Biografi Anies Baswedan (2): Sang Penyala Lentera Kebangsaan

biografi anies baswedan

Biografi Anies Baswedan. Anies kecil menghirup udara pertamanya pada tanggal 7 Mei 1969 di Kuningan. Terlahir dari pasangan Awad Rasyid Baswedan dan Aliyah Ganis. Kakek Anies adalah Abdurrahman Baswedan atau bisa disingkat dengan AR Baswedan, yang tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu pejuang yang berperan penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia.

Rumah berdinding separuh bata di Kampung Cipicung, Kuningan, Jawa Barat, adalah saksi Anies terlahir. Rumah itu adalah rumah kakek Anies dari jalur ibunya, Abdullah Ganis.

Di bagian samping rumah Abdullah Ganis, ada ruangan berukuran lumayan besar, tempat di mana beberapa karyawan Abdullah bekerja menenun sarung. Ritme alunan mesin tenun bersahutan sepanjang hari. Usaha tenun tradisional sudah ditekuni Abdullah Ganis sejak tahun 1930-an.

Semasa kecil, tak jarang Anies ketika berlibur ke rumah kakeknya itu, sering ikut mencuci benang ke Sungai Citamba yang airnya berasal dari mata air di Gunung Ciremai. Airnya segar, jernih, dan tentu saja dingin.

Anies memang tak tinggal lagi di situ, karena Jogjakarta yang kental budaya adalah kota di mana masa kecil Anies dihabiskan. Kala berusia setahun, Anies dipindahkan dari rumah kakeknya, Abdullah Ganis, dan dibawa ke Jogjakarta, lalu besar di sana.

Abdullah Ganis adalah sosok yang begitu perhatian pada pendidikan. Di kampung Cipicung kala itu, keluarga Abdullah Ganis adalah salah satu dari sedikit keluarga yang mengirimkan anak-anaknya sekolah ke luar kuningan. Uniknya, anak-anaknya diwajibkan mengirim surat setiap minggu, untuk bertukar kabar dan berbagi cerita.

Selain terbiasa dekat kepada orang tua walau jarak memisahkan, kewajiban itu juga bisa melatih kepekaan dan kemampuan literasi. Ibunda Anies, Aliyah Ganis menjadi perempuan pertama dari keluarga Abdullah Ganis yang meraih gelar sarjana.

Dengan kakek dari garis ibu yang seorang pengusaha dan pemeduli pendidikan, dari garis ayah, Anies memiliki kakek seorang pejuang bernama AR Baswedan. Yah. Darah pejuang mengalir deras dalam nadi Anies. Bila kita melihat sekarang Anies Baswedan begitu gigih mengajak banyak orang membangun negeri ini, tentu tak perlu ditanya kenapa. Terlalu wajar. Bahkan sangat wajar.

AR Baswedan terdata sebagai tokoh penting dalam masa pra dan pasca kemerdekaan. Pada 4 Oktober 1934 di Semarang, Jawa Tengah, ia bersama beberapa aktivis mengadakan Hari Kesadaran Indonesia-Arab yang dikenal dengan Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Masyarakat keturunan Arab diarahkannya mewujudkan nasionalisme yang satu, yakni ke-Indonesia-an, tempat mereka tinggal sekarang, bukan negeri nenek moyang mereka mulanya berasal. “Bagi golongan keturunan Arab yang dilahirkan di Indonesia,” kata AR Baswedan sebagaimana terpaparkan oleh Mohammad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, “yang hidup di Indonesia dan ingin mati di Indonesia, hendaknya memandang Indonesia sebagai tanah airnya.” Dan hebatnya, AR Baswedan bahkan mengemukan gagasan jeniusnya itu di umur yang begitu muda. 22 tahun.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!