Menulis yang Membebaskan

Nama pria ini John Mulligan. Umurnya sudah empat puluh sembilan tahun. Dia adalah seorang tentara Amerika yang bertugas pada masa perang Vietnam. Setelah pulang dari perang itu, Mulligan merasakan guncangan hebat dalam jiwanya. Ini tentu maklum saja, bagi penyuka sejarah, siapapun pasti tahu, medan Vietnam memang serasa neraka bagi serdadu Amerika.

Di jantung kota San Fransisco, Mulligan menjalani hari-harinya. Tapi sayang, tidak jelas arah hidupnya. Ia menjalani waktu demi waktu dengan luntang-lantung. Bayangan hari-hari semasa yang ia alami di Vietnam terus menghantuinya. Jiwanya terkoyak hebat. Pikirannya kacau. Hatinya tercabik-cabik. Ia memang selamat tanpa luka jasadi yang berarti di medan perang itu, tapi psikisnya remuk. Keluarga, sahabat, tetangga, orang-orang terkasih, tak lagi ia perhatikan. Ia acuhkan kesemuanya itu. Ia mengalami guncangan superhebat dalam kepribadiannya.

Koyakan kegelisahan hidup telah menjadi kawannya sekarang. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Arti hidup tak lagi jelas dalam pandangannya.

Hingga sebuah sejarah hebat dimulai. Ia ikut workshop menulis. Setelah itu, ia lalu banyak menuangkan segala beban ke dalam tulisan ternyata sangat efektif untuk menyembuhkan segala luka-luka psikologis yang sudah sedemikian parah menganga dalam dirinya. “Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan-jalan di jalanan. Menulis telah membuat saya merasa punya jiwa,” kata Mulligan penuh haru. Maka lahirlah kemudian, novel apik itu dari tangannya: Shopping Cart Soldiers.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menulislah untuk Diri Sendiri

“Menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistem imunitas dan harmonal dalam merespons beban stress, dan meningkatkan hubungan serta kemampuan kita dalam menghadapi stress,” kata Joshua M. Smyth, psikolog di Syracuse University.

Empat tahun lalu, Veronica Chapa mengalami depresi berat. Dia patah hati. Kecewa dengan mantan pacarnya dan merasa heran mengapa dia bisa memiliki lelaki macam Joni yang tak pernah punya perhatian sedikit pun kepada dirinya.

Tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya, Veronica mengikuti sebuah terapi. Harapannya, dengan terapi tersebut, dia dapat mengenal dirinya sehingga tidak salah lagi dalam mengambil keputusan.

Maka, ikutlah dia dalam sebuah kelompok terapi menulis. Karena latar belakangnya adalah penulis di bidang pemasaran, Veronica yang saat itu berumur 29 tahun ini, merasa terapi ini pastilah tak begitu sulit untuk diikuti. Tetapi ternyata, dugaan Veronica meleset. “Saya tahu saya hanya tinggal menulis pada kertas kosong yang disediakan,” katanya, “tapi kok rasanya sulit sekali ya menulis tentang diri sendiri,” terangnya jujur.

Pemimpin dari terapi ini, Michele Weldon, seorang penulis berjudul Writing to Save Yourlife, memiliki solusi sederhana untuk Veronica. “Tulislah surat untuk diri sendiri.”

Veronica pun kemudian menemukan kunci dari kesulitannya tersebut. Lalu, mulailah Veronica menangis beberapa menit setelah menulis dua kata di kertasnya yang berbunyi: Dear Veronica. “Sekali dua kata itu tertuliskan,” katanya, “langsung terbukalah kepenatan, kekecewaan, serta kegelisahan yang saya alami. Semuanya seolah mengalir dan terurai keluar tanpa bisa ditahan.”

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Harus Menulis Apa Hari Ini?

Historia vitae magistra. Sejarah atau pengalaman adalah guru kehidupan yang baik. Itulah cara sederhana memulai menulis. “Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri,” kata J. K. Rowling. Setiap orang mempunyai jejaring dan jalan hidup sendiri-sendiri. Semua akan terasa menyenangkan saat kita menuliskan kisah kita tersebut.

