Bagaimana Saya Menulis Buku Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!

Berkesempatan menulis tentang sosok Pak Habibie adalah kehormatan. Kehormatan teramat besar bagi saya. Semasa kecil saya di kampung, sosok Pak Habibie adalah superhero lokal yang selalu menjadi kalimat penyemangat agar kami anak-anak desa rajin belajar.

Kata Pak Guru di sekolah, “Belajarlah kalian yang rajin. Biar pintar seperti Pak Habibie. Bisa ke luar negeri belajar. Dan bisa bikin pesawat mengharumkan nama Indonesia.”

Era-era saya kecil dulu, kalimat-kalimat seperti itu berasa mistis dan heroik. Pak Habibie bagi generasi seangkatanku masa kecil itu, adalah role model orang pintar, sukses, modern, keren, dan memiliki nasionalisme selangit. Apalagi, pesawat masa itu adalah sesuatu yang sangat teramat terlalu keren dan modern bagi kami.

Maka, ketika saya harus menghadirkan karya ini, degupan perasaan saya kencangnya luar biasa. Hati-hati benar saya membuat buku ini. Sepanjang karier saya sebagai penulis dan editor, ini buku paling berkesan nan terheroik yang pernah saya bikin.

habibie tak boleh lelah dan kalahi

Pertama, saya ingin menghadirkan kover buku yang tidak standar. Saya sudah bosan dengan desain kover buku berdesain minimalis yang biasa dihadirkan buku yang menghadirkan sosok. Saya harus merenung beberapa hari. Mencari referensi ke sana ke mari. Browsing gila-gilaan. Maka, hadirlah kover yang sekarang. Warna putih gading doff, dipadu dengan tipografi yang unik mengesankan ‘semua orang boleh baca’. Perlu berhari-hari untuk berdiskusi dengan desainer kovernya. Nama penulis pun akhirnya hanya ditaruh di punggung buku, demi estetika kover. Demi men-spotlight-kan nama besar Pak Habibie agar berdiri sendiri dan kukuh. Saya merasa itu adalah ide yang bagus dan outstanding.

Kedua, mencoba memadukan tiga target pembaca. Target pertama, pembaca generasi tua, mereka yang mengenal Pak Habibie sebagai pengkreasi pesawat terbang asli Indonesia dan sosok sukses yang belajar ke luar negeri dan kemudian kembali untuk berbakti kepada negeri. Kedua, generasi yang mengenal Pak Habibie setelah turun dari jabatan Presiden. Hanya dari cerita-cerita. Tak lagi mendapati langsung kisah heroik Pak Habibie. Karena pasca itu, Pak Habibie memang sudah jarang muncul ke permukaan media. Ketiga, target pembaca generasi sekarang. Yang tak begitu mengenal Pak Habibie, tapi mendapati serpihan-serpihan kisah itu lalu-lalang saja dari orang tua mereka. Generasi ketiga inilah yang mendapat konten paling besar di buku ini.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!