kesintingan, kerumitan, keanehan, ketidakkontrolannya, berbanding terbalik dengan Batman yang keras namun terkalkulasi.

Joker memegang rekor penjahat dengan otak paling brilian dalam kesintingan kejahatan, dan korban terbanyak dalam aksi brutalnya. Dan yang paling menakutkan dari itu semua adalah, ia tidak mencari keuntungan berupa kekayaan dari aksi-aksinya itu. Bginya itu adalah aksi dari penjahat kelas teri. Ia menganggap semua kejahatannya adalah lelucon. Ia kira semua itu adalah hal yang menyenangkan dan lucu!

Kegairahan. Gelora semangat. Minat besar terhadap sesuatu, biasa tersebut dengan antusiasme. Bagaimana bila antusiasme penulis bertemu dengan antusiasme pembaca?

 

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!