Ada banyak orang yang membutuhkan kisah itu, kemudian diambil maknanya. Itu pun saja sudah disebut menulis. Artinya, tak perlu memikirkan pusing-pusing harus menulis apa.

Mulailah dari hal-hal sederhana yang pernah terjadi dalam hidup kita. “Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan,” kata Stephen King.

Menulislah apa saja yang kita mau, dan mulailah menulis apa saja yang kita tahu. Dua hal tersebut akan membangkitkan serta membuat semua kekata yang kita goreskan akan terasa nikmat dan berdaya. Menulis adalah mengubah hal-hal negatif menjadi positif dalam kehidupan. Lalu, apa ciri yang melekat di dalam diri seseorang yang dapat menunjukkan bahwa dia dipengaruhi dan diubah oleh sesuatu yang positif? Dia mau dan menjadi berkembang, itu jawabnya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Kenikmatan Menghadirkan Karya Unggul

Seperti koki terbaik. Ia meramu bumbu demi bumbu dengan hati-hati. Ia meracik bahan demi bahan dengan sangat telaten. Ia ingin menghadirkan yang terbaik bagi para penikmat masakannya.

Ia melakukan itu semua bukan untuk menjaga namanya agar tetap harum. Tapi, karena ia menikmati proses pembuatannya, dan ia menghargai para penikmat masakannya. Maka, ia harus menghadirkan yang terbaik untuk mereka.

Sebegitu pula dengan menulis. Sebenarnya, cacat pada satu kata yang kemudian salah ketik dan hurufnya menjadi berbalik atau berkurang, bukanlah suatu cela besar. Akan tetapi, bagi para penulis yang menikmati prosesnya dan menghargai pembacanya, ia akan menghadirkan susunan kata terbaik yang ia punya. Walau terkadang proses itu membutuhkan waktu yang panjang dan ketelitian yang rumit. Tapi sekali lagi, ia menikmati dan menghargai.

Lorraine Monroe, menulis dalam bukunya Nothing’s Impossible, Good works will be recognized-ultimately. But if you work for the recognition alone, you may be in for a long wait. Setiap pekerjaan yang baik, pada akhirnya akan mendapatkan pengakuan. Tetapi sebaliknya, jika kita bekerja untuk mendapatkan pengakuan, barangkali kita akan berada pada saat yang sangat panjang.

Begitulah, kerja-kerja yang bagi orang lain mungkin terlihat membosankan dan membuang-buang waktu itu, bagi para pelakunya justru kenikmatan untuk menghadirkan karya unggul yang anggun.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Kiat Menghadirkan Karya Terbaik

Jika ingin mengeluarkan yang terbaik, asupilah diri sendiri dengan hal-hal yang baik. Sebegitu pula saat ingin menghadirkan kekata yang memesona. Asupilah diri ini dengan asupan literasi yang memadai.

Bangunlah wilayah untuk diri sendiri. Wilayah yang semua isinya adalah dunia literasi. Itu akan memberikan pengaruh yang luar biasa dan memesatkan kemampuan kita. Setelah itu, kita bisa memberdaya kata-kata yang kita torehkan dengan lebih apik.

Bagaimana caranya?

Pertama, libatkan diri ke dalam masalah yang sedang kita tulis. Menjadi lebih intuitif, bukan sekadar interpretatif. Kita menghadirkan rasa-rasa yang kita punya ke pembaca, bukan sekadar menghadirkan data-data yang membuat mereka pusing kepala.

Kedua, tergila-gilalah membaca. Ada dua jenis. Absorber reader, membaca untuk menyerap isinya. Ini akan membuat kita kaya akan data. Dan reviewer reader, membaca untuk menilai, memberi komentar, memberi catatan. Ini akan membuat kita kebanjiran gagasan yang sebegitu banyak.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!