Gratis Ebook! 68 Insight for Young Creativepreneur

Banyak orang bertanya-tanya, apakah memilih usaha berdasar passion bisa diwujudkan? Karena, passion identik dengan hobi, dan hobi adalah kegiatan yang sudah pasti mengeluarkan uang. Bahkan, banyak orang yang memercayai bahwa menyalurkan hobi adalah kegiatan yang menghambur-hamburkan uang. Namun, satu hal yang harus kita tahu, bahwa Mark Zuckerberg membesarkan Facebook juga karena passion-nya di bidang teknologi. Begitu juga Steve Jobs dan Bill Gates. Bahkan, Dian Pelangi, membesarkan usaha busana muslimahnya juga karena passion-nya di bidang tata busana muslimah. Hal yang sama bisa kita temui pada Ria Miranda maupun Jenahara.

Akhir-akhir ini, kita bahkan sudah menemui makin banyak pengusaha muda yang memulai usahanya berdasarkan minatnya, gairah terbesarnya, passion-nya, dan bukan yang lain.

Jika kamu membuka usaha berdasar passion, efeknya kamu akan lebih sering untuk bekerja lebih keras daripada orang lain, mengenal dan lebih mencintai usaha yang dipilih dan lebih mudah untuk memecahkan banyak kendala dalam perjalanan bisnismu, menikmati keseimbangan hidup antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta selalu bergairah melakukan pekerjaan secara konsisten, dan akan lebih banyak membangun momentum yang akan mendatangkan keuntungan dan hal-hal baik.

Kelihatannya menarik, bukan?

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara menemukan passion diri untuk kemudian bisa diaplikasikan dalam membuka usaha?

Gampang. Cukup lakukan saja beberapa hal berikut ini.

1 – Berhentilah sejenak dari aktivitas. Berdiamlah. Dan pikirkanlah baik-baik. Kegiatan apa sih yang membuatmu sering lupa waktu karena kamu begitu menikmatinya?

2 – Hal apa yang sering kamu melakukannya tanpa pamrih? Bahkan, tanpa dibayar pun, kamu sangat senang untuk melakukan hal tersebut.

3 – Mintalah pendapat kepada teman dekat, keluarga, dan orang-orang yang sering bergaul denganmu, tentang ketertarikan terbesarmu ada pada apa. Selain minat, mungkin kamu bisa juga menanyakan kepada mereka, tentang pandangan hal terbaik apa yang pernah kamu lakukan, sehingga itu bisa menjadi bagian dari aktivitas terbaik yang pernah kamu lakukan.

4 – Catat atau ingat-ingat, prestasi-prestasi terbaik yang pernah kamu buat, terbanyak ada pada bidang apa?

5 – Nah, setelah itu, coba pikirkan lagi, kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi dalam bidang yang menjadi passion kamu itu. Misalkan nih, passion kamu adalah hal-hal yang berhubungan dengan adventure sport. Ambil peluangnya, misalkan dengan menjadi produsen, distributor, atau agen grosir atau juga pengecer mengenai peralatan adventure sport. Bisa juga mengambil ceruk di jasa guide, dan lain sebagainya. Bila kamu cukup passionate tentang dunia yang kamu geluti, kamu pasti akan tahu dengan sendirinya, ceruk apa yang bisa kamu manfaatkan dan ambil untuk mendapatkan peluang usaha tersebut.

6 – Intinya, penuhi semua kebutuhan, baik produk maupun jasa yang sebisa mungkin dapat menciptakan kesenangan, keterampilan, keamanan, kesehatan, juga kenikmatan, keindahan, dan efisiensi, dalam bidang yang kamu geluti tersebut. Di sanalah peluang usaha akan dapat kamu tangkap dan maksimalkan menjadi pundi-pundi uang.

Itu baru menemukan bisnis kreatif apa yang cocok untuk kamu. Belum model bisnismu nanti.

“Before you think about hiring your next full time employee, consider the crowd. Are there people who could solve a problem for you, for less? That’s the beauty of crowdsourcing. You can farm out your work to people all over the world, and often only pay the one whose work you like best. At times you can pay on a per project basis, rather than taking someone on board full-time,” kata Jeff Hoffman.

Jeff Hoffman adalah seorang serial entrepreneur yang juga berhasil dengan program GiveForward.com, sebuah startup dengan program membantu orang-orang yang tak memiliki biaya perawatan medis dengan model crowdfunding.

Semenjak saya mengenal Threadless.com, saya terhenyak dengan konsepnya. Desainer submit desain, dan hanya yang terpilih saja yang kemudian dicetak. Jenius, bukan?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

4 Efek dari Brand yang Kuat ala Richard Branson

Creativepreneur selalu berada dalam lingkup kerja yang fun sekaligus keberanian mengambil risiko. Tak berani mengambil risiko artinya kita terjatuh kepada sesuatu yang standard. Biasa-biasa saja. Umum. Dan medioker.

Upaya untuk terus menguatkan brand, juga seperti itu, karena ini adalah bagian dari kerja kreatif dari usaha kreatif yang sedang kita bangun, yang tak boleh sama dari waktu ke waktu.

Mengapa? Karena merek yang kuat tak hanya menguntungkan kita secara bisnis. Kata Richard Branson, “Paling tidak, ada empat pengaruh dari merek yang kuat. Pertama, merek yang kuat menjadi bisnis lebih cepat dikenal. Kedua, membangun kepercayaan pelanggan. Tanpa kepercayaan, boleh dibilang merek tak ada gunanya. Ketiga, menjalin hubungan penting dengan berbagai pihak. Keempat, mendatangkan tenaga kerja yang tepat. Sebuah merek yang kuat akan mampu membuat calon tenaga kerja berkualitas tertarik bergabung dengan bisnis.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Rumus Sukses Bisnis Clothing dari Jeff Seldon

Mencapai kegemilangan di bisnis kreatif adalah perpaduan apik antara kerja keras, kesinambungan untuk terus belajar dan juga kemauan untuk berkembang.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan mungkin tahun demi tahun, terus melakukan inovasi dan pengembangan hingga menjadi brand dan bisnis yang disegani dan berhasil akan tiba masanya jika kita mau untuk terus melakukan ketiga hal mendasar di atas.

Ugmonk besutan Jeff Seldon juga melakukan itu. Setelah perjalanan panjang, yakni hampir lima tahun, Ugmonk akhirnya menjadi brand besar. Diliput di banyak media cetak dan televisi. Dan melayani pembeli di lebih dari enam puluh negara. Dan di tangan Seldon, Ugmonk berhasil menjadi brand yang memiliki desain khas dan terjamin mutunya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!